Clarissa Anggreni, pemimpin mafia kejam yang dijuluki Queen of Damnation, tewas ditembak oleh sahabatnya sendiri, Kalina, dan kekasihnya, Rafael, karena perselingkuhan. Saat ajal menjemput, ia justru terbangun di tubuh Alisha Kirana Maharani – istri cupu korban KDRT dari konglomerat Giovan Salvatore Vizcaya, yang wajahnya persis seperti Rafael. Alisha baru saja jatuh dari lantai atas setelah ditembak orang tak dikenal. Keluarga Vizcaya mengira ia sudah mati. Tapi kini, di balik tubuh lemah Alisha, bersemayam jiwa seorang ratu maut. Di keluarga Vizcaya yang kejam, Alisha direndahkan sebagai pelayan. Giovan berselingkuh di depannya. Tapi Clarissa tidak pernah menjadi korban. Dengan kecerdikan, koneksi bawah tanah, dan haus balas dendam, Alisha (Clarissa) mulai menyusun rencana: ·Membalaskan kematian jasad aslinya kepada Rafael (Giovan) dan Kalina. · Menguasai keluarga Vizcaya dari dalam. · Menemukan siapa penembak yang hampir membunuh Alisha.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berubah
Ceklek.
Giovan membuka pintu kamarnya dan membawa koper Alisha masuk, disusul dengan gadis itu di belakangnya.
Alisha memperhatikan sekitar kamar tidurnya Giovan. Semua desain kamar Giovan tidak jauh dari warna hitam, abu-abu, dan warna silver.
Cklek.
"Ini kamarmu," ucap Giovan dengan suaranya yang bariton.
Alisha mengalihkan tatapannya saat mendengar suara Giovan. Dia melihat pria itu membuka sebuah pintu yang ternyata menghubungkan kamar ini dengan kamar sebelah.
"Walaupun kau amnesia, aku akan mengingatkanmu kembali tentang siapa kamu dan..."
Ucapan Giovan terhenti karena Alisha main menyelonong masuk ke dalam kamarnya.
Mata Clarissa menyipit melihat isi kamar Alisha yang seperti taman kanak-kanak. Di mana semua perpaduan warna mejikuhibiniu ada di dalam kamar tersebut.
"Apa-apaan ini? Aku tidak mau tidur di sini!" ucapnya.
Sprei kasur yang bergambar Hello Kitty, hordeng yang berwarna pink, dan cat dinding berwarna hijau.
Ya Tuhan, Clarissa merasa memasuki kamar anak kecil. Padahal ini kamar Alisha asli.
"Apa maksudmu, tidak mau tinggal di kamar ini?" tanya Giovan.
Clarissa memutarkan tubuhnya untuk menghadap Giovan. "Kamar ini jelek!" jawabnya.
Giovan menarik satu sudut bibirnya. "Kau baru sadar kalau kamarmu jelek?"
"Ciih!" Clarissa berdecak sambil memutarkan kedua matanya.
Mendengar decakan Alisha, Giovan cukup terkejut karena biasanya gadis itu akan menundukkan kepalanya dan tidak pernah bersikap tidak sopan seperti ini.
"Aku ingin tidur di kamarmu saja!" ucapnya sambil berjalan keluar dari kamar Alisha.
"Apa? Tidak boleh!" ujar Giovan seraya mengejar Alisha.
Alisha yang hendak menaiki kasur Giovan jadi terhenti. "Kenapa?" tanyanya sambil duduk di sisi ranjang Giovan.
SREKK.
Giovan segera menarik tangan Alisha agar bangun dari kasurnya. "Aku tidak ingin kau tidur di sini! Ini kamarku, kamarmu itu!" tunjuk Giovan pada pintu kamar Alisha yang tadi.
Alisha melipat kedua tangannya di dada dan menatap tajam mata Giovan.
"Aku ingin tidur di sini, suka tidak suka. Bodoamat!"
BRUK.
Dia langsung melompat dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur Giovan.
Giovan yang melihat kelakuan Alisha seketika mengepalkan kedua tangannya.
Dengan segera ia kembali menarik tangan Alisha.
"Bangun!" seru Giovan.
"Tidak! Aku tidak mau," ujar Clarissa sambil berpegangan pada besi ranjang kasur Giovan.
"Bangun, Alisha!"
"Tidak!"
Kesabaran Giovan mulai habis, apalagi Alisha dengan sengaja menggerakkan kakinya dan membuat tubuhnya jadi terkena tendangan Alisha.
Bug. Bug. Bug.
Alisha terus menggunakan kakinya untuk menendang tubuh Giovan yang masih berusaha menarik tangannya.
"Tidak, tidak, tidak! Aku mau tidur di sini!" teriak Clarissa.
"Alisha, bangun! Kau tidak boleh tidur di ranjangku!"
Giovan sempat keheranan, kenapa gadis lemas ini mendadak kuat sehingga Giovan kesusahan untuk menarik tubuhnya yang mungil.
"Jangan tidur di sini, Alisha!"
"Bodoamat!"
Bug. Bug.
Saking kuatnya tendangan Alisha, otong Giovan sampai kena dan membuat pria itu menjerit kesakitan.
"AAHKKK!" teriak Giovan.
Pergerakan kaki Clarissa terhenti. Gadis itu segera duduk untuk melihat keadaan Giovan.
"Hei, kau kenapa?" tanya Clarissa.
Giovan menundukkan kepalanya sambil memegangi otong-nya yang berdenyut nyeri.
"Giovan, kau kenapa?"
Lihat, sekarang Alisha dengan tidak sopannya memanggil dia dengan sebutan Giovan. Ke mana panggilan "Tuan" yang sering Alisha katakan?
"Woi, Giovan!"
"Giovan, Giovan, Giovan! Panggil aku Tuan!" sentak Giovan.
Clarissa mengerutkan alisnya, lalu menggelengkan kepalanya dengan pelan.
"Tidak mau, Giovan!" ucap Alisha dengan sengaja menaik-turunkan alisnya.
Raut wajah Giovan semakin kusut, bak baju yang belum dicuci tapi sudah dijemur.
"Ada apa ini, kenapa gadis itu tidak takut dengan sentakanku?" batin Giovan.
Biasanya Alisha akan selalu menunduk takut jika Giovan sudah mengeluarkan suara dengan nada yang tinggi.
Ia menarik napasnya dalam-dalam. "Alisha, dengar perkataanku baik-baik, karena aku tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Giovan.
Clarissa mengangguk sekilas lalu berdehem untuk menanggapi ucapan Giovan.
"Hm."
"Kau dan aku, kita berdua menikah karena terpaksa. Aku terpaksa menikahimu karena..."
"Aku tahu!" potong Clarissa sambil menatap Giovan.
Kening Giovan mengerut. "Kau ingat semuanya?"
"Ya."
"Bukannya kau amnesia?" tanya Giovan yang bingung.
Clarissa menaikkan kedua bahunya. Sebenarnya Clarissa sudah ingat semuanya tentang siapa Alisha dan dia sadar jika dia hidup kembali dengan tubuh yang berbeda.
"Sudahlah, Giovan. Kau tidak usah banyak bacot. Sekarang aku ingin tidur siang!" ujar Clarissa sambil memasukkan kakinya ke dalam selimut Giovan dan menarik selimutnya.
"Bye!"
Dengan santai Clarissa memejamkan matanya dan membiarkan Giovan berdiri di sampingnya.
"Hah, ada apa ini? Ada apa dengan gadis ini?" bingung Giovan.
Tidak ingin pusing sendirian, akhirnya Giovan keluar dari kamarnya dan membiarkan Alisha tidur di kasurnya.
---
Mendengar suara pintu yang sudah tertutup, Clarissa kembali membuka matanya.
"Tugasku adalah meluluhkanmu, Giovan. Sekarang aku berhasil mengambil ranjangmu, suatu saat nanti aku pasti akan mengambil hatimu," gumam Clarissa.
Clarissa segera melepas kacamata yang sedang ia pakai.
"Hah, kacamata ini membuat kepalaku pusing saja! Sebenarnya seberapa minus mata Alisha dulu sampai memakai kacamata sebesar dugong ini!"
"Ini juga, siapa yang mengikat rambutku menjadi dua begini! Mana pakai dikepang segala lagi!"
---
Giovan menuruni tangga dan kebetulan ia melihat Kakeknya yang sedang duduk sambil menikmati kopi.
"Kakek," panggil Giovan.
"Hm, ada apa, cucuku?" tanya Ed seraya membaca kembali berkas di tangannya.
Giovan segera duduk di sebelah Ed. "Kakek, aku merasa ada yang aneh dengan Alisha."
Edward mengalihkan tatapannya pada Giovan. "Aneh bagaimana?" tanya Edward.
"Dia berubah. Aku saja sampai tidak mengenalinya!"
Edward menghela napasnya dengan kasar. "Kau lupa, Giovan? Alisha kan amnesia."
"Dia tidak amnesia, Kakek!"
"Hm, maksudmu?"
"Dia bilang, dia ingat semuanya!"
"Tapi, dokter menyatakan jika dia mengalami amnesia!"
Giovan sempat terdiam. "Apa mungkin Alisha tertukar, Kakek?"
"Hah, tertukar apanya?"
"Ya siapa tahu saja, dia mempunyai kembaran dan kembarannya itu menyamar menjadi..."
"Jangan ngaco, Gov! Alisha itu anak tunggal. Dia tidak punya kakak ataupun adik," potong Edward.
"Tapi, Kakek..."
"Sudah, Kakek sedang sibuk! Lebih baik kamu cari tahu tentang Lingga itu. Kakek curiga kalau dia yang membuat Alisha kecelakaan!"
Giovan menghela napasnya dengan kasar. "Untuk apa, Kakek? Lagian Alisha juga sudah baik-baik saja!"
"Giovan!"
"Tuan Lingga tidak mungkin seperti itu, Kakek. Jika dia ingin menyerang kita, pasti dia akan menyerang kita di saat..."
Dor. Dor. Dor.
"Maaf, Tuan. Ada penyusup yang masuk," ucap pengawal di sana.
"Apa?!"
Giovan dan Edward sama-sama bangkit dari tempat duduknya. "Kerahkan semua pengawal untuk mencarinya!"
"Dan jaga ketat kamar Ali..."
"AARGGHH!" teriak Alisha menggelegar sampai terdengar ke lantai bawah.
Edward dan Giovan sama-sama menatap ke arah atas, di mana teriakan Alisha terdengar jelas.
"Giovan, cepat cek kamar istrimu!" titah Edward.
"Iya, Kakek," ucap Giovan yang langsung berlari menaiki tangga.
---
Emeline, Fiona, dan Christian keluar bersamaan dari lift. Ketiganya tampak tergesa-gesa saat mendengar suara tembakan.
"Ada apa, Dad?" tanya Christian.
"Iya, Dad. Tadi kami mendengar suara tembakan dan jeritan seorang wanita," seru Emeline.
"Ada penyusup. Sekarang kalian bertiga ambil persiapan senjata kita dan habisi penyusup itu!"
Fiona menghela napasnya. "Yah, padahal aku baru saja manikur!" gerutunya.
Emeline dan Christian langsung menyenggol tangan Fiona dan mengode agar wanita itu diam.
"Kau ini, manja sekali, Fiona!" ujar Edward.
Fiona seketika langsung menundukkan kepalanya. "Maaf, Dad. Baik, aku akan melaksanakan perintahmu. Ayo!" ajak Fiona.
Emeline dan Christian segera mengangguk dan berlari bersama untuk mengambil senjata mereka yang berada di ruang bawah tanah.
---
Bugh.
Giovan menghentikan langkahnya saat seorang pria dengan wajah babak belur terlempar keluar dari kamarnya.
"Astaga, siapa yang membuatnya begini," gumam Giovan.
Giovan berjongkok sambil memeriksa keadaan pria tersebut dan ternyata pria itu sudah mati.
"HIYAAAA, AHKKK!"
Bugh.
Kepala Giovan menoleh ke arah kamarnya. Ia segera melangkahi pria yang sudah tewas itu untuk melihat keadaan Alisha.
BUGH.
Alisha menahan tubuh seorang pria berbadan besar dan terus memukuli perutnya dengan satu kakinya.
Bugh. Bugh.
"HIYAA!"
BUGH.
Ia menonjok pipi pria tersebut, dan langsung memutarkan tubuhnya untuk menendang perut si pria.
BRUKK.
Pria itu terkapar tak berdaya setelah habis-habisan dipukuli oleh Alisha.
"Maju!" seru Alisha pada satu teman si pria yang pingsan tadi.
Pria itu tampak ketakutan namun, ia berusaha untuk memukul Alisha.
Bug.
"Eeh, tidak kena!" ujar Alisha yang berhasil menghindar ketika pria tersebut ingin memukul wajahnya.
"Sekarang gantian, HIYAAA!"
BUGH.
"AAARGHH!"
Giovan berdiri mematung saat melihat istrinya yang culun itu mendadak menjadi badas seperti seorang pembunuh bayaran.
SREKK.
Alisha menarik rambut si teman pria itu dan meludahi rambutnya, lalu menendang perutnya hingga pria tadi mundur beberapa langkah.
"Ahhk, sialan kau jalang!" ucap si pria sambil memegang rambutnya yang terkena ludah Alisha.
"Haha, bagaimana ludahku, wangikan?" tanya Alisha seraya menaik-turunkan alisnya.
Si pria itu tampak mencium tangannya yang terkena ludah Alisha dan berlagak layaknya ingin muntah.
"Huek, bau jigong!" seru si penyusup.
"Hahaha!" Alisha tak kuasa menahan tawanya saat mendengar perkataan si pria itu.
"Sudahlah, jangan banyak bacot. Ayo maju!" ucap Alisha.
"Tidak, aku tidak mau melawan seorang wanita!"
"Ciih, tidak ingin melawan atau takut, hm?" tanya Alisha.
"Takut? Mana mungkin aku takut pada wanita!" ucapnya seraya memundurkan langkahnya.
"Oh, ya?"
Alisha semakin mendekati pria itu dan membuat si pria berlari lalu mengambil sebuah pisau buah yang berada di atas meja nakas.
"Ciih, beraninya membawa senjata tajam, ya."
"Diam kau atau kutusuk!" ancam si pria.
"Ohh, tusuk saja kalau berani!" tantang Alisha.
"HIYAA!"
Pria tersebut hendak mengarahkan pisau buah itu ke arah dada Alisha, tapi...
Bugh. Prangg..
Giovan segera menghalangi pria itu dan memukul kepalanya menggunakan lampu tidur yang berada di kamar.
"Giovan," gumam Clarissa dengan lirih.
Pria yang dipukul oleh Giovan tadi langsung pingsan di tempat.
"Kau tidak apa-apa?" tanya Giovan dengan napas yang terengah-engah.
Clarissa menggelengkan kepalanya. "Tidak. Kenapa kau menolongku?"
"Karena aku takut kau terluka!"
"Ciih, aku tidak selemah itu, ya!" ujar Clarissa.
Giovan memperhatikan wajah Alisha yang tidak memakai kacamata, dan rambut gadis itu yang sedikit berantakan karena tidak dikuncir dua.
"Kenapa dia terlihat berbeda?" batin Giovan.
"Alisha, Giovan. Apa kalian baik-baik saja?" tanya Fabian – sepupu Giovan.
Alisha dan Giovan sama-sama membalikkan kepalanya untuk melihat Fabian.
"Waw, siapa pria itu? Kenapa dia terlihat tampan sekali?" batin Clarissa sambil tersenyum sendiri.
Giovan mengerutkan alisnya saat melihat istrinya cengir-cengir tidak jelas.
"Ya, kami baik-baik saja," jawab Clarissa sambil mendekati Fabian.
"Btw, kamu ini siapa, ya? Kok aku tidak pernah lihat kamu?" tanya Clarissa seraya mendekati Fabian.
Fabian tampak bingung dengan tingkah Alisha yang centil. Ia mengalihkan tatapannya pada sepupunya, Giovan.
"Gov, dia kenapa?" tanya Fabian pada Giovan.
"Amnesia. Udah, biarin aja. Tingkahnya emang agak lain," jawab Giovan.
Clarissa berdecak kesal dan menatap tajam Giovan. "Bacot!" sentaknya yang membuat Fabian dan Giovan terkejut.
"Ada apa ini? Alisha yang kukenal tidak seperti ini," batin Fabian.
---
Bersambung
ini Novel baru aku👈✍️