Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 KANGEN MAK ETI
Ara baru sadar selama ini ia merasa dikejar tuntutan
Padahal yang mengejarnya bukan ambisi orang tua
Tapi rindu
“Bu…” suara Ara pelan “Kalau Ara gagal gimana?”
Ibu mendekat, memegang wajah anaknya
“Gagal itu biasa. Pergi tujuh tahun tanpa pulang itu yang bikin Ibu hampir gila”
Ara tertawa kecil di sela tangisnya
“Ara kira Ibu pengin Ara nikah cepat”
“Ya pengin juga” jawab Ibu spontan
“BU!”
“Tapi bukan itu yang utama!” Ibu cepat menambahkan “Ibu pengin kamu bahagia. Kalau bahagiamu bukan di Jakarta, ya sudah”
Ayah melipat korannya
“Kamu tahu gak” katanya pelan “Ibu tiap malam doanya cuma satu ‘Ya Allah, kalau memang bukan rezekinya Ara di sana, kembalikan anak saya’”
Ara menatap Ibu
“Serius Bu?”
Ibu mengangguk
“Ara pikir Ibu marah karena Ara belum jadi apa-apa”
Ibu menghela napas
“Ibu marah karena kamu jauh”
Tangis Ara akhirnya pecah lagi setelah ia tahan tahan supaya tidak nangis di depan orang tuanya
Ia memeluk Ibunya erat-erat
“Ara minta maaf Bu…”
Ibu membalas pelukan itu, menepuk punggungnya pelan
“Gak ada yang perlu dimaafkan. Sekarang kamu di sini. Itu sudah cukup buat Ibu”
Dari dapur, tempe mulai agak gosong
Ayah berdiri cepat
“Kalau terus sujud syukur, nanti rezekinya jadi arang”
Mereka bertiga tertawa
Pagi ini, untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, rumah itu terasa benar-benar lengkap
Setelah itu mereka makan
Bukan makan biasa
Makan yang rasanya seperti tujuh tahun ditabung
Ibu menyendokkan nasi ke piring Ara sampai menggunung
“Bu… ini buat satu RT?” protes Ara
“Kamu kurus” jawab Ibu singkat
“Ara tiap hari makan Bu”
“Makan apa? Angin Jakarta?”
Ayah terkekeh pelan
Di meja itu ada tempe goreng yang tadi hampir gosong, sambal terasi, sayur bening bayam, dan telur dadar tebal favorit Ara sejak kecil
Ara menyuap pelan
Hangat. Sederhana. Familiar
Matanya tiba-tiba panas lagi
“Kenapa?” tanya Ibu cepat “Kurang asin?”
“Enggak” Ara menggeleng “Cuma… rasanya beda”
“Beda gimana?”
“Lebih enak”
Ayah tersenyum “Karena makannya gak sendirian dan gak beli di warung”
Sunyi sesaat. Tapi bukan sunyi canggung. Sunyi nyaman
Ibu memperhatikan Ara makan seperti sedang mengawasi bayi belajar MPASI
“Kamu nanti mau ngapain hari ini?” tanya Ayah
“Ara mau beresin kamar dulu”
Setelah makan Ara membantu Ibunya membereskan dapur
Ia mencuci piring dengan gerakan yang sedikit kaku. Mengelap meja kayu yang sudutnya sudah mulai memudar. Mengangkat jemuran yang sempat kehujanan semalam
Gerakan-gerakan kecil yang dulu terasa biasa kini terasa asing sekaligus menenangkan—seperti menyentuh kembali bagian hidup yang sempat ia tinggalkan
“Pelan-pelan aja nanti pecah” kata Ibu saat gelas di tangan Ara hampir terlepas
“Ara masih bisa Bu. Cuma agak karatan soalnya di jakarta kebiasaan beli makan biar praktis vak usah nyuci piring”
“Karatan tujuh tahun” gumam Ibu tapi sambil tersenyum
Ara ikut tersenyum. Rasanya ringan
Selesai dapur Ara masuk ke kamar
Kamarnya masih sama. Poster lama masih menempel di dinding. Lemarinya sedikit berderit saat dibuka. Meja belajarnya masih menyimpan goresan pena zaman SMA
Ia membuka koper. Satu per satu baju dikeluarkan, dilipat, digantung
Rasanya seperti memindahkan hidup lama ke ruang yang pernah ia tinggalkan
Butuh hampir satu jam sampai semuanya rapi
Ara duduk di tepi kasur
Sunyi tapi bukan sunyi yang sepi
“Bu!” teriaknya dari dalam kamar “Nanti Ara mau ke warung Mak Eti ya”
Ibu langsung muncul di depan pintu
“Halah! Belum sehari pulang langsung carinya jajan aja? Baru juga makan! Apa gak penuh tuh perut kamu kalo makan jajan setelah sarapan”
Ara nyengir
“Kangen Bu. Tujuh tahun gak pulang kampung. Biasanya Ayah sama Ibu yang ke Jakarta. Ara gak pernah sempat keliling”
Ibu mendecak tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan
“Salah siapa gak pulang kalo suruh pulang banyak alasan buat gak pulang kampung. Kamu kalo ke Mak Eti pas kamu datang pasti kamu dicium-ciumin sama dia nanti. Kalo gak dia bakal heboh banget soalnya kan dulu kamu bestian sama dia orang setiap pulang sekolah suka nongkrong di situ dengan alasan pengin beli pisang keju”
Ayah dari ruang tengah menimpali “Dan pasti ditanya ‘kapan nikah?’”
Ara memutar bola mata
“Nah itu yang Ara takutin”
Ibu tertawa kecil
“Mak Eti tuh dulu paling bangga kalau ada orang lewat ‘Itu lho Ara anak Pak Hasan kuliah sama kerja di Jakarta!’ katanya
Ara berhenti tersenyum
“Sekarang gimana dong Bu? Bilangnya apa? ‘Itu lho Ara mantan anak Jakarta’?”
Ibu memukul lengannya pelan
“Bilang aja ‘Ini lho Ara anaknya Bu Adis yang paling cantik pulang’”
Kalimat itu sederhana
Tapi cukup bikin dada Ara hangat
Beberapa menit setelah membereskan koper ia kemudian Ara berjalan menyusuri jalan kampung
Beberapa tetangga menoleh
“Eh Ara ya?”
“Kapan pulang?”
“Betah di Jakarta?”
Pertanyaan datang seperti peluru kecil tapi hari ini Ara menjawabnya dengan senyum yang lebih tenang
Sampai akhirnya ia tiba di tikungan tempat warung Mak Eti berdiri
Suara wajan nyaring menyambutnya. Aroma mendoan hangat memenuhi udara
Mak Eti mendongak
“Astaga! Ini anak Jakarta yang gak pulang pulang sampai Mak lupa wajahnya!”
Ara tertawa
“Iya Mak. Tapi sekarang cuma anak kampung”
Mak Eti keluar dan memeluknya erat
“Mak bilang apa? Kamu pasti tambah cantik tambah beda auranya!”
Ara tersenyum tipis
“Ah si Mak mah bisa aja orang biasa aja kok kaya dulu"
Mak Eti menatapnya lama
“Halah kamu mah suka gitu padahal dulu banyak yang suka”
Ara duduk di bangku kayu panjang
Belum sempat ia memesan suara lain terdengar dari belakangnya
“Mak saya psan mendoan sama risol campur lima belas ribu”
Ara menoleh
Seorang laki-laki berdiri sambil memasukkan ponsel ke saku. Wajahnya familiar
“Eh nak Danu!” seru Mak Eti
“Siap Mas. Ditunggu ya ini lagi digoreng bentar lagi matang” lanjutnya sambil membalik mendoan
“Iya Mak” jawab Danu santai
Mak Eti menoleh ke Ara
“Eh iya Mak lupa Ara mau apa?”
“Risol sama pisang keju Mak. Ada gak?”
“Ada. Lagi digoreng sama Santi. Tunggu ya”
Ara dan Danu duduk di bangku yang sama
Beberapa detik hening
“Kamu… Ara kan?” tanya Danu
Ara menoleh
“Iya… Danu?”
Danu tersenyum tipis “Iya”
Pantas wajahnya terasa familiar
Setelah beberapa menit mereka diam tiba tiba
Mak Eti menyerahkan pesanan Danu
“Nih hati-hati panas”
Danu berdiri lalu menyerahkan pecahan uang kemudian ia menoleh lagi ke Ara
“Ya sudah aku duluan. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”