Ia berlutut pelan di depan ibunya.
“Bu…” suaranya hampir tak terdengar.
Ibunya bergerak sedikit. Mata itu terbuka perlahan.
Butuh dua detik untuk menyadari.
“Ara?”
Ara tersenyum, air mata akhirnya jatuh.
“Iya Bu. CEO-nya belum dapat tapi anaknya pulang dulu”
Ibunya duduk tegak, lalu memeluknya tanpa kata.
“Eleh. Kaya raya siapa yang mau sama modelan kaya kamu tuh? Paling ada Mang Diman. Itu baru kaya tujuh turunan gak habis-habis. Mau Ibu jodohin?” katanya sambil ketawa terbahak-bahak
Ara langsung panik setengah jengkal
“Eh jangan Diman dong Bu! Nanti anak Ibu jadi istri ketiga terus Ara punya anak tiri enam!”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ais_26, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2 KANGEN MAK ETI
Setelah itu mereka makan
Bukan makan biasa
Makan yang rasanya seperti tujuh tahun ditabung
Ibu menyendokkan nasi ke piring Ara sampai menggunung
“Bu… ini buat satu RT?” protes Ara
“Kamu kurus” jawab Ibu singkat
“Ara tiap hari makan Bu”
“Makan apa? Angin Jakarta?”
Ayah terkekeh pelan
Di meja itu ada tempe goreng yang tadi hampir gosong, sambal terasi, sayur bening bayam, dan telur dadar tebal favorit Ara sejak kecil
Ara menyuap pelan
Hangat. Sederhana. Familiar
Matanya tiba-tiba panas lagi
“Kenapa?” tanya Ibu cepat “Kurang asin?”
“Enggak” Ara menggeleng “Cuma… rasanya beda”
“Beda gimana?”
“Lebih enak”
Ayah tersenyum “Karena makannya gak sendirian”
Sunyi sesaat. Tapi bukan sunyi canggung. Sunyi nyaman
Ibu memperhatikan Ara makan seperti sedang mengawasi bayi belajar MPASI
“Kamu nanti mau ngapain hari ini?” tanya Ayah
“Ara mau beresin kamar dulu”
Setelah makan Ara membantu Ibunya membereskan dapur
Ia mencuci piring dengan gerakan yang sedikit kaku. Mengelap meja kayu yang sudutnya sudah mulai memudar. Mengangkat jemuran yang sempat kehujanan semalam
Gerakan-gerakan kecil yang dulu terasa biasa kini terasa asing sekaligus menenangkan—seperti menyentuh kembali bagian hidup yang sempat ia tinggalkan
“Pelan-pelan aja nanti pecah” kata Ibu saat gelas di tangan Ara hampir terlepas
“Ara masih bisa Bu. Cuma agak karatan soalnya di jakarta kebiasaan beli makan biar praktis vak usah nyuci piring”
“Karatan tujuh tahun” gumam Ibu tapi sambil tersenyum
Ara ikut tersenyum. Rasanya ringan
Selesai dapur Ara masuk ke kamar
Kamarnya masih sama. Poster lama masih menempel di dinding. Lemarinya sedikit berderit saat dibuka. Meja belajarnya masih menyimpan goresan pena zaman SMA
Ia membuka koper. Satu per satu baju dikeluarkan, dilipat, digantung
Rasanya seperti memindahkan hidup lama ke ruang yang pernah ia tinggalkan
Butuh hampir satu jam sampai semuanya rapi
Ara duduk di tepi kasur
Sunyi tapi bukan sunyi yang sepi
“Bu!” teriaknya dari dalam kamar “Nanti Ara mau ke warung Mak Eti ya”
Ibu langsung muncul di depan pintu
“Halah! Belum sehari pulang langsung carinya jajan aja? Baru juga makan! Apa gak penuh tuh perut kamu kalo makan jajan setelah sarapan”
Ara nyengir
“Kangen Bu. Tujuh tahun gak pulang kampung. Biasanya Ayah sama Ibu yang ke Jakarta. Ara gak pernah sempat keliling”
Ibu mendecak tapi senyumnya tidak bisa disembunyikan
“Salah siapa gak pulang kalo suruh pulang banyak alasan buat gak pulang kampung. Kamu kalo ke Mak Eti pas kamu datang pasti kamu dicium-ciumin sama dia nanti. Kalo gak dia bakal heboh banget soalnya kan dulu kamu bestian sama dia orang setiap pulang sekolah suka nongkrong di situ”
Ayah dari ruang tengah menimpali “Dan pasti ditanya ‘kapan nikah?’”
Ara memutar bola mata
“Nah itu yang Ara takut”
Ibu tertawa kecil
“Mak Eti tuh dulu paling bangga kalau ada orang lewat ‘Itu lho Ara anak Pak Hasan kuliah sama kerja di Jakarta!’ katanya
Ara berhenti tersenyum
“Sekarang gimana dong Bu? Bilangnya apa? ‘Itu lho Ara mantan anak Jakarta’?”
Ibu memukul lengannya pelan
“Bilang aja ‘Ini lho Ara anaknya Bu Adis yang paling cantik pulang’”
Kalimat itu sederhana
Tapi cukup bikin dada Ara hangat
Beberapa menit setelah membereskan koper ia kemudian Ara berjalan menyusuri jalan kampung
Beberapa tetangga menoleh
“Eh Ara ya?”
“Kapan pulang?”
“Betah di Jakarta?”
Pertanyaan datang seperti peluru kecil tapi hari ini Ara menjawabnya dengan senyum yang lebih tenang
Sampai akhirnya ia tiba di tikungan tempat warung Mak Eti berdiri
Suara wajan nyaring menyambutnya. Aroma mendoan hangat memenuhi udara
Mak Eti mendongak
“Astaga! Ini anak Jakarta yang gak pulang pulang sampai Mak lupa wajahnya!”
Ara tertawa
“Iya Mak. Tapi sekarang cuma anak kampung”
Mak Eti keluar dan memeluknya erat
“Mak bilang apa? Kamu pasti tambah cantik!”
Ara tersenyum tipis
“Ah si Mak mah bisa aja orang biasa aja"
Mak Eti menatapnya lama
“Halah kamu mah suka gitu padahal dulu banyak yang suka”
Ara duduk di bangku kayu panjang
Belum sempat ia memesan suara lain terdengar dari belakangnya
“Pesan mendoan sama risol campur lima belas ribu Mak”
Ara menoleh
Seorang laki-laki berdiri sambil memasukkan ponsel ke saku. Wajahnya familiar
“Eh nak Danu!” seru Mak Eti
“Siap Mas. Ditunggu ya ini lagi digoreng” lanjutnya sambil membalik mendoan
“Iya Mak” jawab Danu santai
Mak Eti menoleh ke Ara
“Ara mau apa?”
“Risol sama pisang keju Mak. Ada?”
“Ada. Lagi digoreng sama Santi. Tunggu ya”
Ara dan Danu duduk di bangku yang sama
Beberapa detik hening
“Kamu… Ara kan?” tanya Danu
Ara menoleh
“Iya… Danu?”
Danu tersenyum tipis “Iya”
Pantas wajahnya terasa familiar
Setelah beberapa menit mereka diam tiba tiba
Mak Eti menyerahkan pesanan Danu
“Nih hati-hati panas”
Danu berdiri lalu menyerahkan pecahan uang kemudian ia menoleh lagi ke Ara
“Ya sudah aku duluan. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Danu melangkah pergi
Ara masih duduk karena pesanannya belum lengkap. Santi sedang memberi topping keju dan cokelat pada pisangnya
Mak Eti menengok ke arah Danu yang menjauh
“Eh nak Danu ganteng ya sekarang. Badannya jadi juga. Kayak orang kota”
Ara cuma diam
Mak Eti melipat plastik sambil melanjutkan
“Tapi sayang… belum nikah kalo kamu sama nak Danu mau gak? nanti Mak comblangin kebetulan mamanya Mak kenal”
Ara langsung menoleh cepat
“Mak!”
“Kenapa? Mak dukung loh apalagi ibumu pasti dukung banget orang Danu punya usaha bengkel yang maju di kabupaten ini terus juga kerja jelas. Orangnya juga sopan, gak neko-neko dan Itu suami potensial tau”
Ara mendesah pelan
“Mak Ara baru pulang sehari pulang…”
“Justru itu. Mumpung masih segar” goda Mak Eti
Ara menahan senyum
“Mak ini ya…”
“Kamu gak tertarik?” tanya Mak Eti santai
Ara terdiam. Bukan karena tidak tertarik tapi karena tidak siap menjawab
“Ara belum mikir ke situ Mak”
Mak Eti mengangguk
“Mak cuma ingetin. Kadang yang cocok itu bukan yang paling jauh tapi yang paling dekat”
Ara terdiam
Mak Eti menaburkan keju terakhir
“Ingat gak? kamu dulu setiap dideketin orang selalu bilang mau cari CEO kaya raya”
Ara menutup wajahnya dengan tangan
“Mak masih ingat itu…”
“Sekampung juga ingat” jawab Mak Eti ringan sambil menyerahkan pesanan nya kemudian Ara menerima bungkusan membayar lalu berdiri
“Sudah sana pulang” kata Mak Eti “Nanti ibumu nanya lagi”
Sesampainya di rumah Ibu sudah menunggu di teras
“Lama juga”
“Ngobrol dikit Bu”
“Ngobrol sama siapa?” tanya Ibu cepat
Ara mendengus kecil “Bu…”
Ibu menyipitkan mata
“Tadi Mak Eti kirim pesan. Katanya kamu ketemu Danu”
Ara langsung berhenti
“Mak Eti cepat banget…”
“Anaknya Pak Hadi itu ya? Yang temennya Mas Raka?”
“Iya”
“Belum nikah kan?”
Ara memijat pelipis
“Bu juga baru sehari pulang…”
Ibu tertawa kecil
“Ibu cuma tanya tapi kalo ibu sih setuju soalnya dia orangnya kerja keras banget sampai punya bengkel yang lumayan besar”
Ara masuk sambil menggeleng
“Baru sehari pulang sudah begini” gumamnya