NovelToon NovelToon
SUAMIKU TERNYATA CEO

SUAMIKU TERNYATA CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari dari Pernikahan / Percintaan Konglomerat / Cinta Beda Dunia
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nana Bear

Siska menikahi Kevin karena cinta, meski harus hidup dalam kesederhanaan. Ia percaya kebahagiaan tidak diukur dari harta.

Namun ketika himpitan ekonomi semakin berat dan harapan terasa semakin jauh, Siska memilih pergi.

Ia tidak tahu bahwa Kevin bukan pria miskin seperti yang ia kira.

Saat takdir mempertemukan mereka kembali, rahasia terungkap—dan cinta diuji oleh penyesalan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana Bear, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta yang Tidak Lagi Cukup

Tidak ada ledakan besar.

Tidak ada piring dibanting.

Tidak ada teriakan memecah malam.

Keputusan itu tumbuh pelan.

Seperti retakan kecil di dinding—awalnya tak terlihat…

lalu perlahan melebar tanpa bisa dihentikan.

Siska sadar pertama kali…

saat ia berhenti menunggu Kevin pulang dengan rasa deg-degan.

Dulu, setiap ada suara langkah di depan pintu kos, ia langsung menoleh.

“Mas sudah pulang?”

Sekarang?

Suara itu hanya lewat.

Seperti suara orang asing yang kebetulan melintas.

Ia tetap duduk.

Tetap menggendong anaknya.

Menatap tembok kusam yang catnya mulai mengelupas.

Kos itu terasa semakin sempit.

Malam itu Kevin pulang lebih larut.

Bajunya basah oleh keringat. Wajahnya pucat, tapi ia tetap tersenyum.

“Kamu sudah makan?” tanyanya sambil melepas sepatu perlahan.

“Sudah,” jawab Siska singkat.

Tidak ada senyum.

Kevin duduk di lantai.

“Besok aku lembur lagi ya. Ada tambahan kerjaan.”

“Hmm.”

Kevin menoleh.

“Kamu kenapa?”

“Nggak apa-apa.”

Jawaban itu terlalu cepat. Terlalu kosong.

Kevin ingin bertanya lagi…

tapi saat melihat mata Siska yang hampa, ia memilih diam.

Ia tidak tahu…

di kepala Siska, keputusan itu sedang disusun rapi.

Keinginan untuk pulang ke rumah orang tuanya datang seperti bisikan.

Awalnya pelan. Bisa diabaikan.

Tapi setiap melihat anaknya tidur di kasur tipis itu…

setiap harus memilih beli susu atau kebutuhan lain…

Bisikan itu makin keras.

Anakku pantas hidup lebih baik.

Siska mulai menelepon ibunya diam-diam.

“Bagaimana kabarmu?” suara ibunya terdengar datar lewat video call.

“Baik, Bu.”

Ibunya menatap layar lama.

“Kamu kurusan.”

Siska tersenyum tipis.

“Anakmu juga kelihatan kecil.”

Siska langsung defensif.

“Dia sehat, Bu.”

Ibunya tak membantah. Hanya berkata pelan,

“Kalau kamu mau pulang… rumah ini masih ada.”

Kalimat itu menancap dalam.

Malam itu Siska tak bisa tidur.

Ia menatap Kevin dan anaknya yang tertidur pulas.

Dadanya terasa sesak.

Ia mencintai Kevin. Ia tahu itu.

Tapi rasa lelahnya… lebih besar.

Pelan-pelan, tanpa Kevin sadar, ia mulai bersiap.

Baju anak dimasukkan ke tas sedikit demi sedikit.

Dokumen dikumpulkan.

Uang belanja disisihkan.

Kevin mulai merasakan ada yang berbeda.

“Kamu belakangan sering bengong,” katanya suatu sore.

“Aku capek.”

“Kita memang capek,” Kevin duduk mendekat.

“Tapi kita masih bareng, kan?”

Pertanyaan itu membuat Siska tercekat.

“Iya,” jawabnya pelan.

Terlalu pelan.

Malam itu Kevin terbangun.

Lemari terbuka.

Beberapa baju anak hilang.

Jantungnya langsung tak enak.

“Siska?”

Siska berdiri membelakanginya. Menutup tas.

“Kamu mau ke mana?”

“Aku mau pulang.”

Kevin langsung duduk tegak.

“Pulang ke mana?”

“Ke rumah orang tuaku.”

“Kapan?”

“Besok.”

Kevin turun dari kasur.

“Kita bisa ngomong dulu, ya? Jangan buru-buru.”

“Aku nggak buru-buru. Aku mikirin ini sudah lama.”

Kevin menggenggam tangan Siska.

“Kita cari jalan. Aku kerja lebih keras lagi.”

Siska menarik tangannya.

“Kamu sudah kerja keras. Tapi kita tetap miskin.”

Kalimat itu seperti tamparan.

Kevin terdiam.

“Jadi… itu masalahnya sekarang?”

Siska menunduk.

Lalu mengangguk.

“Iya.”

Kevin tersenyum pahit.

“Berarti kamu menyesal pilih aku?”

Siska menarik napas panjang.

“Aku menyesal pilih hidup seperti ini.”

“Ini hidup kita, Sis.”

“Ini hidup yang bikin aku terjebak!” suara Siska meninggi.

“Aku berhenti punya mimpi sejak di sini!”

Kevin memegang kepalanya.

“Aku berusaha, Sis. Buat kamu. Buat anak kita.”

“Berusaha nggak selalu cukup!”

“Cinta nggak bisa bayar kebutuhan!”

Tangisan bayi mereka pecah di kamar sempit itu.

Keras. Menyayat.

“Aku lelah jadi istri pria miskin,” kata Siska, suaranya gemetar tapi tegas.

“Aku capek pura-pura bahagia.”

Kevin menatapnya lama. Matanya merah.

“Kalau begitu… kenapa dulu kamu pilih aku?”

Siska terdiam beberapa detik.

“Karena aku bodoh,” bisiknya.

“Aku kira cinta cukup. Ternyata nggak.”

Itu menghancurkan.

Kevin merasa napasnya berat.

“Kamu mau ninggalin anakmu juga?” suaranya hampir tak terdengar.

Siska melihat bayi yang menangis di pelukan Kevin.

Matanya berkaca-kaca.

“Aku bakal lebih berguna kalau aku punya hidup yang layak.”

“Dia butuh ibunya,” Kevin lirih.

“Dia butuh masa depan.”

Pagi itu, Siska pergi.

Tanpa pelukan terakhir.

Tanpa menoleh.

Kevin berdiri di depan pintu kos, menggendong anak mereka yang akhirnya tertidur lagi.

“Kamu bisa balik kapan saja,” katanya dengan suara pecah.

Siska berhenti sebentar.

Tapi tidak menoleh.

“Jangan tunggu aku.”

Pintu tertutup.

Sunyi.

Kos itu tiba-tiba terasa lebih sempit dari sebelumnya.

Kevin duduk di lantai, memeluk anaknya erat.

Tubuh kecil itu hangat. Tak tahu apa-apa.

Air mata Kevin jatuh pelan ke kepala anaknya.

“Maaf ya,” bisiknya.

“Ayah belum jadi apa-apa.”

Hari-hari setelah itu terasa lebih berat dari apa pun.

Kevin bekerja.

Pulang.

Mengurus anak.

Lalu bekerja lagi.

Tak ada yang menunggu.

Tak ada yang menyambut.

Kos itu kini hanya dunia kecil bagi dua jiwa yang tersisa.

Setiap malam Kevin tidur sambil memeluk anaknya—seolah takut kehilangan satu-satunya yang masih ia miliki.

Dan di dalam hatinya, ada luka yang tak hanya karena ditinggalkan.

Tapi karena ditinggalkan…

dengan kalimat yang membuatnya merasa—

ia Tak pernah cukup.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!