NovelToon NovelToon
Aku Memilih Diam

Aku Memilih Diam

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Kehidupan di Kantor / Romansa / Konflik etika / Slice of Life / Office Romance
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Serena Khanza

Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.

On Going || Tayang setiap hari

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29 AMD

Hendra memang sudah tidak duduk di kursi itu lagi.

Tapi bayangannya belum benar-benar pergi.

Pagi itu, ruang rapat terasa berbeda. Lebih lengang, tapi bukan lebih ringan. Ada kursi kosong di sisi kiri meja panjang kursi yang dulu ditempati Hendra. Tidak ada yang memindahkannya. Seolah semua sepakat membiarkannya di sana sebagai pengingat.

Aruna berdiri di dekat layar, menunggu rapat dimulai. Tangannya memegang remote presentasi, tapi pikirannya tidak sepenuhnya di slide yang akan ditampilkan. Semalam ia hampir tidak tidur. Bukan karena takut.

Karena membaca.

Dokumen tambahan yang dikirim audit eksternal semalam bukan sekadar memperluas kasus. Itu membuka pintu ke sesuatu yang lebih besar—transfer dana yang tidak tercatat di laporan resmi, komunikasi internal yang dihapus sebagian, dan satu nama baru yang muncul berulang kali dalam metadata.

Bukan staf biasa.

Salah satu komisaris.

Pintu terbuka. Calvin masuk bersama dua anggota direksi senior. Wajahnya tenang, seperti biasa. Tapi Aruna bisa membaca bahunya yang sedikit lebih kaku dari biasanya.

Rapat dimulai tanpa basa-basi.

“Kita tidak bisa menganggap kasus ini selesai dengan penahanan Hendra,” kata Calvin, suaranya stabil. “Audit menemukan jalur keputusan yang lebih tinggi.”

Beberapa kepala langsung terangkat. Aruna mengganti slide. Grafik alur persetujuan muncul di layar. Panah-panah digital mengarah ke satu titik yang selama ini tidak pernah disentuh.

“Persetujuan akhir atas revisi anggaran tertentu tidak berhenti di tingkat operasional,” jelas Aruna. “Ada intervensi.”

“Intervensi siapa?” tanya salah satu direksi.

Aruna tidak langsung menjawab. Ia memandang Calvin sepersekian detik. Bukan meminta izin.

Hanya memastikan.

Calvin mengangguk tipis.

Aruna menekan tombol.

Nama itu muncul.

Ruangan membeku.

Komisaris utama.

Suara napas terdengar lebih jelas dari biasanya.

“Itu tuduhan berat,” ujar salah satu anggota dewan dengan suara rendah.

“Ini bukan tuduhan,” jawab Aruna, nada suaranya tidak berubah. “Ini pola. Kami hanya menunjukkan pola.”

Pintu ruang rapat terbuka tiba-tiba.

Semua menoleh.

Komisaris utama berdiri di sana, wajahnya keras, langkahnya mantap. Ia tidak menunggu undangan untuk masuk.

“Saya rasa,” katanya dingin, “presentasi ini perlu saya dengar langsung.”

Tidak ada yang berani menolak. Ia duduk di kursi kosong yang dulu ditempati Hendra.

Ironis.

Aruna tidak mundur. Ia tetap berdiri di depan layar, menatap langsung pria yang secara struktur berada jauh di atasnya.

“Silakan lanjutkan,” ujar komisaris itu.

Aruna melanjutkan. Data demi data. Tanggal demi tanggal. Rekaman komunikasi yang berhasil dipulihkan.

Ketika sampai pada email internal yang menyiratkan persetujuan lisan atas pengalihan dana, komisaris itu akhirnya berbicara.

“Email itu tidak membuktikan apa-apa. Interpretasi bisa berbeda.”

Calvin bersandar di kursinya. “Karena itu kami meminta audit forensik independen tambahan.”

“Tanpa persetujuan dewan?” balas komisaris itu tajam.

Calvin tidak mengalihkan pandangan. “Demi integritas perusahaan.”

Ketegangan di ruangan berubah bentuk. Ini bukan lagi tentang laporan. Ini tentang kekuasaan.

Komisaris itu tersenyum tipis. “Integritas? Atau ambisi?” Kalimat itu diarahkan pada Calvin, tapi gema halusnya menyentuh Aruna juga.

Aruna menutup laptopnya perlahan. “Jika ini soal ambisi,” katanya tenang, “kami tidak akan membuka jalur yang bisa menghancurkan reputasi perusahaan sendiri.”

Semua mata kini beralih padanya.

Komisaris itu memandang Aruna lebih lama. “Anda legal, bukan? Tugas Anda melindungi perusahaan.

Bukan menciptakan kegaduhan.”

“Melindungi perusahaan berarti melindungi kebenaran,” jawab Aruna.

Komisaris itu kehilangan senyum tipisnya. Rapat berakhir tanpa keputusan final. Tapi satu hal jelas: perang telah berpindah level.

...****************...

Siang itu, Aruna berdiri di balkon kecil luar kantor, menghirup udara panas kota. Di bawah sana, klakson dan suara mesin bercampur jadi dengung konstan.

Langkah kaki mendekat.

Calvin berdiri di sampingnya.

“Dia tidak akan diam,” kata Calvin pelan.

“Aku tahu.”

“Kamu sadar konsekuensinya?”

Aruna menoleh. “Aku sudah melewati titik aman sejak lama.”

Calvin menatap lurus ke depan. “Kalau dia merasa terancam, dia bisa memutar cerita. Membuatmu terlihat seperti dalang.”

Aruna tersenyum tipis. “Bukankah itu risiko sejak aku memilih bicara?”

Angin meniup rambutnya sedikit. Calvin mengamatinya sejenak.

“Kamu tidak harus berdiri di garis depan sendirian,” katanya akhirnya.

Aruna menatapnya. “Aku tidak sendirian.” Kalimat itu sederhana. Tapi sesuatu di udara berubah.

Calvin mendekat setengah langkah. Tidak menyentuh. Tidak perlu.

“Kalau situasinya memaksa,” katanya, suaranya lebih rendah, “aku akan ambil alih.”

“Dan kalau aku tidak mau kamu mengambil alih?” balas Aruna pelan.

Tatapan mereka bertemu.

“Ini bukan tentang menyelamatkan,” lanjut Aruna.

“Ini tentang berdiri sejajar.”

Calvin menghela napas, hampir seperti tawa kecil tanpa suara. “Kamu tahu itu alasan kenapa aku memilihmu, kan?”

“Karena aku diam?”

“Karena kamu tidak tunduk.”

Sunyi di antara mereka tidak lagi canggung. Lebih seperti ruang yang nyaman.

Ponsel Aruna bergetar.

Pesan masuk dari nomor tak dikenal lagi.

Kali ini lebih singkat:

“Kau tidak tahu siapa yang sedang kau lawan”

Aruna menunjukkan layar itu pada Calvin. Ia membaca, lalu mengangkat pandangannya.

“Bagus.”

Aruna mengernyit. “Kamu selalu bilang begitu.”

“Karena ancaman berarti mereka mulai kehilangan kontrol.”

Aruna mematikan layar ponselnya. “Atau mereka sedang bersiap melakukan sesuatu yang lebih besar.”

Calvin tidak menyangkal.

Sore menjelang ketika kabar baru masuk. Salah satu media bisnis besar menerbitkan artikel opini. Judulnya tidak menyebut nama, tapi insinuasinya jelas: “CEO Muda dan Agenda Pembersihan yang Terlalu Cepat?”

Framingnya halus. Seolah-olah langkah Calvin adalah upaya kudeta internal. Aruna membaca artikel itu di ruangannya. Bibirnya menegang.

Ketukan terdengar.

Calvin masuk tanpa menunggu.

“Kita diserang,” katanya.

“Lewat opini publik,” jawab Aruna.

“Dewan akan mengadakan rapat luar biasa besok.”

Itu artinya satu hal: mereka akan menilai kepemimpinan Calvin. Dan secara tidak langsung, kredibilitas Aruna.

“Ini bukan lagi soal Hendra,” gumam Aruna.

“Tidak,” jawab Calvin. “Ini soal siapa yang mengendalikan arah perusahaan.”

Sunyi, tapi bukan sunyi yang lama.

Aruna berdiri. “Kalau besok mereka ingin perang terbuka…”

Calvin menatapnya.

“Kita tidak hanya membawa data,” lanjut Aruna.

“Kita bawa bukti komunikasi eksternal. Jejak media. Hubungan komisaris itu dengan konsultan yang menerima dana.”

Calvin mengangguk perlahan. “Itu bisa menghancurkan dia.”

“Itu memang tujuannya.”

Tatapan mereka terkunci lagi. Kali ini tanpa jarak.

“Kamu yakin?” tanya Calvin.

Aruna menarik napas dalam. “Aku tidak memilih jalan ini untuk berhenti setengah.”

Di luar, langit mulai gelap. Kota menyala satu per satu.

Permainan sudah berubah. Ini bukan lagi tentang membersihkan satu nama. Ini tentang menentukan siapa yang berdiri paling akhir. Dan besok, di rapat luar biasa itu, garis yang selama ini mereka pertahankan tidak akan bisa ditarik mundur lagi.

Kali ini, bukan hanya reputasi yang dipertaruhkan.

Tapi kekuasaan.

Dan mungkin perasaan yang tak lagi bisa mereka abaikan.

1
Yo Iku
keren banget
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 kak
total 1 replies
bunga JK
semangat teruskah berkarya nya😊👍
Serena Khanza: iya kak 💪🏻💪🏻
semangat berkarya juga kak 😊💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
suka bab ini. semangat terus torr 💯
Serena Khanza: Terima kasih 🤍
total 1 replies
MARDONI
Hati jadi TEgang banget!! 😰✨ Aruna masuk kantor dan semua orang liatnya beda dari biasanya, langsung merasain tekanannya yang bikin napas jadi sesak! Dia dipanggil ke ruang rapat, ketemu Calvin sama manajemennya, ikutan deg-degan banget!! 😣 Aruna jawabnya cermat banget karena takut nyeret orang lain yang tidak bersalah, Calvin bilang butuh fakta bukan asumsi tapi malah jadi tertarik sama jawaban Aruna, SUPER PENASARAN NIH APA YANG AKAN TERJADI SELANJUTNYA!! 😱 Semoga Aruna bisa kuat dan menemukan jalan keluar ya authorrr!!
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia membaca ceritanya kak..
semangat aruna 💪🏻
total 1 replies
PrettyDuck
calvin kan ceo ya tor, kenapa dia gak cut aja aruna yg udah ketahuan gak netral?
maaf kalo aku salah tangkep 🙇‍♀️
Serena Khanza: iya gpp kak 😊
total 1 replies
PrettyDuck
orang2 takut di audit sama aruna /Facepalm/
MARDONI
Wahhh seru banget deh bab ini!!! 😍 Pas Aruna masuk kantor aja udah bisa rasain suasana yang aneh banget, semua orang nunjuk-nunjuk bahkan Rina juga canggung pas ngomongin investigasi. Trus pas dia buka amplop Calvin dan ketemu nama-nama orang yang dikenalnya langsung bikin deg-degan! Kalvin yang bilang menjadikannya pusat bukan umpan tuh bikin penasaran banget, apalagi pas dapet pesan ancaman dari nomor tidak dikenal dan rasanya diawasi banyak orang 😱 Akhirnya Aruna yang mulai mikir apakah orang yang suruh dia diam bakal biarin dia sendirian atau nggak... Aduh authorrr bikin aku suka banget, gak sabar tunggu bab selanjutnya deh!!! 💖
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak 🤩😊
total 1 replies
MARDONI
Ceritanya makin ke sini makin bikin penasaran! Alurnya rapi, konfliknya kuat, dan emosinya dapet banget. Setiap update selalu terasa berisi dan nggak asal. Salut sama author yang konsisten dan totalitas ngembangin cerita. Semangat terus ya, ditunggu kelanjutan ceritanya! 💪📖🔥
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak..
total 1 replies
MARDONI
Pas Aruna masuk ke ruangan Calvin dan suasana langsung jadi tegang banget, aku juga ikutan napasnya jadi pelan-pelan deh! Pas Calvin kasih laporan revisinya dan nanya ada yang janggal nggak, hati aku langsung berdebar-debar kayak Aruna juga 😰 Dan pas Calvin nanya tentang orang yang bakal kena akibatnya, padahal Aruna tahu cerita tentang anaknya yang sering sakit dan cicilan rumahnya... duh bikin hati jadi terasa sesak banget! Ternyata Calvin aja tahu ya kalau Aruna mungkin tahu lebih banyak dari yang dia tunjukin 😱 Pas dia kasih amplop danunjukin Aruna buat investigasi, aku juga ikutan bingung kayak Aruna—terima aja berarti harus hadapi kebohongan yang dia jaga, tapi nolak aja pasti jadi mencurigakan! Dan kalimat terakhir Calvin yang bilang "pastikan kau siap menanggungnya" tuh bikin merinding banget!! 😨 Dan akhirnya Aruna sadar kalau diamnya bukan lagi pilihan... tungguin kelanjutan banget deh author!! Semangat terus ya, cerita kamu bikin aku gabisa berhenti baca!! 🥰❤️
Serena Khanza: Terima kasih 🤍 sudah setia mengikuti ceritanya kak
total 1 replies
Serena Khanza
kadang diam bukan berarti lemah, dia sedang menghitung
PrettyDuck
bagus torrr.
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
PrettyDuck
terus kenapa dia memilih diam??
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
MARDONI
😣💔 sumpah aku ikut sesak duduk bareng Aruna di ruang rapat itu… dinginnya suasana, tatapan orang-orang, dan momen saat semua mata mengarah ke dia tuh bikin jantung deg-degan. Waktu Calvin ngumumin Proyek Eastbay dihentikan, rasanya sudah kebayang bakal ada satu orang yang dikorbankan, dan pas Aruna akhirnya bilang “tidak ada keberatan”… duh, itu bukan lega, itu perih 😭 dia tahu kebenaran tapi tetap memilih diam demi ibunya, demi bertahan. Dan tatapan Calvin setelah rapat itu, sunyi tapi berat apalagi pas dia manggil nama Aruna dan nyuruh masuk ke ruangannya, aku langsung ngerasa ini bukan sekadar urusan kerja lagi. Bagian Aruna sendirian di lift tuh bikin hati jatuh, kayak… satu keputusan kecil tapi dampaknya bakal panjang banget. Aku ikut takut, ikut tegang, dan nggak bisa berhenti mikir: diamnya Aruna hari ini pasti akan ditagih suatu saat nanti 🥀
Serena Khanza: Terima kasih sudah membaca 🤍 nikmati prosesnya pelan-pelan ya.. ke depannya akan semakin menegangkan lagi kak..
total 1 replies
PrettyDuck
kalo kata aku mah jujur aja arunaa.
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/
Serena Khanza: “tidak semua kebenaran perlu diucapkan oleh orang yang akan paling hancur karenanya.”
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!