Di ruang rapat itu, satu suara bisa menghancurkan segalanya. Aruna Laksmi tahu kebenaran. Ia tahu siapa yang salah. Namun di hadapan Calvin Aryasatya—pria yang memegang masa depan kariernya— ia memilih diam. Karena tidak semua kebenaran menyelamatkan. Beberapa hanya meninggalkan luka.
On Going || Tayang setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Khanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28 Retakan di Balik Kaca
Pagi itu terasa terlalu tenang. Tidak ada notifikasi bertubi-tubi. Tidak ada panggilan panik. Seolah kota memutuskan untuk menarik napas setelah ledakan kemarin. Aruna duduk di kursinya, menatap layar yang menampilkan grafik penurunan saham. Garis merah itu seperti luka terbuka—nyata, tapi tidak mematikan. Belum.
Ketukan terdengar di pintu.
“Masuk.”
Bukan Calvin.
Kepala divisi IT berdiri di ambang, wajahnya tegang.
“Bu… ada sesuatu yang perlu Anda lihat.” Nada suaranya tidak biasa. Bukan panik. Lebih seperti orang yang baru saja menemukan retakan di kaca tebal.
Aruna bangkit.
Ruang server selalu terasa dingin. Bau logam dan listrik tipis bercampur di udara. Lampu putih menyinari deretan mesin yang berdengung pelan.
“Kami menemukan aktivitas tak wajar sejak dini hari,” jelas kepala IT. “Bukan peretasan. Lebih seperti penghapusan bertahap.”
“Penghapusan apa?” tanya Aruna.
“File arsip lama. Khususnya yang terkait persetujuan proyek-proyek lima tahun terakhir.”
Jantung Aruna berdetak satu kali lebih keras.
“Siapa yang punya akses?”
“Hanya dua level tertinggi.”
Nama itu tidak perlu disebut.
Calvin.
Dan pemegang saham mayoritas.
“Kami sudah mengunci akses sementara,” lanjutnya.
“Tapi beberapa file hilang.”
Aruna menatap layar monitor yang menampilkan daftar file yang terhapus. Ia tidak terlihat panik. Tapi matanya bergerak cepat, membaca pola. “Mereka membersihkan sebelum dipanggil,” gumamnya.
“Regulator belum meminta data periode itu,” kata kepala IT.
“Tapi mereka tahu akan sampai ke sana.”
Aruna menatap deretan server yang berdengung. Mesin-mesin itu menyimpan rahasia lebih banyak dari manusia.
“Pulihkan apa pun yang bisa dipulihkan,” katanya tegas. “Dan buat salinan eksternal. Offline.”
“Baik, Bu.”
Saat ia berbalik keluar, hawa dingin ruangan masih menempel di kulitnya. Ini bukan reaksi spontan. Ini langkah terencana. Calvin sudah menunggunya di ruangannya ketika Aruna masuk tanpa mengetuk.
“Aku dengar,” katanya.
“Tentu saja kamu dengar.”
Ia menutup pintu.
“Mereka mulai menghapus jejak sebelum regulator minta,” kata Aruna langsung.
Calvin bersandar di meja, wajahnya keras. “Artinya mereka tahu sesuatu yang kita tidak tahu.”
“Atau mereka takut sesuatu yang kita tahu.”
Sunyi.
Aruna berjalan mendekati jendela. Kota terlihat normal dari atas sini. Mobil bergerak, orang berlalu-lalang, hidup berjalan. Di dalam gedung ini, fondasi sedang diguncang.
“Kamu yakin tidak ada yang bocor dari internal?” tanya Calvin.
Aruna menoleh. “Aku tidak lagi yakin tentang apa pun.” Kalimat itu jujur.
Sejak semua ini dimulai, ada rasa kecil yang mengganggu. Bukan takut. Curiga. Terhadap siapa pun.
Menjelang siang, panggilan dari regulator datang.
Mereka meminta akses penuh ke server dalam 48 jam.
“Cepat,” gumam Calvin setelah menutup telepon.
“Terlalu cepat,” sahut Aruna.
Seolah ada yang mempercepat ritme permainan.
Pintu ruangannya kembali diketuk.
Kali ini Raka.
Ia terlihat lebih segar dibanding pertama kali Aruna melihatnya di basement. Tapi bayangan kelelahan masih ada di matanya.
“Aku dengar soal penghapusan file,” katanya tanpa basa-basi.
“Kabar menyebar cepat,” jawab Aruna.
“Ada orang dalam yang membantu mereka,” lanjut Raka pelan.
Aruna menatapnya tajam. “Kamu menuduh siapa?”
“Aku tidak menuduh. Aku membaca pola. Setiap kali kita bergerak, mereka selangkah lebih dulu.”
Kata-kata itu seperti serpihan kaca kecil tidak melukai dalam, tapi cukup untuk menggores.
Calvin berdiri. “Kalau kamu punya nama, sebutkan.”
Raka menggeleng. “Belum. Tapi aku tahu ini bukan cuma tentang uang. Ini tentang kontrol.”
Kontrol.
Aruna merasakan kata itu mengendap. Dua tahun manipulasi. Penghapusan sistematis. Tawaran suap. Ancaman personal. Ini bukan sekadar penggelapan.
Ini jaringan.
...****************...
Sore hari, Aruna menerima email anonim. Tidak ada ancaman kali ini. Hanya satu file terlampir. Ia membukanya perlahan. Dokumen internal lama.
Proposal merger yang gagal tiga tahun lalu.
Dengan tanda tangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Nama pemegang saham mayoritas muncul di sana.
Dan di bawahnya—Persetujuan digital atas pengalihan aset anak perusahaan. Nilainya jauh lebih besar dari proyek Eastbay.
Napas Aruna tertahan. “Calvin,” panggilnya.
Ia mendekat, membaca layar. Wajahnya tidak berubah, tapi rahangnya mengeras. “Kalau ini asli…”
“Eastbay cuma permukaan,” sambung Aruna.
File itu seperti pintu kecil yang terbuka ke lorong yang lebih gelap.
“Ada metadata?” tanya Calvin.
“Masih utuh.”
“Siapa yang kirim?”
“Anonim.”
Sunyi turun lagi.
Tapi kali ini bukan sunyi sebelum badai. Ini sunyi sebelum gempa.
Malam datang lebih cepat dari biasanya. Kantor mulai kosong ketika Aruna masih duduk di depan layar. Cahaya monitor memantul di wajahnya.
Ia membaca ulang dokumen itu. Setiap angka. Setiap tanda tangan. Ini bisa menghancurkan bukan hanya satu orang. Tapi seluruh struktur.
Pintu terbuka pelan.
Calvin masuk tanpa suara. “Kamu tidak pulang?”
“Belum.”
Ia berdiri di sampingnya. “Kalau ini benar,” katanya pelan, “kita akan menghadapi sesuatu yang lebih besar dari yang kita kira.”
Aruna menatap refleksi mereka di layar hitam. “Aku tidak takut besar,” katanya.
“Aku tahu.”
“Yang aku takutkan cuma satu.”
Calvin menoleh. “Apa?”
“Kalau ternyata ada orang di dekat kita yang ikut bermain.”
Tatapan mereka bertemu.
Tidak ada jawaban mudah.
Di dunia seperti ini, kepercayaan adalah kaca. Sekali retak, tidak pernah benar-benar utuh lagi.
Tiba-tiba ponsel Calvin bergetar.
Ia melihat layar.
Ekspresinya berubah sepersekian detik.
“Apa?” tanya Aruna.
Calvin menelan napas. “Regulator baru saja menahan pemegang saham mayoritas untuk pemeriksaan resmi.”
Ruangan terasa lebih hening dari sebelumnya. Aruna berdiri perlahan. Langkah besar sudah terjadi.
Tapi perasaannya tidak sepenuhnya lega.
“Ini terlalu cepat,” gumamnya.
“Ya.”
Mereka berdiri berdampingan di depan jendela. Di bawah, lampu-lampu kota menyala seperti lautan cahaya.
“Kalau dia jatuh,” kata Aruna pelan, “orang-orang di belakangnya akan bergerak.”
Calvin mengangguk. “Dan kita belum tahu siapa saja mereka.”
Angin malam menyentuh kaca jendela. Di balik kaca itu, retakan mungkin belum terlihat. Tapi Aruna tahu
ketika satu lapisan pelindung runtuh, lapisan lain akan terbuka. Dan apa pun yang tersembunyi di baliknya…akan jauh lebih berbahaya dari yang pernah mereka bayangkan.
maaf kalo aku salah tangkep 🙇♀️
dari bab 1 udah langsung intense konfliknya.
narasinya gak bertele-tele dan dialognya natural.
aku sukaaa 👍
aku kira diamnya dia untuk menyelamatkan diri 🥲
kasian kalo orang gak bersalah harua jadi korban.
lagian yg namanya bangkai, mau dikubur dalam juga, lama2 pasti akan terendus /Smug/