𝐑𝐢𝐳𝐮𝐤𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧𝐢 𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐢𝐝𝐞𝐧𝐭𝐢𝐭𝐚𝐬 𝐠𝐚𝐧𝐝𝐚. 𝐡𝐚𝐫𝐢-𝐡𝐚𝐫𝐢 𝐧𝐲𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐭𝐞𝐫𝐚𝐬𝐚 𝐛𝐢𝐚𝐬𝐚. 𝐡𝐢𝐧𝐠𝐠𝐚 𝐝𝐢𝐚 𝐛𝐞𝐫𝐭𝐞𝐦𝐮 𝐝𝐞𝐧𝐠𝐚𝐧 𝐬𝐞𝐨𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐰𝐚𝐧𝐢𝐭𝐚 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐛𝐚𝐡 𝐣𝐚𝐥𝐚𝐧 𝐧𝐲𝐚. 𝐝𝐚𝐧 𝐭𝐚𝐤𝐝𝐢𝐫 𝐚𝐤𝐚𝐧 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐧𝐠𝐤𝐚𝐩𝐤𝐚𝐧 𝐬𝐢𝐬𝐢 𝐥𝐚𝐢𝐧𝐧𝐲𝐚.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazuki Taki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
EPISODE 7 - LANGKAH YANG TERPELESET
di pagi hari vhiena bersiap untuk berangkat ke sekolah, selalu berangkat bersama dengan ke 2 sahabat nya. Mereka bertiga sudah seperti saudara namun tak sedarah. Vhiena menjalani aktivitas di kelas dengan semangat namun pikiran nya terkadang tidak fokus.
Di sisi lain Rizuki selalu tampil apa adanya dengan gestur tubuh alami yang tidak di buat-buat namun bagi teman sekolah nya,itu menunjukkan gestur yang bukan seperti anak sekolah.
Rizuki duduk di bangku tempat dia, dekat sisi jendela. di sela pelajaran ia terkadang suka melihat ke arah luar melalui jendela.
Lalu langit kembali muram sore itu. Rizuki di sekolah akan pulang. Begitu juga dengan vhiena.
Vhiena berjalan sendirian menyusuri trotoar. Ayu harus mengikuti rapat organisasi, Lala tertahan kelas tambahan. Gerimis turun tipis—tidak deras, namun cukup membuat jalanan licin. Ia memeluk tasnya.
"Kenapa tiap aku sendiri pasti hujan sih…" gumamnya pelan.
Ia melangkah sedikit lebih cepat, namun tiba‑tiba— Kakinya menginjak bagian trotoar yang licin. "Ah—!" Vhiena berteriak kecil, tidak cukup untuk di dengar orang karena bercampur suara hujan.
Tubuhnya tergelincir. Ia sempat menahan dengan tangan, namun pergelangan kakinya tertekuk. Rasa nyeri menjalar cepat.
"Sakit…" Isak vhiena dan Ia mencoba berdiri. "Tak bisa." Masih merintih kesakitan.
Langkah kaki terdengar mendekat Tenang dan Teratur. Vhiena mendongak. Rizuki. "Ucap Vhiena dalam hati sedikit kaget.
Rizuki berhenti tepat di depannya. Menilai situasi dalam satu pandangan. "Terkilir?" tanya rizuki singkat.
Vhiena mengangguk pelan, menahan malu. "Kayaknya… iya."
Rizuki berlutut perlahan, memeriksa pergelangan kaki tanpa menyentuh berlebihan. "Bisa berdiri?"
Vhiena mencoba lagi. Rasa sakit menusuk. Ia meringis. Tanpa banyak kata, Rizuki berdiri. Dan berkata "Aku antar."
"Nggak usah, nanti kamu—" Vhiena tidak melanjutkan katanya karena rizuki sudah meraih tangan nya.
"Arah rumahmu selatan kan" Tanya rizuki singkat.
Vhiena terdiam. "Kamu ingat?"
Rizuki tidak menjawab. Ia hanya memposisikan dirinya agar Vhiena bisa bertumpu pada bahunya. Gerakan yang hati‑hati, Jarak yang tetap sopan. Mereka berjalan perlahan. Hujan masih turun lembut.
"Kamu selalu muncul tiap hujan ya," kata Vhiena setengah bercanda.
Rizuki menatap lurus ke depan. "Mungkin kamu yang selalu ada di jalanku."
Vhiena terdiam, Jantungnya berdetak tak teratur. Beberapa langkah hening.
"Rizuki…" panggilnya pelan.
"Ya?" Jawab rizuki singkat namun perlu beberapa detik.
"Terima kasih." Ucap vhiena dengan senyuman.
"Tidak perlu." Namun nada suara rizuki lebih lembut dari biasanya.
Mereka jalan dengan tangan vhiena melingkar di pundak rizuki dan dengan jarak yang masih sopan. Rizuki membantu nya berjalan dan membawakan tas sekolah vhiena.
Sesampainya di depan rumah Vhiena, ia berhenti.
Tampak rumah minimalis 2 lantai dengan pagar warna putih dan taman bunga sederhana di depan rumah.
"Sampai sini." Ucap vhiena..Lalu Vhiena menoleh dan berkata. "Kamu nggak mau masuk sebentar?"
"Tidak." Jawab rizuki sambil bersiap untuk memutar badan.
Hening kecil.
Lalu— Rizuki menarik napas tipis. Dan mengurungkan untuk membalik badan. "Nomormu?" Tanya rizuki datar namun itu pertanyaan serius yang tampak dari sorot mata rizuki.
Vhiena membeku. "Apa?". "Untuk memastikan kakimu tidak memburuk." Alasan rasional rizuki. Namun cukup untuk membuat pipi Vhiena memerah.
Vhiena menyebutkan nomor ponselnya. Rizuki mengetik cepat. Dan memanggil nya. Ponsel vhiena bergetar. "Sudah." Rizuki memasukkan kembali ponsel nya kedalam tas. "Kamu… bakal chat duluan?" tanya Vhiena pelan. Rizuki terdiam sepersekian detik. "Mungkin." Lalu Ia berbalik. Berjalan menjauh.
Setelah beberapa meter, ia berhenti sebentar. Tersenyum tipis pada dirinya sendiri. "Kenapa aku minta nomor duluan…" gumamnya pelan. Untuk pertama kalinya— Rizuki merasa seperti remaja biasa.
Malam itu. Dua ponsel berada dalam genggaman dua orang yang sama‑sama menatap layar kosong. Tak ada yang berani memulai, Namun satu hal pasti— Jarak mereka tidak lagi sejauh sebelumnya.
Tinggal bilang nunggu si dia apa ssh nya si?/Slight/
SMA kls 3, trnyta CEO😌
cnth
"Tuan Rizuki, maaf mengganggu! Saya lihat lampu masih menyala." kata Mira./Smile/
tapi tergantung masing-masing cerita sih, hehehe
kak skip titiknya /Whimper/
Skip titiknya kak. /Bye-Bye/