Bagaimana jika saat kamu lupa segalanya, pria tertampan yang pernah kamu lihat mengaku sebagai kekasihmu? Apakah ini mimpi buruk...atau justru mimpi jadi nyata?"
Content warning:
Slow Pace, Psychological Romance, Angst.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Achromicsea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rasa Penasaran
Malam itu seharusnya tenang.
Hujan turun pelan di luar, mengetuk kaca jendela dengan ritme yang hampir meninabobokan. Arven berdiri di depan lemari, memilih kaus untuk besok. Aku duduk di meja kecil, buku catatan terbuka, pulpen di tangan.
Aku tidak berniat menulis panjang. Hanya satu kalimat. Satu pikiran yang sejak sore menggangguku.
Aku menunduk, lalu menulis
Kalau Arven benar-benar mengenalku sebelum kecelakaan, kenapa dia selalu takut aku mengingat sesuatu tanpa dia?
Tanganku berhenti sejenak. Dadaku terasa sesak. Kalimat itu terasa salah begitu selesai kutulis. Aku buru-buru menutup buku, tapi suara gesekan kain di belakangku berhenti.
Terlalu sunyi.
"Ren."
Aku menoleh. Arven sudah berdiri di belakangku, matanya jatuh tepat ke halaman itu. Rahangnya menegang, cara dia diam saja membuatku takut.
Apa aku salah? Aku cuma nanya. Kenapa aku merasa seperti melakukan sesuatu yang salah? Tapi aku harus tahu. Kalau aku terus berpura-pura nggak penasaran, aku bakal merasa kehilangan diri sendiri.
"Apa maksud yang kamu tulis itu?" tanyanya pelan. Nada suaranya rendah.
Aku berdiri setengah refleks. "Itu cuma pikiran. Aku-"
"Jawab," potongnya cepat.
Jantungku berdetak keras di telinga.
"Aku cuma ngerasa," kataku akhirnya, suaraku hampir berbisik, "setiap aku nanya soal masa lalu, kamu selalu nyuruh aku berhenti."
Ia tertawa kecil, tapi matanya tetap dingin. "Karena aku nggak mau kamu sakit. Itu salah?"
"Bukan-"
"Terus kenapa kamu nulis ini?" Tangannya gemetar tipis saat menunjuk buku itu. "Kamu nuduh aku takut?"
Aku menggeleng cepat. "Aku cuma bingung. Aku cuma pengen ngerti-"
"Ngerti apa?" Nadanya naik sedikit, tajam tapi tidak keras. "Ngerti sesuatu yang dokter bilang belum waktunya?"
Ia mengambil buku itu dari meja. Halamannya tertekuk saat ia menutupnya.
"Kamu tahu nggak," katanya mendekat satu langkah, "setiap kali kamu maksa mikir kayak gini, kamu balik ke titik nol?"
Aku mundur setengah langkah tanpa sadar.
Dia nggak pernah marah, tapi matanya bikin aku merasa seperti aku yang salah. Haruskah aku berhenti? Tapi kalau aku berhenti, aku nggak akan tahu siapa aku sebelum kecelakaan itu.
"Aku di sini tiap hari. Aku yang nemenin kamu panik, yang denger mimpi burukmu. Tapi kamu malah nulis seolah aku masalahnya."
"Itu bukan maksudku," suaraku bergetar. "Aku cuma jujur."
"Kejujuran yang nggak perlu," balasnya cepat.
Ia menaruh buku itu di meja, menutupnya dengan telapak tangan.
"Kamu nggak usah nulis hal-hal kayak gini lagi." katanya tegas.
Aku terdiam, tenggorokanku sakit.
"Aku cuma butuh waktu untuk-," bisikku.
Ia menatapku lama, nadanya turun menjadi lembut lembut tapi tetap menegaskan peringatannya.
"Aku di sini buat kamu. Tapi kalau kamu mulai meragukan aku, semuanya bisa berantakan."
Aku mengangguk, meski dadaku terasa remuk.
Aku ingin percaya dia. Aku ingin. Tapi kenapa hatiku tetap deg-degan setiap kali aku merasa ada sesuatu yang disembunyikan? Kenapa aku nggak bisa berhenti bertanya pada diriku sendiri apakah aku benar-benar aman di sini, dengan dia?
"Maaf," kataku pelan.
Ia menghela napas, lalu menarikku ke dalam pelukan. Pelukannya erat. Di balik dadanya, jantungnya berdetak cepat.
Beberapa hari kemudian. Aku kembali melakukan terapi lagi, ini sudah ketiga kalinya. Ruang terapi terasa lebih besar saat aku duduk sendirian.
Kursi di sebelahku kosong. Tidak ada Arven di sana. Biasanya dia duduk sedikit condong ke arahku, satu tangannya ada di pahaku atau sekadar menyentuh ujung jariku, seperti memastikan aku tidak apa-apa.
Hanya aku dan dokter.
Suasana jadi aneh. Lebih sunyi dari yang aku kira. Aku baru sadar selama ini kehadiran Arven selalu mengisi ruang, bahkan saat dia diam.
"Ada yang ingin kamu bicarakan hari ini, Seren?" tanya dokter dengan suara lembut.
Aku mengangguk, tapi mulutku tidak langsung terbuka. Aku butuh waktu. Seperti harus memastikan dulu bahwa kalimat yang akan keluar ini tidak akan ditarik kembali begitu saja.
"Dok," kataku akhirnya. Suaraku terdengar lebih pelan dari yang aku mau. "Aku mau jujur."
Dokter mencondongkan badannya sedikit, memberi isyarat supaya aku lanjut tanpa menekanku.
"Aku pengen tahu masa lalu aku."
Kalimat itu terdengar jelas di ruangan ini. Begitu keluar, rasanya seperti aku baru menyadari betapa lama kalimat itu mengendap di dalam kepalaku.
"Aku nggak mau semuanya sekaligus," lanjutku cepat, hampir seperti membela diri. "Aku cuma pengen tahu hal-hal kecil. Sedikit demi sedikit."
Dokter mengangguk pelan. "Apa yang membuatmu ragu untuk melakukannya?"
Aku terdiam.
"Karena Arven," kataku akhirnya, nyaris berbisik.
Kepalaku menunduk. Ujung jariku saling mengait, terlalu kuat sampai terasa nyeri.
"Setiap kali aku nanya," lanjutku, "dia selalu bilang nanti aja. Atau bilang aku bakal capek. Atau bilang itu nggak penting."
Aku berhenti sebentar, menarik napas yang terasa berat.
"Awalnya aku pikir itu karena dia peduli," kataku lagi. "Dan mungkin memang iya."
Aku menelan ludah. Dadaku terasa sesak dengan sesuatu yang tidak bisa langsung kuberi nama.
"Tapi lama-lama aku ngerasa," suaraku turun, "kayak aku nggak boleh tahu."
Dokter tidak langsung menjawab. Dia membiarkan kata-kataku menggantung. Itu justru membuat dadaku semakin penuh.
"Aku tinggal di apartemen hampir setiap hari," kataku. "Keluar cuma kalau sama dia. Semua orang yang aku temui bisa kuhitung dengan satu tangan."
Aku mengangkat wajah dan menatap dokter, mencari kepastian disana.
"Dok," tanyaku, "itu normal nggak?"
Dokter menghela napas pelan, seperti sedang memilih kata.
"Seren," katanya hati-hati, "perlindungan yang berlebihan bisa berubah menjadi ketergantungan. Dan ketergantungan bisa memperlambat pemulihan."
Kalimat itu membuat dadaku bergetar.
"Jadi aku salah?" tanyaku pelan.
"Tidak," jawabnya cepat. "Perasaan kamu sudah benar. Keinginan kamu untuk tahu juga tidak salah."
"Aku takut," kataku jujur. "Takut kalau aku nyari tahu sendiri, Arven marah. Tapi aku juga takut kalau aku nggak nyari tahu apa-apa, aku bakal terus begini."
Dokter terdiam beberapa detik, lalu berkata, "Mungkin kita perlu mulai dari hal yang lebih sederhana."
Aku menatapnya, menunggu.
"Kamu perlu ruang," katanya. "Lebih sering keluar. Bertemu orang lain. Melihat dunia tanpa selalu melalui satu orang."
Aneh, tapi kata-kata itu terdengar masuk akal. Tidak menakutkan seperti yang kubayangkan.
"Aku nggak bilang kamu harus menjauh dari Arven," lanjutnya. "Tapi kamu perlu pengalaman yang bukan hanya tentang dia."
Aku mengangguk kecil.
"Kita bisa mulai dari hal ringan," katanya lagi. "Jalan pagi. Kafe. Perpustakaan. Tempat umum."
Aku menghela napas panjang. Untuk pertama kalinya sejak lama, dadaku terasa sedikit lebih longgar.
Saat sesi berakhir, aku berdiri dan berjalan ke arah pintu. Tanganku menyentuh gagang pintu, tapi sebelum aku keluar,
"Seren," panggil dokter.
Aku menoleh.
"Kamu tidak salah karena ingin tahu siapa dirimu."
Aku tersenyum menatap ke arah dokter itu, Saat aku keluar, Arven berdiri bersandar di dinding. Begitu melihatku, wajahnya langsung berubah. Seperti sedang membaca sesuatu di wajahku.
"Gimana?" tanyanya cepat.
Aku tersenyum kecil. "Biasa aja."
Itu tidak sepenuhnya bohong. Tapi aku juga tidak jujur sepenuhnya. Tak lama kemudian, seorang perawat memanggil namanya.
"Arven? Dokter minta bicara sebentar."
Aku duduk di bangku tunggu. Tanganku terasa dingin. Aku menggosoknya pelan, menunggu hingga, pintu ruang dokter tertutup.
Aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
Tapi saat Arven keluar sekitar sepuluh menit kemudian, aku langsung tahu sesuatu telah berubah. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Senyumnya ada, tapi tidak sampai ke mata.
"Kita pulang," katanya singkat.
Di dalam mobil, ia tidak langsung menyalakan mesin.
"Kamu bilang apa ke dokter?" tanyanya.
Nadanya tenang, tapi dia seperti menahan emosinya.
"Aku cuma cerita perasaanku," jawabku pelan.
Ia menghela napas kasar, lalu berkata, "Dokter nyaranin kamu lebih sering keluar."
Aku menoleh ke arahnya.
"Kamu nggak boleh terus-terusan di apartemen," lanjutnya, suaranya makin rendah. "Katanya itu nggak sehat."
Aku mengangguk kecil. "Itu masuk akal, Ven."
Ia menoleh cepat ke arahku.
"Masuk akal buat siapa?" tanyanya tajam. "Kamu tahu kondisi kamu kayak gimana."
"Aku cuma mau coba-"
"Coba apa?" potongnya. "Keluar sendiri? Ter-trigger? Terus kenapa-kenapa?"
Tangannya mencengkeram setir.
"Aku jagain kamu," katanya. "Kenapa semua orang selalu mikir aku berlebihan?"
Aku diam. Kata-kata itu menusuk dengan tepat, tapi aku tidak tahu harus menyangkal dari mana.
"Kalau kamu kenapa-kenapa," lanjutnya, lebih pelan, lebih berat, "yang tanggung jawab siapa?"