💞💞Ini kisah remaja si triple dari "Ratu Bar-Bar Milik Pilot Tampan"💞💞
______________________________________________
"Akankah 'Pilot's Barbaric Triplets' terbang tinggi, atau jatuh berkeping-keping ketika identitas mereka terungkap?
Alvaro Alexio Nugroho (Varo): di mata dunia, ia adalah pewaris ketenangan sang pilot Nathan. Namun, di balik senyumnya, Varo menyimpan pikiran setajam pisau, selalu selangkah lebih maju dari dua saudara kembarnya. Ia sangat protektif pada Cia.
Alvano Alexio Nugroho (Vano): dengan pesonanya memikat, melindungi saudara-saudaranya dengan caranya sendiri. Ia juga sangat menyayangi Cia.
Alicia Alexio Nugroho (Cia): Ia mendominasi jiwa Bar-bar sang ibunya Ratu, ia tak kenal rasa takut, ceplas-ceplos dan juga bisa sangat manja di saat-saat tertentu pada keluarganya namun siap membela orang yang dicintai.
Terlahir sebagai pewaris dari dua keluarga kaya raya dan terkenal, triplets malah merendahkan kehidupan normal remaja pada umumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Sesaat keheningan menyelimuti jalanan yang tadinya riuh dengan suara pukulan dan teriakan. Kini Cia berdiri tegak di tengah kerumunan para geng motor yang tengah terkapar, napasnya masih terengah-engah, tapi tatapannya tetap tajam dan mengintimidasi. Ia melirik sekilas para anggota geng motor yang meringis kesakitan, lalu mendengus sinis.
"Payah, baru gitu aja kalian udah pada nyerah!" gumamnya pelan, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Aksa, Galang, Arya, dan Bima yang masih terpana di tempatnya masing-masing. Lalu ia kembali menatap para geng motor di sekelilingnya.
"Gimana?" tanyanya, dengan nada mengejek. "Masih ada yang mau dilanjutin? Atau mau gue panggilin daftarin rumah sakit? Mumpung lagi sepi nih, gak pake antre!"
Tak ada satu pun dari anggota geng motor itu yang berani menjawab. Mereka semua menunduk sambil memegangi luka-luka mereka, berharap penderitaan mereka segera berakhir.
"Oke, fix ya! Gue cabut duluan, kalau gitu!" ujar Cia, sambil mengangguk-angguk puas. Ia berbalik dan berjalan menuju motornya yang terparkir sedikit jauh di pinggir jalan, meninggalkan Aksa dan teman-temannya yang masih terdiam. Ia sudah membayangkan kuah bakso Pak Jono yang panas dan gurih. Diet bisa ditunda besok!
"Berhenti!"
Langkah Cia terhenti saat mendengar suara teriakan Aksa. Ia menghela napas panjang dan memutar bola matanya dengan malas. "Cobaan apalagi, ya Tuhan? Sabar ya cacing-cacingku!" batinnya, sebelum berbalik menghadap Aksa dengan ekspresi datar.
"Ada apaan lagi sih?" tanyanya ketus, berusaha menyembunyikan nada penasaran.
Aksa berlari mendekat, diikuti oleh Galang, Arya, dan Bima yang memasang wajah penasaran. Ia berhenti tepat di hadapan Cia, menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada kekaguman, rasa ingin tahu, dan ... apa itu? Ketertarikan? Cia bergidik ngeri.
"Tunggu," ucap Aksa, dengan nada yang sedikit lebih lembut dari sebelumnya. Ia mengulurkan tangannya dan meraih pergelangan tangan Cia, menghentikan langkahnya. "Siapa lo sebenarnya?"
Cia tersentak kaget saat Aksa menyentuh tangannya. Jantungnya tiba-tiba berdegup lebih kencang, ia merasa gugup dan sedikit grogi. Sial! Kenapa juga nih cowok harus pegang-pegang?! Cia berusaha melepaskan genggaman Aksa, tapi cowok itu menggenggamnya terlalu erat.
"Ck! Apaan sih?! Lepasin!" seru Cia, dengan nada kesal. Ia berusaha menyembunyikan kegugupannya di balik sikap kasar dan tatapan tajam. "Gak sopan, tahu?!"
Aksa mengabaikan protes Cia dan semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Cia. Ia menatap mata Cia dengan intens, mencoba mencari jawaban di sana. Mata itu sangat mirip sama mata Cia, tapi ... ada sesuatu yang berbeda. Aksa tidak yakin, tapi ia merasa ada rahasia yang disembunyikan gadis di depannya ini.
"Gue tau lo bukan orang asing," bisik Aksa, dengan nada rendah. "Gue ngerasa pernah liat lo sebelumnya. Dan gue yakin ... lo itu Ratu, kan?"
Cia terdiam membeku mendengar pertanyaan Aksa. Ia tidak menyangka Aksa akan mengenalinya sebagai Ratu, pembalap misterius yang selama ini ia sembunyikan identitasnya. Ia merasakan campuran antara lega dan juga sedikit rasa kesal. Lega karena Aksa tidak tahu identitas aslinya, kesal karena Aksa terlihat tertarik pada sosok Ratu. Kenapa juga cowok ini harus tertarik pada dirinya yang lain?
"Lepasin gue!" seru Cia lagi, berusaha melepaskan genggaman Aksa. Ia khawatir jika Aksa terus menatapnya penyamarannya identitasnya akan terbongkar.
"Nggak sebelum lo jawab pertanyaan gue," balas Aksa, dengan nada tegas. Ia tidak akan melepaskan gadis penolong di hadapannya sebelum mendapatkan jawaban yang memuaskan. Ada sesuatu pada diri gadis itu yang membuatnya penasaran.
"Gue bukan siapa-siapa! Gue cuma kebetulan lewat dan ngeliat kalian lagi berantem! Di tengah jalan dan itu menghalangi jalan gue!" bantah Cia, dengan nada tinggi. Ia berusaha meyakinkan Aksa.
"Bohong!" balas Aksa, dengan nada menuduh. "Gue tau lo bohong! Gue kenal motor sport yang lo pake. Lo itu Ratu, kan?"
Cia terdiam, tidak bisa menjawab. Ia sudah kehabisan alasan untuk menyangkal. Ia tahu, Aksa sudah mengetahui kebenarannya. Tapi, ia tidak bisa membiarkan Aksa tahu siapa dirinya sebenarnya. Cia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan dirinya. Ia harus mengendalikan situasi ini.
"Oke, fine! Anggap aja lo benar, gue Ratu!" seru Cia, akhirnya menyerah. Ia menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Aksa. "Tapi inget satu hal," lanjutnya dengan nada dingin, "Gue, Ratu, gak tertarik sama cowok yang kerjaannya tawuran di jalanan. Mending lo urus aja tuh luka-luka lo, daripada buang-buang waktu gue!"
Ada rasa kesal yang menyusup dalam kata-katanya. Kenapa juga Aksa harus terpukau dengan sosok Ratu?
Setelah mengatakan itu, Cia berbalik dengan cepat menuju motornya. Ia memasang helmnya, menyembunyikan ekspresi kesalnya di balik visor gelap. Dengan sekali hentakan, ia menyalakan mesin dan memutar gas, suara raungan mesin motornya membelah keheningan malam.
Brumm!
"Gue duluan!" teriaknya singkat, lalu melesat pergi, meninggalkan Aksa dan teman-temannya yang masih terpaku di tempatnya. Bakso Pak Jono prioritas tujuan utamanya!
Sementara itu, Aksa hanya bisa menatap kepergian Cia dengan tatapan penasaran. Ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, mencoba mencerna apa yang baru saja terjadi.
"Kenapa Ratu dan Cia membuat gue penasaran!" gumam Aksa dalam hati, dengan nada bingung dan frustasi bersamaan.
"Gila, keren banget dia tadi." timpal Galang tiba-tiba.
"Tapi, kenapa dia ketus bangat ya sama si bos?" tanya Arya, mengerutkan kening.
Aksa mengangkat bahunya, acuh tak acuh, tidak tahu harus menjawab apa. Ia juga bingung dengan sikap gadis itu, padahal sebelumnya Ratu juga pernah menolongnya pada saat balapan malam itu, tapi kenapa gadis itu tetap begitu dingin dan jutek padanya?
"Mungkin Ratu lagi bad mood kali," ujar Bima, mencoba menghibur Aksa.
"Tunggu! Jangan bilang si bos juga suka sama Ratu, terus bagaimana dengan Cia anak baru di sekolah kita?" timpal Arya penasaran.
Aksa tak menghiraukan ocehan Arya, ia fokus menatap ke arah jalanan yang sepi, tempat Cia menghilang. Ia menyeringai tipis, merasa tertantang dengan misteri yang melingkupi gadis itu.
"Gue gak akan nyerah sebelum gue, tahu siapa keduanya! " bisik batin Aksa, dengan nada penuh keyakinan. "Cepet atau lambat, salah satu dari kalian bakal jadi milik gue." lanjutnya lagi.
Kemudian, ia berbalik dan menghampiri teman-temannya. "Udah, yuk cabut!" ujarnya, sambil tersenyum smirk.
Galang, Arya, dan Bima saling bertukar pandang, lalu mengikuti Aksa dengan patuh. Mereka tahu, kalau Aksa sudah memasang target, tidak ada yang bisa menghentikannya.
Namun, di balik senyumnya, Aksa menyembunyikan sebuah pertanyaan besar yang terus berputar di kepalanya: Kenapa Cia dan Ratu memiliki tatapan mata yang sama? Apakah itu hanya kebetulan, atau ada hubungan yang lebih dalam di antara keduanya?
Bersambung ....
🤭🤭
kak dtggu next bab ny yx ,,
cerita ny baguuuus ,,