NovelToon NovelToon
Dikejar, Brondong

Dikejar, Brondong

Status: sedang berlangsung
Genre:Terpaksa Menikahi Murid / Cintamanis / Cinta pada Pandangan Pertama / Berondong
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: sky00libra

Arumi Dessfira, selalu merasa aneh dengan tatapan dan juga tingkah laku Bumantara kepada dirinya. Dia sudah dengan berbagai upaya untuk menghindar, dari gangguan dan godaan Bumantara yang terlalu mempesona itu.

Namun, seperti nya Arumi gagal. Dia mulai merasakan getaran didalam hati nya saat bersama dengan Bumantara, jantung yang berdetak berlebihan, pipinya bahkan selalu merona karena salah tingkah.

Bumantara Bwoel, tertarik kepada perempuan yang baru pertama kali ia lihat, ia menyukai semua yang ada didalam diri Arumi. Dan... Masalah umur hanyalah angka untuk Bumantara, ia akan tetap mengejar Arumi sampai ke ujung dunia sekalipun.

Bagaimana cara Arumi menyikapi rasa yang mulai tumbuh kepada muridnya?
Harus kah ia pergi menjauh dari kejaran pesona Bumantara?
Atau justru ia menyambut rasa itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky00libra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

DB—01

Arumi Dessfira menyelesaikan pekerjaan terakhir nya, waktu jam pulang sekolah sudah berbunyi, dan ia mempunyai misi malam ini untuk merayakan hari ulang tahun kekasih nya.

Anak murid nya bahkan berebutan untuk keluar terlebih dahulu. Dan ... Bumantara, laki-laki yang masih duduk kursi nya, memperhatikan Arumi — guru cantik yang selalu dia imajinasi kan, dalam segala hal.

Arumi menyadari tatapan itu, lalu dia mengalihkan pandangannya dari buku-buku di meja, mengerutkan kening. "Bumantara, kamu enggak keluar? Teman-teman kamu sudah pada pulang itu," kata Arumi, menunjukkan arah pintu, dimana teman-teman sekelas Bumantara sudah keluar.

"Anda selalu cantik Arumi Dessfira," sahut Bumantara, mengerling nakal, bangkit dari duduk nya, perlahan mendekati Arumi yang mendelik tidak suka dengan tingkah murid nya yang nakal itu.

"Yang sopan Bumantara. Saya guru kamu! Ingat itu." Arumi memeluk buku, menenteng tas, bergegas hendak keluar.

Namun, langkah kaki pendek itu terhalang sama kaki panjang yang mengurung nya.

"Apa yang membuat anda tergesa-gesa Arumi? Saya disini, saya ada di depan mata anda. Arumi ...." Bumantara menghembuskan napas hangat di wajah Arumi yang memejam.

Arumi mengepalkan sebelah tangannya yang menjuntai, mendongak. "Anda sudah kehilangan kesopanan Bumantara. Minggir!"

Arumi mendengus, mendorong badan tegap itu yang masih berdiri gagah di depannya, sedikit pun tidak tergoyahkan dengan dorongan kecilnya, perbedaan tinggi badan, dan besarnya sungguh membuat Arumi jengkel.

Bumantara terkekeh geli. "Anda menggemaskan hm," kata Bumantara. "Saya akan tetap mengejar anda Arumi. Apapun halangan nya akan saya terobos kan." Bumantara menyeringai, saat melihat tatapan manik hitam itu yang menyiratkan kemarahan.

Kepergian laki-laki itu membuat Arumi hampir berteriak, dia kesal, marah, saat anak muridnya bernama Bumantara itu yang selalu mengganggu nya. Bahkan tidak segan-segan menggoda nya, pria itu memang sangat kurang ajar.

Arumi menghela napas lega, saat pria itu sudah tidak ada di area sekolah, bahkan di parkiran motor yang biasanya selalu menunggu nya.

Arumi menjalankan motornya kearah rumah sederhana yang bercat putih mengelupas, menghentikan motor matic nya di pelantaran.

Dia ingin mandi air dingin, untuk menghilang kan rasa lelah setelah dibuat kesal oleh laki-laki nakal itu. Arumi menghempaskan tubuhnya ke ranjang, memejam, meletakan sebelah tangan di atas kening. Dia hanya tinggal sendiri di kota ini, jauh dari ibu dan adiknya.

Suara dering telepon membangunkan nya dari rasa kantuk yang hendak membuat nya tertidur. "Mama," gumam Arumi.

Berdeham, lalu mengangkat ponsel itu. "Iya, mama," sahut Arumi.

"Bagaimana kabar mu nak, sehatkan disana, makannya teratur kan?"

"baik mama, Arumi sehat-sehat kok disini. Bagaimana dengan mama, apakah sehat-sehat saja disana?" tanya Arumi balik.

Pembicaraan itu terus berlanjut, sampai akhirnya Arumi menyudahi panggilan itu, dia harus bersiap-siap seperti rencana awal yang ingin mandi air dingin, tadi dia hampir tertidur membuat nya tertunda.

Dan, dia juga ingin memberikan kejutan untuk kekasihnya, yang seharian ini tidak ada mengabarinya, bahkan kue untuk ulang tahun sudah dia pesan. Jadi, nanti tinggal diambil, dan membawakan nya ke apartemen kekasih nya.

Arumi tersenyum, mengingat bagaimana dulu kekasih nya, berusaha mengejarnya, karena dia tipe yang pemilih. Namun, Dipta Artos, berhasil membolak-balik kan hati nya, dia kalah, dia jatuh cinta dan Dipta, kekasih pertama nya.

Bahkan, mereka sudah merencanakan pernikahan mereka akhir tahun ini, semoga selalu di permudahkan, hanya itu doa yang Arumi panjatkan.

Langkah kaki yang awalnya ringan ketika keluar dari rumah, sekarang terasa berat saat hendak memasuki area apartemen Dipta. Arumi menjulurkan tangannya ke pintu apartemen Dipta, rasa gugup dan tidak nyaman di hati nya membuat dia ingin berbalik pulang.

Tapi, kenapa? Arumi menekan sandi, kunci apartemen Dipta, pegangannya pada tas paperbag semakin erat, degup jantung nya nya semakin bergemuruh. Dan, ketika pintu itu berhasil ia buka. Dan... Arumi hanya bisa menatap ruangan itu yang gelap.

"Apa Mas Dipta belum pulang yah?" bertanya kepada dirinya sendiri, sembari menekan saklar lampu dan saat terang karena cahaya lampu.

Arumi syok, tatapan nya mengarah kearah pakaian dan sepatu yang berantakan di dekat sofa, bahkan itu bukan hanya milik seorang pria. Tapi, juga milik seorang perempuan ada disana.

Arumi meletakan paperbag nya di sofa, lalu melanjutkan langkah kaki nya kearah kamar yang tertutup itu.

Arumi merasakan perut nya bergemuruh, jantung nya berdegup cepat, membuat tangan bergetar seperti tidak makan, bahkan tangannya berkeringat.

"Aku harap pikiran buruk ku enggak benar, Mas," gumam Arumi, berdiri di depan pintu kamar Dipta, sembari membuka kan nya dengan perlahan.

"Suara itu." Tubuh Arumi menjadi tegang, matanya terbelalak, dia melihat kedua manusia itu yang sedang bertukar saliva dan berbagi peluh.

Arumi memegang gagang pintu itu semakin erat, hati nya hancur, saat melihat laki-laki yang dia cintai sedang berbagi peluh bersama perempuan lain.

Lalu arumi meninggal kamar itu, bergegas keluar dari apartemen Dipta, dia tidak akan mengganggu waktu kebersamaan Dipta bersama perempuan lain, dia tidak akan membuang-buang tenaga dan suara nya hanya untuk berteriak dan memaki.

"Apakah pria bajingan itu berharap aku memaki dan menangis ketika memergoki nya yang sedang memasuki benda sekecil jempol itu. Tidak akan! Dengarkan pria brengsek, aku tidak akan menangis, justru aku akan meninggal kan mu. Aku masih bisa menemukan yang lebih baik dari pada kamu ...."

Arumi berteriak didalam lift. Apakah Arumi tidak memperhatikan satu manusia di belakangnya? Apakah dia terlalu fokus dengan rasa sakit hatinya? Sampai-sampai sosok yang tinggi dan tegap itu terkekeh tanpa suara, saat mendengar teriakan yang penuh emosi itu.

Atau justru Arumi melihatnya, namun berpura-pura tidak perduli, dan tetap pada keinginan nya yang ingin mencurahkan isi hatinya.

Karena dia tidak mengenal sosok itu, yang sedang mengenakan masker, bahkan sosok itu menundukkan kepalanya.

"Dan ... Pria itu saya Arumi," bisik laki-laki itu, sembari memeluk perut ramping Arumi.

Membuat Arumi terperanjat, memutar kepalanya kearah samping, hingga tatapannya bertautan bersamaan manik abu-abu itu. Arumi memberontak, dia ingin lepas dari dekapan pria besar itu.

"Bumantara ...! Apa-apa kamu ini. Lepas!" seru Arumi berteriak, dan mencoba berusaha melepaskan dekapan Bumantara.

"Sstt ... Arumi, jangan bergerak. Anda membuat cacing alaska saya terbangun dari tidurnya," kata Bumantara, suara nya terdengar parau, dia menghirup semua aroma di leher jenjang putih itu.

"Ohhh ... Saya serius Arumi, hentikan bokong ini, bergerak berlebihan." Bumantara menekannya, benda kebanggaan nya yang sedang menegang akibat gerakan sembrono Arumi, yang memacu aliran darah Bumantara.

Arumi tersentak, dia menghentikan perlawanannya. "Benar seperti itu Arumi," kata Bumantara, sembari melepaskan dekapan nya. Dan ... PLAK!

Bersambung....

1
mungkin
hah....menghela napas
mungkin
bau kecemburuan sudah terlihat
mungkin
ugal-ugalan juga nih brondong, gimana ngga luluh juga tuh Arumi
mungkin
geng kapak ya?
mungkin
nih kerasa gemas nya
mungkin: jangan gini thor
total 1 replies
mungkin
muda ² udah punya pengaruh itu
mungkin
nih rasakan💪 dari Bumantara
mungkin
cam kan itu/Panic/
mungkin
namanya juga pesona brondong licik
mungkin
ya lanjutkan saja
mungkin
jangan malu-malu masih banyak yang perlu dibahas
Anala.: apa saja itu🤭
total 1 replies
mungkin
cinta tidak mengenal salah
Anala.: eyaasa🤭
total 1 replies
mungkin
nyaris saja
mungkin
ini itu tentang ngajar dan ngejar ya, dengan karakter tokoh yang keren
mungkin
lanjut thor. Arumi ngga simple aja thor pelajaran nya
Anala.: 1+1> gitu yah🤣
total 1 replies
mungkin
oh...manis
mungkin
jadi pebinor pun tak apa/Panic/
Anala.: menurut lo🤭
total 1 replies
mungkin
oh masih sopan awalan nya
mungkin
hahahaha
Anala.: yeee tau kan😄
total 1 replies
Anala.
beg0 dia itu🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!