Shelly Anindya, putri dari seorang petani yang bernama Andi atama dan Arisya ningshi sang ibunya. Gadis desa yang memiliki tekad yang bulat untuk menempuh pendidikan di kota demi mengubah nasib di keluarganya. Kehidupan keluarganya selalu menjadi hinaan orang-orang karena kemiskinan. Bagaimana perjalanan Shelly dalam merubah perekonomian keluarganya?, ikuti kisah perjalanannya dalam cerita ini…!
24. TGD.24
Beberapa bulan telah berlalu sejak malam di "Omah Tandur" itu. Kehidupan pernikahan Shelly dan Arkan berjalan seperti ritme alam—terkadang tenang seperti air irigasi di pagi hari, terkadang sibuk dan bising seperti suara mesin penggilingan padi saat panen raya.
Arkan kini telah benar-benar menjadi bagian dari desa. Ia memiliki kantor kecil di depan rumah dengan papan nama kayu bertuliskan *Arkan Architect & Urban-Village Consultant*. Sementara Shelly, ia tetap menjadi "Jenderal Lapangan" di koperasi, namun belakangan ini, ia merasa ada yang aneh dengan tubuhnya.
---
Pagi itu, Shelly terbangun sebelum alarm di ponselnya berbunyi. Alih-alih langsung menuju dapur untuk menjerang air, ia justru terduduk diam di tepi ranjang. Kepalanya terasa berputar, dan aroma kopi yang mulai diseduh Arkan di dapur—aroma yang biasanya ia cintai—kini terasa begitu menusuk dan memicu rasa mual yang hebat.
"Shel? Kamu sudah bangun?" suara Arkan terdengar dari balik pintu. "Kopi tubruk edisi khusus buat Istri Direktur sudah siap, nih!"
Shelly menutup mulutnya, berusaha menahan gejolak di perutnya. "Iya, Mas! Sebentar, aku... aku lagi beresin sprei!"
Shelly segera berlari ke kamar mandi, mengunci pintu, dan melakukan ritual yang sudah ia siapkan sejak kemarin sore setelah diam-diam membeli sebuah alat uji kecil di apotek kecamatan. Jantungnya berdegup lebih kencang daripada saat ia menunggu pengumuman beasiswa Jepang dulu.
Saat dua garis merah itu muncul dengan tegas, Shelly terduduk di lantai kamar mandi. Air matanya jatuh. Ada rasa takut, namun rasa syukur yang jauh lebih besar membuncah di dadanya.
"Benih baru..." bisiknya sambil mengelus perutnya yang masih rata. "Ternyata benar-benar tumbuh."
---
Shelly tidak ingin memberitahu Arkan dengan cara biasa. Ia tahu Arkan adalah pria yang sangat visual dan menyukai detail arsitektural. Maka, Shelly merancang sebuah kejutan yang melibatkan "dunia" mereka berdua: sawah dan denah.
Sore harinya, saat Arkan baru saja pulang dari meninjau proyek balai desa, Shelly sudah menunggunya di teras dengan sebuah gulungan kertas besar.
"Mas, bisa bantu aku sebentar?" tanya Shelly, berusaha menyembunyikan senyumnya.
Arkan meletakkan tas kerjanya, dahinya berkerut. "Bantu apa, Sayang? Tumben mukamu cerah banget, padahal tadi Pak Kardi bilang kamu nggak ke sawah seharian."
"Ini, ada 'denah pengembangan baru' untuk koperasi. Aku bingung menentukan titik koordinatnya. Kamu kan arsitek, tolong cek di gubuk tengah sawah ya. Aku sudah pasang patoknya di sana."
Arkan tertawa sambil melepas sepatu botnya. "Waduh, urusan koordinat sawah saja panggil arsitek. Bayarannya mahal, lho!"
"Bayarannya nggak ternilai, Mas. Cepat sana, mumpung matahari belum terbenam!"
---
Arkan berjalan menyusuri pematang sawah dengan rasa penasaran. Di gubuk tengah sawah—tempat favorit mereka—ia melihat sebuah kotak kayu kecil diletakkan di atas meja tempat biasanya mereka makan siang. Di samping kotak itu, ada sebuah gulungan kertas kalkir milik Arkan yang sepertinya "dipinjam" oleh Shelly.
Arkan membuka gulungan kertas itu. Alih-alih gambar saluran irigasi atau gudang beras, ia melihat sebuah gambar sketsa tangan yang sangat ia kenal: **Sketsa rumah "Omah Tandur" mereka.**
Namun, ada yang berbeda. Di bagian samping rumah, Shelly telah menambahkan sebuah gambar ruangan kecil dengan tinta hijau. Ruangan itu memiliki jendela bundar dan di dalamnya digambar sebuah tempat tidur bayi yang sangat sederhana.
Di bawah gambar itu, tertulis sebuah catatan teknis khas arsitek:
...> **"PENGEMBANGAN RUANGAN BARU: Kamar untuk 'Benih Unggul' kita. Estimasi penyelesaian: 7 Bulan dari sekarang. Status Proyek: Sedang dalam proses pengerjaan oleh Alam."**...
Tangan Arkan mulai gemetar. Ia segera membuka kotak kayu kecil di sampingnya. Di dalamnya, tergeletak alat uji dengan dua garis merah itu, diletakkan di atas hamparan bulir padi yang sudah menguning. Ada secarik kertas kecil lagi di sana:
*"Mas Arkan, sawah kita akan punya tuan kecil. Benih ini sudah tertanam di rahimku. Siap jadi mandor buat proyek paling besar dalam hidup kita?"*
---
Arkan terdiam lama. Ia menatap alat uji itu, lalu menatap sketsa di tangannya. Air mata yang jarang ia keluarkan kini jatuh begitu saja, membasahi kertas kalkir itu. Ia menoleh ke arah rumah, dan melihat Shelly berdiri di kejauhan, di pinggir pematang, sedang menatapnya dengan cemas.
Arkan berlari. Ia tidak peduli jika ia terpeleset lumpur. Begitu sampai di depan Shelly, ia langsung mengangkat tubuh istrinya itu dan memutarnya di udara.
"Mas! Mas Arkan, turunin! Nanti aku pusing!" Shelly tertawa sambil menangis.
Arkan menurunkannya, namun tetap memegang bahunya erat-erat. "Ini beneran, Shel? Kamu nggak lagi bercanda soal 'proyek alam' ini?"
Shelly mengangguk mantap, mengambil tangan Arkan dan meletakkannya di perutnya. "Benar, Mas. Tadi pagi aku sudah cek. Ada detak kehidupan baru di sini. Dia pilih waktu yang pas, saat padi kita mulai menguning."
Arkan berlutut di atas pematang sawah, sejajar dengan perut Shelly. Ia mencium perut itu dengan penuh khidmat, seolah sedang mencium tanah suci.
"Terima kasih, Shel... Terima kasih," bisik Arkan, suaranya parau karena haru. "Aku... aku bingung mau ngomong apa. Aku arsitek, tapi aku nggak pernah tahu cara membangun kebahagiaan sebesar ini."
Shelly mengusap rambut suaminya. "Mas sudah membangun rumahnya, sekarang alam yang kasih isinya. Kita bakal jadi orang tua, Mas."
Arkan berdiri kembali, menatap hamparan sawah di sekeliling mereka. "Shel, kamu tahu nggak? Dulu aku pikir pencapaian terbesarku adalah mendesain gedung pencakar langit. Tapi sekarang, melihatmu mengandung anak kita di desa ini... rasanya kesuksesanku sudah lengkap. Anak ini... dia akan jadi anak sawah yang paling hebat."
"Atau arsitek yang paling mengerti bumi," tambah Shelly.
---
Malam itu, "Omah Tandur" kembali ramai. Shelly dan Arkan memutuskan untuk memberitahu orang tua mereka terlebih dahulu. Bapak Shelly terdiam lama saat diberitahu, lalu ia berjalan ke arah dinding, mengambil kalender, dan mulai menghitung bulan dengan jari-jarinya yang kasar.
"Oktober..." gumam Bapak. "Dia akan lahir saat musim tanam baru dimulai. Itu pertanda baik, Nduk. Dia pembawa berkah."
Ibu Shelly langsung sibuk di dapur, "Ibu harus buat bubur sumsum! Shelly, kamu jangan ke sawah dulu besok! Biar Bapak atau Abangmu saja yang cek sensor-sensor itu!"
"Ibu, Shelly kan cuma hamil, bukan sakit," protes Shelly sambil tertawa.
"Nggak bisa! Kamu itu 'Dewi Padi', kalau Dewinya capek, nanti padinya ikut sedih," timpal Arkan sambil mengedipkan mata, kini ia secara resmi bergabung dalam tim "Protektif" bersama Bapak dan Ibu.
Kabar itu menyebar dengan cepat keesokan harinya. Saat Shelly baru keluar rumah, Pak Kardi sudah berdiri di depan gerbang membawa satu sisir pisang raja yang paling bagus.
"Mbak Shelly! Selamat ya! Ini buat calon 'Bos Kecil' koperasi kita. Tolong, jangan lari-lari lagi di galengan sawah. Kalau ada apa-apa, panggil saya saja, nanti saya yang lari," ujar Pak Kardi dengan tawa bangganya.
Shelly terharu. Ia menyadari bahwa anak yang ia kandung bukan hanya milik ia dan Arkan, tapi juga menjadi harapan baru bagi seluruh warga desa.
---
Malamnya, saat suasana sudah sepi, Arkan duduk di meja kerjanya. Namun kali ini ia tidak menggambar proyek pemerintah. Ia menggambar sebuah kursi goyang kecil dan mainan gantung berbentuk traktor dan padi.
Shelly mendekat, memeluk pundaknya dari belakang. "Masih nggak bisa tidur, Mas?"
"Gimana bisa tidur, Shel? Aku lagi mikir, apa rumah ini sudah cukup aman buat dia? Apa aku perlu pasang pagar di pinggir kolam? Apa udara di sini benar-benar cukup sehat buat bayi?" Arkan mulai menunjukkan gejala "Ayah Panik".
Shelly tertawa, mencium pipi suaminya. "Mas, tenang. Dia akan tumbuh dengan aroma tanah dan suara angin. Dia akan punya ribuan 'kakek' dan 'nenek' di desa ini yang menjaganya. Dia akan baik-baik saja."
Arkan menarik Shelly ke pangkuannya. "Shel, aku janji. Aku akan bangun dunia yang terbaik buat dia. Dunia di mana dia nggak perlu malu jadi anak desa, tapi punya otak seluas samudra. Kayak kamu."
Di bawah cahaya lampu temaram, di tengah kesunyian desa yang menenangkan, Shelly dan Arkan memulai babak baru mereka. Bukan lagi hanya sebagai pasangan yang berjuang untuk ekonomi desa, tapi sebagai orang tua yang sedang menanam benih manusia.
Sawah di luar sana terus tumbuh, dan di dalam rahim Shelly, kehidupan baru pun mulai mengakar.