"Tugasku adalah menjagamu, Leana. Bukan mencintaimu."
Leana Frederick tahu, ia seharusnya berhenti. Mengejar Jimmy sama saja dengan menabrak tembok es yang tak akan pernah cair.
Bagi Jimmy, Leana adalah titipan berharga dari seorang sahabat, bukan wanita yang boleh disentuh.
Hingga satu malam yang menghancurkan batasan itu. Satu malam yang mengubah perlindungan menjadi sebuah obsesi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 28
"Jim... ah, pelan-pelan..."
Lea merintih, suaranya teredam oleh luma-tan Jimmy yang baru saja berpindah dari bibirnya menuju ceruk lehernya yang sensitif.
Jimmy tidak memberikan celah sedikit pun bagi Lea untuk bernapas, apalagi berpikir. Hisa-pan kuat pria itu di kulit leher Lea menciptakan sensasi terbakar yang menjalar ke seluruh sarafnya, membuat Lea tanpa sadar mencengkeram seprei hingga kusut.
"Kau terlalu banyak bicara, Lea. Aku sudah bilang, berhenti mencampuri urusanku," bisik Jimmy dengan suara serak, napasnya yang hangat menerpa telinga Lea.
Tangan Jimmy yang besar merayap turun, memberikan tekanan posesif di pinggang Leana yang membuat gadis itu melengkungkan tubuhnya secara insting.
Lea membalas dengan tarikan kuat pada rambut immy, menarik pria itu kembali ke dalam pagutan bibir yang lebih menuntut. Rasa pahit dari sisa wiski dan aroma maskulin yang kuat dari tubuh Jimmy justru menjadi candu yang membakar gairah wanita itu.
Di tengah guncangan napas yang semakin memburu dan ranjang yang mulai berderit pelan karena pergulatan mereka, tiba-tiba suara ketukan pintu yang sangat familiar menghantam kesadaran keduanya.
Tok! Tok! Tok!
"Lea? Sayang, kau sudah tidur?"
Suara Elise terdengar jelas dari balik pintu kayu kamar yang terkunci.
Tubuh Jimmy dan Lea membeku seketika. Jimmy berhenti tepat saat ia hendak menarik kaos hitam Lea. Mata mereka bertemu dalam kegelapan dan melebar karena panik yang luar biasa.
"Itu mama, Jim! Cepat sembunyi!" lirih Lea.
"Sial," umpat Jimmy. Ia segera berguling menjauh dari tubuh Lea, sembari menyambar pakaiannya yang tercecer di lantai.
"Lea? Mama masuk ya? Ponsel Mama tertinggal di atas meja riasmu tadi," Elise kembali berucap dibarengi dengan bunyi gagang pintu yang diputar.
Beruntung, Lea sudah mengunci pintunya dari dalam sebelum Jimmy menyelinap masuk tadi. Bunyi kunci yang tertahan membuat mereka punya waktu beberapa detik.
"Tunggu, Ma! Sebentar! Aku sedang ganti baju!" teriak Lea sembari mengatur napasnya yang masih terengah-engah.
Lea segera menyambar selimutnya, menutupi tubuhnya yang berantakan, sementara Jimmy dengan cepat menyelinap ke bawah ranjang yang cukup tinggi, bersembunyi di balik juntaian sprei panjang yang menutupi bagian kolong.
Lea sendiri sedang mencoba menormalkan detak jantungnya yang menggila, lalu ia berjalan menuju pintu.
"Mama, maaf, aku baru saja mau tidur," ucap Leana, mencoba tersenyum sealami mungkin agar Elise tak curiga.
Elise menatap putrinya dengan kening berkerut dan penuh selidik.
"Kenapa wajahmu merah sekali? Dan kau berkeringat? Apa kau sakit?"
"Tidak, Ma! Aku baru saja melakukan olahraga ringan sebelum tidur, agar bisa tenang," kilah Leana asal, sebuah alasan paling bodoh yang pernah ia ucapkan.
Elise tidak langsung menjawab. Ia melangkah masuk ke dalam kamar, berjalan melewati Leana menuju meja rias.
Sementara di bawah ranjang, Jimmy menahan napasnya sekuat tenaga. Ia bisa melihat ujung sandal tidur Elise hanya berjarak beberapa inci dari tangannya.
Satu gerakan saja, maka nyawanya atau setidaknya kariernya kan berakhir di tangan calon ibu mertuanya.
"Ini dia!" Elise mengambil ponselnya.
Bukannya langsung keluar, Elise justru berhenti di tengah kamar. Ia menghirup udara di ruangan itu dalam-dalam.
"Baunya aneh di sini. Seperti, aroma parfum pria yang sangat kuat. Dan ada sedikit bau mesiu," lanjut Elise.
Jantung Leana seolah jatuh ke dasar perut seraya melirik ke arah kolong ranjang.
"Itu mungkin karena bau pengawal yang berkeliaran di depan pintu kamarku Ma! Baunya masuk terbawa angin!"
Elise menyipitkan mata, menatap ke arah balkon yang terbuka, lalu kembali menatap ranjang Lea yang sangat berantakan.
Ya, jauh lebih berantakan dari sekadar orang yang berguling saat tidur.
"Begitu ya?" Elise berkata dengan nada yang sangat datar, seolah ia tahu sesuatu namun memilih untuk menyimpannya. "Baiklah. Tidurlah, Lea. Dan tolong, katakan pada pengawal yang berkeliaran tadi, jangan terlalu berisik di dalam kamar. Ini mansion Frederick, bukan hutan."
Leana membeku di tempat. Sementara Elise berbalik dan keluar dari kamar tanpa menoleh lagi sembari menutup pintu.
Selama hampir satu menit, ruangan itu hening total. Sampai akhirnya Jimmy merangkak keluar dari bawah ranjang dengan wajah yang sangat pucat. Ia mengusap wajahnya, lalu menatap pintu dengan tatapan tak percaya.
"Ibumu... dia tahu, kan?" tanya Jimmy.
Lea menjatuhkan dirinya ke ranjang dan menutupi wajahnya dengan bantal.
"Dia sangat tahu, Jim! Habislah aku! Mama itu cukup jenius, dia bisa mendeteksi kebohongan dari jarak satu kilometer!"
Jimmy menghela napas panjang, ia duduk di samping Leana, tangannya yang besar mengusap punggung gadis itu untuk menenangkan.
"Setidaknya dia tidak memanggil Diego dengan senapan berburunya."
"Ini gara-gara kau! Kenapa kau harus masuk lewat balkon dan menyerangku begitu?!" Lea memukul bahu Jimmy dengan bantal dan menyerangnya membabi buta.
"Karena aku tidak bisa tenang sebelum memastikan kau adalah milikku sepenuhnya setelah pembicaraan dengan Daren. Maafkan aku," ucap Jimmy menangkap bantal itu, lalu menarik Lea ke dalam pelukannya lagi.
"Kau berutang penjelasan padaku. Besok pagi, kau harus cerita semuanya," tuntut Lea manja, menyandarkan kepalanya di dada Jimmy.
"Baiklah. Tapi aku tidak janji," bisik Jimmy, sebelum ia kembali menjatuhkan Lea ke atas ranjang, melanjutkan apa yang sempat tertunda tadi.
*
*
"Kau terlalu banyak melamun, sayang. Perjalanan bisnismu benar-benar menyita seluruh perhatianmu dariku," bisik Diego melingkarkan lengan kekarnya di pinggang Elise, menarik punggung polos istrinya agar merapat pada dada bidangnya.
Diego menyibakkan rambut Elise ke samping, mendaratkan kecupan-kecupan menuntut di pundak dan tengkuk istrinya yang harum.
Namun, Elise tetap tak bergeming. Ia hanya menatap kosong ke arah jendela besar kamar mereka, membiarkan sentuhan Diego tanpa membalasnya.
Diego menghentikan gerakannya, ia memutar tubuh Elise agar menghadapnya.
"Ada apa? Kau tidak biasanya sedingin ini."
Elise menghela napas panjang, matanya menatap Diego dengan sorot yang sulit diartikan.
"Sepertinya kita harus segera menikahkan mereka, Diego?"
"Mereka? Siapa maksudmu? Alex sudah menikah, sayang."
"Lea dan Jimmy," jawab Elise cepat. "Aku takut jika mereka sudah melampaui batasan yang tidak seharusnya. Perasaan mereka terlalu besar, terlalu meledak-ledak."
Diego sempat tertegun sebelum akhirnya terkekeh pelan, mencoba mencairkan suasana.
"Jangan khawatir. Jimmy pria yang sangat disiplin. Dia tahu posisinya. Dia tidak akan berbuat hal nekat seperti melanggar kehormatan putri sahabatnya sendiri."
"Tapi, Diego—"
"Kau terlalu banyak berpikir," potong Diego sambil mengusap pipi istrinya lembut. "Jika Jimmy sampai berani melanggar batasan itu, aku sendiri yang akan menghajarnya dengan tanganku hingga dia tidak bisa berdiri lagi."
"Kau tidak bisa bersentuhan dengan orang lain selain aku dan anak-anak. Ingat juga dengan janjimu, Diego. Jangan biarkan sisi gelapmu kembali karena kemarahan," ucap Elise menepis tangan Diego dengan sorot mata tajam.
Diego terdiam, tangannya yang menggantung di udara perlahan mengepal erat. Kata-kata Elise barusan justru menanamkan benih kecemasan baru di hatinya.
Bagaimana jika kekhawatiran Elise benar?
Diego menganggap Jimmy sahabatnya. Tapi sebagai seorang ayah, ia tidak yakin bisa menahan diri jika Jimmy benar-benar telah menjamah milik paling berharga putrinya.
apaan coba lagi lagi gak bisa menahan keinginanmu untuk menanam saham itu🤣🤣
ingat Lea terburu buru ada kelas pagi 😭
ini malah berharap kecambahnya tumbuh 🤣🤣
udah ganti sekarang bukan Jimmy lagi
Diego pria itu sudah menyentuh putrimu lebih dari satu kali
kecanduan dia pengen terus🤣
hadapi dulu calon mertua mu itu hahaha🤣🤣🤣
rasanya pengen tertawa ,menertawakan Wil Wil arogan itu
Tuan Wil mau nikah lagi anda?
bentar nanti di carikan sama pembuat cerita ini 😂
.jawab jim😁😁