NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mantan Prajurit

Keesokan Harinya

Udara pagi ini terasa lebih segar dari biasanya. Embun masih menggantung di ujung daun, berkilau terkena cahaya matahari yang baru saja muncul dari balik pepohonan hutan. Suasana di sekitar rumah terasa hening, namun bukan lagi hening yang menekan seperti hari-hari sebelumnya, melainkan ketenangan yang menenangkan.

Wu Zetian melangkah keluar dari rumahnya dengan gerakan pelan. Tubuhnya masih lemah, namun tidak selemah kemarin. Di kedua tangannya, ia membawa dua mangkuk sederhana dari kayu. Di dalamnya terdapat sayuran hijau rebus yang ia petik sendiri dari pekarangan, serta beberapa potong singkong rebus sisa hasil cabutannya kemarin.

Aroma sederhana dari makanan itu tidak istimewa, namun bagi Zetian, pagi ini terasa berbeda. Ada tujuan di setiap langkahnya.

Ia menutup pintu rumah dengan hati-hati, lalu berjalan menuju rumah kecil di sebelah. Rumah yang kini tak lagi terasa asing.

“Kakek Zhou,” panggilnya lembut sambil mengetuk pintu kayu yang sudah menua.

Tok—tok—tok.

Suara ketukan itu terdengar jelas di pagi yang sunyi.

Tak lama kemudian, pintu terbuka. Kakek Zhou berdiri di sana dengan pakaian sederhana berwarna cokelat kusam. Rambut putihnya sedikit berantakan, seolah baru saja bangun. Wajahnya tampak terkejut, namun keterkejutan itu segera berubah menjadi senyum lebar.

“Nak Zetian?” katanya. “Pagi-pagi begini sudah datang.”

Zetian tersenyum kecil. Ia mengangkat mangkuk di tangannya sedikit lebih tinggi.

“Aku membawa sarapan, Kek. Tidak seberapa, tapi masih hangat.”

Untuk beberapa detik, Kakek Zhou hanya menatapnya. Matanya perlahan berkaca-kaca, bibirnya bergetar tipis sebelum akhirnya ia tersenyum lebih lebar.

“Kau ini…” suaranya sedikit serak, “…benar-benar terlalu baik.”

Zetian menggeleng pelan.

“Tidak, Kek. Aku hanya berbagi.”

Mereka pun duduk bersama di bangku kayu depan rumah. Bangku tua yang kemarin terasa sepi, kini terasa hangat oleh kehadiran dua orang. Sinar matahari pagi menyinari halaman kecil itu, membuat dedaunan tampak lebih hijau dari biasanya.

Mereka menyantap sayuran sederhana dan singkong rebus itu perlahan. Tidak ada percakapan berlebihan, hanya suara kunyahan pelan dan angin pagi yang berdesir di antara pepohonan. Namun keheningan itu tidak canggung. Justru terasa nyaman.

Zetian sesekali melirik kakek di sampingnya. Cara kakek Zhou makan sangat pelan, seolah ingin menghemat setiap suapan. Hatinya terasa sedikit perih melihat itu.

Setelah selesai makan, Zetian merapikan mangkuk dan meletakkannya di samping bangku. Ia menarik napas pelan, lalu menatap kakek Zhou dengan ragu sejenak sebelum akhirnya membuka suara.

“Kek,” ucapnya pelan, “bolehkah aku bertanya sesuatu?”

Kakek Zhou menoleh ke arahnya, senyum lembut masih bertahan di wajahnya.

“Tentu saja, Nak. Apa yang ingin kau tanyakan?”

Zetian menimbang kata-katanya sejenak.

“Sebenarnya… dulu kakek bekerja sebagai apa?”

Pertanyaan itu membuat Kakek Zhou terdiam. Ia tidak langsung menjawab. Pandangannya beralih ke kejauhan, ke arah hutan yang tampak tenang namun menyimpan banyak cerita. Matanya terlihat kosong sejenak, seolah kenangan lama perlahan naik ke permukaan.

“Kakek dulu seorang prajurit Dinasti Tang,” katanya akhirnya.

Nada suaranya datar, namun ada kebanggaan samar di dalamnya.

Zetian terkejut. Matanya sedikit membesar.

“Seorang prajurit…?”

Kakek Zhou tersenyum pahit.

“Ya. Sudah sangat lama. Kakek mengabdi puluhan tahun. Dari medan latihan hingga perbatasan, dari musim panas hingga musim dingin. Kakek menyerahkan hidup kakek untuk kekaisaran.”

Ia tertawa kecil, tawanya getir.

“Tapi setelah pensiun, kakek tak pernah menerima uang pensiun yang dijanjikan.”

Zetian mengernyit.

“Kenapa?”

“Katanya ada kendala,” jawab kakek Zhou tenang. “Administrasi, kesalahan catatan, dan berbagai alasan lainnya. Belakangan baru kakek tahu… aliran dana itu dikorupsi oleh orang-orang di atas.”

Nada suaranya tetap tenang, namun Zetian bisa merasakan kesedihan yang tertahan di balik ketenangan itu. Bukan kemarahan, melainkan kelelahan.

“Lalu… keluarga kakek?” tanya Zetian hati-hati.

Ekspresi kakek Zhou berubah. Kesedihan itu perlahan digantikan oleh sesuatu yang lebih hangat.

“Kakek punya seorang cucu perempuan,” katanya. “Namanya Ningning.”

Nada suaranya melunak saat menyebut nama itu.

“Ia bekerja di wilayah kekaisaran. Gadis yang rajin, kuat, dan tidak pernah mengeluh.”

Zetian tersenyum kecil.

“Dia sering datang menjenguk kakek?”

Kakek Zhou menggeleng pelan.

“Tidak. Ia hanya bisa datang sebulan sekali. Perjalanannya jauh, dan pekerjaannya tak mudah ditinggalkan.”

Ia terdiam sejenak, lalu menambahkan dengan nada yang sedikit lebih ringan,

“Kebetulan… besok adalah hari kunjungannya.”

Zetian tersenyum.

“Berarti besok kita akan kedatangan tamu,” katanya sambil terkekeh kecil, mencoba mencairkan suasana.

Kakek Zhou hanya terkekeh pelan dan mengiyakannya.

Setelah percakapan itu, mereka kembali terdiam. Namun kali ini, keheningan itu terasa penuh makna. Zetian kini benar-benar memahami keadaan kakek Zhou. Seorang mantan prajurit yang terlupakan oleh negara yang pernah ia lindungi, hidup sendiri dengan usia yang tak lagi muda.

Ia menarik napas dalam-dalam.

“Kek,” katanya akhirnya, “sebenarnya aku ingin menceritakan sesuatu.”

Kakek Zhou menoleh, menatapnya penuh perhatian.

“Katakan saja, Nak.”

“Tanah di pekarangan rumahku cukup subur,” lanjut Zetian. “Aku berpikir untuk menanaminya berbagai sayur dan buah-buahan."

Mata kakek Zhou membesar sedikit.

“Itu pemikiran yang sangat bagus,” katanya jujur.

“Kalau berhasil,” kata Zetian sambil tersenyum kecil, “kita tidak perlu khawatir soal makanan lagi.”

Kakek Zhou tertawa kecil.

“Kau benar-benar gadis yang pintar. Tidak banyak anak muda yang mau berpikir sejauh itu.”

Zetian menunduk sedikit, merasa malu.

Hening kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, Zetian tahu apa yang ingin ia katakan selanjutnya. Ia menarik napas, lalu memberanikan diri.

“Kek…” ucapnya pelan namun tegas. “Bagaimana kalau kakek tinggal bersamaku saja?”

Kakek Zhou langsung menggeleng, refleks.

“Tidak, tidak, Nak. Rumah ini masih bisa kakek tempati. Lagipula… kakek tak ingin merepotkanmu.”

“Itu sama sekali tidak merepotkanku, Kek,” balas Zetian cepat. “Aku juga merasa sepi di rumah itu. Akan lebih baik jika kakek tinggal bersamaku.”

“Kau masih muda,” kata kakek Zhou lembut. “Kakek tak ingin menjadi beban.”

Zetian menggeleng pelan.

“Kakek bukan beban.”

Ia menatap kakek Zhou dengan sungguh-sungguh.

“Kakek sudah membantuku kemarin. Tanpa kakek, aku bahkan tidak bisa makan.”

Kakek Zhou terdiam lama. Tangannya yang keriput menggenggam ujung bangku kayu. Matanya berkaca-kaca.

Akhirnya, ia menghela napas panjang.

“Baiklah,” katanya pelan. “Kalau kau benar-benar tidak keberatan…”

Wajah Zetian langsung berseri. Senyum cerah merekah di wajahnya.

“Terima kasih, Kek.”

Dan pagi itu, di bawah sinar matahari yang hangat, sebuah ikatan baru pun terbentuk. Bukan karena darah, melainkan karena kehangatan yang tulus.

___________

Yuhuuuu~

Ga terasa hari pertama novel ini dibuat udah 4 chapter aja. Terus dukung author yaa biar author tambah semangat ngetiknya. Hehe'

Jangan lupa like, komen, vote, dan subscribe 💖

Sampai jumpa besok 🌙

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!