"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"
Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.
Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.
Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MDSC : 22
Pagi datang dengan cahaya yang lembut, sinar matahari menyelinap masuk lewat jendela besar ruang VVIP. aroma antiseptik tercium samar berbaur dengan aroma bunga segar.
Di ranjang pasien, Seno membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat, nyeri menusuk di beberapa titik. Ia mengerang kecil, lalu berhenti ketika matanya menangkap sosok yang tertidur di sisi ranjang.
Indira.
Sosoknya terlihat begitu menawan saat tidur, rambut nya tergerai acak, wajahnya nampak pucat. Kedua tangannya terlipat di atas meja kecil, dan kepalanya bersandar di sana.
Seno menelan napas. Sejak kapan gadis itu tertidur di sana?
Ia pun tak ingat kapan dirinya ada di sini. Potongan- potongan ingatan soal semalam menyerang kepalanya secara perlahan. Preman- preman itu, salah satu nya yang hampir matti di tangan Seno karena tangannya begitu lancang menyentuh gadis ini.
Seno akhirnya mengingat semuanya sekarang. Lagi-lagi tindakan impulsif nya, yang tak bisa ia tahan. Kini ia menyadari, Seno tak bisa lagi kembali ke dirinya saat membenci gadis ini.
Tak bisa lagi! Ada sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya terbuka, ia tak bisa melihat perempuan ini dalam bahaya, dan itu cukup menjelaskan semuanya.
Seno mencubit pangkal hidung nya, rasa sakit di kepalanya masih mendera namun ada sesuatu yang tak bisa ia tahan. Pria itu perlahan mengangkat tangannya sedikit, ingin rasanya membangunkan-- namun akhirnya urung ia lakukan. Ada sesuatu yang terasa terlalu rapuh di momen itu.
Biarlah dia tidur sebentar lagi. Begitu pikirnya.
Seno hendak memalingkan wajah, namun tiba-tiba saja Indira bergerak, kedua matanya terbuka. Tubuh gadis itu refleks menegang saat menyadari ternyata Seno sudah sadar.
"Kamu,... " ia terdiam sejenak, namun seperkian detik kemudian ekspresi nya kembali datar. "Kamu sudah bangun. "
Seno merasakan sesuatu yang berbeda dari cara Indira menatapnya-- kali ini sangat berbeda namun ia tak bisa menebak apa. Seno kemudian mengangguk pelan.
"Sejak kapan kamu disini? "
"Semalaman, " jawab Indira, singkat.
Sunyi menyelinap diantara mereka. Indira hanya menatap ke bawah, sementara Seno tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
Seno akhirnya berdeham pelan. "aku ingat sekarang, " katanya. "terakhir, setelah perkelahian itu aku terjatuh. "
Indira berdiri, merapikan tasnya. "Iya, dan aku yang menangkapmu. "
"Kenapa? "
Indira menatapnya dengan dingin. "Hanya timbal balik. Kamu menyelamatkan ku dan aku hanya membalasnya. "
Ia kemudian berbalik, hendak pergi. Seno mengepalkan tangannya, kenapa keadaan nya jadi berbalik seperti ini? kenapa rasanya tak nyaman melihat perubahan sikap gadis itu padanya dan ada apa dengan perasaan nya? kenapa ia tak bisa menerima ini?!
"Indira, " Seno menahan, suaranya lebih pelan daripada biasanya. "sejak semalam... Pandangan ku mulai berubah.... padamu. " Pria itu mengatakannya dengan sedikit jeda.
Dan bagi Indira, ia mengartikan nya sebagai keraguan. Pria itu jelas mengatakan nya dengan ragu, dan alasannya? ia tak ingin tahu.
Indira tertawa kecil. Hambar. "sebaiknya jangan. "
"Aku serius. "
"Jangan berubah, " potong Indira tajam. "Lebih baik kamu membenci ku saja, itu lebih mudah. "
Seno mengerutkan kening. “Kenapa?”
“Karena kamu masih terikat dengan Windya,” kata Indira, matanya berkilat marah yang tertahan. “Dia terlihat sangat mencintai mu dan aku tidak ingin terlihat seperti orang ketiga di hubungan kalian. "
Ia membuka pintu. “Lebih baik kita saling membenci, daripada kamu bersikap seperti ini.”
Lalu kemudian pintu tertutup, menyisakan Seno yang berdiri membeku.
Seno terdiam, tangannya mengepal di atas selimut, rahangnya mengeras.
Untuk pertama kalinya, ia sadar--ia mungkin sudah terlambat menyadari apa yang tumbuh di hatinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu merambat masuk ke ruang VVIP dengan cahaya jingga yang malas. Tirai jendela setengah terbuka, memperlihatkan taman rumah sakit yang tenang--kontras dengan suasana di dalam ruangan itu.
Pintu terbuka tanpa ketukan.
“Ka--kak Seno!”
Lengkingan itu datang seperti badai kecil. Tinggi, nyaring, dan penuh dramatika.
Windya tiba-tiba saja sudahmenerobos masuk dengan langkah tergesa, gaunnya mencolok, rambutnya tersisir rapi seolah ia sedang menghadiri acara sosial, bukan menjenguk orang yang sekarat. Matanya langsung memerah begitu melihat Seno duduk bersandar di ranjang, kepalanya masih dibalut perban.
“Ya Tuhan, Kak…” Windya menutup mulutnya dengan tangan gemetar. “Kenapa bisa separah ini? Siapa yang lakuin ini ke kamu?” seperti biasa teriakan nya heboh, menggema di ruangan yang tenang itu.
Suster yang sedang memeriksa infus langsung menoleh, alisnya berkerut. Dokter yang berdiri di dekat jendela hanya bisa menghela napas pelan.
Seno sendiri mengerutkan kening. “Windya?” suaranya datar. “Kamu ngapain ke sini?”
Windya tampaknya seperti baik- baik saja, seolah melupakan soal kejadian terakhir kali mereka bertemu.
Gadis langsung menghampiri, hampir menjatuhkan tasnya sendiri. “Aku panik! Aku nyari kamu ke mana-mana, ponsel kamu nggak bisa dihubungi. Aku pikir--” suaranya tercekat dramatis “--aku pikir kamu kenapa-kenapa.”
Dokter berdeham. “Nona, mohon suaranya--"
“Maaf, Dok,” potong Windya cepat, tapi suaranya tetap keras. “saya cuma sedang khawatir sama tunangan saya.”
Suster saling pandang, lalu melanjutkan pekerjaan mereka dengan wajah pasrah.
Seno menatap Windya lama. “Dari mana kamu tahu aku di sini?”
Windya langsung menoleh tajam. “Dari Indira.”
Nama itu meluncur begitu saja.
Seno menegang tanpa sadar. “Indira?”
“Iya,” jawab Windya cepat, lalu nadanya langsung berubah--mengandung kesal yang tak dapat disembunyikan. “Aku terpaksa mendesaknya untuk menjawab kamu di mana. Aku curiga dia sengaja menyembunyikan kamu dari aku.”
Alis Seno naik tipis. “Menyembunyikan?”
Windya mendengus. “Ponsel kamu mati, Kak. Dan refleks aku ingatnya ke dia, karena terakhir kali kamu sedang kelimpungan nyari dia." nadanya di buat sekesal mungkin. " Sudah ku bilang kan ka, apa sih spesial nya sampai kamu nyari dia sebegininya? lihat kamu sampai terluka kan. "
Raka, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, menghela napas pendek. “Nona Windya, nyonya Indira adalah istri tuan, sudah sepatutnya tuan memang mencari istrinya yang saat itu hilang.”
Windya menoleh tajam. “Aku sedang bicara sama Kak Seno ya,bukan dengan mu. ”
Raka hanya mengangkat bahu kecil. “Saya hanya meluruskan.”
Windya kembali ke Seno. “Aku sampai menghubungi ke nomornya langsung, tapi kamu tahu dia jawab apa?”
Seno terdiam, menatap Windya dengan ekspresi yang sulit dibaca.
“Dia bilang,” Windya menirukan dengan nada sinis, “‘Kalau Seno ingin kamu tahu, dia akan memberi kabar sendiri.’”
Windya tertawa kecil, tapi tawanya getir. “Seolah-olah aku ini siapa.”
Mendadak ada sesuatu yang mengendap di dada Seno. Ia tidak nyaman. Bukan karena Windya datang, tapi karena cara Indira menjawab--tenang, tegas, tidak berusaha menyela siapa pun atau tidak peduli.
Seno memejamkan mata sesaat.
Dokter kembali mendekat. “Tuan Seno, kami menyarankan Anda tetap di sini setidaknya dua hari.”
“Tidak,” potong Seno cepat.
Dokter terkejut. “tapi luka Anda--”
“Aku baik-baik saja,” jawab Seno dingin. “Aku harus keluar hari ini.”
Raka langsung mendekat. “Tuan, saya sudah meng-handle semua jadwal kantor, jadi anda bisa istirahat saja.”
“Aku tidak terbiasa berdiam diri,” jawab Seno singkat.
Windya langsung menyambar kesempatan itu. “Iya, Kak. Pulang saja. Aku temani ya.”
Raka melirik Windya sekilas. “Tuan Seno pulang ke mansion. Bukan untuk ditemani ke mana-mana.”
Windya mendengus. “Aku kan--”
"Cukup,” Seno memotong, nada suaranya lelah. “Aku ingin pulang bukan mendengarkan kalian berdebat! "
Windya mengerucutkan bibir, sementara Raka langsung refleks mundur satu langkah. Seno kemudian bangkit, tak menyia- nyiakan kesempatan Windya mendekat dan langsung menggenggam lengan Seno, manja tanpa ragu. “Kak, besok ulang tahun temanku. Aku sudah janji datang sama pasangan. Kamu temani aku, ya?”
Raka terkekeh kecil. “Nona, Anda lupa satu hal.”
Windya menoleh kesal. “Apa lagi?”
“Pasangan pesta itu seharusnya bukan suami orang dan lagipula, kondisi tuan sekarang sedang tidak baik, anda tidak melihat situasi ya? "
Skakmat! ucapan itu seolah jatuh seperti pisau.
Windya membelalak. “Kak Seno!”
Ia menoleh berharap dibela.
Namun Seno tidak menatapnya.
Pandangan Seno justru tertuju ke arah lorong depan ruang VVIP.
Di sana, Indira berjalan berdampingan dengan seorang pria-- dia adalah Adrian.
Dan sorot mata Seno langsung berubah kelam.
*******
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah