NovelToon NovelToon
Mahar Dendam Sang Ceo

Mahar Dendam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Percintaan Konglomerat / Pengantin Pengganti Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Aliansi Pernikahan / Penyesalan Suami
Popularitas:7.4k
Nilai: 5
Nama Author: Jeju Oranye

"Aku tak akan pernah menganggap mu istri apalagi menyentuh mu, karena ikatan ini ada semata- mata untuk menyelamatkan pernikahan kakak ku!"

Bagaimana rasanya harus menikah dengan seseorang yang tidak pernah kita duga sebelumnya? Itulah yang terjadi pada Indira zaraa Husain, laki-laki yang terlihat soleh dan mapan yang menjadi pilihan orang tuanya ternyata tidak sebaik kenyataan nya. Kebenaran yang baru terungkap ketika akad di langsung kan membuat nya mau tak mau harus terlibat pernikahan palsu dengan laki-laki berdarah dingin bernama Senopati trian Barata.

Seno memiliki dendam dan menjadikan Indira istrinya adalah rencana dari dendam nya itu.

Bagaimana pernikahan mereka yang didasarkan atas dendam dan benci itu? ikuti kisahnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeju Oranye, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MDSC : 22

Pagi datang dengan cahaya yang lembut, sinar matahari menyelinap masuk lewat jendela besar ruang VVIP. aroma antiseptik tercium samar berbaur dengan aroma bunga segar.

Di ranjang pasien, Seno membuka matanya perlahan. Kepalanya masih terasa berat, nyeri menusuk di beberapa titik. Ia mengerang kecil, lalu berhenti ketika matanya menangkap sosok yang tertidur di sisi ranjang.

Indira.

Sosoknya terlihat begitu menawan saat tidur, rambut nya tergerai acak, wajahnya nampak pucat. Kedua tangannya terlipat di atas meja kecil, dan kepalanya bersandar di sana.

Seno menelan napas. Sejak kapan gadis itu tertidur di sana?

Ia pun tak ingat kapan dirinya ada di sini. Potongan- potongan ingatan soal semalam menyerang kepalanya secara perlahan. Preman- preman itu, salah satu nya yang hampir matti di tangan Seno karena tangannya begitu lancang menyentuh gadis ini.

Seno akhirnya mengingat semuanya sekarang. Lagi-lagi tindakan impulsif nya, yang tak bisa ia tahan. Kini ia menyadari, Seno tak bisa lagi kembali ke dirinya saat membenci gadis ini.

Tak bisa lagi! Ada sesuatu di dalam dirinya yang akhirnya terbuka, ia tak bisa melihat perempuan ini dalam bahaya, dan itu cukup menjelaskan semuanya.

Seno mencubit pangkal hidung nya, rasa sakit di kepalanya masih mendera namun ada sesuatu yang tak bisa ia tahan. Pria itu perlahan mengangkat tangannya sedikit, ingin rasanya membangunkan-- namun akhirnya urung ia lakukan. Ada sesuatu yang terasa terlalu rapuh di momen itu.

Biarlah dia tidur sebentar lagi. Begitu pikirnya.

Seno hendak memalingkan wajah, namun tiba-tiba saja Indira bergerak, kedua matanya terbuka. Tubuh gadis itu refleks menegang saat menyadari ternyata Seno sudah sadar.

"Kamu,... " ia terdiam sejenak, namun seperkian detik kemudian ekspresi nya kembali datar. "Kamu sudah bangun. "

Seno merasakan sesuatu yang berbeda dari cara Indira menatapnya-- kali ini sangat berbeda namun ia tak bisa menebak apa. Seno kemudian mengangguk pelan.

"Sejak kapan kamu disini? "

"Semalaman, " jawab Indira, singkat.

Sunyi menyelinap diantara mereka. Indira hanya menatap ke bawah, sementara Seno tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.

Seno akhirnya berdeham pelan. "aku ingat sekarang, " katanya. "terakhir, setelah perkelahian itu aku terjatuh. "

Indira berdiri, merapikan tasnya. "Iya, dan aku yang menangkapmu. "

"Kenapa? "

Indira menatapnya dengan dingin. "Hanya timbal balik. Kamu menyelamatkan ku dan aku hanya membalasnya. "

Ia kemudian berbalik, hendak pergi. Seno mengepalkan tangannya, kenapa keadaan nya jadi berbalik seperti ini? kenapa rasanya tak nyaman melihat perubahan sikap gadis itu padanya dan ada apa dengan perasaan nya? kenapa ia tak bisa menerima ini?!

"Indira, " Seno menahan, suaranya lebih pelan daripada biasanya. "sejak semalam... Pandangan ku mulai berubah.... padamu. " Pria itu mengatakannya dengan sedikit jeda.

Dan bagi Indira, ia mengartikan nya sebagai keraguan. Pria itu jelas mengatakan nya dengan ragu, dan alasannya? ia tak ingin tahu.

Indira tertawa kecil. Hambar. "sebaiknya jangan. "

"Aku serius. "

"Jangan berubah, " potong Indira tajam. "Lebih baik kamu membenci ku saja, itu lebih mudah. "

Seno mengerutkan kening. “Kenapa?”

“Karena kamu masih terikat dengan Windya,” kata Indira, matanya berkilat marah yang tertahan. “Dia terlihat sangat mencintai mu dan aku tidak ingin terlihat seperti orang ketiga di hubungan kalian. "

Ia membuka pintu. “Lebih baik kita saling membenci, daripada kamu bersikap seperti ini.”

Lalu kemudian pintu tertutup, menyisakan Seno yang berdiri membeku.

Seno terdiam, tangannya mengepal di atas selimut, rahangnya mengeras.

Untuk pertama kalinya, ia sadar--ia mungkin sudah terlambat menyadari apa yang tumbuh di hatinya.

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Sore itu merambat masuk ke ruang VVIP dengan cahaya jingga yang malas. Tirai jendela setengah terbuka, memperlihatkan taman rumah sakit yang tenang--kontras dengan suasana di dalam ruangan itu.

Pintu terbuka tanpa ketukan.

“Ka--kak Seno!”

Lengkingan itu datang seperti badai kecil. Tinggi, nyaring, dan penuh dramatika.

Windya tiba-tiba saja sudahmenerobos masuk dengan langkah tergesa, gaunnya mencolok, rambutnya tersisir rapi seolah ia sedang menghadiri acara sosial, bukan menjenguk orang yang sekarat. Matanya langsung memerah begitu melihat Seno duduk bersandar di ranjang, kepalanya masih dibalut perban.

“Ya Tuhan, Kak…” Windya menutup mulutnya dengan tangan gemetar. “Kenapa bisa separah ini? Siapa yang lakuin ini ke kamu?” seperti biasa teriakan nya heboh, menggema di ruangan yang tenang itu.

Suster yang sedang memeriksa infus langsung menoleh, alisnya berkerut. Dokter yang berdiri di dekat jendela hanya bisa menghela napas pelan.

Seno sendiri mengerutkan kening. “Windya?” suaranya datar. “Kamu ngapain ke sini?”

Windya tampaknya seperti baik- baik saja, seolah melupakan soal kejadian terakhir kali mereka bertemu.

Gadis langsung menghampiri, hampir menjatuhkan tasnya sendiri. “Aku panik! Aku nyari kamu ke mana-mana, ponsel kamu nggak bisa dihubungi. Aku pikir--” suaranya tercekat dramatis “--aku pikir kamu kenapa-kenapa.”

Dokter berdeham. “Nona, mohon suaranya--"

“Maaf, Dok,” potong Windya cepat, tapi suaranya tetap keras. “saya cuma sedang khawatir sama tunangan saya.”

Suster saling pandang, lalu melanjutkan pekerjaan mereka dengan wajah pasrah.

Seno menatap Windya lama. “Dari mana kamu tahu aku di sini?”

Windya langsung menoleh tajam. “Dari Indira.”

Nama itu meluncur begitu saja.

Seno menegang tanpa sadar. “Indira?”

“Iya,” jawab Windya cepat, lalu nadanya langsung berubah--mengandung kesal yang tak dapat disembunyikan. “Aku terpaksa mendesaknya untuk menjawab kamu di mana. Aku curiga dia sengaja menyembunyikan kamu dari aku.”

Alis Seno naik tipis. “Menyembunyikan?”

Windya mendengus. “Ponsel kamu mati, Kak. Dan refleks aku ingatnya ke dia, karena terakhir kali kamu sedang kelimpungan nyari dia." nadanya di buat sekesal mungkin. " Sudah ku bilang kan ka, apa sih spesial nya sampai kamu nyari dia sebegininya? lihat kamu sampai terluka kan. "

Raka, yang sejak tadi berdiri di sudut ruangan, menghela napas pendek. “Nona Windya, nyonya Indira adalah istri tuan, sudah sepatutnya tuan memang mencari istrinya yang saat itu hilang.”

Windya menoleh tajam. “Aku sedang bicara sama Kak Seno ya,bukan dengan mu. ”

Raka hanya mengangkat bahu kecil. “Saya hanya meluruskan.”

Windya kembali ke Seno. “Aku sampai menghubungi ke nomornya langsung, tapi kamu tahu dia jawab apa?”

Seno terdiam, menatap Windya dengan ekspresi yang sulit dibaca.

“Dia bilang,” Windya menirukan dengan nada sinis, “‘Kalau Seno ingin kamu tahu, dia akan memberi kabar sendiri.’”

Windya tertawa kecil, tapi tawanya getir. “Seolah-olah aku ini siapa.”

Mendadak ada sesuatu yang mengendap di dada Seno. Ia tidak nyaman. Bukan karena Windya datang, tapi karena cara Indira menjawab--tenang, tegas, tidak berusaha menyela siapa pun atau tidak peduli.

Seno memejamkan mata sesaat.

Dokter kembali mendekat. “Tuan Seno, kami menyarankan Anda tetap di sini setidaknya dua hari.”

“Tidak,” potong Seno cepat.

Dokter terkejut. “tapi luka Anda--”

“Aku baik-baik saja,” jawab Seno dingin. “Aku harus keluar hari ini.”

Raka langsung mendekat. “Tuan, saya sudah meng-handle semua jadwal kantor, jadi anda bisa istirahat saja.”

“Aku tidak terbiasa berdiam diri,” jawab Seno singkat.

Windya langsung menyambar kesempatan itu. “Iya, Kak. Pulang saja. Aku temani ya.”

Raka melirik Windya sekilas. “Tuan Seno pulang ke mansion. Bukan untuk ditemani ke mana-mana.”

Windya mendengus. “Aku kan--”

"Cukup,” Seno memotong, nada suaranya lelah. “Aku ingin pulang bukan mendengarkan kalian berdebat! "

Windya mengerucutkan bibir, sementara Raka langsung refleks mundur satu langkah. Seno kemudian bangkit, tak menyia- nyiakan kesempatan Windya mendekat dan langsung menggenggam lengan Seno, manja tanpa ragu. “Kak, besok ulang tahun temanku. Aku sudah janji datang sama pasangan. Kamu temani aku, ya?”

Raka terkekeh kecil. “Nona, Anda lupa satu hal.”

Windya menoleh kesal. “Apa lagi?”

“Pasangan pesta itu seharusnya bukan suami orang dan lagipula, kondisi tuan sekarang sedang tidak baik, anda tidak melihat situasi ya? "

Skakmat! ucapan itu seolah jatuh seperti pisau.

Windya membelalak. “Kak Seno!”

Ia menoleh berharap dibela.

Namun Seno tidak menatapnya.

Pandangan Seno justru tertuju ke arah lorong depan ruang VVIP.

Di sana, Indira berjalan berdampingan dengan seorang pria-- dia adalah Adrian.

Dan sorot mata Seno langsung berubah kelam.

*******

1
Ayesha Almira
puas bgt indira bkn wanita yg lemah..
partini
jijik sehhh punya mu aja udah longgar kaya terowongan juga, nanti tekdung cari kambing hitam sihhh
partini
nanti tekdung bilang anaknya Seno aihhh ,, OMG seno seno CEO ledhoooooooooo 🤣🤣🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha windya memang pelacur murahan, pantas saja berambisi ingin jadi istrinya Seno, dan Seno bodohnya percaya dengan pelacur murahan seperti windya 🤭🤭🤣🤣
Aiyaa writer
bagus
Ariany Sudjana
hah Seno kamu bodoh, kamu ga suka Indira dekat dengan Adrian, sedangkan jalang peliharaan kamu itu nempel terus kaya perangko dan terus jadi kompor buat kamu, tapi kamu diam saja
partini
hemmm aihh seno seno bisa ga sih kamu berbeda dari laki laki lain yg melohoyyy 🤦🤦
ga tegas ulet bulu nempel pun diem" Bae rasa"kamu kurang 12/ons
azzura faradiva
dasar pria rakus,plin plan sana sini mauuuuu🙄
partini
seno lelaki menyek" ga ada tegas sedikit pun aduhhh 🤦🤦🤦
Ariany Sudjana
windya kamu ini pelacur murahan, udah tahu seni itu suami Indira, tapi kamu ga tahu diri nempel terus kaya perangko, benar-benar pelacur murahan kamu
Helen@Ellen@Len'z: 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦windya windya 🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
Dian Pravita Sari
ini pun gak tamat??? bener bener kecewa gak da satupun yg tamat cerita di novel. tooo
tinggalkan aja gak ada tanggung jawabnya buat pembaca
Dancingpoem: sabar ka, ini baru 21 bab dan masih bersambung/Sweat/
total 1 replies
partini
luka tusuk lama ehhhh apa seno seorang mafia
aduh ran ran laki laki kaya gitu di pertahankan cinta buta kamu
sen kamu ga tau kelakuan iparmu bantai lah dari pada nyakitin istri
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan gila kamu windya, kalau seno sudah tidak mau sama kamu ya sudah, dasar gila dan serakah kamu yah
Helen@Ellen@Len'z: windya🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦🤦
total 1 replies
partini
memang sudah gila tuh anak asuh mu
partini
Widya kaya jelangkung deh
aduh situ lagi apa di dada remas" ga yah
Ariany Sudjana
dasar jalang murahan kamu windya, sampai segitunya kamu ngejar Seno, semoga setelah ini Seno bisa membuka hatinya untuk Indira, kalau tetap ga bisa juga, sudahlah Indira tinggalkan saja Seno, lebih baik kamu dengan Adrian
Ariany Sudjana
bodoh kamu Seno, Indira kamu biarkan sendiri di halte bus, dan kamu lebih membela menjemput jalang murahan itu di kampus, suami macam apa kamu? lebih baik Indira dengan Adrian saja, Adrian lebih bisa menghargai perempuan
Helen@Ellen@Len'z: setuju bgt andai lndra sm adrian aja drpd bersuami seno bangsat🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬jd lepaskan lndira biar lndira bahagia bersama org lain aja drpd berumahtangga sm seno🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬🤬
total 1 replies
partini
Indira generasi sandwich
Ariany Sudjana
dasar orang tua ga tahu diri, anak laki ga jelas gitu dibela terus, dikasih duit terus, dan kalau ada masalah, Indira yang jadi sapi perah. kasihan Indira, sudah orang tua ga tahu diri, punya suami hanya status di atas kertas saja, tapi ga pernah dianggap
Ariany Sudjana
betul Adrian, lebih setuju Indira dengan Adrian, daripada dengan seno, yang tidak pernah bisa menghargai Indira, apalagi Seno juga kan punya perempuan lain yang dicintai
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!