Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
“Oke, balik ke laptop.”
Seorang perempuan menatap layar datar amoled dengan jari-jari yang rapi menari di atas keyboard seolah sedang memainkan nada-nada murni yang hanya dimengerti dirinya sendiri. Di luar jendela kantor coworking yang tinggi, kota itu bergerak cepat, seolah sibuk 24 jam dalam sehari, tiada jeda dan henti. Klakson kendaraan saling bersahutan seperti orkestra kacau, membelah jalanan kota yang berkilau lampunya menghiasi malam gelap itu.
Dia menegakkan punggung, memutar kursi hitam ergonomisnya, dan memandang jam dinding. Pukul delapan pagi, tepat waktu sesuai urutannya. Itu prinsip hidupnya, semua harus tertata dan terkendali dengan baik. Minimal sesuai rencana yang disusun rapi dalam pikiran.
Perempuan itu adalah Cyan. Bukan atasan biasa, tetapi sosok yang membuat orang segan sekaligus kagum. Seseorang yang tegas, rapi, perfeksionis, dan memiliki kendali atas sesuatu yang menjadi tanggung jawabnya selama ini. Pakaian selalu pas, sepatu hitam selalu mengilap, dan rambut yang tertata sempurna.
Bagi Cyan, hidup adalah daftar rencana yang harus dieksekusi tanpa cela. Ia percaya, jika dunia tidak mau diatur, minimal dirinya harus teratur.
Namun, kota ini tidak peduli dengan rencana Cyan. Lift yang sering rusak membuat para penghuni gedung menggerutu, kafe-kafe kecil di sekitarnya selalu penuh dengan orang-orang yang membawa laptop, tapi malah sibuk mengobrol. Ah, istilah sok sibuk itu nyata adanya. Cyan memilih abai, masalah dan kesibukannya lebih penting dibanding sekadar mengomentari hidup orang lain.
Di luar jendela, sebuah pengendara sepeda listrik hampir menabrak seorang pejalan kaki karena terlalu fokus menatap ponsel. Memang benar di sela riwehnya urusan kerja, menatap keseharian orang berlalu-lalang itu sudah cukup menyenangkan hati Cyan.
Di meja sebelah, dua freelancer sedang berdebat keras seolah dunia mau kiamat besok pagi. Masalahnya? Sangat amat sepele banget. Cuman sebuah font.
“Roboto itu flex banget, Bro!”
“Inter lebih modern. Roboto tuh udah terlalu mainstream, Bro!”
Cyan menatap mereka sebentar. Debat font jam delapan pagi adalah bentuk seni lain dari kota besar.
“Oke, semuanya harus tepat waktu,” gumamnya sendiri, seolah dunia berada dalam genggamannya saat ini.
***
Ruang rapat di lantai delapan terasa jauh lebih sunyi dibanding coworking space. Cyan tahu, itu hanya kesunyian bias sementara sebelum kekacauan yang sebenarnya dimulai. Cahaya putih dari neon di langit-langit memantul di meja kaca panjang, membuat atmosfer tegang dan terbayang-bayang. Kursi-kursi kulit hitam sudah tersusun rapi, siap diduduki siapa saja yang berkehendak.
Cyan menata laptopnya, memastikan kabel HDMI sudah terhubung, pointer bekerja, dan slide presentasi tampil sempurna tanpa satu pixel pun yang miring. Prinsip sejak awal yang tidak goyah, semua harus rapi dan teroganisir. Bergeser sedikit saja, suasana hatinya langsung memburuk dan stres berkepanjangan akan mengacaukan segalanya.
Timnya mulai masuk satu per satu. Ada yang menguap mencuri-curi pandang, ada yang sibuk membolak-balik kertas seperti reporter investigasi, dan ada pula yang hanya duduk sambil menatap meja. Mungkin memikirkan menu sarapan yang belum sempat ia beli.
Cyan berdiri tegap di depan ruangan, menatap jam dinding. 09.00 tepat.
“Baik, mari kita mulai ya,” katanya.
Slide pertama muncul, pantulan garis huruf dan diagram tergambar sempurna di balik kacamatanya. Lima menit pertama berjalan mulus, hingga akhirnya pintu ruang rapat terbuka.
Cklek!
Suara kecil itu saja sudah cukup membuat semua orang terkejut seolah ada granat asap dilempar ke tengah meja rapat. Di ambang pintu, seseorang berdiri dengan pandangan nyalang dan napas memburu, seperti baru berdebat dengan zombie liar di perjalanan sana.
Magenta.
“Teman-teman. Maaf, saya terlambat,” serunya.
Cyan memejamkan mata sebentar, sementara tim lainnya saling melempar pandang.
Magenta melangkah masuk, kursinya berdecit keras saat ditarik. Lumayan membuat Cyan menghela napas panjang. Ya, pengacau ini lagi, datang terlambat di saat yang kurang tepat. Padahal apa susahnya bersiap-siap lebih awal? Ah, tapi siapa yang tahu jika ia benar-benar berhadapan dengan zombie di lift keramat itu?
“Magenta, rapat sudah dimulai dari pukul sembilan,” ucap Cyan pelan, hampir tidak terdengar.
“Iya. Dan saya sudah siap kok. Nih laptopnya saya hidupin dulu, tadi sempet mati mendadak. Mungkin laptopnya ikut gregetan sama liftnya,” balas Magenta beralasan.
Beberapa anggota tim tertawa kecil, layaknya menyimak humor receh di tengah atmosfer mencekam itu, kecuali Cyan.
“Saya harap keterlambatan ini tidak akan terulang. Ini rapat penting.”
“Tenang aja, Bu Cyan, easy.”
Ada yang cekikikan, lalu terbatuk-batuk menahan tawa ketika tatapannya tak sengaja bertemu dengan Cyan. Seketika serempak mencatat hal yang tidak penting.
Cyan mengetuk meja, memberi interupsi. “Semuanya tolong fokus.”
Presentasi dilanjutkan, slide demi slide. Public speaking yang bagus membuat perempuan itu tidak membutuhkan waktu lama untuk menjelaskan. Sampai akhirnya ....
“Bentar,” potong Magenta sambil mengangkat tangan, “slide ketiga itu backgroundnya abu-abu nggak sih?”
“Itu udah sesuai dengan color palette guideline.”
“Ah. Saya kira kenapa, kok pas banget sama warna tembok ruang rapat. Kayaknya temboknya nyontek slide Anda, Bu.”
Tawa dalam ruangan meledak lagi. Cyan menarik napas panjang, seperti mencoba menghirup kesabaran dari udara yang semakin menipis. Ya, terlalu boros memang berbagi oksigen dengan orang-orang ini, khususnya Magenta.
“Kita lanjut ya,” ujar Cyan.
Slide keempat muncul dan Magenta kembali angkat tangan.
“Saya boleh nanya?”
“Nggak dulu,” jawab Cyan cepat.
Magenta menurunkan tangannya, setengah kepala itu tertunduk malu. Ia berpikir sejenak dan lima detik kemudian.
“Tapi, Bu sekali–“
“MAGENTA!”
Ruangan tiba-tiba senyap, hanya terdengar suara embusan napas Cyan yang lebih berat dari sebelumnya. Cyan memijat pelipis, tiba-tiba terasa pening bukan main. Seharusnya ia tahu dari awal bahwa menggabungkan disiplin ketat miliknya dengan kejujuran brutal Magenta selalu punya hasil yang memperkeruh situasi. Ya, kali ini semesta gagal memberi pertanda karena Cyan terlalu bermasa bodoh.
Magenta membuka laptop-nya yang tiba-tiba mengeluarkan suara kipas seperti pesawat yang akan lepas landas.
“Maaf. Dia biasanya begini kalo lagi stres. Sama kayak orang-orang di timeline Twitter.”
Cyan menahan diri untuk tidak menatapnya terlalu tajam, tetapi dari helaan napasnya sudah cukup menjawab sesuatu. Rapat tetap berjalan. Beberapa slide berjalan lancar, sampai Magenta bersandar ke kursi dan berkata cukup keras agar seluruh ruangan mendengar.
“Eh, slide tujuh ini datanya beda ya sama yang Anda kasih seminggu lalu. Atau saya salah lihat? Kayaknya dulu angka persentasenya lebih kecil deh.”
Seisi ruangan langsung tegang.
Cyan menatap Magenta pelan, menimbang-nimbang apakah ia harus tersenyum diplomatis atau melempar pointer. Sepertinya tidak ada opsi yang lebih baik karena nyatanya ia ingin memutilasi orang itu.
“Data seminggu yang lalu adalah data lama, yang ini sudah diperbarui,” jelas Cyan.
“Ooooh, begitu. Berarti yang lama itu salah dong?”
“Bukan salah, hanya sudah diperbarui. Mungkin sebutannya, di-update.”
“Good, soalnya saya sempat mikir datanya ngaco.”
Tatapan elang Cyan membuat seisi ruangan kembali ricuh. Sorak sorai para tim yang seolah satu pemikiran dengan Magenta itu semakin memusingkan kepala Cyan. Rasanya nyaris pecah, tapi untungnya ia mulai terbiasa menghadapi kegilaan ini.
“Ya Tuhan. It’s okay. Sabar. Setidaknya ada orang yang lebih gila dari gue ternyata,” batinnya lelah dengan tingkat kewarasan Cyan yang makin terkikis.
“Saya cuma ingin memastikan. Kita kan nggak mau klien mikir kita asal lempar angka.”
Cyan tetap berusaha tersenyum profesional, tapi garis rahangnya sudah terlihat jelas. Sudah tentu tim lain mulai gelisah, celingukan satu sama lain seolah masing-masing saling membaca pikiran. Oh, dukun kah?
“Mas Maag, tolong diem dulu,” bisik seseorang.
“Saya diem kok. Saya tau kapan saya harus ... oh, itu slide barunya? Cantik tuh.” Sungguh seseorang yang terlalu mudah terdistraksi. Cyan buru-buru mengganti slide agar pembicaraan tidak berlanjut panjang.
Rapat pun kembali dilaksanakan, meski ritmenya sudah tidak seperti metronom rapi versi Cyan, melainkan seperti drum band yang jalan sambil mabuk.
Dan secara tiba-tiba Magenta mencondongkan tubuh, kini ia persis seperti orang sakaw.
“Permisi, Bu Cyan. Saya boleh berkomentar sedikit?”
“Oke, dikit aja.”
“Slide ini udah bagus sih, tapi menurut saya kalo mau impresif, harusnya dikasih warna cerah sedikit. Abu-abu semua tuh kayak nuansa hidup saya pas tanggal tua.”
Tawa pecah, meledak, dan tidak tertahan. Sampai kursi seseorang bergeser keras, membuat gelas kopi bergoyang. Kacau, rasanya bukan meeting penting, melainkan stand up comedy dengan Magenta sebagai tokoh utamanya.
Cyan menatap Magenta dengan mata setajam laser pointer.
“Jika Anda ingin membuat presentasi sendiri, buatlah, tapi sekarang tolong hargai rapat ini.”
“Tenang, saya menghargai kok. Anda tau saya itu pengagum presentasi rapi, tapi ya rapi bukan berarti harus kayak surat pernikahan KUA.”
“PFFT, HAHAHAHA!”
Cyan merasakan alisnya bergerak sendiri. Dia tidak bisa menahan diri.
“Magenta, bisa nggak kali ini Anda fokus dan hanya diam dulu sebentar gitu?”
Magenta menaikkan kedua tangan, seolah menyerah. “Oke, sekarang saya diam. Silakan dilanjut.”
Dan untuk pertama kalinya sejak Magenta masuk, lima belas detik hening tercipta. Hanya lima belas detik mulutnya menahan untuk tidak meracau lagi, hingga akhirnya ....
“Saya hanya ingin memastikan satu hal, sumpah kali ini terakhir deh.”
“MAGENTA!”
Boom!
“Anjing lah satwa liar satu itu.”
Ruang rapat kembali pecah. Orang-orang menunduk sambil tertawa, sebagian lagi berpura-pura minum karena tersedak, lalu ada yang menutupi wajahnya dengan folder.
“Apa? Saya hanya ingin mengatakan pointer-mu habis baterai. Tadi kedip-kedip, saya takut pas presentasi ke klien nanti pointer-nya bunyi bip terus mati.”
Cyan memeriksa pointer dan benar saja, baterainya hampir habis. Tentu saja Magenta harus mengakui kebenaran pada momen paling menyebalkan.
“Terima kasih peringatannya,” ucap Cyan datar.
“See? Kadang kekacauan kecil itu berguna dan Anda harus peka loh sama hal-hal kecil yang berpengaruh di masa depan. Jangan kebanyakan marah-marah mulu, Bu Bos,” balas Magenta bangga, seolah berhasil menyelamatkan sesuatu yang berharga. Angkuh sekali.
Cyan menatap langit-langit. Hari baru mulai satu jam, rapat baru satu sesi, Magenta baru hadir lima belas menit yang lalu, tetapi Cyan sudah ingin membuka jendela dan berteriak dengan sangat keras.
Beberapa waktu berlalu, rapat pagi itu akhirnya berakhir, tapi meninggalkan jejak kericuhan yang menggema sampai ke meja coworking di luar.
“Kalau tu orang berbentuk bola, udah gue tendang ke luar planet dari tadi.”
jadi senyum" sendiri kan keinget ciuman di bandung🤣