Ada yang bilang anak perempuan itu kesayangan ayahnya
tapi, Anisa bukan putri kandung keluarga ini
Ia anak adopsi yang kebetulan bertemu dengan James Arthur didepan panti asuhannya.
Pertama kali melihat Anisa James langsung membawanya.
Anisa menjadi kesayangan James saja nyawanya hampir dalam bahaya.
Karena Anisa sadar ia kesayangan pria yang dianggapnya ayah sekarang semua bahaya itu ia tantang seperti masalah kecil.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sky tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rosa Alba Australis
Masih lanjut dengan makanan didepannya tapi, raut wajah yang terus berubah. Tidak membosankan juga punya anak tanpa menikah.
James menikmati pemandangan didepannya.
"Ayah tahu aku tak pernah makan sebanyak ini?"
"Aku tak perduli, sekarang kau denganku harus makan banyak."
"Ayah aku mau cerita jangan menyela!"
"Iyaa Tuan putri katakan lah."
Anisa bicara dengan raut wajah sedih sambil tangan melepaskan sendok dan garpu yang tadi semangat ia pegang kini ia simpan diatas piring dengan rapi.
Penganiayaan dan jual beli anak bahkan tak ada yang perduli kalo ada anak mati disana, kalo ada yang sakit mereka mempercepat kematiannya dengan di racuni. Anisa bisa tetap hidup karena ia bertahan memberontak kadang di pukul seperti hewan liar yang terus melawan.
"Lalu apa hukuman untuk orang jahat?" Pertanyaan yang di katakan anak usia sepuluh tahun dengan wajah polosnya setelah menceritakan isi hatinya yang pahit.
James diam meminum tehnya sambil menatap kedua mata Anisa dan juga seluruh fisik Anisa yang begitu mirip dengannya saat masih kecil. Silva pasti sadar kalo Anisa begitu mirip dengannya pasti ini bisa memicu masalah kalo James menemukan putrinya yang hilang atau putrinya di luar nikah.
Semua cerita Anisa ia dengar semua tak ada yang ia lewatkan, bahkan rasanya ia ingin memotong setiap bagian menjadi halus dengan pedang yang tajam.
Didepan Anisa sekarang, James harus menahan emosi dan keinginan brutalnya.
"Apa yang kau mau?"
"Entahlah." Jawaban lesu yang tidak tahu harus apa. Anisa bingung.
"Lalu untuk apa kau bertanya jika tidak ada keinginanmu disana." James kembali menatap tajam raut wajah yang takut dan berusaha berani bicara.
"Hukuman mati dan juga penggal sepertinya cocok! Aku membaca buku cerita yang penjahatnya di hukum mati atau penggal."
Sedikit membeku dengan ide yang di katakan anak kecil ini.
"Huhf~ lagi-lagi aku harus mengajarimu berbahasa yang baik."
Mengeluarkan ponselnya James menelpon Silva dan di saat yang sama tatapan berharap yang sangat mengemaskan menunggu jawaban dari James.
"Lakukan sesuai bukti yang kamu dapatkan."
Selesai menelpon dan sekarang memperhatikan wajah mengemaskan yang manis ini, senyuman tipis James membuat Anisa kaget tapi, balik lagi Anisa tersenyum lebar pada James.
Usapan di kepalanya saat berdiri dari kursinya.
"Habiskan yang ada di atas meja makan, aku akan pergi sebentar, aku kembali harus selesai."
***
Masuk lagi James ke dalam dan melihat Anisa sudah duduk di sofa menunggunya menatap ke depan dimana hanya ada televisi yang memperlihatkan kartun anak-anak.
"Ini untukmu." Duduk di samping Anisa dengan malas wajahnya tapi, ia melakukannya karena suka dekat dengan Anisa. Kakinya di tumpuk dengan punggung bersandar dan satu tangan di lebarkan di sandaran sofa belakang Anisa.
"Apa ini?" polos sekali pertanyaannya karena bentuknya seperti kantung dan diikat pita kawat warna emas kecil.
"Itu adalah manisan, aku mendapatkannya dari koki dan ia bilang anak kecil menyukainya, kupikir kau suka jika tidak kembalikan sini!"
Di genggamnya erat di peluknya.
"Tidak boleh, barang yang di berikan di larang diambil lagi."
"Baiklah."
Selama keduanya diam memperhatikan televisi didepan, diam-diam James melihat Anisa dari samping tangannya yang masih memegang dua buah manisan itu tidak langsung memakannya dan hanya memeganginya saja.
James teringat ucapan Silva di telpon jika di panti ini banyak di temukan kuburan baru juga beberapa racun dan pakaian anak yang tergeletak kotor di tanah tapi, kondisi tidak seperti lama di tinggalkan.
Pandangan mata James menggelap.
Seketika berubah dengan kejadian yang hampir sudah tidak pernah muncul lagi dalam ingatannya. Tidak mungkin perempuan dalam ingatan James itu dan anak ini memiliki hubungan darah kan?
Menginap semalam di hotel yang mewah waktunya keluar Anisa terlihat ceria bahkan berjalan di gandeng James penuh riang dari cara jalan yang setengah melompat dan tersenyum senang.
Canaria mengekor di belakang keduanya.
Disambut bawahannya di depan lobi dan juga ada Silva disana.
Anisa melihat Silva melambaikan tangannya dengan senyum cerah.
"Selamat pagi Paman!" Semangat sekali dan sangat positif ya.
Silva sekali lagi mengakui keduanya benar-benar seperti memiliki hubungan darah. James tiba-tiba mengangkat Anisa ke gendongannya dan pergi berjalan menuruni tangga.
Saat sudah masuk kedalam mobil dan semua staf memasukkan barang yang ada ke bagasi mobil lain.
Silva dan lainnya masih di luar mobil.
"Pak Silva?" salah satunya mendekati Silva.
"Kau jangan bertanya?" Sudah tahu pasti mereka akan menanyakan hal ini.
"Bukan benar-benar putri nya Tuankan?"
"Sialan! Aku sudah katakan itu."
Perjalan pulang ke kediaman utama dan itu adalah rumah milik James sendiri dengan kabar kedatangan Anisa membuat satu mansion di buat pusing karena ini pertama kalinya mereka menerima tamu anak-anak.
Tidak ada yang kurang atau berlebihan? Kepala pelayan, Sol Matutinus mengkhawatirkan hal yang percuma tapi, ini akan menjadi pengalaman barunya.
"Apa ini anak Tuan Bu?" Salah satu pelayan benar-benar penasaran.
"Jaga sikap kalian jika ada yang bicara sembarang pekerjaan kalian akan hilang dan sulit mencari pekerjaan lagi."
Semua pelayan diam menunduk.
Datang rombongan mobil tuannya dan Silva yang turun duluan membukakan pintu mobil untuk Anisa dan sopir membukakan pintu mobil untuk James. Keduanya berjalan bersama memasuki pintu utama yang di sambut pada pelayan .
Kepala pelayan Sol Matutinus yang sudah terlihat nenek-nenek dengan rambut putih seluruhnya di sanggul rapi, dan pakaian yang begitu berbeda dia seperti memakai kemeja dan rompi dengan pin cantik di kerahnya.
"Selamat datang Tuan dan Nona." Sangat ramah dan hangat.
"Salam kenal, aku Anisa.."
"Anisa Arthur Oceanus." Ucap James meneruskan nama belakang Anisa.
Semuanya sedikit menelan ludahnya karena susana yang tenang berubah mencekam saat ketegasan nama panjang di jelaskan. Nisa tersenyum lebar menatap Sol.
"Saya Sol Matutinus, kepala pelayan di rumah ini dan orang yang bertanggung jawab untuk keperluan anda juga nona, sekali lagi selamat datang di rumah anda."
"Mina dan Nena antarkan nona kekamarnya." Perintah Sol yang Nisa lihat langsung di patuhi dan maju dua orang pelayan perempuan mengajaknya pergi. Anisa menatap kebelakang saat berjalan meninggalkan James.
"Pergilah." Dengan anggukan dan tatapan tajam.
Anisa percaya ini akan baik-baik saja.
Di ruang kerja yang cukup luas dan disini berdiri Canaria Sol dan Silva juga James yang berdiri menatap meja kerjanya.
"Tuan ini masalah besar, maaf jika saya sedikit merasa kurang nyaman, Nona masih kecil dan dia sangat mirip dengan anda... Apa yang akan terjadi jika sampai ada pihak keluarga besar datang ke rumah untuk memastikan rumor yang sudah pasti tersebar." Sol lebih dulu bersuara dan yang lain hanya mendengar diam termasuk James.
"Biarkan rumor itu lebih baik dia dianggap anak di luar nikah dari pada harus dianggap anak yang datang dari panti asuhan dengan asal usul tak jelas bahkan sampai ada yang tau jika panti asuhan itu sebenarnya jual beli budak." Jawaban James membuat ke tiganya tertunduk lesu dan sibuk berpikir.
"Lagi pula siapa yang menyarankan anda untuk melakukan adopsi?"
"Aku sendiri Sol."
Sedikit syok dengan jawaban James Tuan muda yang sejak remaja ia layani mengambil keputusan mengadopsi.
"Ini takdir karena wajah mirip dengannya."
Ketiganya seketika Syok, karena tak mungkin tak ada yang kenal dengan Rosa Alba Australis.