NovelToon NovelToon
Seragam Biru Di Balik Rahasia

Seragam Biru Di Balik Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Balas Dendam / Single Mom
Popularitas:8.4k
Nilai: 5
Nama Author: Auvy

Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.

Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.

Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.

Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.

Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Auvy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 : (Warning 18+) Navigasi Jalan Sesat

Meskipun semalam Bela didera trauma yang hebat hingga harus meringkuk di balik selimut, ia justru berhasil tidur dengan sangat nyenyak. Mungkin tubuhnya benar-benar menyerah pada rasa lelah yang ekstrem setelah menyetir berjam-jam. Namun mekanisme tubuhnya bekerja dengan aneh, ia terbangun jauh lebih cepat dari biasanya. Jam di nakas baru menunjukkan pukul enam pagi, saat cahaya matahari bahkan belum sepenuhnya mampu menembus kabut Bandung.

Bela beranjak dari kasur, menyeret langkahnya menuju jendela besar dan menyibak tirai kamarnya. Seketika, pemandangan kota Bandung yang masih berselimut kabut tipis dengan rona langit biru muda yang jernih menyapa matanya. Paru-parunya seolah merindukan udara dingin itu. Bela berpikir, tidak akan cukup jika ia hanya menikmati kesegaran ini dari balik kaca jendela yang kedap suara. Ia merasa harus segera turun, merasakan langsung bagaimana udara pegunungan itu menyentuh kulitnya.

Dengan gerakan tangkas, Bela menyambar sebuah hoodie tebal berwarna gelap dan celana panjang. Ia tahu suhu di luar sana pasti akan menusuk tulang jika ia hanya memakai pakaian tidur. Bela melangkah keluar kamar dengan hati-hati, melewati koridor sunyi tempat ia bertemu sang Chef semalam, menuruni lift, dan akhirnya sampai di lobi yang masih sangat lengang.

Bela menyempatkan diri memberikan senyum ramah dan anggukan sopan kepada satpam yang berjaga di pintu depan. Dalam hati, ia merasa sedikit konyol karena sempat merasa ketakutan setengah mati tadi malam.

'Pikiran lu terlalu liar, Bel!' gumamnya pada diri sendiri. Kenyataannya hotel mewah ini dijaga ketat dua puluh empat jam, ada satpam di setiap sudut, dan kamera CCTV yang mengawasi setiap jengkal area. Pikirannya seolah terbuka pagi ini, ia merasa aman dan suasana hatinya mendadak sangat bagus.

Begitu kakinya menyentuh area luar, Bela menghirup oksigen dalam-dalam, membiarkan paru-parunya dipenuhi udara murni yang belum tercemar. Ia ingin menikmati momen ini sebelum manusia-manusia lain terbangun dan mereka harus mulai berbagi oksigen. Menurut Bela, itulah sebabnya kota semakin siang akan semakin sumpek. Bukan hanya karena polusi kendaraan, tapi karena terlalu banyak ego manusia yang memenuhi udara.

Bela ingin jalan-jalan santai di sekitar hotel, namun karena tidak tahu arah dan takut tersesat, ia merogoh kantong hoodienya untuk mencari ponsel. Ia mengaktifkan Google Maps, mengetikkan rute perjalanan ringan untuk memandu langkahnya sebelum ia harus kembali bertugas menjadi asisten jam delapan nanti.

Google Maps mulai bekerja, memberikan perintah suara yang tenang. Mengikuti arahan aplikasi tersebut, Bela diarahkan untuk mengambil jalur pintas melalui area basement parkir untuk bisa menembus jalan setapak di belakang hotel. Bela menurut saja. Namun, begitu memasuki area basement, suasana berubah drastis. Ruangan itu sunyi senyap, bau ban karet dan beton lembap memenuhi indra penciumannya. Udara terasa lebih berat dan sedikit menyesakkan karena deretan ribuan ton besi mobil yang terparkir rapat.

Dalam hati, Bela mulai merutuki keputusannya.

'Kenapa tidak lewat jalur lurus di lobi saja tadi?' Pikirnya menyesal. Toh, pasti ada jalan keluar lain yang tidak sekuno dan sesunyi ini. Perasaan waspada yang sempat hilang kini muncul lagi dengan kekuatan ganda, sangat mirip dengan rasa mencekam yang ia rasakan semalam. Bela mempercepat langkahnya, sesekali matanya melirik tajam ke layar ponsel, lalu kembali menyisir area sekitarnya dengan waspada.

Langkah Bela terhenti mendadak di tengah lorong beton itu. Jantungnya seolah berhenti berdetak sesaat. Di barisan kedua parkiran, ia menangkap sebuah gerakan yang tidak wajar. Sebuah mobil bergoyang. Goyangannya sangat kuat, kasar, dan ritmis, menciptakan suara decitan ban yang bergesekan dengan lantai semen yang halus.

Mobil itu berada tepat di depan jalur pandang Bela. Meskipun terhalang oleh barisan pertama mobil, karena barisan pertama itu diisi oleh kendaraan city car yang pendek, Bela bisa melihat dengan sangat jelas kendaraan yang sedang bergejolak itu, sebuah Toyota Fortuner hitam yang besar dan tinggi.

Bela membelalakkan mata kaget. Rasa penasaran yang berbahaya mulai menguasai akal sehatnya. Ia bergeser menyamping sedikit demi sedikit, mencoba mencari celah di antara pilar semen. Ia berpikir, jika ia bergeser sedikit lagi, ia akan bisa melihat apa yang sebenarnya sedang terjadi di dalam sana.

Meskipun posisinya berada di barisan kedua, kaca mobil Fortuner itu ternyata tidak terlalu gelap atau mungkin memang kualitas kaca filmnya yang transparan. Bela memicingkan mata, mematung di balik bayangan tembok. Matanya yang tajam dan tidak minus menangkap pemandangan yang membuat darahnya berdesir hebat.

Ada dua sejoli di dalamnya, tepat di kursi tengah yang telah dilipat. Bela mengenal sosok itu. Sosok yang selama ini ia agungkan sebagai wanita pebisnis yang tangguh, elegan, dan penuh harga diri.

Itu Melani.

Bela tidak salah lihat. Melani nampak sedang tanpa busana sama sekali. Kulitnya yang putih bersih terlihat begitu kontras dengan interior mobil yang gelap, membuatnya nampak seperti cahaya yang bergerak liar di tengah kegelapan kabin. Melani sedang menduduki seseorang, posisinya mengangkang dengan kaki yang terbuka lebar, tubuhnya naik turun dengan ritme yang buas. Satu tangan Melani terlihat menjambak kuat rambut pria yang ia duduki, seolah sedang melampiaskan gairah yang sudah di ubun-ubun.

"Belok kiri," suara robot dari Google Maps tiba-tiba menggelegar dari kantong hoodienya.

Bela tersentak hebat, hampir saja ia memekik karena kaget. Dengan tangan yang gemetar hebat, ia segera mengecilkan volume ponselnya hingga nol. Jantungnya berdegup kencang, takut jika suara itu menginterupsi kegiatan panas di dalam mobil. Namun, di tengah ketakutan itu, sebuah ide gila muncul. Bela ingin memiliki bukti. Ia ingin tahu siapa pria itu.

Dengan keberanian yang datang entah dari mana, Bela mengeluarkan ponselnya. Ia mengarahkan kamera, memperbesar fokusnya dan memotret pemandangan itu berkali-kali. Ia memastikan plat nomor mobil dan wajah Melani tertangkap jelas dalam satu bingkai. Di layar ponselnya, wajah Melani nampak begitu jelas dengan ekspresi yang sangat jauh dari kesan anggun, ia nampak seperti wanita yang sedang kehilangan kendali.

Namun, wajah pria itu tetap tidak terlihat jelas. Bela terus memicingkan mata, bertanya-tanya dengan penuh kecurigaan.

'Apakah itu Pak Raka? Apakah Raka diam-diam menyusul ke Bandung dan mereka melakukan ini di sini?' Tapi, jika itu Raka, kenapa mereka harus melakukannya di dalam mobil Fortuner di sebuah basement yang kotor, padahal mereka memiliki kamar suite mewah di atas sana?

Posisi Melani yang sangat terbuka membuat Bela bisa melihat detail yang seharusnya tidak ia lihat. Ia bisa melihat ukuran payudara bosnya yang berguncang, hingga bagian sensitif di bawah sana yang sedang digerogoti oleh benda panjang, tegang, dan berurat milik pria di bawahnya. Melani nampak sangat menikmati pergulatan itu, tanpa tahu bahwa asistennya sendiri sedang menonton dari balik tembok.

Mungkin ada sekitar sepuluh menit Bela mematung di sana, menyaksikan pertunjukan yang seolah tiada habisnya itu dengan napas tertahan dan tangan yang mendingin. Sadar bahwa situasi ini bisa menjadi bumerang jika ia tertangkap, Bela memutuskan untuk segera pergi. Ia tidak lagi peduli pada udara pagi atau Google Maps.

Bela berbalik dan berlari sekencang mungkin menuju lift. Sepanjang perjalanan di dalam kotak besi yang bergerak naik itu, bayangan Melani terus berputar di kepalanya. Citra Melani yang sempurna, yang ia apresiasi karena kemandirian dan kecerdasannya, kini hancur lebur, anjlok ke titik terendah. Melani bukan lagi pahlawan wanita di mata Bela, dia hanyalah wanita biasa dengan nafsu yang liar dan rahasia yang kotor.

"Putar balik," ucap suara Google Maps itu lagi saat Bela melangkah keluar dari lift menuju area lobi.

Bela tersadar bahwa ia lupa mematikan aplikasi navigasi tersebut. Dengan gerakan cepat dan jari yang masih bergetar, ia menekan-nekan layar ponselnya dengan kasar untuk membatalkan rute perjalanan.

"Udah gue duga bakalan dapat jalan sesat! Ternyata sesat betulan!" gerutu Bela pada dirinya sendiri, setengah berbisik.

Bela menyadari satu hal pahit pagi ini. Google Maps tidak hanya memberikan arah jalan yang salah, tapi telah membawanya ke sebuah kebenaran yang lebih sesat dari apa pun. Kini, ia memegang kartu as yang sangat berbahaya, sebuah rahasia yang bisa menghancurkan karir Melani, atau justru membahayakan nyawa Bela sendiri.

1
Siti Amalia
kerennnn novelnya thorrrrr...semoga bela berjodoh sama raka
Amiera Syaqilla
hello author🤗
Queen: haloo...🥰
total 1 replies
Queen
Hai guys, jangan lupa kasih hadiah dan komen²nya biar author semangat 🥰
Blackforest
ditunggu kelanjutannya thor 😍
Queen: siip ☺️ jangan lupa like, komen, share ke teman² kalian dan giftnya yah 🫰🏻
total 1 replies
Siti Amalia
kerennnnnnn novelnya thor. sampe selesai ya thor jgn digantung
Queen: halooo terimakasih dukungannya 😊 baca terus yah sampai tamat 🫰🏻
total 1 replies
syora
konsekuensinya tinggi loh bella
Ariany Sudjana
Bella akan jadi pelakor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!