Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawaran
Kegiatan OSPEK tetap dilanjutkan walaupun ada kasus kemarin. Karin sudah minta maaf dan berjanji tidak akan mengulangi perbuatannya, entah itu pada Rachel atau mahasiswa lainnya. Karin juga mengundurkan diri dari kepanitiaan OSPEK karena malu dengan perbuatannya. Baru kali ini dia berhubungan dengan seseorang yang tak bisa dirinya kalahkan. Untuk rekaman suara yang diupload di media sosial kampus, sudah berhasil dihapus oleh Ronand.
OSPEK tetap berjalan seperti biasanya. Hanya saja sekarang difokuskan untuk kegiatan pengenalan kampus, terutama UKM dan beberapa kegiatan yang berhubungan dengan bakat mahasiswa. Rachel terus menjadi pusat perhatian saat OSPEK Universitas dan Fakultas berlangsung. Dia menjadi mahasiswa paling terkenal karena keberaniannya.
"Nggak asyik. Semua orang jadi takut sama Achel. Semua orang pada jalan nunduk, kaya cari uang koin." gerutu Rachel saat melihat hampir semua mahasiswa baru menundukkan kepalanya ketika bertemu dengannya. Apalagi mereka mendengar jika Rachel membuat Karin mengundurkan diri dari kepanitiaan OSPEK.
"Udah kaya hormat sama pejabat aja. Padahal mukamu tuh tengil dan menyebalkan begitu, nggak cocok kalau ditakuti." ucap Susan yang berada di sampingnya.
"Makanya aku bilang nggak seru. Padahal seru kemarin lho waktu ada panitia OSPEK yang marah-marah. Kan aku jadi ada lawan debatnya. Kalau gini mah nggak ada lawan debat aku. Boring..." ucap Rachel yang kini langsung menyandarkan kepalanya pada bahu Susan.
"Kak Karin kemana ya dia? Kok nggak kelihatan," tanyanya pada Susan. Padahal Rachel tahu kalau Karin mengundurkan dari menjadi panitia OSPEK karena kasus kemarin.
"Yang masuk hanya panitia OSPEK dan mahasiswa baru. Mahasiswa biasa mah masih liburan," jawab Susan yang tampaknya juga sama bosannya. Mungkin karena mereka belum akrab dengan mahasiswa lainnya.
Sepertinya Rachel merindukan saat awal OSPEK yang tidak semua orang mengenal dia. Namun salahnya dia, baru datang langsung menjadi terkenal gara-gara sepeda kecil Mika. Tak lupa dia yang berani memarahi ketua BEM kampus. Otomatis semua orang langsung akan mengetahui wajah dan namanya. Saat ini tengah berlangsung OSPEK Fakultas, sehingga Rachel dan Susan tidak bersama dengan Ronand.
"Apa kita buat huru hara aja?" bisik Rachel seperti ingin membuat suasana OSPEK ini menjadi lebih ramai.
"Ogah. Huru hara apa malu-maluin? Idemu nggak ada yang benar," sindir Susan yang kesal dengan sahabatnya itu.
"Hei... Kamu kemarin juga bikin malu aku. Masa kirim foto di grup keluarga. Masa Rachel cucunya Nenek gayung yang cetar membahana ini tidur di toilet dengan mulut mangapnya malah kamu foto," ucap Rachel yang mengingat ulah Susan kemarin.
"Mana waktu ditelfon nggak diangkat lagi," lanjutnya dengan protesnya.
"Biar seru dan ramai grup keluarganya. Masa grup isinya banyak orang gitu tapi nggak ada chatnya sama sekali."
"Namanya juga lagi ada urusan pengantin baru, jadi nggak sempat buka ponsel." bisik Susan agar tidak terdengar oleh mahasiswa lainnya.
"Apa itu? Emangnya ada urusan pengantin baru?" tanya Rachel dengan mata membola.
Tiba-tiba saja Susan membuka satu kancing atas kemeja putihnya dan berhadapan dengan Rachel. Namun sebelum itu, ia melihat ke arah sekitarnya. Jangan sampai ada oranglain yang melihatnya agar tidak terjadi kesalahpahaman. Setelah memastikan aman, Susan memperlihatkan satu bercak merah ungu ke arah Rachel.
"Kenapa nih? Digigit kecoak?" tanya Rachel dengan tatapan polosnya. Bahkan Susan langsung saja menutup kembali kemeja bagian atasnya yang terbuka sedikit.
"Bukan. Ya ini urusan pengantin baru, Achel. Besok kalau kamu udah menikah pasti tahu," ucap Susan sambil menaikturunkan alisnya.
"Kalau cuma gigit-gigitan, ngapain harus menikah dan menjadi pengantin baru dulu? Sekarang emangnya nggak boleh gigit? Aku kalau sebal sama Abang Onand, gigit tangannya. Nggak masalah tuh," ucap Rachel membuat Susan menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Tampaknya Susan bingung harus menjelaskan seperti apa.
"Ini tuh gigitannya beda, Achel." Susan senyum-senyum sendiri membayangkan apa yang terjadi semalam dengan Ronand.
Aneh...
Rachel menganggap bahwa jika hanya menggigit pun tanpa perlu menikah atau jadi pengantin baru juga bisa. Namun lihat lah sekarang raut wajah Susan, tampak bahagia dan senyum-senyum sendiri. Padahal apa bedanya? Hingga Susan tak mau menjelaskan lebih detail. Rachel pun membuka ponselnya, hendak mencari tahu semuanya. Namun Susan langsung saja mengambil ponsel Rachel dan menyimpannya dalam tasnya.
Nggak usah dicari, besok ngerasain sendiri.
Tapi Achel penasaran, Ucan. Nanti Achel nggak bisa tidur lho karena penasaran,
Nggak usah penasaran, dosa.
Eh... Kok bisa?
Ayo kita sudah dipanggil buat kumpul,
Ucan aneh, nanti aku tanya Abang.
***
"Bagi mahasiswa yang bernama Ronand, diharapkan untuk menemui ketua BEM di ruang rapat 1." seru seorang mahasiswa bernama Yoseph Adiwiguna, panitia OSPEK Fakultas memberikan pengumuman.
"Ada apa lagi ini? Ketua BEM resek itu," gumam Ronand yang langsung keluar dari barisan.
Ronand pun pergi menuju ruang rapat untuk menemui ketua BEM. Dia sedikit trauma dengan jabatan tertinggi organisasi setelah kejadian Raffa dulu. Apalagi saat di ruangan wakil Rektor waktu itu, Radit tampak terus melihat ke arah Rachel. Hal itu membuat Ronand was-was sendiri dengan kembarannya.
"Permisi... Kak Radit memanggil saya? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ronand langsung setelah masuk ke dalam ruang rapat 1 khusus untuk panitia OSPEK.
"Kemari lah sebentar, Ronand. Saya akan menyampaikan beberapa hal informasi dari Pak Wawan untuk kamu," ucap Radit meminta agar Ronand duduk dulu di sana. Tatapan Ronand mengarah pada semua orang yang ada di sana. Dua mahasiswi dan empat orang mahasiswa termasuk Radit berada di sana. Hal itu membuat Ronand tampak waspada.
"Ada apa? Saya tak suka basa-basi. Silahkan katakan segera," ucap Ronand dengan nada formalnya. Bahkan Ronand duduk di kursi paling jauh dari semua orang yang ada di sana.
"Kamu dapat tawaran dari Pak Wawan untuk menjadi tim IT di kampus ini. Keuntungannya gaji tetap dan bebas masuk kuliah kapan pun. Jadi kamu nggak terikat dengan jadwal kuliahmu. Kamu bebas masuk kapan saja," ucap Radit dengan sedikit gugup.
Baru kali ini dia menghadapi seorang mahasiswa baru namun gugup. Padahal biasanya dia tampak percaya diri dan mendominasi. Namun menghadapi Ronand, aura di sekitarnya tampak berbeda. Bahkan beberapa panitia OSPEK yang ada di sana sampai menegakkan badannya.
Saya tidak butuh uang,
Saya kuliah di sini karena ingin belajar dan jadi dokter. Bukan menjadi tim IT dan dimanfaatkan pihak kampus ini,
Bilang sama Pak Wawan, saya tidak tertarik dengan uang dari kampus ini. Lebih baik gunakan uang kampus ini untuk membenahi gedung atau lapangan kampus,
Deg...
*******************
Terimakasih semua atas do'anya 🙏
Aku baik-baik aja, hanya tangan, kaki, dan leher yang mulai kaku-kaku. Kita update tipis-tipis dulu ya 😊