Siapa bilang setiap manusia diberi kesempatan merasakan kebahagiaan? Tidak semua orang seberuntung itu—dan gadis ini adalah buktinya. Dia dikenal banyak orang, bukan karena status, kecerdasan, atau keahliannya, melainkan karena kemalangannya yang seakan tak berujung. Hidupnya penuh caci maki, dan di setiap langkahnya, dia terus mengutuk dunia serta takdir yang menjeratnya.
Hingga suatu hari, seseorang muncul mengaku berasal dari dunia lain dan menawarkan bantuan untuk menghapus takdir terkutuknya. Namun, benarkah kebahagiaan masih mungkin untuknya? Ataukah ini hanya awal dari penderitaan baru?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VanGenZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Undangan
Festival berakhir saat matahari hampir tenggelam. Lampion-lampion mulai dipadamkan satu per satu. Musik menghilang, menyisakan suara roda kereta dan percakapan perpisahan para bangsawan.
Keluarga Marquess kembali berkumpul di pelataran depan kuil.
Lilith masih tersenyum, menerima ucapan selamat terakhir. Marquess berbicara dengan beberapa bangsawan penting, wajahnya jelas puas dengan hasil hari ini.
Elenna berdiri sedikit di belakang. Tak ada yang menanyakan pendapatnya tentang festival. Tak ada yang memastikan ia sudah makan atau belum.
Ketika kereta utama keluarga tiba, Lilith lebih dulu melangkah, disusul oleh Marquess, sedangkan Alberto berdiri di samping, memastikan semuanya tertata rapi.
Elenna tidak menunggu. Tanpa berkata apa pun, ia berbalik dan berjalan menuju kereta kedua yang biasa digunakan pelayan atau anggota keluarga yang “tidak penting”.
Langkahnya tenang. Seolah itu memang tempatnya sejak awal.
Di sisi lain, Putri Isabella yang hendak menaiki keretanya sendiri memperhatikan. Ia menoleh pada Lilith yang masih berdiri sebelum masuk.
“Bukankah dia bagian dari keluargamu?” tanya Isabella dingin. “Mengapa tidak menaiki kereta yang sama?”
Lilith tampak sedikit terkejut mendengar hal itu.
“Oh?” Ia mengikuti arah pandangan Isabella, lalu tersenyum lembut. “Mungkin dia tidak nyaman.”
“Tidak nyaman?”
Lilith menunduk samar, seolah menahan rasa bersalah. “Dia selalu merasa canggung berada di dekat Ayah… atau mungkin juga denganku. Aku tidak ingin memaksanya.”
Nada suaranya halus. Seolah ia benar-benar peduli.
Isabella mengerutkan alis “Jadi dia menjauh karena dirinya sendiri?”
“Mungkin,” jawab Lilith pelan. “Aku sudah terbiasa.”
Kalimat itu terdengar seperti seolah olah ia adalah korban. Isabella menatap punggung Elenna yang hampir mencapai kereta kedua. Tatapannya mengeras.
“Gadis yang tidak tahu tempatnya,” gumamnya pelan.
“Jika ia terus bersikap seperti itu, ia akan mempermalukan keluarganya.”
Lilith hanya tersenyum tipis. Tanpa menyangkal. Tanpa membela.
Dan di saat itu, sesuatu dalam diri Isabella mengendap, kesal yang tidak lagi samar. Ia tidak menyukai orang yang menolak posisi yang telah ditentukan untuknya, dan Elenna… terlihat seperti sedang menolak sesuatu.
Marquess menaiki kereta utama. Alberto ikut masuk setelah memastikan semuanya siap. Lilith duduk anggun di dalamnya.
Pintu ditutup. Roda mulai bergerak. Di kereta kedua, Elenna melihatnya.
Ia melihat bagaimana Lilith duduk di antara Marquess dan Alberto. Bagaimana ruang itu terasa hangat, dan lengkap bahkan tanpa ada dirinya.
Ia teringat ucapan Lilith beberapa waktu lalu.
"Dua orang saja sudah cukup di dalam sini.”
Kalimat yang diucapkan dengan senyum.
Kalimat yang tidak pernah dibantah Marquess.
Kereta utama bergerak lebih dulu, roda-rodanya menggilas batu jalan dengan irama yang mantap. Beberapa detik kemudian, kereta Elenna menyusul di belakang.
Jaraknya tidak jauh. Namun, cukup untuk terasa seperti batas tak terlihat, garis halus yang tak pernah benar-benar bisa ia lewati.
Di dalam kereta kedua, ruangnya lebih sempit. Lebih sunyi. Lampu kecil di sudut bergoyang pelan mengikuti hentakan roda, memantulkan cahaya redup ke dinding kayu yang gelap.
Elenna duduk sendiri. Tangannya terlipat rapi di pangkuan, seperti kebiasaan yang sudah mendarah daging. Punggungnya tegak. Dagunya sedikit menunduk.
Sepanjang hidupnya, ia selalu mencoba.
Mencoba menjadi tidak merepotkan.
Mencoba tidak mempermalukan siapa pun.
Mencoba menerima tanpa banyak bertanya.
Ia melatih dirinya untuk diam ketika kecewa. Untuk tersenyum ketika tersisih. Untuk memahami bahkan sebelum dipahami.
Ia selalu berkata pada dirinya sendiri bahwa ia kuat. Bahwa ia bisa bertahan. Bahwa selama ia tidak mengeluh, semuanya akan baik-baik saja, dan memang, ia bertahan.
Namun, sore inii, hening terasa terlalu keras. Seolah-olah kesunyian punya suara, dan suara itu memantul di dalam dadanya.e
Untuk pertama kalinya, ia tidak sedang menahan seseorang. Ia menahan dirinya sendiri. Sebuah kesadaran yang pelan tapi tajam menyusup di antara pikirannya–
Ia memang bertahan.
Tapi ia tidak pernah benar-benar baik-baik saja. Dadanya terasa sesak. Bukan karena tangis. Air matanya bahkan tidak jatuh.
Yang ada hanyalah lelah.
Lelah berharap pada hal-hal kecil.
Lelah menunggu panggilan yang jarang datang.
Lelah berpura-pura tidak peduli ketika jarak itu selalu ada.
Kereta sedikit berguncang melewati jalan yang tak rata. Lampu kecil kembali bergoyang, cahayanya bergetar seperti napas yang tertahan. Untuk pertama kalinya, tanpamu ada siapa pun yang melihat. Elenna membiarkan tubuhnya bersandar pada dinding kereta. Tegangnya bahu itu perlahan turun. Kepalanya menyentuh kayu yang dingin.
Matanya terpejam. Bukan untuk tidur. Hanya untuk menahan dunia agar tidak masuk lebih dalam. Di luar, roda terus berputar. Angin malam menyusup melalui celah kecil, membawa udara dingin yang tidak memilih siapa yang pantas ditemani.
Kereta terus berjalan di belakang kereta utama. Tetap mengikuti. Tetap dalam jarak, dan malam turun perlahan, tanpa peduli siapa yang duduk sendirian di dalamnya.
Senja baru saja turun ketika utusan kerajaan meninggalkan kediaman Marquess. Kotak beludru merah itu kini berada di atas meja ruang keluarga.
Semua orang berkumpul. Marquess berdiri tegak di depan perapian. Alberto berada sedikit ke samping. Lilith duduk dengan punggung lurus, tangannya terlipat rapi di pangkuan.
Elenna berdiri paling belakang. Marquess membuka surat itu sekali lagi, seolah memastikan dirinya tidak salah baca.
“Putri Isabella mengundang… Elenna.”
Sunyi.
Bukan ke seluruh keluarga.
Bukan kepada perwakilan resmi.
Hanya satu nama.
Elenna.
Lilith tersenyum tipis. Sangat tipis. Hampir tidak terlihat. Namun, jari-jarinya sedikit menegang.
Elenna akhirnya bersuara pelan, “Mungkin terjadi kesalahan.”
Marquess menatapnya tajam "Tidak ada kesalahan dalam undangan kerajaan.”
“Aku… tidak merasa layak menghadiri jamuan pribadi putri.”
Itu bukan kerendahan hati. Itu keraguan yang jujur. Ia tahu Isabella tidak menyukainya.
Ia tahu ini bukan sekadar minum teh.
Marquess menghela napas, lalu berjalan mendekat.
“Kau terlalu sering meremehkan dirimu sendiri.”
Nada suaranya berubah, bukan hangat, tapi tegas seperti ceramah.
“Ini kesempatan.”
Elenna mengangkat pandangan.
“Kesempatan apa, Ayah?”
“Kesempatan untuk memperbaiki citra. Untuk menunjukkan bahwa kau bukan sekadar bayangan di belakang Lilith.”
Kata-kata itu menusuk lebih dalam dari yang ia maksudkan.
Lilith tetap tersenyum. Namun, matanya tidak lagi lembut.
Marquess melanjutkan, “Jika Putri Isabella sendiri yang memanggilmu, itu berarti ia melihat sesuatu. Jangan sia-siakan.”
Elenna diam. Ia tahu itu tidak benar.
Isabella tidak “melihat sesuatu” dalam arti baik.
Namun, Marquess tidak peduli pada motif. Baginya, kedekatan dengan putri kerajaan adalah keuntungan.
“Dan jika aku membuat kesalahan?” tanya Elenna pelan.
“Maka kau tidak boleh membuatnya,” jawab Marquess dingin. “Belajarlah. Perhatikan. Jangan memalukan keluarga.”
Lilith akhirnya berbicara, suaranya lembut seperti biasa.
“Ayah benar. Ini kehormatan besar.”
Ia menoleh pada Elenna dengan senyum yang terlihat tulus di mata orang lain.
“Aku ikut senang untukmu.”
Namun, ada sesuatu yang berbeda hari ini.
Biasanya Lilith akan menawarkan basa-basi, seperti memberi saran, mengatur gaun.
Sekarang tidak. Ia hanya mengamati. Alberto memperhatikan perubahan itu. Ia melihat bagaimana Lilith tidak menyembunyikan sorot tajamnya saat undangan itu dibacakan.
Untuk pertama kalinya… Lilith tampak tidak menjadi pusat perhatian, dan ia tidak menyukainya. Setelah pertemuan itu bubar, Elenna kembali ke kamarnya.
Tangannya masih terasa dingin. Ia duduk di tepi tempat tidur. Ia tidak bahagia. Ia tidak bangga. Ia justru merasa seperti sedang melangkah ke dalam perangkap yang disiapkan dengan sangat rapi.
Namun, kali ini berbeda, ia tidak memikirkan
Apakah Putri Isabella akan menyukainya?
Apakah aku bisa diterima?
Ia hanya memikirkan satu hal.
Apa yang sebenarnya diinginkan Putri Isabella dariku?
Dan untuk pertama kalinya…
Ia tidak takut kehilangan harapan.
Karena ia sudah berhenti berharap.
***
Di sisi lain mansion, Lilith berdiri di depan cermin.
Senyumnya memudar perlahan.
“Putri Isabella…” gumamnya lirih.
Ia yang dipilih sebagai Gadis Suci.
Ia yang dipuji sepanjang festival.
Namun, yang menerima undangan pribadi justru Elenna.
Jari-jarinya menekan meja rias pelan.
Itu tidak boleh terjadi dua kali.
Tidak boleh ada panggung lain yang bukan miliknya. Dan malam itu, dua gadis di kamar yang berbeda memikirkan hal yang sama.
Jamuan teh ini…
akan mengubah sesuatu.