Penjaga Hati di Wisma Lavender mengisahkan perjalanan Arka,mahasiswa tingkat akhir Teknik Informatika yang terhimpit masalah finansial setelah kontrakan lamanya digusur. Di tengah keputusasaan, ia menemukan iklan kos misterius dengan harga sangat murah dan fasilitas mewah, termasuk internet super cepat.
Namun, Arka terjebak dalam situasi yang tidak terduga setelah menandatangani kontrak dengan Oma Rosa, sang pemilik wisma yang eksentrik dan gemar bermain TikTok. Ternyata, Wisma Lavender adalah sebuah kos-kosan putri. Arka terpaksa menjadi satu-satunya laki-laki di sana dan harus mematuhi aturan ketat serta tugas tambahan yang diberikan oleh para penghuni wanita yang beragam karakternya, terutama Sari, sang ketua kos yang disiplin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hadid Salman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17 Curhat Influencer Patah Hati
Wisma Lavender sore itu kehilangan keceriaannya yang biasa. Tidak ada suara tawa melengking dari si kembar Nia dan Nio yang biasanya sedang merencanakan jahil terbaru, tidak ada denting piring atau bunyi semprotan disinfektan dari dapur tempat Dira melakukan ritual sterilisasi harian, bahkan tidak ada aroma kopi saset yang biasanya mengepul dari kamar Arka. Sebagai gantinya, sebuah frekuensi rendah berupa isak tangis yang konstan dan berirama memenuhi ruang tamu, bersumber dari Sherly—sang primadona media sosial yang biasanya selalu tampil dengan filter kebahagiaan sempurna dan pencahayaan ring light yang tak pernah meleset.
Sherly sedang hancur lebur. Dunia digitalnya yang gemerlap, yang dibangun dengan ribuan pengikut dan kontrak endorse kosmetik, mendadak runtuh ketika sang kekasih memutuskan hubungan secara sepihak melalui sebuah pesan teks singkat yang dingin, tanpa emoji, dan tanpa penjelasan yang memuaskan. Dan Arka, yang kebetulan sedang lewat dengan langkah riang untuk mengambil paket kiriman dari ibunya di depan gerbang, terjebak dalam pusaran duka sang influencer tanpa sempat memberikan pembelaan diri.
"Arka... kenapa dia jahat banget? Kenapa laki-laki semuanya sama?" ratap Sherly sambil menyandarkan kepalanya yang terasa seberat beban hidup ke bahu kiri Arka. "Padahal aku sudah post foto anniversary kita yang dapet engagement tinggi banget! Bahkan sudah ada tiga merek baju yang mau endorse foto couple kita minggu depan!"
Arka membeku di tempat. Tangannya yang memegang paket berisi makanan khas kampung halaman kini menggantung tak berdaya. Ia ingin sekali beranjak, kakinya sudah gatal ingin melangkah menuju keamanan kamarnya, namun melihat air mata yang melunturkan maskara mahal seharga cicilan motor itu, nuraninya melarang. Ia tahu, jika ia bergerak sekarang, ia tidak hanya akan disebut tidak peka, tapi mungkin akan masuk ke dalam konten story Sherly dengan caption tentang pengkhianatan teman pria. Maka, dimulailah sebuah maraton duka yang menguras stamina dan kesehatan tulang belakang.
Satu jam pertama, Sherly menceritakan awal pertemuan mereka yang romantis di sebuah kafe estetik di Jakarta Selatan—lengkap dengan detail menu yang mereka pesan dan sudut pengambilan foto yang menurutnya 'sangat ikonik'. Arka mendengarkan dengan sabar, mengangguk pada waktu yang tepat, meski bahu kirinya mulai memberikan sinyal peringatan berupa rasa hangat yang tidak nyaman. Ia mencoba menghibur dengan kata-kata klise seperti "masih banyak ikan di laut", namun Sherly justru menangis lebih keras karena menurutnya "ikan di laut tidak ada yang punya feed Instagram sekeren mantannya".
Dua jam berlalu, dan drama berpindah ke tahap analisis digital. Sherly mulai membedah setiap caption Instagram yang pernah mereka tulis bersama selama dua tahun terakhir, mencari letak kesalahan semantik atau tanda baca yang mungkin menjadi pemicu perpisahan. Arka mulai merasakan sensasi kesemutan yang merayap perlahan dari ujung jari tangan kirinya, naik ke lengan, hingga bersarang di tengkuk. Ia mencoba menggeser posisi duduknya milimeter demi milimeter agar aliran darahnya kembali lancar, namun setiap gerakan sekecil apa pun disambut dengan isakan yang lebih dramatis dan pelukan di lengan yang semakin erat.
"Kamu jangan pergi dulu, Arka... cuma kamu yang mau dengerin aku sekarang tanpa menghakimi jumlah followers-ku," isak Sherly, menyeka hidungnya yang kemerahan dengan tisu ketigapuluh.
Tiga jam memasuki babak baru yang lebih melelahkan. Sherly mulai melakukan ritual "pembersihan jejak digital". Ia menghapus ribuan foto di galeri ponselnya satu per satu, namun sebelum menghapus, ia selalu menceritakan latar belakang, tanggal pengambilan, hingga brand pakaian yang ia kenakan di foto tersebut. Bahu kiri Arka kini sudah benar-benar kehilangan rasa; ia yakin saraf-sarafnya telah mati rasa atau setidaknya sedang melakukan aksi mogok kerja massal. Pegal linu mulai menjalar secara sistematis ke tulang belakang, pinggang, hingga panggul, menciptakan sensasi nyeri tumpul yang biasanya hanya dialami oleh buruh panggul pelabuhan setelah bekerja lembur.
Memasuki jam keempat, cadangan air mata Sherly tampaknya mulai menipis. Isak tangisnya mulai mereda menjadi sesenggukan kecil yang ritmis, mirip mesin motor tua yang kehabisan bensin. Arka menatap langit-langit ruang tamu dengan pandangan kosong dan mata yang mulai perih karena kantuk. Di dalam pikirannya, ia sudah membayangkan dirinya sedang berada di bawah pijatan tukang urut profesional atau setidaknya sedang ditempeli koyo cabe di sekujur tubuh. Ia merasa seperti sebuah tiang penyangga bangunan tua yang tidak boleh goyah sedikit pun; jika ia sedikit saja bergerak, ia khawatir seluruh bangunan emosional Sherly yang rapuh akan runtuh seketika dan ia harus memulai dari jam pertama lagi.
"Makasih ya, Arka... aku merasa agak mendingan sekarang. Kamu benar, aku terlalu berharga untuk menangisi laki-laki yang bahkan nggak tahu cara pakai color grading yang benar," ucap Sherly akhirnya sambil mengangkat kepalanya dari bahu Arka.
Sherly bangkit, mengusap wajahnya yang sembab dengan gerakan yang sangat efisien. Ajaibnya, seolah memiliki saklar otomatis, ia langsung merogoh ponselnya dan menyalakan kamera depan. Dengan sudut kemiringan empat puluh lima derajat, ia mengambil beberapa selfie dengan wajah sedih namun tetap terlihat "estetik" dan berkelas. "Mungkin aku harus buat konten video pendek tentang self-healing dan moving on setelah patah hati. Ini pasti bakal viral," gumamnya pelan, kembali ke mode influencer profesional seolah-olah empat jam tangisannya tadi hanyalah draf video mentah yang baru saja selesai disunting.
Arka mencoba berdiri untuk memberikan selamat, namun tubuhnya langsung memprotes keras. Sendi bahu kirinya mengeluarkan bunyi krek yang cukup keras hingga terdengar ke seluruh ruangan, diikuti oleh rasa nyeri yang tajam dan menusuk. Ia tidak bisa meluruskan punggungnya. Dengan postur tubuh yang membungkuk sebelah dan wajah yang menahan perih, ia berjalan miring menuju kamarnya, menyeret lengan kirinya yang menggantung layaknya zombi dalam film horor kelas B yang sedang mencari mangsa.
Di Wisma Lavender, Arka kembali mendapatkan satu pelajaran hidup yang pahit: menjadi sandaran emosional bagi seorang influencer yang sedang patah hati membutuhkan ketahanan fisik dan mental setara dengan atlet angkat besi kelas berat. Sastra sorenya kali ini tidak ditulis dengan kata-kata indah nan puitis, melainkan dengan aroma minyak kayu putih dan balsam otot yang menyengat, menyelimuti seluruh tubuhnya yang kini ringkih dan penuh pegal linu akibat durasi curhat yang jauh melampaui batas kewajaran stamina manusia normal.