Karena hutang budi kedua orang tuaku, aku dipaksa menikah dengan duda yang berstatus ayah dari dua anaknya.
Aku yang baru saja lulus kuliah harus dihadapkan dengan dua anak yang aktif dan juga suami yang dingin dan menganggap semua wanita itu sama. Sama-sama pengkhianat dan murahan, meskipun sudah aku jelaskan beberapa kali tapi anehnya suamiku tidak pernah mengerti itu.
Apa yang membuat suamiku sampai setrauma itu?? Nantikan jawabannya hanya di Novel toon
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Ruang mediasi itu tidak besar, tapi cukup membuat siapapun yang berada di tempat ini menegakkan punggungnya.Dinding berwarna krem pucat, meja panjang di tengah, beberapa kursi tersusun rapi saling berhadapan. Pendingin ruangan berdengung pelan, menciptakan suasana dingin yang tidak hanya terasa di kulit.
Rani datang lebih dulu.
Ia mengenakan blouse putih lembut dengan blazer abu muda, riasannya tipis dan natural. Rambutnya ditata sederhana. Tidak ada kesan mencolok yang ada justru kesan tenang dan bersahaja.
Ia duduk dengan tangan terlipat di atas meja, jari-jarinya saling menggenggam ringan. Di sampingnya, pengacaranya membuka map berisi berkas.
“Tenang saja, Bu,” bisik sang pengacara. “Kita mainkan sesuai strategi.”
Rani mengangguk kecil.
Tak lama kemudian, pintu terbuka. Cokro masuk bersama Pak Ardi, pengacaranya. Setelan jas gelapnya rapi seperti biasa, wajahnya tenang tanpa ekspresi berlebihan. Namun sorot matanya langsung menemukan Rani di seberang meja.
Tatapan mereka bertemu, namun keduanya bersikap seperti orang yang tak saling mengenal, jangankan senyuman sapaan saja tidak pernah mereka lakukan.
Mediator, seorang pria paruh baya dengan suara tenang, membuka pertemuan itu secara resmi.
“Kita di sini untuk mencari jalan tengah terbaik demi kepentingan anak-anak,” ucapnya pelan. “Saya harap kedua belah pihak dapat menahan emosi.”
Rani mengangguk lebih dulu.
“Saya datang dengan niat baik,” katanya lembut.
Cokro tidak menyahut. Ia hanya menyilangkan tangan di dada, menunggu.
Mediator mempersilakan pihak Rani menyampaikan permohonan.
Pengacara Rani berdiri sedikit, lalu berbicara dengan nada profesional.
“Klien kami mengajukan permohonan hak kunjung resmi terhadap kedua anaknya, Mahendra dan Mahesa. Klien kami mengakui adanya kesalahan di masa lalu, namun hal itu tidak menghapus status beliau sebagai ibu kandung.”
Kalimat itu disampaikan rapi. Terukur. Rani menundukkan kepala sedikit, seolah menguatkan narasi penyesalan itu.
“Saya memang pernah pergi,” ucapnya pelan, suaranya bergetar tipis. “Tapi tidak sehari pun saya berhenti memikirkan mereka. Saya hanya ingin kesempatan memperbaiki hubungan.”
Hening sejenak. Mediator menoleh pada Cokro.
“Bagaimana tanggapan Anda?”
Cokro akhirnya berbicara. Nada suaranya rendah, terkendali.
“Saya tidak pernah melarang dia menjadi ibu,” katanya. “Tapi saya melarang cara yang salah.”
Ia menatap Rani langsung.
“Datang ke sekolah tanpa izin. Mendatangi kantor saya tanpa pemberitahuan. Itu bukan cara seseorang yang ingin memperbaiki keadaan.”
Rani mengangkat wajahnya perlahan.
“Itu karena kamu menutup semua aksesku,” jawabnya lirih.
Cokro menahan senyum tipis yang hampir muncul. Rani bermain cantik.
Pengacara Rani segera menyela dengan halus. “Klien kami terdesak secara emosional. Itu bukan tindakan agresif, hanya reaksi seorang ibu yang rindu.”
Kata rindu menggantung lama di udara. Pak Ardi akhirnya berbicara.
“Rindu tidak boleh mengganggu stabilitas anak,” katanya tegas. “Anak-anak klien kami saat ini tumbuh stabil. Prestasi sekolah baik. Psikologis terpantau sehat.”
Ia mengeluarkan beberapa dokumen.
“Ini laporan sekolah dan catatan perkembangan.”
Mediator menerima berkas itu.
Rani memperhatikan dengan wajah tetap lembut, namun rahangnya sedikit mengencang.
Ia tahu Cokro tidak akan datang tanpa persiapan. Mediator kembali berbicara. “Ibu Rani, apa yang secara spesifik Anda minta?”
Rani menarik napas dalam.
“Saya tidak meminta hak asuh penuh,” katanya pelan. “Saya hanya ingin hak kunjung dua kali seminggu. Dan kesempatan menginap satu akhir pekan setiap bulan.”
Cokro langsung menatapnya tajam.
Itu bukan permintaan kecil. Itu langkah awal yang besar. Pak Ardi menyentuh meja pelan sebelum berbicara.
“Klien kami keberatan untuk jadwal menginap. Anak-anak masih usia dini, terutama Mahesa yang masih TK. Perubahan pola tinggal bisa berdampak pada psikologisnya.”
Rani menatap Cokro.
“Aku ibunya,” ucapnya, kali ini tanpa gemetar.
“Dan saya ayahnya,” jawab Cokro tenang. “Yang selama ini ada.”
Suasana kembali menegang. Mediator mengangkat tangan sedikit. “Kita fokus pada solusi, bukan masa lalu.”
Rani menunduk lagi. Kali ini ia membiarkan air matanya jatuh satu titik.
“Saya hanya ingin diperlakukan sebagai ibu,” katanya lirih.
Itu kalimat yang kuat. Bahkan mediator terdiam beberapa detik, namun Cokro tidak goyah. Ia mengenal Rani, ia tahu kapan air mata itu tulus… dan kapan itu strategi.
Mediator akhirnya menyarankan kompromi.
“Hak kunjung satu kali seminggu, tanpa menginap, selama tiga bulan pertama. Jika berjalan baik, bisa dievaluasi ulang.”
Rani terdiam. Itu lebih kecil dari yang ia minta, namun lebih besar dari nol, pengacaranya membisikkan sesuatu di telinganya, Rani mengangguk pelan.
“Saya setuju,” katanya akhirnya.
Semua mata kini tertuju pada Cokro, pria terdiam cukup lama, bukan karena ragu, tapi karena menghitung.
Jika ia menolak, Rani bisa membawa ini ke pengadilan penuh. Itu lebih panjang. Lebih melelahkan. Dan lebih berisiko pada mental anak.
Ia menarik napas. “Saya setuju,” ucapnya akhirnya. “Dengan pengawasan dan lokasi yang disepakati.”
Rani menatapnya. Untuk sesaat, ada kilatan kemenangan di matanya, tapi cepat sekali ia sembunyikan.
Mediator mengetuk meja ringan. “Baik. Kita buat kesepakatan tertulis.”
Pertemuan itu resmi ditutup.
Namun sebelum berdiri, Rani berbicara pelan.
“Aku nggak datang untuk menghancurkan hidupmu, Cokro.”
Cokro menatapnya datar. “Pastikan itu benar.”
Ia berdiri lebih dulu dan keluar ruangan tanpa menoleh. Rani tetap duduk beberapa detik, tangannya menyentuh berkas di meja.
Satu langkah sudah berhasil, akses sudah terbuka, dan baginya, itu cukup… untuk sementara.
Di luar gedung, Cokro berdiri sejenak sebelum masuk ke mobilnya. Ia tahu ini baru permulaan, permainan resmi sudah berjalan.
Dan sekarang yang dipertaruhkan bukan hanya hak kunjung, tapi pengaruh siapa yang akan lebih dulu menguasai hati anak-anak mereka.
"Bersenanglah dulu kau Rani," gumam Cokro, lalu membuka pintu mobil dan meninggalkan gedung pengadilan itu.
Bersambung ....