Dijodohkan dan bertunangan sejak putih abu membuat Naka dan Shanum menyembunyikan hubungan keduanya dari orang lain termasuk teman-temannya. Terlebih, baik Naka ataupun Shanum tak pernah ada di daftar putih masing-masing.
Tapi siapa menyangka, diantara usaha keduanya, perasaan cinta justru hadir mengisi setiap ruang hati satu sama lain. Siapakah yang akan duluan menyatakan cintanya?
Say, love you too....
Katakan, aku juga cinta kamu...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22 Sulit bernafas
Setelah sekian lama mengantre yang mengular, perlahan laju mobil Naka dan Shanum sampai di lokasi tujuan.
Benar, kini mereka berada di taman safari, seperti apa yang ditentukan Naka tadi.
Harus bagaimana menjelaskannya... hubungan Naka dan Shanum ini, disaat pasangan remaja lain memilih menonton bioskop, masak bersama, nonton drama tv sambil rebahan, keduanya justru telah melewati itu sejak kecil dan merasa hal itu sudah menjadi keseharian mereka.
"Beli cemilan dulu lah, Ka...sekalian beli wortel buat kasih makan hewan." Rengek Shanum dipenuhi oleh Naka yang mampir sebentar ke minimarket setelah sebelumnya membeli wortel, untuk feeding.
Cukup ramai, mengingat ini weekend meski tak seramai libur hari besar.
Setelah membayar tiket masuk, keduanya lolos untuk mengeksplore kawasan konservasi itu.
Ada penginapan dengan berbagai modelan dan cafetaria. Namun tidak memilih itu, Naka dan Shanum hanya ingin menghabiskan waktu weekend berdua dengan melakukan safari journey saja.
Lajunya pelan masuk ke dalam gerbang mengikuti mobil lain yang telah lebih dulu masuk.
Shanum bergerak membuat duduknya nyaman demi memperhatikan lingkungan hidup---bagaimana daily activity para hewan yang berkeliaran dari dalam mobil, "terakhir gue kesini pas SMP kelas 1 deh kayanya." Ucap Shanum membuka segel minuman miliknya terlebih dahulu dan meneguknya.
Awalnya mereka di sambut oleh hewan-hewan herbivora, seperti rusa, kuda zebra, tapir, kuda Nil.
Jalanan beraspal dimana rusa bebas berkeliaran itu dikelilingi habitat hidup bak hutan, beberapa spacenya ditanami oleh kabel beraliran listrik juga demi menjaga hal yang tidak diinginkan.
"Rusa ini, Ka..." tunjuk Shanum pada kawanan hewan berkaki empat dan beberapanya bertanduk.
"Berani ngga kasih makan?" tanya Naka.
Shanum tentu saja mengangguk, "beranilah..." ia sudah meraih wortel bertangkai dari keresek bangku belakang. Mereka memang sengaja membuka jendela terlebih dahulu di kawasan hewan yang tak buas ini.
Tangan Shanum terulur demi memberikan wortel itu pada seekor rusa yang mendekati kaca mobil bagiannya, agak sedikit menjauh Shanum cukup menjaga jarak agar tidak secara tiba-tiba ia disosor oleh binatang bertanduk ini.
Sementara Naka, ia menahan laju mobil agar melamban dan berhenti sejenak meski tak berniat berhenti lama. Ada senyum hangat meski tipis yang menghiasi wajahnya manakala melihat Shanum cekikikan memberi makan rusa yang satu persatu mulai berdatangan menyerobot wortel di tangan Shanum.
Cekrek!
Diam-diam Naka memotret itu, tawa Naka meledak saat Shanum mulai kewalahan dan berjengkit menggeser badannya merapat pada Naka, "Naka ini rusanya nyosor gue..." saat moncong rusa itu lancang masuk melewati jendela kaca bagian Shanum demi wortel.
Gadis itu bahkan menyembunyikan wajahnya di lengan Naka yang melajukan perlahan mobil keluar dari kerumunan rusa agar tak menabrak atau menggilas para rusa ini dengan masih tertawa.
"Tutup jendelanya dikit." Masih menyisakan tawa kini Shanum menyusul tertawa dengan keluhannya tadi, "ah gila aja, bau mulutnya...hahaha!"
"Jangan dikasih semua, Sha. Satu dikasih yang lain pasti nyamperin.."
Ada obrolan santai di dalam mobil yang isinya hanya mereka berdua saja. Begitu pula Naka yang turut mencoba memberi makan kuda zebra, alpaca dan melempar mulut terbuka kuda Nil dengan sebuah semangka.
"Gilaa...rahangnya kuat banget."
Hingga tiba keduanya memasuki kawasan hewan buas, ada kawanan singa dan harimau benggala serta harimau Sumatera, dimana gerbang berlapis menjadi pengamanan kawasan itu.
Kaca jendela mobil tentu saja ditutup oleh mereka.
"Ini kalo jam segini mereka lagi tiduran ngga sih, Ka?" tanya Shanum belum menemukan si raja hutan itu.
Naka mengangguk, "biasanya," namun bibirnya masih basah berucap, di depan sana mereka sudah menemukan kawanan penguasa padang rumput itu tengah mondar mandir beraktivitas menghalangi jalanan mobil. Bahkan beberapanya tertidur lelap disana memaksa Naka menghentikan laju mobilnya sedikit jauh dari posisi mereka, menunggu kucing besar itu menggeser posisi memberikan jalan untuknya.
"Ngga boleh berenti lama ngga sih?" Shanum mele nguh pasrah melihat ke arah depan.
"Jaga jarak, jangan mancing perhatian. Mau gimana lagi, masa iya mau gue tabrak."
Bukan hanya mobil Naka dan Shanum saja yang terjebak disana, ada dua mobil lain yang juga sama.
Terjebak di kandang singa hutan dengan singa sekolah, begitu mungkin kini rasanya jadi Shanum.
Ia sedikit mendengus geli menyadari hal itu, iyaa...hubungannya dan Naka, menempatkannya pada situasi begini...pacaran di tempat romantis X besar, pacaran di kandang singa ceklis.
Naka melirik sambil meraih botol minuman miliknya lalu meneguk itu, "kenapa?"
Shanum menggeleng, hatinya tak bisa lebih khawatir lagi melihat langit di balik kaca mobil terlihat mendung. Ia memperhatikan dengan seksama dua mobil lain dimana samar-samar dan tak begitu jelas para penumpangnya memilih makan cemilan sejenak demi mengusir rasa bosan sambil melihat para singa itu.
Shanum bahkan sudah membuka bungkusan coklat dan menggigitnya, "besok mau gue anter jemput? Biar mang Dadang antar jemput Shey...om Septahadi mau touring mancing kan?"
Shanum menatap Naka dengan tatapan bimbang, "boleh, tapi titik ketemu di perempatan. Gue belum siap kalo orang-orang tau, Ka. Kaya ini terlalu cepet, terlalu bikin syok, dar--der--dor, butuh transisi dulu gitu ..apalagi kalo sampe taunya tunangan, bikin bahaya nasib kita ke depannya itu kalo sampe sekolah tau."
Naka menghela nafasnya, ia menyadari jika sedang bertunangan dengan salah satu gadis rumit di muka bumi, "kaya kita tuh perlu pelan-pelan gitu biar semuanya kerasa natural, biar----"
"Gue ngerti." Jawab Naka paham menghentikan ucapan Shanum yang kini memandangnya getir seolah berkata--sorry...
"Pelan tapi pasti kok, Ka...pasti publish." Katanya lagi, kini Shanum menyodorkan batangan coklat yang sudah ia potek ke arah Naka, "mau ngga?" sementara dirinya melahap patahan itu ke dalam mulutnya.
Kedua alis Shanum terangkat naik dengan mata yang membulat menawari Naka, tapi cowok itu belum menjawab.... alih-alih menerima atau menolak, Naka justru melepas seatbeltnya dalam gerakan kilat dan mencondongkan badannya ke arah Shanum.
Meraih kepala Shanum dan menyatukan bibir keduanya.
Terkejut? Tentu saja! Shanum benar-benar membelalak saat tanpa aba-aba, tanpa ijin Naka menempelkan bibirnya di bibir Shanum sementara ia tak bisa melepaskan itu sebab Naka menahan kepala dan sebelah tangannya. Bukan---bukan hanya itu saja lidah dan giginya turut bekerja mendobrak bibir rapat Shanum agar terbuka.
Saat ia mau tak mau memberikan celah, lidah tak bertulang itu segera menerobos masuk, mencari lidahnya yang tengah Melu maat coklat dan turut mem agut---bergulat---memutar potongan coklat yang telah lumer di dalam mulut Shanum.
Hampir saja Shanum dibuat kehabisan nafasnya jika Naka tak segera melepaskannya. Sempat terhenti tepat beberapa inci di depan wajah Shanum, Naka kembali mengecup bibir Shanum sekilas, "ini rasa fruit and nut?" tanya nya.
.
.
.
.
.
klo keblabasan ya bablas num,,😄
bablas angin e trz kembung,,🤣🤣