Kevin Argantara, pewaris tunggal Argantara group. Namanya terkenal di dunia bisnis sebagai pengusaha muda ternama
Pertemuannya dengan seorang gadis cantik bernama Alanna Kalila, seorang pelayan disebuah Night Club membuatnya jatuh dalam pesona gadis tangguh itu
Keluarga besar jelas menolak seorang gadis dengan latar belakang yang jauh dibawah keluarga Argantara
Pernikahan Kevin dan seorang penulis cantik bernama Raina Soesatyo, putri keluarga Soesatyo akhirnya ditetapkan dan Kevin tak bisa lari dari perjodohan dua keluarga besar itu
Lalu akan seperti apa kisah cinta Kevin dan Alanna? Akankah pernikahan bersama gadis berhijab itu membawanya pada kebahagiaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon e_Saftri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sang Penolong
"Ayo!" Kevin sudah menggenggam tangan gadisnya "Kita pergi dari sini! Kamu gak bisa tinggal ditempat seperti ini!"
"Kalau lo mau bawa dia, lo harus bayar!"
Kevin mengepal, melepas genggaman tangannya lalu merogoh saku. Beruntung ia membawa uang cash
Semua uang itu ia lemparkan ke wajah pria breng___ itu. Melihat uang sebanyak itu tentu saja membuat Raja mengalihkan perhatiannya pada lembaran berwarna merah yang berhamburan
"Sekarang kita boleh pergi?"
Raja hanya mengibaskan tangannya, memunguti lembar demi lembar yang mungkin berjumlah sepuluh juta
Kevin menarik tangan gadis itu, Alanna diam dan memilih untuk menurut. Mungkin memang lebih baik keluar dari rumah yang bak neraka itu
Mobil melaju lagi, Alanna diam sembari memandangi jalan dari kaca mobil hingga kendaraan roda empat itu berhenti disebuah gedung apartemen
"Kita mau apa disini?" Setelah mengumpulkan keberaniannya, Alanna bertanya
"Kamu akan tinggal disini!"
Alanna menggeleng "Saya tidak akan menjual diri, Tuan!"
Kevin lebih dulu menghela napas "Aku bukan pria seperti itu, Alanna!"
Alanna kembali menunduk, mengikuti pria tinggi itu dengan mengekor dibelakang
Kevin tiba-tiba saja berhenti, membuat Alanna yang berada dibelakangnya menabrak punggung tegap nan kokoh miliknya, membuat gadis itu memegangi hidungnya
"Kenapa jalannya dibelakang?" Kevin menoleh, menatap gadis yang senantiasa menunduk itu
"Saya dibelakang saja!"
"Sini!" Kevin menggenggam tangan halus itu, membuat si pemilik terkejut namun tak berani menarik tangannya
Keduanya berjalan bersama dengan Kevin yang terus menggenggam jemari gadisnya, hingga langkah keduanya berhenti di sebuah ruangan yang tepat berada dilantai teratas gedung tinggi tersebut
Alanna hanya melihat pria disampingnya ini menekan deretan angka. Begitu ia masuk, alangkah terkejutnya Alanna melihat betapa luas dan mewahnya tempat ini
Ini terlihat seperti sebuah rumah, bahkan rumah kontrakan tempatnya tinggal mungkin hanya seluas kamar mandi nya saja
Alanna masih melihat sekeliling hingga suara Kevin menghentikannya "Kamu akan tinggal disini! Penthouse ini milikku!"
"Ini berlebihan tuan, saya bisa kembali kerumah!" Alanna benar-benar tidak enak hati. Ia tidak ingin dianggap memanfaatkan kebaikan seseorang
"Lalu kamu akan kembali dilecehkan oleh kakak sepupu kamu itu?" Tanya Kevin "Tidak bisa, kamu harus tinggal disini!"
"Tapi tuan.."
"Saya tidak menerima penolakan Alanna! Sekarang kamu istirahat! Kamar kamu disana!" Alanna membawa pandangannya pada sebuah pintu kamar yang ditunjuk
Tak ada pilihan lain selain setuju, Kevin benar, ia tidak mungkin kembali tinggal ditempat dimana ia selalu merasa tidak aman
Untuk urusan pekerjaan, Alanna akan fokus saja bekerja di minimarket. Walaupun gajinya kecil, setidaknya ia akan aman
"Terima kasih!"
"Biar aku obati lukamu dulu!" Kevin mengarahkan Alanna untuk duduk di sofa ruang tamu, mengambil kotak P3K lalu menatap wajah yang terlihat memar, bahkan sudut bibirnya mengeluarkan cairan merah
"Apa sakit?" Kevin mengusap sudut bibir Alanna yang terluka
"Tidak masalah tuan, ini sudah biasa!"
"Sudah biasa?" Kevin tidak bisa membayangkan bagaimana hidup Alanna bersama orang-orang itu "Lalu kamu diam saja?"
"Saya tidak punya siapapun, sudah untung Tante Silvia mau menampung saya selama ini!" Alanna menunduk, entah kenapa cairan bening luruh membasahi pipinya padahal sebisa mungkin ia tahan
"Sekarang kamu punya aku, dan kamu tidak akan mengalami semua rasa sakit itu lagi!" Ujar Kevin tulus
"Tapi kenapa tuan Kevin mau membantu saya? Kita bahkan baru bertemu sekali saat acara ulang tahun itu!" Tanya Alanna
Jujur saja ia merasa apa yang dilakukan Kevin adalah hal yang tidak biasanya dilakukan oleh orang yang belum saling mengenal
"Itu karena aku su..." Ucapan itu terhenti, Kevin melipat bibirnya agar tidak mengungkapkan perasaannya secepat itu
Alanna mungkin akan pergi lagi jika ia mengatakan perasaannya yang sebenarnya pada gadis itu
"Su apa?"
"Udahlah! Itu tidak penting! Sekarang kamu istirahat! Besok aku kesini lagi untuk bawa perlengkapan kamu!" Kevin cepat memotong, bagaimanapun ini belum saatnya
"Terima kasih sekali lagi tuan!"
Pria tampan itu hanya mengangguk "Aku pergi dulu!"
Kevin lalu meninggalkan penthouse miliknya dan kembali ke kediaman Argantara. Sang ibu pasti sudah menunggu bak wartawan akun gosip
Alanna masuk kedalam kamar yang telah ditunjuk oleh Kevin, matanya terbelalak begitu melihat bagaimana mewahnya kamar itu
Ini bahkan berkali-kali lipat lebih besar dari kamar miliknya dirumah sang Tante "Ini besar sekali, apa tuan Kevin sadar memberikan kamar semewah ini?"
***
Alanna bangun saat matahari sudah cukup tinggi, mungkin karena kasur yang empuk membuatnya nyaman
Gadis cantik itu keluar, melangkah menuju dapur dan membuka lemari pendingin yang berukuran besar
Hanya ada beberapa bahan "Mungkin tuan Kevin gak tinggal disini makanya bahan makanannya gak banyak!"
Alanna mengeluarkan beberapa bahan, membuat apa saja yang bisa ia buat. Ia terbiasa membuat makanan selama tinggal dirumah Silvia sang tante
Baru saja hendak menikmati hasil masakannya, terdengar suara bel. Alanna berjalan menuju pintu dan membukanya
"Tuan Kevin?" Alanna terkejut begitu melihat seorang pria tampan berdiri didepan pintu dengan senyum manisnya
Kevin mengatupkan bibirnya, Alanna terlihat lucu dengan kemeja besar miliknya. Memang semalam Alanna keluar dari rumah tanpa membawa barang
"Kenapa tuan tidak langsung masuk saja?" Tanya Alanna, rasanya aneh saja mengingat penthouse ini miliknya tapi Kevin malah mengetuk
"Sekarang ini milik kamu! Jadi aku tetap harus permisi!"
"Astaga, saya jadi gak enak!" Ujar Alanna
"Boleh masuk gak nih!"
Alanna menepuk keningnya, ia bahkan lupa untuk mempersilahkan pemilik rumah untuk masuk
"Maaf tuan!"
Kevin masuk, meletakkan beberapa paperbag yang ia bawa diatas sofa. Alanna sampai heran kenapa pria itu membawa paperbag sebanyak ini
"Ini semua barang-barang kamu!"
"Hah?" Alanna membulatkan matanya, terlebih semua terlihat dari brand ternama "Semuanya?"
"Iya, kamu nggak bawa barang apapun kan?"
"Tapi saya tidak enak tuan! Ini berlebihan" Alanna benar-benar tidak enak hati melihat apa yang telah Kevin berikan padanya
"Memangnya kamu mau pakai kemeja saya terus-terusan?"
Alanna melihat lagi tubuhnya, semalam memang ia memeriksa lemari Kevin dan hanya ada beberapa potong kemeja yang baginya terlihat seperti dress selutut
Alanna tertawa canggung "Maafkan saya tuan"
"Tidak masalah!" Kevin hendak duduk namun suara gadis itu membuatnya kembali bangkit
"Apa tuan sudah sarapan? Saya baru saja selesai memasak!"
"Kamu masak?"
Alanna mengangguk "Maaf, saya pakai bahan yang ada di kulkas!"
Kevin tersenyum "Kamu gak salah, ngapain sering banget minta maaf sih?"
Kevin berjalan lebih dulu, sementara Alanna menyusul dibelakang. Kevin tersenyum begitu melihat meja makan yang terdapat nasi goreng
Pria tampan itu duduk, Alanna lebih dulu menyiapkan piring serta mengisinya dengan nasi goreng buatannya