NovelToon NovelToon
Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Lu Daimeng: Diluar Jalan Kultivasi

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: EGGY ARIYA WINANDA

‼️MC BERSIFAT IBLIS‼️

Langit memberinya takdir kejam, dibenci Oleh Qi, tidak memiliki dantian, bahkan tidak memiliki meridian.

Dibuang oleh ayahnya sendiri.
Sifat lembut Lu Daimeng hilang tak tersisa, digantikan oleh sifat iblis yang mengerikan.

Dia adalah anti dao, sebuah jalan yang tercipta karena perlawanan kepada langit.

Dia tidak di takdirkan untuk naik menuju puncak.
Dia di takdirkan untuk menghancurkan puncak itu sendiri.

Ini adalah kisah dari apa yang mereka sebut

ANTI DAO.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EGGY ARIYA WINANDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kota Jinting 2

Malam tiba di Kota Jinting.

Kediaman Keluarga Lu berdiri megah di pusat kota. Dindingnya tinggi, dihiasi dengan lentera-lentera merah yang memancarkan cahaya hangat. Penjaga berpatroli dengan disiplin. Formasi pelindung tingkat rendah berkedip samar di udara, mendeteksi fluktuasi Qi asing yang mencoba menerobos.

Itulah letak kelemahan fatal mereka. Formasi itu dirancang untuk mendeteksi Qi.

Lu Daimeng tidak memiliki Qi.

Bagaikan bayangan yang terlepas dari pemiliknya, Lu Daimeng melompat melewati tembok setinggi delapan meter itu dengan kekuatan otot murni, mendarat di atas genteng paviliun tanpa mengeluarkan suara sedikit pun.

Dia mengenal tempat ini. Dia menghabiskan tujuh belas tahun di neraka ini. Dia tahu setiap sudut, setiap jadwal pergantian penjaga, dan setiap titik buta dari pelayan malam.

Ingatannya menarik sebuah memori.

Bukan memori tentang ayahnya, sang Patriark. Patriark terlalu kuat saat ini. Bukan pula tentang saudara-saudaranya yang sombong.

Ini tentang Tetua Logistik. Seorang pria tua gemuk bermata babi yang mengendalikan pembagian sumber daya bulanan klan.

Di masa lalu, Keluarga Lu sebenarnya memberikan jatah pil spiritual dasar untuk Lu Daimeng, berharap keajaiban terjadi pada tubuh "sampah" nya. Namun, jatah itu tidak pernah sampai ke tangannya. Tetua Logistik memotongnya. Menggelapkannya untuk cucunya sendiri.

Ketika Lu Daimeng yang berusia dua belas tahun berani bertanya ke paviliun logistik tentang jatahnya, jawabannya bukan kata-kata.

Plak!

Tamparan keras yang merontokkan giginya. Tetua Logistik itu memukulnya dengan tongkat bambu yang dialiri Qi, hampir mematahkan kaki kirinya sementara para pelayan hanya menonton sambil tertawa.

"Sampah tidak butuh pil!" raung Tetua itu waktu itu, menginjak dada Lu Daimeng kecil. "Kau menghirup udara di klan ini saja sudah merupakan pemborosan sumber daya. Pergi dari hadapanku sebelum aku menjadikanmu makanan anjing!"

Memori itu berputar di kepala Lu Daimeng, tapi tidak ada amarah yang membara. Tidak ada air mata.

Yang ada hanyalah kalkulasi yang dingin. Sebuah hutang yang jatuh tempo.

Tetua Logistik adalah kultivator Ranah Jiwa tahap 3. Secara teori, meskipun Lu Daimeng memiliki fisik yang mengerikan, melawan kultivator Ranah Jiwa secara langsung sangat berisiko. Kultivator Ranah Jiwa bisa memanipulasi energi eksternal dengan lebih kuat dan jiwanya bisa mengunci target dari jarak jauh.

Tapi Tetua Logistik memiliki satu kelemahan fatal: rutinitas dan arogansi.

Setiap malam pada pertengahan jam tikus, setelah menghitung pembukuan palsunya, Tetua itu selalu minum Arak Teratai Merah dari teko giok kesayangannya di ruang kerjanya yang terkunci rapat.

Lu Daimeng merayap di atas atap menuju Paviliun Logistik.

Dia bergelantungan terbalik di luar jendela ruang kerja yang terbuka sedikit untuk ventilasi. Mata Tiga Pupil-nya mengintip ke dalam.

Ruangan itu kosong. Tetua Logistik masih berada di ruang arsip. Di atas meja kayu mahoni yang mewah, teko giok putih itu berdiri dengan angkuh, dikelilingi cawan-cawan emas.

Dengan kecepatan dan fleksibilitas seperti ular, Lu Daimeng menyusup masuk melalui celah jendela. Kakinya mendarat di atas karpet beludru tanpa suara.

Dia membuka botol Air Mata Daun Janda Hitam. Tangannya yang besar mencabut tutup teko giok.

Dia menuangkan seluruh isi botol bening itu ke dalam arak merah di dalamnya. Cairan itu larut seketika. Tidak ada perubahan warna. Tidak ada bau yang berubah. Bau tajam arak teratai menutupi segalanya.

Lu Daimeng menutup kembali teko itu.

Dia tidak langsung pergi. Dia melompat naik ke langit-langit ruangan yang gelap, menempel di sudut balok kayu raksasa menggunakan cengkeraman jarinya. Dia mematikan napasnya menggunakan Dark Null, menekan detak jantungnya hingga hanya berdetak satu kali per menit. Dia menjadi bagian dari furnitur.

Setengah jam kemudian, pintu kayu berderit terbuka.

Tetua Logistik masuk. Dia terlihat lebih gemuk dari ingatan Lu Daimeng. Jubah sutranya terlihat sempit. Wajahnya merah karena puas setelah mungkin saja baru saja menyembunyikan beberapa ribu batu roh ke dalam saku pribadinya.

"Dasar tikus-tikus bodoh," kekeh Tetua itu sendirian, mengunci pintu dari dalam dan mengaktifkan formasi kedap suara. Dia tidak ingin ada yang mengganggunya.

Dia berjalan ke mejanya, duduk di kursi berlengan yang empuk. Dia menghela napas panjang, tampak sangat lelah dari semua korupsi yang dia lakukan. Tangannya meraih teko giok, menuangkan arak merah ke dalam cawan, dan langsung menenggaknya dalam satu tegukan besar.

Lu Daimeng menonton dari atas. Enam pupilnya berputar perlahan. Dia mulai menghitung mundur di dalam kepalanya.

Tetua itu menuangkan cawan kedua. Meminumnya lagi.

Dia mengambil kuas, bersiap untuk menulis di atas gulungan bambu.

Tiba-tiba, tangannya berhenti di udara.

Kuas itu jatuh dari sela jarinya, menodai kertas dengan tinta hitam.

"Uh..." Tetua itu mengerang pelan. Dia menyentuh dadanya. Matanya yang sipit tiba-tiba membelalak ketakutan.

Di dalam penglihatan Tiga Pupil Lu Daimeng, Dantian Tetua itu yang tadinya bersinar terang seperti matahari kecil berwarna biru, kini mulai diselimuti oleh kristal-kristal abu-abu. Jaringan energi di meridiannya membeku. Aliran Qi-nya tercekik.

"R-racun..." Tetua itu mencoba berteriak, tapi pita suaranya telah kaku. Dia mencoba berdiri, tapi kakinya tidak merespons. Dia jatuh tersungkur dari kursinya, menghantam lantai dengan suara berdebum yang teredam oleh formasi kedap suara yang dia pasang sendiri.

Ironi yang indah. Dia mengurung dirinya sendiri di ruang eksekusi.

Kelumpuhan itu total. Dia sadar, matanya bisa bergerak dengan liar, dia bisa merasakan ketakutan, tapi dia tidak bisa menggerakkan satu jari pun. Kultivasi Ranah Jiwa-nya diblokir sepenuhnya oleh racun tingkat tinggi yang menghancurkan pondasinya.

Saat itulah, Lu Daimeng turun.

Dia menjatuhkan diri dari langit-langit, mendarat ringan tepat di depan wajah Tetua yang tergeletak di lantai.

Mata Tetua itu hampir keluar dari rongganya saat melihat sosok yang berdiri di atasnya. Jubah kulit gagak. Rambut panjang yang liar. Dan wajah yang sangat dia kenal, meskipun kini terlihat jauh lebih dewasa dan mengerikan.

Lu Daimeng?! Tatapan mata Tetua itu menjeritkan pertanyaan tersebut. Bagaimana bisa?! Bukankah Patriark sudah membuangnya ke Hutan Kabut Kematian untuk dijadikan makanan monster?!

Lu Daimeng berjongkok. Wajahnya datar, seolah sedang menatap tumpukan sampah yang menghalangi jalan. Dia menatap langsung ke mata babi yang dipenuhi teror itu.

"Selamat malam, Tetua," bisik Lu Daimeng, suaranya tenang dan mematikan. Senyum tipis terukir di sudut bibirnya—senyum yang tidak mengandung kebahagiaan, hanya janji akan penderitaan. "Aku yakin kau bingung. Jangan buang energimu untuk berpikir. Biarkan aku yang menjelaskan."

Lu Daimeng mencabut pedang berkaratnya dari balik jubah. Bau besi tua dan darah kering menguar.

"Kau hampir melumpuhkan kakiku karena pil tingkat rendah yang harganya tidak seberapa. Kau menendangku ke lumpur saat aku hanya meminta hakku." Lu Daimeng memiringkan kepalanya. "Dalam strategi, setiap tindakan memiliki konsekuensi. Kau bertaruh bahwa aku akan tetap menjadi sampah selamanya. Taruhan yang masuk akal secara logis."

Mata Tetua itu memohon. Air mata ketakutan mengalir di pipinya yang gemuk. Jika dia bisa bicara, dia akan menawarkan seluruh kekayaannya.

"Tapi tebakanmu salah," lanjut Lu Daimeng. "Dan kesalahan yang kau buat itu tidak dapat aku terima!!"

Tanpa keraguan sedetik pun, tanpa teriakan amarah, Lu Daimeng menghujamkan pedang berkarat itu, dia melapisinya dengan energi Dark Null.

CRAASSSSH!

Bilah tumpul yang penuh karat itu tidak memotong dengan mulus. Ia merobek. Ia mengoyak otot dada, menghancurkan tulang rusuk, dan menusuk langsung ke jantung Tetua Logistik.

"Hrkkh..." Suara gelembung darah keluar dari bibir Tetua itu. Rasa sakitnya luar biasa, dikalikan sepuluh karena racun yang membuat sarafnya hiper-sensitif, namun dia bahkan tidak bisa mengejang.

Dia dipaksa merasakan setiap inci karat yang menggesek jantungnya.

Lu Daimeng tidak mencabut pedangnya. Dia membiarkan pedang itu menancap, mengunci tubuh besar itu ke lantai kayu.

Kematian belum menjemput Tetua itu sepenuhnya. Ranah Jiwa membuatnya bertahan hidup beberapa detik lebih lama.

Jika saja racun jiwanya tidak bekerja mungkin tetua ini akan keluar dari tubuhnya dengan jiwanya. Tapi racun itu mengunci jiwanya bersama tubuhnya sehingga dia tidak dapat melarikan diri.

Lu Daimeng belum selesai.

Dia membuang senjatanya, menggunakan tangannya yang telanjang—tangan yang jari-jarinya telah mengeras.

"Biar kuambil sebagai ganti dari apa yang telah kau curi," bisik Lu Daimeng.

Dia menusukkan tangannya yang sudah dilapisi dark null langsung ke perut Tetua itu, tepat di atas pangkal paha.

SLRRP!

Darah muncrat ke wajah Lu Daimeng. Dia merobek daging dan otot perut yang tebal itu dengan kebrutalan murni. Jari-jarinya menggali ke dalam perut, mencari pusat eksistensi kultivator itu.

Tetua itu akhirnya mati karena syok dan rasa sakit yang melampaui batas realitas. Jiwanya hancur sebelum sempat kabur dari tubuhnya.

Lu Daimeng menarik tangannya keluar.

Di telapak tangannya, ada gumpalan energi yang bersinar biru terang. Dantian Ranah Jiwa. Kualitasnya jauh melampaui Dantian milik Kultivator pembentukan Qi. Ini adalah bola energi padat yang telah dimurnikan selama puluhan tahun.

Bagi Lu Daimeng, ini adalah hidangan utama dari awal pembalasan dendamnya.

Dia membuka mulutnya, dan tanpa ragu, memakan Dantian itu mentah-mentah.

Darah mengalir dari sudut bibirnya saat dia mengunyah keras.

BOOM!

Saat Dantian itu masuk ke perutnya, Anti-Dao di dalam tubuh Lu Daimeng meledak dengan kegembiraan yang gelap. Anti-Dao itu berputar sangat cepat, menghancurkan energi Ranah Jiwa itu, mengubahnya menjadi residu entropi yang murni, dan mengalirkannya ke seluruh sel di tubuh Lu Daimeng.

Otot-ototnya menegang. Kepadatan tulangnya meningkat. Kekuatan fisiknya kembali didorong ke batas yang baru. Bahkan logam tingkat 1 kini tidak akan dapat menembusnya.

Dia berdiri perlahan, menghapus sisa darah dari dagunya. Dia menatap mayat yang berlubang itu dengan rasa muak yang singkat, lalu merogoh pinggang mayat itu dan merampas cincin penyimpanan tingkat tinggi miliknya. Cincin yang berisi semua kekayaan logistik klan.

Urusannya di ruangan ini selesai. Tapi urusannya dengan Keluarga Lu baru saja dimulai.

Taman Pusat Keluarga Lu.

Ini adalah tempat tercantik di seluruh kediaman. Bunga-bunga spiritual mekar di bawah sinar rembulan, kolam koi berkelip dengan ikan-ikan berharga mahal. Tempat di mana semua orang di klan berlalu lalang di pagi hari untuk pamer dan bersosialisasi.

Lu Daimeng berdiri di tengah taman itu. Di tangannya, ada kuas besar yang dia celupkan ke dalam ember kayu.

Ember itu tidak berisi tinta. Ember itu berisi sisa darah Tetua Logistik yang dia tampung.

Dengan gerakan yang lebar dan elegan—tulisan kaligrafi yang dulu dia pelajari dengan susah payah sebagai anak bangsawan—Lu Daimeng menulis di atas tembok putih bersih di tengah taman. Huruf-hurufnya raksasa, meneteskan warna merah segar yang merusak keindahan malam.

Kalimat itu berbunyi:

KALIAN MEMUJA LANGIT, TAPI LUPA BAHWA LANGIT BERISTIRAHAT DI ATAS KETIADAAN. AKU, LU DAIMENG, TELAH KEMBALI DARI BAWAH TANAH. SIMPAN KEPALA KALIAN BAIK-BAIK, KARENA SEBENTAR LAGI, LEHER KALIAN TIDAK AKAN KUAT MENAHAN SERANGANKU.

Itu bukan sekadar ancaman. Itu adalah deklarasi perang.

Setelah huruf terakhir selesai, Lu Daimeng melemparkan kuas itu ke dalam kolam koi. Air kolam perlahan berubah menjadi kemerahan.

Dia melompat ke atas tembok, menoleh untuk terakhir kalinya ke arah kediaman yang pernah menjadi rumahnya.

"Tidurlah yang nyenyak malam ini," bisiknya, senyum mematikan itu kembali menghiasi wajahnya. "Karena malam-malam berikutnya, kalian akan berharap tidak pernah bangun."

Dalam sekejap, bayangannya menghilang ditelan kegelapan malam.

Keesokan paginya, kekacauan meledak di Keluarga Lu.

Jeritan pelayan yang menemukan mayat Tetua Logistik menggelegar di seluruh penjuru paviliun. Namun, yang paling membuat gempar adalah tulisan berdarah raksasa di taman pusat.

Patriark Lu berdiri di depan tembok itu, wajahnya keras seperti batu, diapit oleh para Tetua yang lain. Saudara-saudara Lu Daimeng yang dulu menertawakannya—menatap tulisan itu dengan dahi berkerut.

"Lu Daimeng?" Lu Tian (Kakak Laki-laki Lu Daimeng) mencibir, menendang kerikil di dekat kakinya. "Sampah yang bahkan tidak bisa menyerap Qi? Dia mengancam kita?"

"Ini omong kosong," desis seorang Tetua berjanggut putih. "Dia mungkin sudah mati dimakan monster di Hutan Kabut Kematian. Mustahil dia bisa bertahan sehari, apalagi membunuh Tetua Logistik yang berada di Ranah Jiwa!"

Patriark Lu menyipitkan matanya. Dia menyentuh darah di tembok yang sudah mengering.

"Mustahil ini ulah si sampah itu," kata Patriark Lu dengan nada absolut, menolak menerima kemungkinan bahwa keputusannya membuang anaknya telah menciptakan monster. "Seseorang menggunakan namanya untuk mengejek kita. Membunuh secara diam-diam tanpa memicu formasi... Ini pasti pembunuh bayaran tingkat tinggi."

"Keluarga Qin," geram Tetua lain. "Atau mungkin Keluarga Lei. Mereka tahu Tetua Logistik memegang kendali atas distribusi batu roh bulan ini. Mereka ingin merusak perdagangan kita dan meninggalkan lelucon busuk ini untuk membuat kita kebingungan!"

"Perketat penjagaan! Kirim surat ke faksi keluarga Qin dan Lei!" perintah Patriark. "Gunakan kata-kata jebakan agar mereka mengaku."

Kesombongan mereka membutakan mereka dari kebenaran. Mereka terlalu rasional dalam standar dunia kultivasi: Manusia fana tidak bisa membunuh kultivator apalagi ahli Ranah Jiwa. Itu hukum alam.

Dan karena mereka percaya pada hukum alam, mereka gagal melihat kebenaran.

Sementara Keluarga Lu sibuk menyalahkan musuh politik mereka, Lu Daimeng sudah berada puluhan mil jauhnya.

Dia berjalan di jalan setapak berbatu yang menanjak, meninggalkan Kota Jinting di belakang punggungnya. Matahari pagi menyinari wajahnya yang tersembunyi di balik tudung.

Tujuannya sekarang jelas.

Lembah Gunung Jinting. Akan ada Alam Rahasia yang akan terbuka disana.

Di sana akan berkumpul para murid jenius dari berbagai sekte, orang-orang sombong yang mengira dunia ini milik mereka. Di sana ada berbagai jebakan, binatang buas kuno, dan yang paling penting: sumber daya dan Dantian segar yang menunggu untuk dipanen.

Bagi para kultivator, Alam Rahasia adalah tempat ujian dan pencarian takdir.

Bagi Lu Daimeng, itu hanyalah sebuah prasmanan makan sepuasnya.

Dia melangkah maju, pedang di punggungnya berdenting pelan, menyanyikan lagu kematian yang belum pernah didengar oleh dunia ini.

Bersambung.....

1
M Rijal
😍💪 semangat thor
EGGY ARIYA WINANDA: Siap😁
total 1 replies
M Rijal
gw tunggu up nya thor
EGGY ARIYA WINANDA: Sipp 😂😂
total 1 replies
M Rijal
ini benar2 novel yang menarik. 👹😈
EGGY ARIYA WINANDA: Thank u😈👍
total 1 replies
EGGY ARIYA WINANDA
Ini bukan cerita tentang protagonis yang menyelamatkan dunia, ini adalah kisah villain yang berhasil melahap dunia.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!