"AYA!! Ingat kamu cuma istri formalitas. Kamu tak punya hak mengatur dengan siapa aku berhubungan, " teriak Rama.
BLAMM!!
Aya terduduk di sisi ranjang dengan air mata yang berderai.
"Aku tahu, aku hanya pelarian buatmu. Setidaknya, jangan buat aku merasa semakin hina dengan menemui wanita itu terang-terangan, " gumam Aya lirih.
Cahaya Insaniah, seorang wanita yang mendapat amanah menjadi istri seorang pemuda penerus perusahaan sawit di Kalimantan bernama Rama.
Rama yang jatuh hati dengan seorang Model lokal, terpaksa menikahi Cahaya karena pesan terakhir mamanya yang tak sadarkan diri akibat kecelakaan mobil.
Mampukah Cahaya menjalankan amanah menjadi istri Rama? Akankah Rama berpaling dari Model lokal itu?
Ikuti kisah mereka dalam Karya HANYA WANITA PELARIAN
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kejutan
KEESOKAN HARINYA
Pagi yang tenang, dengan udara sejuk mengisi ruang makan lewat jendela yang dibuka lebar. Bi Sri masih membersihkan perkakas memasak di wastafel dapur.
CEKLEK
"Assalamu'alaikum, Bi Sri, " sapa Aya dengan senyumnya yang manis.
"Wa'alaikumsalam. Mbak Aya, " sahutnya Sri ramah.
"Sarapannya sudah siap mbak. Pak Heru sudah di teras ngopi sambil sarapan." tambahnya.
"Nggih Bi.. bang Rama sebentar keluar, masih siap-siap."
Aya meletakkan kopi hitam untuk Rama di meja.
Rama keluar membawa tas kerja dan jasnya lalu berjalan menuju ruang makan.
"Sarapannya sedikit aja, Sayang. Khawatir perut nggak enak di jalan."
Aya mengangguk, mengurangi porsi nasi uduk dan menata lauk.
"Pak Heru sudah di teras, masih sarapan, " ujar Aya.
Rama menatap jam yang melingkar di tangan kirinya sambil menyeruput kopi. Jarum menunjuk angka enam empat puluh.
"Hati-hati nanti ya bawa motornya. Surat jalannya jangan lupa di bawa. Helm jangan lupa di klik. Pakai jaket biar nggak bau asap. Jaga-jaga bawa kaca mata hitam, kalau silau di jalan."
"Bang, Aku cuma ke kantor nggak keluar kota. Kenapa lebih cerewet abang sih? "
Bi Sri tersenyum geli, melihat pasangan baru itu. Baru kali ini ia melihat sikap romantis Rama, padahal beberapa minggu sebelumnya mereka terlihat tak akur dan canggung.
"Abang khawatir sayang, malah di bilang cerewet."
"Udah percaya aja, aku sudah biasa ke kantor naik motor, bukan baru hari ini."
Rama tersenyum geli, ia baru sadar soal itu.
CEKLEK
"Pagi semua, wah bang pagi-pagi udah makan berat? "
"Mau gimana lagi, di desak sama istri, " sahut Rama sambil melirik Aya menggodanya.
"Ya kan biar nggak pusing di jalan. Paling-paling kebelet ke toilet, bisa mampir ke rest area, " jelas Aya terkekeh.
"Jarak rest area masih sejam, sayang. Yang ada abang keluar duluan di pinggir jalan."
Aya dan Raka spontan tertawa melihat Rama respon dan reaksinya yang bersungut. Sri cekikikan mendengar percakapan mereka di dapur.
Setelah sepuluh menit menikmati sarapan, Rama beranjak sambil menyeka mulut dengan tisu. Aya ikut berdiri berjalan ke sofa ruang tengah mengambil jas dan tas Rama.
"Ka, jangan lupa ya jemput mama papa. "
"Siap, Bang. Hati-hati di jalan."
Rama merangkul Aya berjalan ke pintu. Di ambang pintu mereka berpamitan. Aya mencium punggung tangan Rama, Rama mengecup kening dan bibir Aya lalu memeluknya.
Raka yang melihat dari kejauhan adegan pasangan baru itu spontan memalingkan wajah. Hatinya masih perih. Sri terheran melihat gesture aneh dari Raka. Ia cukup mengenal putra kedua pak Jaka itu, karena ia bekerja sudah sangat lama di rumah itu.
"Mas Raka," panggil Sri.
Raka menatap Sri yang duduk di samping meja dapur.
"Sudah mau juga?" tanya Sri menggoda.
"Oh, belum kok Bi. Masih belum se mandiri bang Rama. Kasihan anak orang nanti."
Sri mengangguk mengerti. "Siap-siap aja dulu, Mas. Nanti akan ada masanya."
Raka mengangguk sambil tersenyum getir, buru-buru melanjutkan sarapannya.
Mobil yang dikendarai Heru melaju di iringi matahari pagi yang makin meninggi. Aya berdiri memandangi mobil yang menjauh dan menghilang di balik pagar otomatis.
Saat kembali ke ruang makan, Raka sudah tak terlihat. Aya duduk kembali ke kursinya menghabiskan teh dan roti lapisnya.
"Bi saya bawa ke kantor aja ya nasi uduknya, " ijin Aya sungkan.
"Monggo Mbak, Mas Raka juga minta dibungkus tadi."
Aya mengambil kotak ransum di lemari, menata nasi uduk komplit dengan bawa goreng diatas nasi lalu ke kamar untuk bersiap.
Sekembalinya dari kamar lengkap dengan jaket dan tas kerja, ia tertegun di depan pintu kamar Raka. Lalu...
TOKTOKTOK
"Raka, " panggil Aya.
CEKLEK
"Sudah mau berangkat? " tanya Raka dengan senyumannya yang khas.
"Iya, kamu berangkat jam berapa? "
" Lima belas menit lagi. "
"Oke, kalau gitu aku duluan ya, semoga lancar, " pamit Aya sambil melambai dan berjalan menuju tangga.
" Ya hati-hati."
Raka tersenyum menatap Aya yang menuruni tangga. Kemandiriannya membuat Raka bangga pernah menyukainya.
"Sepertinya dia memang bahagia dengan bang Rama. Mungkin cuma aku yang terlalu khawatir bang Rama bakal mengabaikannya, " gumam Raka lirih.
Semalam, teman-teman SMA nya yang hadir di reuni dadakan banyak bercerita soal Amel. Sebagian besar tahu kedekatan Rama dengan Amel, apalagi sejak Rama kembali dari Australia. Mereka beberapa kali bertemu dengan Rama dan Amel makan berdua di kafe atau resto mahal. Menunjukkan kemesraan di depan umum.
Robi sempat cemas melihat raut wajah Raka yang seketika menegang. Mereka tak menyangka Amel betul-betul menarik perhatian banyak orang.
"Kamu sering ketemu nggak Ka, sama Amel pacar abangmu itu?" tanya irsyad.
Raka menggeleng. "Bang Rama nggak pernah bawa ke rumah, jadi cewek itu belum dikenalin secara resmi ke orang tua ku. "
"Wah, gitu ya. Setahuku udah lama loh hubungan mereka."
"Iya, di grup alumni fakultas ku mereka selalu jadi bahan gosip. Couple goal kata temen-temen cewek. Apalah itu aku nggak paham juga, " timpal Reo.
Raka hanya bisa menarik nafas panjang, ia cuma khawatir kalau pernikahan abangnya dengan Aya tersebar nanti, akan bagimana reaksi teman-teman SMA-nya itu.
***
"Selamat Pagi, Bu Mila, " sapa Aya sambil berdiri dikursinya dan tubuh membungkuk sedikit.
"Pagi, sepuluh menit lagi ke ruangan saya."
"Baik, Bu."
Mila masuk ke ruangannya dengan langkah tegas yang selalu membuat stafnya tunduk. Cara bicaranya menunjukkan wibawa yang patut di hormati.
Aya pun tak kalah hormat. Meski dia sekarang bagian dari keluarga dirut, ia tetap berusaha bersikap sama dan profesional dalam pekerjaan. Baik staf tau atau tidak soal statusnya saat ini, itu prinsipnya sejak awal.
TOKTOKTOK
"Permisi, Bu."
Mila mengangguk, Aya masuk membawa buku catatan.
"Ipad di laci dipakai saja. Itu memang milik perusahaan, fasilitas kerja untuk asisten."
"Oh iya, Bu, " sahut Aya malu-malu.
Ia sungkan menggunakannya kalau belum mendapat instruksi langsung.
"Duduklah, ada hal yang mau saya tanyakan."
Aya duduk di kursi depan meja Mila. Tubuhnya tegak, siap mendengar.
"Apa benar kamu akan menikah dengan pak Rama dari kantor pusat? "
"Oh soal itu, Bu Mila dengar dari mana? "
"Tak penting dari mana, saya hanya butuh jawaban."
" Maaf, Bu. Iya benar sabtu besok. Tapi undangan untuk kantor baru akan di sebar hari Kamis atau Jumat, Bu."
Mila mengangguk. "Kalian punya hubungan sebelumnya? "
"Oh tidak, Bu. Itu murni perjodohan. Pak Jaka memenuhi amanat dengan almarhum Aba saya."
"Saya juga baru tahu soal itu saat beliau sekeluarga datang ke rumah untuk melamar saya, " tambah Aya.
"Apa mutasimu ke sini karena alasan itu? "
"Salah satunya, tapi yang saya tahu pak Bayu memang minta kiriman staf keuangan karena kebutuhan mendesak."
"Oke, saya paham. Saya merasa perlu tahu lebih dulu untuk memastikan tidak ada kesalahpahaman ke depannya. Bagaimana pun juga, kamu sudah berada di bawah tanggung jawab saya. Usahakan tetap bekerja profesional. Saya akan tetap bersikap tegas kalau kamu melakukan kesalahan."
"Baik, Bu. Saya mengerti, saya pastikan tetap bekerja profesional."
"Bagus. Setelah pertemuan IHT nanti, Kamu selesaikan pekerjaan jumat lalu dan ingatkan pengajuan pencairan dana untuk agenda bulan depan dari semua bidang. Dan pastikan mereka menyerahkan laporan bulan berjalan secara berkala."
Aya mencatat semua arahan dengan serius dibuku kecilnya.
Saat kembali ke mejanya. Pertanyaan Mila di ruangannya tadi cukup membuat Aya gugup.
'Benar juga, bu Mila harusnya yang lebih dulu tahu. Apalagi soal ijin setengah hari jumat besok, ' batinnya.
"Ya, udah jam delapan lima puluh. Yuk ke aula pertemuan, " ajak Feni.
Aya mengangguk, mereka berjalan bersama menghadiri kegiatan IHT.
"Biasanya kegiatannya bagaimana? " tanya Aya.
" Pertemuan pada umumnya sih, nanti ada presentasi tema tertentu biasanya sudah ditetapkan dari bagian kepegawaian. Setelah itu arahan kepala kantor. Paling nanti di momen ini kamu dikenalin."
Aya mengangguk mengerti.
"Aya, " panggil Tami staf umum yang menyapa saat pertama kali datang ke kantor itu.
"Hai, Tami."
Tami ikut mengantri lift bersama yang lain.
"Gimana? sudah keliling kantor belum? "
"Oh belum, nanti pas agak longgar. Jobnya sudah lumayan, " ujar Aya terkekeh.
"Kerjaan asisten memang paling banyak, apalagi asisten keuangan, " timpal Feni.
"Betul juga sih, minimal kamu dikenal aja dulu sama karyawan lain. Menjelajah kantor bisa sambil, " ujar Tami lagi.
"Iya, nanti pas nagihin laporan bisa sekalian keliling, " tambah Feni.
Ruang aula makin penuh dengan karyawan yang berdatangan satu persatu.
Di baris tengah, ada beberapa karyawati yang menoleh ke arah Aya yang duduk agak belakang.
"Itu ceweknya? " ujar seorang karyawan dengan blazer pink.
"Iya, aku juga nggak nyangka ditempatkan di sini. Aku lihat mereka makan di resto waktu itu, pas jam istirahat siang, " sahut wanita bermake-up cetar.
"Apa mereka memang punya hubungan ya? " tanya si kuncir kuda.
"Sepertinya sih, padahal kerja Aya itu cukup bagus info dari temanku di keuangan waktu itu, " sahut si menor lagi.
"Jadi, karena bahas mereka kamu akhirnya di pindah ke sini? " tanya si kemeja kuning.
"Iya, padahal aku bahas di grup bayangan karyawan. Ada aja yang laporan."
Mereka menggeleng mendengar penuturan Melda, karyawati yang bermake up tebal itu. Perusahaan mereka jadi tempat penampungan orang yang berurusan dengan keluarga dirut.
Pertemuan di mulai, salah satu karyawan membuka acara. Fokus karyawan yang duduk di kursi bawah panggung mengarah pada MC yang bertugas saat itu.
Presentasi awal dari perwakilan bidang marketing tentang materi public speaking berjalan lancar. Riuh tepuk tangan mengantar presenter turun dari panggung.
"Selanjutnya arahan kepala cabang, kepada Pak Bayu waktu dan tempat saya persilahkan."
MC menyerahkan Microphone pada Bayu yang baru naik ke atas panggung. Ia berdiri tegak dengan mic di tangan kanan. Tangan kiri di lipat ke belakang punggung. Lengan baju kemeja biru navynya di gulung setengah. Benar-benar penampilan kepala cabang santai tapi tetap menawan.
Pembukaan di sampaikan dengan gurauan santai, menunjukkan karakter Bayu yang memang ramah. Sekilas gaya bicaranya mirip Rama.
Arahan demi arahan disampaikan dengan nada lugas. Suara baritonnya memancarkan aura kewibawaan. Tak bosan kalau bertemu pimpinan seperti ini tiap hari, terutama bagi karyawati jombloers.
"Selanjutnya saya akan memperkenalkan warga baru di keluarga besar CV BERKAH SAWIT. Silahkan saudari Aya berdiri. "
Aya berdiri di tempat, mengulas senyum terbaiknya dengan tatapan masih menghadap ke panggung.
"Cahaya insaniah, biasanya di panggil Aya. Asisten Bu Mila di bidang keuangan pindahan khusus dari UTAMA JAYA. Kenapa saya bilang khusus. Karena pertama, permintaan saya langsung pada Pak Jaka Dirut UTAMA JAYA untuk memenuhi posisi asisten bidang keuangan. Posisi penting cukup mendesak, semoga Bu Mila segera bisa mengatasi masalah keuangan yang ditinggalkan asisten sebelumnya."
"Yang Kedua, Karena Cahaya ini adalah calon istri Pak Rama Adi Pramana atau Calon menantu Pak Jaka. Untuk detail undangan pernikahan mereka akan disampaikan Aya sendiri di grup perusahaan."
Aya berdiri terpaku, senyumnya mendadak hilang. Ia tak di briefing sebelumnya soal ini.
Tak lama suara notif pesan masuk ke ponselnya dari "Paksu Rama".