NovelToon NovelToon
Fated Across Borders: Shared Wounds

Fated Across Borders: Shared Wounds

Status: tamat
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Berbaikan / Tamat
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: Zildiano R

Merupakan cerita alternatif dari light novel Fated Across Borders; Menceritakan Amayah yang terjebak dalam trauma masa lalu, ia berubah menjadi gadis keras yang melampiaskan lukanya lewat kekerasan dan penindasan.

Brian melihat sisi rapuh di balik sikapnya dan berusaha membantunya keluar dari kegelapan, namun kehadirannya selalu diabaikan seolah tak pernah ada. Di tengah luka yang terus menghantui Amayah, muncul satu pertanyaan: bisakah Brian benar-benar menolongnya, atau kegelapan itu telah menjadi bagian dari dirinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zildiano R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 06

Suatu sore, Brian terlihat berbaring santai di sofa sambil memainkan ponselnya. Sementara itu, Amayah mondar-mandir di dapur, membuka lemari dan kulkas, mengecek bahan makanan yang tersisa.

"Brian," panggil Amayah dengan nada datar.

Brian menoleh sedikit. "Hmm?"

"Apa kau punya rekomendasi menu makan? Untuk sarapan atau makan malam," tanya Amayah santai, seolah hanya bertanya sambil lalu.

Brian menghentikan jemarinya, memejamkan mata sejenak seakan berpikir keras.

"Entahlah... aku tidak kepikiran," jawabnya akhirnya.

Amayah sedikit mengernyit. "Memangnya tidak ada makanan khas dari negaramu?" tanyanya lagi, nada suaranya terdengar agak kesal karena Brian terkesan tidak serius.

Brian membuka mata dan kembali menatap layar ponselnya. "Makanan yang kusukai dari negaraku... mungkin nasi goreng. Itu salah satu favoritku. Di sana, kami sering memasaknya dari nasi sisa semalam," katanya santai.

Amayah terdiam sejenak, menatap Brian dengan serius. Tanpa ia sadari, akhirnya ia mengetahui makanan kesukaan Brian—sesuatu yang sebelumnya ingin ia tanyakan, namun selalu ia urungkan karena malu.

"Nasi goreng yang seperti apa? Pedas atau asin?" tanya Amayah memastikan.

"Aku tidak suka pedas," jawab Brian singkat. "Bukan karena rasanya buruk, tapi aku tidak kuat pedas."

"Ternyata kau lemah terhadap pedas. Payah sekali," ejek Amayah tanpa ekspresi.

"Berhenti mengomentari seleraku," balas Brian datar.

Keesokan paginya...

Brian yang baru saja selesai mandi dan berpakaian dibuat terkejut oleh sepiring nasi goreng berukuran cukup besar yang sudah tersaji di meja. Ia menatapnya dengan bingung.

"Tumben sekali kau membuat ini," ujar Brian datar.

"Aku hanya ingin membuatnya," jawab Amayah cepat. "Bukan berarti aku membuatnya setelah tahu kau suka nasi goreng," tambahnya, berusaha menyangkal.

Brian tidak menanggapi penyangkalan itu. Ia duduk dan mulai menyantap nasi goreng tersebut perlahan.

Amayah berdiri di samping meja, diam menunggu, matanya sesekali melirik ke arah Brian.

"Bagaimana?" tanyanya akhirnya.

"Enak," jawab Brian jujur. "Bumbunya memang tidak sekuat nasi goreng dari negaraku, tapi aku menyukainya." Ia melanjutkan makan dengan lahap.

"Begitu ya..."

Amayah merasa senang, meski ada sedikit rasa belum puas. Ia jadi penasaran seperti apa sebenarnya nasi goreng Indonesia yang benar-benar cocok di lidah Brian.

"Kau benar lahir di Indonesia?" tanya Amayah tiba-tiba.

"Ya," jawab Brian singkat.

"Bagaimana dengan orang tuamu?"

"Ibuku orang Amerika, ayahku asli Indonesia. Aku dibesarkan di sana," jelas Brian.

Amayah mengangguk pelan. "Lalu mengapa kau pindah ke sini?" tanyanya penuh rasa ingin tahu.

Brian terdiam sejenak. "Karena sebuah permasalahan yang membuatku harus pergi dari sana," jawabnya akhirnya, dengan nada yang jelas tidak ingin membahas lebih jauh.

Amayah bisa merasakan bahwa Brian menyembunyikan sesuatu. Ia ingin tahu lebih banyak, ingin mengenalnya lebih dalam. Namun, ia sendiri tidak mengerti alasan perasaannya itu.

Hingga ia tersadar, waktu sudah hampir habis.

"Ah... aku harus bersiap ke sekolah," gumam Amayah, buru-buru meninggalkan ruangan dengan pikiran yang masih dipenuhi sosok Brian.

---

Di suatu Minggu pagi yang cerah, burung-burung berkicauan dengan tenang, sementara angin segar menyelinap masuk melalui jendela kamar. Di tengah suasana damai itu, Brian justru sedang asyik bermain gim di komputernya.

Ia begitu fokus hingga nyaris tidak peduli dengan apa pun di sekitarnya. Jemarinya bergerak cepat di atas keyboard, matanya terpaku pada monitor. Namun, ketenangan itu mendadak buyar ketika pintu kamarnya terbuka.

Amayah berdiri di ambang pintu.

"Brian, ayo temani aku," katanya tiba-tiba.

"Hah? Ke mana?" tanya Brian kebingungan, tanpa benar-benar mengalihkan pandangannya dari layar.

Amayah menjawab santai, "Ke mal. Ada suatu benda yang sedang dijual terbatas, dan aku sedang mengincarnya."

Brian mendengus pelan. "Malas sekali. Mengapa kau tidak pergi sendiri saja?"

"Memangnya apa salahnya mengajakmu?"

"Kau tidak lihat? Aku sedang sibuk bermain gim."

Nada bicara Brian membuat Amayah sedikit kesal. "Kau ini dari pagi sampai malam tidak henti-hentinya bermain gim. Lebih baik kau melakukan kegiatan yang lebih produktif," katanya datar, berusaha menahan emosi.

"Terserah aku. Kau bukan ibuku," ujar Brian angkuh.

Amayah terdiam sejenak. "Hmm, begitu ya. Maaf telah memaksamu," katanya lirih, ekspresinya jelas terlihat sedih.

Ia pun memutuskan untuk keluar dari kamar. Langkahnya terdengar pelan, namun sarat kekecewaan. Brian mendengarnya dengan jelas.

Permainan di layar terhenti. Brian menatap monitor kosong sesaat, lalu menghela napas. Ada rasa bersalah yang tiba-tiba menyelinap ke dalam dadanya.

Ia bangkit dan mengejar Amayah. "Baiklah, baiklah, aku ikut menemanimu," ucapnya dengan nada malas, seolah enggan mengakui perasaannya sendiri.

"Serius?" tanya Amayah, tampak tidak percaya.

"Ya. Aku juga ingin membeli sesuatu di sana," jawab Brian santai.

"Bilang saja kalau kau sebenarnya terpaksa."

"Aku sungguh ingin menemanimu, jangan membuat rasa malasku meningkat."

"Hmm, baiklah..." balas Amayah pelan.

Wajahnya terlihat cerah, meski ia tidak tahu bagaimana harus mengekspresikan rasa senangnya. Ia pun segera bersiap-siap untuk berangkat, meskipun persiapannya memakan waktu cukup lama.

Brian menunggu hampir setengah jam di ruang tamu. "Lama sekali..." gumamnya sambil melirik jam.

Akhirnya, bel pintu rumah Brian berbunyi. Dengan sigap, Brian menghampiri pintu dan membukanya. Saat itulah ia sedikit terpukau oleh penampilan Amayah.

Amayah berdiri membelakangi Brian dengan pakaian sederhana namun rapi. Ia mengenakan kaus garis-garis hitam-putih yang longgar, dimasukkan dengan rapi ke dalam jeans denim biru muda berpotongan high-waist.

Penampilannya dipermanis dengan topi baseball berwarna jingga pastel yang menutupi rambut hitam sebahunya. Sepatu kets putih bersih melengkapi langkahnya. Ia melipat kedua tangannya ke belakang, lalu menoleh ke arah Brian. Pipinya merona, rasa gugup menyelinap saat ia menanti reaksi yang akan Brian tunjukkan.

"Maaf membuatmu menunggu lama," kata Amayah gugup, tampak sedikit malu setelah menyadari Brian memerhatikannya terlalu lama.

"Kau menyadarinya?" tanya Brian, memastikan bahwa Amayah sadar telah membuatnya menunggu.

Amayah langsung membela diri. "Terserah aku. Sudah, ayo berangkat."

Brian menghela napas panjang, merasa pasrah. "Biar aku panggilkan taksi online."

Tak lama kemudian, sebuah taksi online datang. Mereka pun menaikinya bersama dan berangkat menuju tujuan.

Di perjalanan, Amayah tiba-tiba terdiam. Wajahnya sedikit memerah, seolah teringat sesuatu.

"Tunggu, bukankah ini... aku jalan berdua bersamanya, ini...?" pikirnya.

Brian yang menyadari perubahan sikap itu menoleh bingung. "Kau ini kenapa?"

"Tidak ada apa-apa," jawab Amayah singkat, buru-buru menutupi perasaannya.

Suasana di dalam mobil pun kembali sunyi, hanya diisi oleh deru mesin dan perasaan canggung yang perlahan tumbuh di antara mereka.

---

Setibanya di mal, mereka berjalan berdampingan sambil mengobrol ringan. Suasana akhir pekan terasa ramai sejak dari pintu masuk.

“Jadi, apa benda yang kau incar itu?” tanya Brian dengan nada datar, seperti biasa.

“Rahasia. Kau tidak usah tahu soal itu,” jawab Amayah singkat, berusaha menutupi antusiasmenya.

Brian sedikit merasa jengkel, tetapi ia tetap menahan diri. Namun, beberapa langkah kemudian, Amayah akhirnya memberi sedikit petunjuk.

“Bisa dibilang itu barang yang sedang ramai di sosial media, dan jumlahnya terbatas untuk seri tertentu,” katanya tetap datar.

“Apakah itu aksesoris atau semacamnya?” tanya Brian penasaran.

“Kau tidak perlu tahu. Jangan ingin tahu urusanku,” balas Amayah dingin.

Brian menghela napas pelan. “Aku hanya sedikit penasaran saja.”

Mereka terus berjalan menuju toko tujuan. Namun, langkah mereka terhenti ketika melihat keramaian di depan. Akhir pekan membuat mal dipenuhi lautan manusia. Orang-orang dewasa berdesakan, hampir tidak menyisakan celah untuk lewat.

Perlahan, mereka memaksakan diri masuk ke dalam kerumunan. Napas terasa sesak, langkah seolah tertahan dari segala arah. Meski begitu, mereka terus bergerak maju. Hingga akhirnya, Brian berhasil keluar lebih dulu.

“Sial, sesak sekali di sana. Apa-apaan itu? Aku tidak pernah melihat kerumunan sebanyak ini,” gumamnya dengan napas terengah-engah. “Apa karena mereka mengincar barang yang sama juga?”

Baru setelah itu, Brian menyadari sesuatu yang penting.

“Amayah?” panggilnya.

Namun, tidak ada jawaban. Pandangannya menyapu sekitar, tetapi sosok Amayah tidak terlihat.

“Ke mana perginya kau, Amayah…?” pikirnya dengan cemas. Perasaan panik perlahan muncul. Ia khawatir Amayah tenggelam di tengah keramaian.

Di sisi lain, Amayah masih terjebak di antara orang-orang. Tubuhnya yang kecil membuatnya kesulitan bergerak. Setiap langkah terasa berat, napasnya semakin pendek. Ia berusaha mencari jalan keluar, tetapi kerumunan seolah tidak memberi kesempatan.

Hingga akhirnya, ia melihat sebuah toko dengan pintu tertutup rapat—satu-satunya tempat yang terasa lebih aman. Dengan sisa tenaga, ia bergerak ke sana dan bersandar, napasnya tersengal.

“Brian… di mana kau…?” gumamnya.

Ia menoleh ke sekeliling, berharap melihat Brian yang seharusnya berada di sisinya. Namun yang ada hanyalah orang-orang asing.

“Apakah kami terpisah…?” batinnya.

Amayah berdiri di sana dengan ekspresi datar, meski ada kesedihan samar di wajahnya. Ia tidak berkata apa-apa, hanya memerhatikan sekitar, berharap Brian muncul di antara kerumunan.

Menit demi menit berlalu, bahkan hingga berjam-jam. Keramaian tak kunjung surut. Amayah mengecek jam—pukul empat sore.

“Aku tidak punya kontak Brian…” gumamnya lirih.

Ia akhirnya duduk, memeluk kedua kakinya. Air mata mulai jatuh perlahan.

“Mengapa jadi begini…?”

“Aku hanya ingin membeli barang yang kusukai… tapi aku tidak menyangka akan berakhir seperti ini…”

“Payah sekali… aku tidak bisa berbuat apa-apa, hanya menangis tanpa henti…”

“Aku selalu merepotkan Brian… membuatnya harus mengurusiku berkali-kali…”

“Sebenarnya aku ini apa…? Apakah aku layak untuk hidup…?”

Air mata Amayah semakin deras. Ia merasa begitu kecil dan tidak berguna. Ketidakhadiran Brian di sisinya membuat kesepian itu terasa semakin nyata.

“Maafkan aku, Brian…”

Dua jam berlalu dan di tengah hiruk-pikuk mal, seorang gadis kecil menyudutkan diri dan menangis dalam diam.

“Brian…” panggilnya lirih.

“Kau ini sedang apa di sini?” tanya seseorang tiba-tiba.

Amayah terkejut. Suara itu terasa sangat familiar. Ia perlahan mengangkat kepala—dan seketika merasa seperti menemukan cahaya.

Brian berdiri di hadapannya dengan ekspresi datar.

“Aku menemukanmu,” ucapnya singkat.

“Brian…”

“Tempat ini sudah mulai sepi. Jadi aman untuk kita pergi,” lanjut Brian.

“Ya… maaf merepotkanmu…” kata Amayah pelan.

“Tidak apa-apa. Ambil ini.”

Brian menyerahkan sebuah tas belanja berukuran cukup besar. Amayah menatapnya bingung.

“Apa ini?”

“Ini barang yang kau inginkan, kan? Aku membelinya sambil mencarimu,” ujar Brian santai.

Amayah terkejut. “Dari mana kau tahu barang yang aku inginkan?”

“Aku sering melihatmu membaca postingan di sosial media. Aku merasa kau tertarik dengan boneka itu, jadi ya… aku beli saja,” jawab Brian dengan nada biasa.

Amayah menatap tas itu. Perasaannya menghangat. Ia merasa malu sekaligus senang, mengetahui bahwa Brian ternyata sering memerhatikannya.

“Begitu ya… terima kasih…” ucapnya lirih.

“Ayo pulang,” kata Brian sambil mengulurkan tangannya.

Amayah terdiam. “Apa maksudnya?”

“Pegang tanganku. Aku tidak ingin kita terpisah lagi. Aku juga tidak ingin kau menangis di pojokan seperti tadi,” ujar Brian serius.

“Aku tidak menangis. Jangan mengada-ada.”

"Aku melihatnya kok, kau seharusnya tidak hanya diam dan termenung, kau harus bergerak untuk mencapai sesuatu."

Amayah terdiam.

“Kalau aku tidak datang, bagaimana nasibmu?” balas Brian.

Amayah terdiam sejenak. “Maaf… tapi bukan berarti aku cengeng!” bantahnya.

“Iya, iya. Cepat. Kita pulang.”

Dengan ragu, Amayah meraih tangan Brian. Mereka pun berjalan bergandengan, melewati sisa keramaian dengan aman.

Jantung Amayah berdebar. Ini pertama kalinya ia bergandengan tangan dengan lawan jenis seusianya. Sementara Brian hanya menatap ke depan, seolah tidak terjadi apa-apa.

“Terima kasih… Brian,” ucap Amayah tulus.

“Sama-sama,” jawab Brian singkat, sedikit meliriknya.

Saat tiba di luar mal, Amayah baru menyadari bahwa ia masih menggenggam tangan Brian, meski keramaian sudah tidak ada.

“Maaf…!” katanya cepat-cepat melepaskan.

Brian hanya mengangguk.

---

Join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini : https://whatsapp.com/channel/0029Vag3odvKQuJCLN490I0V (Jika tidak bisa dipencet, screenshot lalu pergi ke google lens)

---

Setibanya di rumah, Amayah membuka tas belanja tersebut. Ekspresinya berubah bingung.

“Ada apa?” tanya Brian sambil membuka jaketnya.

“Ini bukan boneka yang aku incar…” ucap Amayah pelan. “Memang satu merek, tapi serinya berbeda…”

“Seri yang seperti apa?”

“Yang kolaborasi dengan artis Korea terkenal…”

Brian terdiam sejenak. “Ah… yang itu ya… seharusnya masih terjual tadi..."

“Maaf, aku tidak tahu secara rinci seri yang kau inginkan.”

Suasana hening. Brian merasa menyesal, sementara Amayah memikirkan sesuatu.

“Tidak apa-apa. Ini salahku karena tidak menjelaskannya,” kata Amayah sambil membelakangi Brian. “Lagipula… aku sangat berterima kasih karena kau sudah berusaha membelikanku ini.”

“Kalau begitu anggap saja itu sebagai hadiah. Sebagai balasan atas masakan lezat yang kau buat setiap hari,” ujar Brian.

Dalam hati, Amayah berbunga-bunga. Ia merasa bahagia dan tersentuh. "Meskipun dia sering bersikap dingin..."

"Tapi dia selalu memerhatikan hal kecil yang bahkan tidak aku sangka... Brian ternyata punya sisi yang belum aku tahu."

“Aku putuskan mulai saat ini…” batinnya.

Ia menoleh ke arah Brian dan tersenyum kecil.

“Aku ingin terus berada di sisinya…”

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanya Brian tiba-tiba.

“Tidak ada apa-apa!” Amayah langsung memasang ekspresi datar.

“Oh ya…”

Amayah mengeluarkan ponselnya. “Aku ingin meminta kontakmu.”

“Kenapa? Jangan-jangan kau ingin mengirim pesan aneh atau mendaftarkanku ke agen pinjaman online?!” Brian panik kecil.

“Aku tidak sekejam itu…”

“Itu berarti kau akan tetap kejam. Aku tidak percaya,” ujarnya bercanda.

“Aku ingin kontakmu supaya bisa menghubungimu jika terjadi sesuatu,” kata Amayah gugup.

“Jika butuh bantuan, panggil polisi atau ambulans. Aku bukan pahlawan.”

“Tapi kau berbeda… maksudku—”

“Sudahlah! Cepat berikan nomormu atau aku tidak akan membuatkanmu makan malam!”

Brian terdiam, lalu menyerah. Ia memberikan nomornya. Amayah langsung mengirim sebuah stiker.

“Brian.”

“Ya?”

“Apa nama agen pinjaman online yang terkenal?” tanyanya santai.

“Jangan gunakan nomorku untuk hal seperti itu, tolong,” jawab Brian ketakutan.

Bersambung.

1
Rama Iskandar
end ny gk nikah?
Zildiano R: Ini baru tamat part 1, part 2 nya menyusul, join saluran WhatsApp agar mendapatkan informasi terbaru terkait update light novel ini 🙏
total 1 replies
Rama Iskandar
p
Rama Iskandar
sepi amat
Rama Iskandar
p
SaeKanai
Saya puas dengan endingnya🤣🤣
semangat terus bang!!!
Zildiano R: thank you👍
total 1 replies
sakura
...
gralsyah
diam-diam menghanyutkan tuh si amayah ya 😭 gk ketebak wkwk
Zildiano R: wkkwk🤣
total 1 replies
gralsyah
mampir kak author. ihh seruuuu. ceritanya
Zildiano R: terima kasih~
total 1 replies
Marley Howard
keren cuy
Zildiano R: makasih🙏
total 1 replies
Arisell
semangat oi
Zildiano R: makasih, siap🙏
total 1 replies
Khai Dok
udah chat ke editor ya... covernya?
Zildiano R: sudah👍
total 1 replies
Khai Dok
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!