Wei Ying adalah wanita single berusia 35 tahun yang memiliki hobi membaca web novel.
Wei Ying merasa iba pada karakter jahat dalam web novel yang ia baca, meski jahat karakter itu memiliki masa lalu yang kelam. Lalu karena terlalu terbawa suasana, ia berkata..
"Jika aku yang menjadi ibunya, aku pasti akan memberinya kasih sayang dan masa kecil yang bahagia.."
Kemudian, seolah menganggap omong kosong itu sebagai doa, layar handphonenya menyeret Wei Ying masuk.
Kini, Wei Ying menyesali perkataannya. Namun, bubur sudah jadi nasi. Ia bertekad untuk mengubah ending novel, dimana dirinya mati mengenaskan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BabyKucing, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 4 Wei Ying Vs Warga desa
Wei Ying meraih tubuh mungil itu kedalam pelukannya, mengelus punggung kurusnya dan berkata dengan lembut. Sungguh sesuatu yang sangat asing bagi gadis kecil itu.
"Iya, selama ibu di sini.. ibu tidak akan membiarkan kalian semua kelaparan!" ujar Wei Ying dengan mata penuh keteguhan.
"Jadi, benar uangnya akan ibu ambilkan?" tanya Lu Xue seolah berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Wei Ying tersenyum kecil dan mengangguk, "Ya.."
Wei Ying terdiam dengan pikiran penuh, "Tentu saja harus ku ambil. Meski itu adik kandung ku, tidak.. adik kandung dari tubuh ini, rumahnya pun sepertinya tak jauh dari sinikan? Sebentar lagi matahari terbenam sepenuhnya, jadi sepertinya baru bisa di ambil besok." bisik Wei Ying dalam hatinya.
Wei Ying lalu menatap anak itu yang masih memandangnya dengan tatapan bulat dan polos, "Ibu sudah punya rencana, untuk sekarang kamu tunggu di rumah. Jaga Kakak Lu sebentar bersama Bao.." ujarnya.
Wei Ying hendak meraih pundak Lu Xue, namun anak itu segera menghindar sebelum sentuhan itu mendarat. Reaksi ke itu membuat Wei Ying kembali terluka, ia merasa benar-benar kesal dengan Wei Lu.
"Ibu.." panggil Lu Xue.
"Ibu mau pergi keluar dulu sebentar.."
Setelah itu Wei Ying segera bergegas keluar, meninggalkan Lu Xue yang terus menatap punggungnya hingga akhirnya menghilang di balik pintu.
"Tahun ini benar-benar sulit, semua orang berusaha berhemat. Orang-orang makan sesedikit mungkin, bahkan sayur liar di gunung dan hutan sudah tidak ada.. Dia mau mencari makanan dimana lagi?" ujar Lu Xue dengan wajah yang murung.
Sedangkan itu Wei Ying di luar sana, tengah berjalan menyusuri jalanan desa. Berbekal ingatan dari pemilik tubuh ini dulu, ia bisa pergi tanpa tersesat. Di punggungnya ia membawa sebuah bakul yang terbuat dari anyaman bambu.
Di kejauhan terlihat para penduduk desa yang sedang berkumpul di bahu jalan, mereka baru saja turun dari gunung setelah mencari sayuran liar.
Salah satu warga desa berbisik dengan sinis, "Ku dengar baru seminggu dia kehilangan suaminya, Ibu Wei menjadi sangat kasar pada anak-anaknya. Dia jadi sering memukul Shu dan adik-adiknya."
"Kasihan sekali anak-anak itu, sudah kehilangan ibu harus kehilangan ayah pula, dan sekarang harus hidup tersiksa dengan ibu tiri." ujar yang lainnya menimpali.
"Ya, betul. Wanita itu tak ada baiknya sama sekali."
Warga desa itu menatap dengan pandangan sinis dan penuh cemooh saat Wei Ying berjalan melewati mereka, hingga salah satu warga desa itu berbicara dengan lantang dan sumbang.
"Hei, ku dengar semua harta berharga di rumah itu sudah kau berikan ke orang lain, ya.. sekarang sampai harus mencari akar untuk makan." serunya.
Wei Ying terdiam, "Ha, memang benar-benar Wei Lu ini! Lebih busuk dari pada yang tertulis di novel!" bisiknya dalam hati dengan kesal.
"Sepertinya di desa ini tak seorang pun yang akur dengannya!"
"Ya, kalo pun dia menemukan makanan pasti langsung di beri ke orang lain lagi, dari pada untuk anak-anak malang itu." seru warga desa yang lain.
"Ya paling nanti dia pulang ke rumah dan berbicara ingin menikah lagi dari pada mengurus tiga orang anak dari mantan suami." timpal yang lain dengan ucapan yang semakin pedas.
"Mau bagaimana lagi, kerjanya tiap hari dandan menor dan berjalan dengan genit menggoda pria-pria di jalanan. Sekarang suaminya sudah mati, pasti senang karena bisa menggatal sesuka hati."
Wei Ying mengepalkan tangannya, nafasnya mulai naik turun dengan cepat. Emosi sudah berada di ujung hidungnya.
"Ibu-ibu sekalian, ucapan seperti itu ga baik sama sekali loh. Itu kebiasaan jelek, tahu!" seru Wei Ying.
"Hah! Berani bantah rupanya!" seru warga desa itu, "Aku bicara fakta, ya! Kami semua gak suka sama kamu, bahkan rasanya ingin ku tampar saja wajah sok cantikmu itu!" serunya seraya mengangkat tangan hendak memukul wajah Wei Ying.
Namun, Wei Ying dengan gesit menangkap tangannya lalu membantingnya, membuat warga desa itu terhuyung-huyung.
Warga desa itu semakin marah, ia menunjuk-nunjuk wajah Wei Ying dengan sumpah serapah.
"Kalian sedang apa!" teriaknya pada warga desa yang lain, "Hajar dia!" serunya.
Para warga desa yang terdiri dari beberapa ibu-ibu paruh baya itu segera menyingsingkan lengan bajunya, hendak mengeroyok Wei Ying. Namun, Wei Ying segera menghentikannya.
"Tunggu dulu!" teriaknya seraya mengangkat tangan.
garam sama gula pada burek warna nya🤭🤭🤭