Hai teman-teman, aku masih berjuang konsisten tapi aku nggak tahu kalau akhirnya di tengah jalan aku menyerah dan tidak melanjutkan. Aku hanya rindu menulis. Tapi aku terjebak pada rutinitas harian yang tiada henti. Lanjutan dari Penantian panjang 1 dan 2. Padahal Penantian panjang 2 saja belum saya tamatkan. Tapi semua nama tokoh bermula dari sana.
"Apa kamu bilang?" Suara serak zahrin dengan air mata kemarahan namun dia tahan. Tenggorokannya tercekat sakit, ditambah harus mendengar permintaan suaminya yang dirasa tak mampu dia tunaikan.
Kembali dengan seorang pria yang pernah menyakitinya sangat dalam. Rasanya Zahrin tak terima.
Regi tak beralih tatap. Menatap Zahrin dengan mata sendu yang membuat Zahrin melengos sakit bertambah dengan dadanya yang nyeri.
Apa yang terjadi teman-teman? Sampai-sampai Zahrin begitu?
Ingatkah kalian, siapa pria yang menyakiti Zahrin dulu?
Aku tidak janji menamatkan ceritanya. Tapi aku dapat fell nya. Semoga bisa konsisten menggarapnya🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon naisa strong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nina
"Mas Akhyar." Wanita berkerudung kuning gading itu terkejut karena ternyata Akhyar lah yang mengendarai mobil yang hampir menabraknya.
"Nina." Akhyar juga tak kalah terkejut. "Kamu nggak apa-apa kan?" Tanya nya lagi agak panik sembari mengecek mana tahu ada bagian yang lecet.
"Nggak apa-apa, mas Akhyar, aku hanya syok." Jawab Nina perlahan agak tenang.
"Aku minta maaf, ya, Nin." Ucap Akhyar merasa bersalah karena tengah melamun. "Aku antar kamu ke rumah sakit. Mana tahu ada luka dalam di bawah siku kamu ini, Nin. Biar diobati sama perawat rumah sakit. Rumah sakit nggak jauh kok dari sini, Nin."
Nina mengangguk karena agaknya Akhyar sedikit memaksa.
Akhyar benar-benar mengantar Nina ke rumah sakit. Bagian bawah siku tangan kanan Nina memang ada lecet dan memar membiru yang mungkin jatuh terkena aspal. Perawat di ruang Unit Gawat Darurat dengan cepat memberikan alkohol dan membalut perban supaya tidak terjadi infeksi.
Tidak butuh waktu lama, luka Nina selesai di perban dan keduanya berjalan menuju mobil Akhyar. Akhyar berulang kali meminta maaf dan Nina berulang kali pula berkata bahwa hanya lecet dan hanya syok.
"Sebentar, sebentar, kamu kok ada di kota ini?" Tanya Akhyar heran mengingat Nina adalah perempuan yang dia kenal di Jakarta waktu pak Hanung mengirimnya untuk beberapa bulan di sana.
"Iya mas, mama aku memilih tinggal disini dan kami baru saja beli rumah di kota ini, setelah papa aku pensiun dari pekerjaan nya." Jawab Nina.
Akhyar mengangguk-angguk paham. "Aku antar pulang, ya."
"Lho, nggak usah, mas Akhyar. Aku soalnya ada janji sama teman mama dan papa. Mungkin aku sudah ditunggu ini." Nina yang membalik badan dan hendak pergi. Namun Akhyar mencegahnya dan memaksa mengantar Nina ke tempat janjian Nina bersama teman mama dan papa nya.
"Benar ini rumah nya, Nin?" Tanya Akhyar yang ragu, mengingat dia hafal betul ini rumah Zahrin dan Regi.
"Iya mas, janjian ku di sini. Benar kok ini alamatnya." Nina yang mengecek pesan WhatsApp nya. "Soalnya, ibu Olivia bilangnya mau ke rumahnya anaknya. Mungkin ini rumahnya anak nya, mas." Imbuhnya.
"Jadi teman mama kamu itu ibu Olivia?"
Nina manggut-manggut. "Lho, mas kenal?"
"Iya kenal lah." Jawab Akhyar.
"Papa A." Teriak Arsyla yang kebetulan melihat Akhyar tengah berdiri di halaman rumahnya. Arsyla kemudian berlari menghampiri Akhyar. Dimana Zahrin, ibu Olivia dan juga Regi agak terkaget mendengar teriakan Arsyla. "Papa A kok berdiri saja, di depan? Ayo masuk!" Arsyla yang menarik tangan Akhyar dan mengajaknya masuk ke dalam rumah.
Semua mata tertuju ke arah Arsyla dan Akhyar. Akhyar agaknya kesulitan membujuk Arsyla. Sampai pada akhirnya ibu Olivia dan Zahrin menghampiri dimana Nina, Akhyar dan Arsyla berdiri. "Nina, kan?" Tanya ibu Olivia.
Nina mengangguk. "Ayo masuk, masuk, Nina. Lho, kok satu mobil sama Akhyar?" Tanya nya agak heran.
"Agak panjang bu ceritanya. Kamu masuk aja, Nin!" Pinta Akhyar untuk mengabaikannya dan meninggalkannya di depan.
Meskipun Nina agaknya terkejut, karena ternyata Akhyar mengenal ibu Olivia berikut keluarganya. Nina kemudian bersalaman dengan ibu Olivia dan mengikuti nya masuk ke dalam rumah.
Sedang kan Zahrin berusaha membujuk Arsyla untuk masuk ke dalam. Namun malah sebaliknya, yang ada Arsyad malah menyusul menghampiri Arsyla.
Ibu Olivia yang tidak tahu menahu terkait rencana Zahrin yang ingin menjauhkan Akhyar dari anak-anaknya, menyuruh Zahrin masuk ke dalam rumah dan menyuruh Akhyar bersama Arsyad dan Arsyla. Dimana ibu Olivia memperkenalkan Nina sebagai anak temannya kepada Regi dan Zahrin untuk membantu mengelola Toko Olivia mengingat Regi tengah sakit.
Regi dan Zahrin setuju saja dengan apa yang dikatakan ibu Olivia. Mengingat penyakit Regi yang membutuhkan perawatan panjang dan harus sabar. Nina akan diperbantukan menggantikan salah satunya.
Setelah ketiganya berbincang agak lama dan Nina beranjak pamitan, Akhyar masih bermain basket sambil bercanda dengan Arsyad dan Arsyla. Sampai dimana baik Zahrin, Regi, Nina dan ibu Olivia menghampiri ketiganya, barulah Akhyar membujuk Arsyad Arsyla untuk mengakhiri permainan basket mereka.
Sepertinya, kesedihan Akhyar terobati. Bahkan pertemuan nya dengan Nina, akhirnya membawa kepada Arsyad dan Arsyla tanpa disengaja.
Namun agaknya Arsyad dan Arsyla protes, mengapa papa A nya harus pulang dengan tante Nina. Mereka bahkan bertanya terkait apa hubungan mereka. Mengapa satu mobil dengan papa A nya? Begitu pula dengan Zahrin yang ikut bingung. Karena mengapa mantan suaminya bisa mengenal Nina anak dari teman mama mertuanya.
Akhyar yang kemudian menjelaskan sedikit tentang Nina, dimana Akhyar mengenalnya waktu di tugaskan pak Hanung ke luar kota kepada Arsyad dan Arsyla.
"O, teman." Jawab Arsyad dan Arsyla secara bersamaan. Dimana keduanya agak lega dan tersenyum lalu mengulurkan tangan secara bergantian kepada Nina. Keduanya memperkenalkan diri sebagai Arsyad dan Arsyla anak dari mommy Zahrin dan Daddy Regi. Biarpun Nina agak heran, mengapa kedua anak tersebut begitu sangat dekat dengan Akhyar.
Nina dan Akhyar lalu berpamitan. Biarpun Akhyar agak takut-takut saat menatap Zahrin. Nina yang diantar pulang Akhyar, tidak berselang lama memberhentikan mobilnya di depan Toko Olivia yang berhalaman luas itu. "Kalau aku tebak sih, kamu menggantikan Regi kan?" Tanya Akhyar.
Nina mengangguk. "Kok, mas Akhyar tahu?"
"Berarti mulai besok, kamu kerja di sini?" Tanya Akhyar menoleh ke arah Toko.
"Sebentar, sebentar aku cek dulu ya mas." Sembari lihat WhatsApp dari ibu Olivia yang memberikan alamat Toko Olivia cake and Bakery. "Ini benar jalan Perjuangan kan, mas?" Tanya Nina.
Akhyar mengangguk. Menatap Nina agak lama karena melamun. Ingatannya menyelam, dimana hampir sepuluh tahun silam mengantar Zahrin setiap pagi ke Toko ini. Bahkan saat-saat perceraian nya dengan Zahrin, dirinya yang menikah lagi dengan Nurma, pertengkaran Zahrin dan Nurma, sekelebat satu persatu kenangan demi kenangan seakan meminta Akhyar untuk memutarnya. Sampai dimana Nina menepuk bahu Akhyar dan memanggilnya, karena dirasa Akhyar terlalu lama melamun sampai-sampai tidak mendengar ajakan Nina untuk masuk ke dalam Toko Olivia. Akhyar mengikuti apa kata Nina, di dalam Toko Olivia Nina melihat semua aktivitas para karyawan terlihat sibuk dengan tugasnya masing-masing. Para pembeli yang antri di kasir dan banyak diantaranya yang sedang memilih-milih aneka cake, roti-rotian, aneka desert dan lain sebagainya. Akhyar seakan diingatkan kembali, semua hal yang berkaitan dengan Zahrin dulu, Zahrin yang masih berstatus menjadi istrinya sampai perceraian mereka akhirnya tiba. Dimana nama Zahrin berganti Nurma dan Zahrin menikah juga akhirnya dengan Regi hingga saat ini. Segala hal, seakan-akan sulit dilupakan begitu saja. Sampai dimana kebencian Zahrin padanya tak termaafkan mengingat segala hal sakit pula yang Zahrin terima dari perlakuannya.
"Dari tadi kamu melamun lho, mas." Tegur Nina yang Akhyar kemudian kaget.
Akhyar garuk-garuk kepala pelan.
"Kalau boleh tahu, kamu sedang ngelamunin apa sih, mas?"
Bersambung