Maya Anita, seorang gadis berusia 16 tahun, harus menelan pahitnya kenyataan bahwa cinta remaja tidak selamanya indah. Di usia yang seharusnya dihabiskan di bangku sekolah, ia justru terjebak dalam pernikahan dini akibat hamil di luar nikah.
Demi menyambung hidup, Maya dipaksa bekerja keras di sisa-sisa tenaga kehamilannya yang sudah tua. Namun, takdir berkata lain. Sebuah insiden tragis membuatnya kehilangan bayi yang ia kandung di usia 9 bulan.
Dr. Arkan, seorang dokter spesialis kandungan yang tampan namun penyendiri, diam-diam memperhatikan penderitaan Maya melalui laporan perawat. Arkan adalah seorang duda yang menyimpan luka serupa. Istrinya meninggal saat melahirkan, meninggalkan seorang putra kecil yang sangat haus akan ASI.
“Aku mohon, bantu anakku. Tubuhmu memproduksi apa yang sangat dibutuhkan putraku untuk bertahan hidup,” pinta Arkan dengan nada penuh permohonan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syahri musdalipah tarigan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Anggun
Di teras belakang rumah mewah di kawasan elit lainnya terasa begitu kaku dan penuh kepura-puraan. Di sana, Sofia dan Anggun duduk berhadapan. Aroma harum dari teh bunga yang diimpor menyebar di antara mereka, namun tak mampu mencairkan dinginnya ambisi yang ada di sana.
“Jadi, kapan Tante akan mempertemukan Anggun dengan Arkan?” tanya Anggun sambil menyeruput tehnya dengan gerakan tangan yang sangat anggun.
“Sabtu ini. Lebih cepat lebih bagus, bukan?” sahut Sofia tanpa ragu. Ia menatap Anggun dengan tatapan ambisi, seolah Anggun adalah aset yang sangat berharga.
Anggun perlahan meletakkan cangkir porselennya ke atas tatakan. Wajah cantiknya sengaja dibuat murung, sebuah sandiwara yang sudah ia latih. “Tapi Tante, bagaimana dengan anaknya Arkan? Jujur saja, Anggun tidak bisa menjaganya.”
Ia mengulurkan kedua tangannya yang mulus, memperhatikan kuku-kuku yang dipoles warna putih susu dan dihiasi butiran berlian kecil yang berkilau terkena cahaya matahari.
“Lihatlah, Tante. Tangan ini tidak bisa mengasuh bayi. Bagaimana kalau kuku Anggun patah atau kulit Anggun jadi kasar karena mengurus anak kecil?”
Ia mendesah pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih tajam. “Kenapa Leon tidak dikembalikan saja ke keluarga mendiang Lily? Bukannya kedua orang tua Lily masih hidup dan tinggal di kota ini?”
Sofia mengangguk setuju, bibirnya melengkung tipis membentuk senyum sinis. “Kamu benar juga. Lagian buat apa Arkan bersusah payah mengasuh anak yang kakek-neneknya hanya memiliki status PNS biasa? Tidak ada untungnya bagi masa depan keluarga ini.”
Sofia kemudian memajukan duduknya, menatap Anggun dengan penuh harap. “Daripada memikirkan anak dari masa lalu Arkan, lebih bagus kalian berdua segera memberikan Tante cucu baru. Cucu yang sudah jelas memiliki latar belakang keluarga terpandang dari kedua belah pihak.”
Anggun hanya membalasnya dengan tawa canggung yang singkat.
“Yang benar saja aku melahirkan seorang anak demi seorang duda yang jelas-jelas hanya seorang dokter? Idih, ogah banget!” umpat Anggun dalam hatinya. “Daripada merusak bentuk tubuhku yang sudah dirawat mahal-mahal dengan kehamilan, lebih baik membayar ibu pengganti nanti untuk mengandung benih Arkan. Yang penting statusku tetap nyonya besar.”
Namun, di depan calon ibu mertuanya itu, Anggun tetap melempar senyum manis yang penuh kepalsuan. “Tentu, Tante. Anggun akan melakukan yang terbaik untuk rencana kita.”
Topeng kesempurnaan itu masih terpasang rapi hingga Anggun melirik jam Cartier bertabur berlian di pergelangan tangannya. Dengan gerakan luwes, ia meraih tas Hermes Birkin miliknya yang diletakkan di atas meja.
“Tante, sepertinya Anggun harus pergi sekarang. Ada janji perawatan di beauty clinic,” ucap Anggun manis, berdiri sambil merapikan baju mahalnya yang terlihat sangat modis.
Sofia ikut bangkit dan tersenyum bangga melihat calon menantunya yang begitu serasi dengan standar keluarganya. Anggun mendekat, lalu mencium pipi kanan dan kiri Sofia hanya sentuhan kulit yang ringan dan penuh kepalsuan.
“Hati-hati ya, Sayang.”
“Iya, Tante. Kalau begitu, Anggun pergi dulu,” jawabnya singkat sebelum melangkah pergi dengan gaya anggun yang menjadi ciri khas namanya.
****
Begitu pintu mobil Porsche miliknya tertutup rapat dan mesin menderu pelan, topeng itu luruh seketika. Anggun melemparkan tas seharga ratusan juta itu ke kursi penumpang dengan kasar hingga membentur pintu.
“Cih, pembahasan gak penting apa sih ini? Benar-benar buang waktu!” gumam Anggun dengan wajah ketus. Matanya yang tadi tampak ramah kini menyipit penuh kebencian. “Menikah dengan duda anak satu hanya demi status? Memuakkan.”
Sambil memacu mobilnya keluar dari gerbang kediaman keluarga Pradipa, ia meraih ponselnya dan menekan sebuah nomor dengan inisial ‘R’.
Hanya butuh dua nada sambung sebelum suara berat di seberang sana menjawab.
📱“Honey, aku kangen,” rengek Anggun, suaranya berubah drastis menjadi manja dan menggoda, berbeda dengan suaranya saat bicara dengan Sofia.
📱“Aku juga,” sahut suara pria itu singkat.
📱“Hari ini aku benar-benar sebal. Tante Sofia terus-terusan membahas perjodohan sampah itu. Karena mood-ku hancur, hari ini aku minta pelayan ekstra dari kamu. Jangan kecewakan aku, ya?”
📱“Tentu, Honey. Aku tunggu.”
Panggilan itu terputus. Di sebuah unit apartemen mewah dengan pemandangan gedung pencakar langit, seorang pria berdiri tegap di depan jendela besar yang menghadap kota. Di tangan kanannya, ia memegang gelas kristal berisi minuman berakohol yang ia sesap perlahan. Matanya menatap tajam ke luar, seolah sedang merencanakan sesuatu.
****
Langkah kaki Anggun yang beralaskan high heels mahal menggema di lorong sunyi lantai teratas apartemen mewah itu. Wajahnya yang tadi terlihat manis di depan Sofia, kini berubah dingin dan penuh ambisi. Ia berhenti tepat di depan pintu nomor 310, lalu menekan bel dengan gerakan tidak sabar.
Begitu pintu terbuka, aroma parfum seorang pria dan bau alkohol langsung menyambut indra penciumannya.
Di sana, berdiri seorang pria berkulit putih pucat dengan otot-otot tubuh yang terekspos karena ia tidak mengenakan atasan. Hanya celana jeans yang membalut pinggangnya dengan santai. Di tangan kanannya, ia memegang sebuah gelas kristal berisi minuman berakohol.
“Minum dulu, Honey,” bisik pria itu dengan suara serak yang menggoda.
Anggun tidak membuang waktu. Ia merebut gelas itu dan meminum isinya hingga habis dalam sekali tegak. “Akh! Benar-benar pertemuan yang membosankan! Tante Sofia tidak berhenti bicara soal masa depan keluarga,” keluh Anggun sambil menghempaskan dirinya ke sofa beludru yang empuk.
Pria itu, Rangga, tersenyum miring. Ia duduk di samping Anggun dan kembali menuangkan minuman ke gelas yang kosong. “Apa pertemuan tadi membahas perjodohanmu dengan anak Ketua Dewan Medis Internasional itu?” tanya Rangga, memberikan gelar bagi Papa Arkan yang memegang jabatan tertinggi di organisasi dokter sedunia.
Anggun mengangguk, matanya menatap langit-langit apartemen dengan jengah. “Benar. Papa bersikeras aku harus menikah dengan Arkan. Kamu tahu sendiri, Arkan itu duda. Dia punya anak yang kalau tidak salah baru berumur tiga bulan. Membayangkannya saja sudah membuat kepalaku pening.”
Rangga terkekeh, namun tatapannya dingin. “Seorang sosialita sepertimu harus mengurus bayi? Itu sungguh menjijikkan, Honey. Kamu bukan pelayan, kamu adalah ratu.”
“Benar, kamu benar sekali, Sayang,” sahut Anggun sambil merapatkan duduknya pada Rangga. “Tapi masalanya, kenapa sih kamu tidak berani melamarku saja? Kalau kamu yang datang ke rumah, aku pasti akan memaksa Papa dan Mama untuk menerimamu.”
Rangga terdiam sejenak, lalu meletakkan gelasnya di atas meja. Ia menatap Anggun dengan tatapan yang sulit dibaca. “Aku belum siap menikah, Honey. Kau tahu sendiri karierku di dunia entertainment baru saja naik daun. Kontrak-kontrak besar sedang berdatangan. Aku harus fokus menjaga imej sebagai rising star. Setelah aku benar-benar mapan dan punya posisi kuat, baru aku akan datang melamarmu secara terhormat.”
“Telat! Saat itu mungkin aku sudah resmi jadi istri dokter kandungan itu dan terjebak di rumahnya yang membosankan,” seru Anggun dengan nada kesal.
Melihat kekasihnya mulai emosi, Rangga segera mengubah taktik. Ia berlutut di depan Anggun, menatapnya dalam-dalam sebelum tiba-tiba mengangkat tubuh wanita itu dalam gendongannya.
“Ho-honey, apa yang kamu lakukan?” tanya Anggun, berpura-pura panik meski tangannya justru melingkar erat di leher Rangga.
“Tentu saja aku ingin menghilangkan semua kegelisahanmu hari ini. Lupakan soal Arkan, lupakan soal bayi itu,” bisik Rangga tepat di telinga Anggun.
Sambil melangkah menuju kamar utama, Rangga mendaratkan ciuman yang langsung dibalas dengan penuh gairah oleh Anggun.
...❌ Bersambung ❌...
Akaaaaaaaaaak Sariiiiiiiiiii, aku eamosis sama dua perempuan ituuuuuuhhhhhh.....