Apa yang kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan apa yang kita inginkan. Takdirkan yang akan membawa kita ke jalan yang sudah di gariskan.
Lidia tak pernah menyangka bahwa hidupnya akan berubah setelah kejadian malam itu. Niat ingin membantu malah berakhir jadi hal buruk yang tak akan pernah ia lupakan seumur hidup.
Mahkota yang ia jaga di renggut paksa oleh Panca suami sahabatnya sendiri. Semenjak itu ia tak bisa lepas dari jeratan Panca. Sekeras apapun ia menolak ia tak bisa mengelak akan pesona panca yang notabene adalah atasannya sendiri.
Apakah yang akan terjadi selanjutnya? Apakah sahabatnya akan mengetahui perbuatan buruknya dan bagaimana kisah anatara dirinya dan panca?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ima susanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Wajah Lidia tegang menunggu kedatangan anaknya buk Sum. Ini merupakan pertemuan pertama mereka. Meski mereka sudah sering ngobrol melalui ponsel tapi tetap saja ada rasa gugup menghantui.
Tak lama terdengar deru suara mobil berhenti di depan rumah buk Sum. Lidia dan buk Sum bergegas keluar meliaht siapa yang datang.
"Adit." teriak buk Sum saat melihat siapa yang turun dari mobil.
"Ibuk." Adit memeluk ibunya meluapkan rindu setelah beberapa bulan tak berjumpa.
"Fira. " ibuk Sum memeluk menantunya dan memperkenalkan Lidia.
"Lidia."
"Fira."
"Adit."
"Aslinya cantik." puji Fira.
"Kakak bisa aja, kakak juga cantik kok." Lidia balas memuji.
"Ayo masuk, kalian pasti lelah. " ajak buk Sum menyuruh semuanya masuk.
"Ibuk masak apa?" tanya Adit sambil merangkul bahu ibunya.
"Makana kesukaan kamu."
"Asik, kalau gitu aku langsung makan aja. Fira kita makan dulu."
"Ok." Wanita prioritaskan tasnya di sofa dan bergabung duduk di meja makan. Wajahnya nampak berbinar meliaht begitu banyak makana tersaji di meja.
"Ibu yang masak semua ini?" tanya Fira sambil menyendok nasi ke piring dan menambahkan lauk yang sedari tadi menggoda.
"Iya, tapi di bantuin Lidia."
"Hmm, enak." ujar Fira menikmati masakan mertuanya yang begitu lezat. Makan siang kali ini terasa lebih hangat.
Setelah makan siang selesai, Lidia h3ndka m3ncuci piring tapi di cegah Fira.
"Biar kakak saja, kamu duduk saja bersama ibuk dan mas Adit."
"Ga usah pak, hair aku aja." tolak Lidia.
"Ga apa - apa, sudah sana." usir Fira. Lidia terpaksa mengikuti perintah Fira bergabung dengan Adit dan buk Sum.
"Sudah berapa bulan?" tanya Adit pada Lidia.
"Jalan tujuh, mas."
"Bentar lagi dong, wah rumah pasti bakal ramai nantinya. Rasanya udah ga sabar ketemu ponakan."
"Doain aja lancar bang."
"Pasti."
Fira yang sudah selesai mencuci piring bergabung dengan semunya duduk di sofa. Wanita itu ikut bahagia melihat Lidia.
"Laki apa perempuan?" tanya Fira sambil mengelus perut buncit Lidia.
"Apa aja, kak yang penting sehat."
"Kamu ga USG." tanya Fira.
"Ga. Aku mau surprise aja kak."
"Tapi kalau kakak liat kayaknya laki - laki."
"Sok tau." celetuk Adit.
"Biasanya feeling aku ga pernah meleset, dulu kakak dan sepupu aku juga kau tebak dan saat lahiran terbukti." bela Fira. Semuanya tertawa mendengar perkataan Fira. Begitulah keluarga itu nampak begitu hangat. Lidia merasa bahagia karna Adit dapat menerimanya menjadi bagian keluarga mereka.
"Permisi." terdengarsuara dari arah pintu menghentikan obroaln mereka.
"Iya, tunggu. Biar aku saja buk." Lidia berjaln menuju pintu dan melihat siapa gerangan yang datang.
"Mas Gani."
"Siapa Lid?" teriak buk Sum.
"Mas Gani, buk. Ada apa, mas?" tanya Lidia yang nampak tak suka dengan kedatangan lelaki itu.
"Gani." panggil Adit, ia bergegas ke depan saat mendengar siapa yang datang.
"Adit, kapan loe balik?" Gani dan Adit saling berpelukan sebentar. Lidia merasa heran dengan kedekatan keduanya hanya bisa melihat tanpa berani bertanya.
"Baru juga sampai, tumben loe kemari? Ada apa?"tanya Adit.
"Aku mau nganterin undangan pernikahan kakak aku buat buk Sum." Gani memberikan sebuah undangan ke tangan Adit.
"Mbak Lina menikah lagi?" tanya Adit.
"Hmm..."
"Alhamdulillah akhirnya ketemu juga jodohnya. Kamu kapan?" tanya Adit sambil menepuk pundak Adit.
"Doakan saja aku bisa meluluhkan hati seseorang." Gani mencuri pandang ke arah Lina dan itu tak lepas dari perhatian Adit.
"Jangan bilang....." Adit menepuk bahu Gani sambil memandnag Lidia dan Gani bergantian membaut Gani tersipu tapi berbeda dnegan Lidia, wanita itu terkesan cuek.
"Masuk dulu." tawar Adit.
"Nanti saja, aku mau keliling dulu bagikan ini." pamit Gani pergi dengan wajah kecewa karna Lidia sama sekali tak menoleh pada dirinya. Gani menyukai Lidia saat pertama kali bertemu dan tak peduli status wanita itu. Setiap ada kesempatan lelaki itu akan berusaha meluluhkan hati pujaanya. Tak ada kata menyerah selagi kesempatan itu masih ada.
...****************...
Assalamualaikum kk terimakasih supportnya dan jangan lupa tinggalkan jejak berupa like dan komen serta vote yang banyak biar thor semakin semangat untuk melanjutkannya bab berikutnya kk 💪😘🙏
atau adit br dipindah ke kantor nya panca?
atau adit atau lidia ga pernah saling cerita mrk kerja dimana?