NovelToon NovelToon
CINTA TAK KENAL USIA

CINTA TAK KENAL USIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:35.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Karena orang tua serta para keluarga selalu mendesak untuk menikah. Akhirnya Adelia Aurellia nekat menikahi seorang anak magang yang jarak usianya sepuluh tahun dibawahnya. Hal itu malah membuat orang tua Aurel menjadi murka. Pasalnya orang tua sang supir yang bernama Adam Ashraf adalah seorang pengkhianat bagi keluarganya Aurel.

Padahal itu hanya fitnah, yang ingin merenggangkan persahabatan antara Ayahnya Aurel dan juga Ayahnya Adam. Makanya Adam sengaja bekerja pada mereka, karena ingin memulihkan nama baik sang Ayah. Dan karena tujuan itu, ia pun langsung menerima tawaran dari Aurel, untuk menikahinya.

Akankah, Adam berhasil membersihkan nama baik sang Ayah? Dan Akankah mereka mendapatkan restu dari keluarga Aurel? Yuk ikuti karya Ramanda, jangan lupa berikan dukungannya juga ya?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

KEMARAHAN ADAM..

Udara malam yang semula hangat oleh sisa kemesraan kini berubah menjadi beku saat Adam memacu mobilnya membelah jalanan Jakarta yang mulai lengang. Di sampingnya, Aurel bersikeras ikut meskipun Adam sudah berkali-kali melarangnya. Wajah Aurel pucat, jemarinya terkunci rapat pada sabuk pengaman.

"Adam, tolong berjanji padaku... jangan lakukan hal konyol," suara Aurel bergetar, nyaris tertelan suara raungan mesin.

Adam tidak menoleh. Matanya menatap lurus ke depan dengan intensitas yang mengerikan. Rahangnya mengatup rapat. "Ansel melakukan kesalahan besar dengan bermain api dengan Denis. Tapi dia tetap adikmu, Adel. Aku tidak akan membiarkan mereka menyentuhnya lebih jauh lagi."

Mobil berhenti dengan derit ban yang menyayat keheningan di depan sebuah pabrik semen tua yang terbengkalai di pinggiran kota. Bangunan raksasa itu tampak seperti monster beton yang sedang tidur, dengan lubang-lubang jendela yang gelap seperti mata hantu.

Adam turun dari mobil, gerakannya tenang namun waspada. Ia menahan tangan Aurel yang hendak ikut turun. "Tetap di mobil. Kunci pintu. Jika dalam tiga puluh menit aku tidak keluar, telepon Rian dan polisi. Jangan membantah, Adel. Ini bukan lagi soal bisnis, ini soal nyawa."

Aurel hanya bisa mengangguk dengan air mata yang mulai menetes. Ia melihat punggung Adam menjauh, ditelan oleh kegelapan pintu masuk pabrik yang menganga.

Di dalam, bau apak semen dan besi berkarat menyengat hidung. Hanya ada satu titik cahaya di tengah ruangan luas berlantai debu. Di sana, Ansel terikat di sebuah kursi besi, wajahnya babak belur dengan darah mengalir dari sudut bibirnya. Di belakangnya, enam orang pria bertubuh besar berdiri dengan senjata tajam dan satu pucuk senjata api di tangan pemimpin mereka—Jon.

"Selamat datang, Sang Penyelamat," Jon menyeringai, suara sepatunya bergema di langit-langit gedung.

Adam berhenti lima meter di depan mereka. Ia tidak membawa senjata, tangannya kosong dan terbuka. "Lepaskan Ansel. Urusan kalian adalah denganku, bukan dengan pecundang yang bahkan tidak bisa menjaga dirinya sendiri ini."

Ansel mendongak, matanya yang bengkak menatap Adam dengan rasa malu yang teramat dalam. "Adam... pergi... jangan ke sini..." rintihnya parau.

"Diam kau, Tuan Muda!" Jon menempelkan moncong pistol ke pelipis Ansel. "Tuan Denis mengirimkan salam, Adam. Dia sangat kecewa karena rencanamu menggagalkan sabotase jembatan tempo hari. Sekarang, sebagai gantinya, kami ingin kau menandatangani surat pengalihan seluruh aset FB Build kembali atas nama Ansel—yang tentu saja sudah berada di bawah kendali kami."

Adam tertawa pendek, sebuah tawa dingin yang membuat Jon sedikit mengernyit. "Kalian pikir aku sebodoh itu? Jika aku tanda tangan sekarang, kalian akan membunuh kami berdua untuk menghilangkan jejak."

"Kau tidak punya pilihan, Brondong!" bentak salah satu anak buah Jon sambil mengayunkan pisau komandonya.

"Aku punya pilihan," Adam melangkah satu tindak ke depan, tidak gentar sedikit pun oleh todongan senjata. "Aku sudah mengirimkan seluruh data transaksi ilegal Denis Subandi ke server pusat kepolisian, lima menit yang lalu melalui sistem otomatis di kantorku. Jika aku tidak menekan tombol konfirmasi 'aman' di ponselku dalam sepuluh menit, data itu akan terbuka ke publik dan hukuman Denis akan bertambah menjadi seumur hidup."

Wajah Jon berubah tegang. "Kau menggertak!"

"Coba saja," tantang Adam dengan suara rendah yang mematikan. "Bunuh Ansel sekarang, dan kau tidak akan pernah melihat Denis keluar dari penjara. Atau, lepaskan dia, ambil uang sepuluh miliar yang sudah aku siapkan di bagasi mobil di luar, dan larilah sebelum polisi tiba."

Ansel menatap Adam tak percaya. Dalam keadaan terikat dan terancam maut, ia baru menyadari bahwa pria yang selama ini ia hina sebagai "anak kecil" ternyata memiliki keberanian yang jauh melampaui dirinya. Adam mempertaruhkan segalanya, bahkan aset pribadinya, demi menyelamatkan orang yang mencoba menghancurkannya.

Jon tampak ragu. Ketamakan mulai berperang dengan loyalitasnya pada Denis. Namun, salah satu anak buahnya yang tidak sabaran tiba-tiba menerjang ke arah Adam.

"Mati kau!"

Adam bergerak secepat kilat. Ia berkelit, menangkap pergelangan tangan pria itu, dan dengan satu gerakan judo yang sempurna, ia membantingnya ke lantai beton hingga terdengar suara tulang retak. Adam mengambil pisau yang terjatuh dan melemparkannya tepat ke arah tali yang mengikat tangan Ansel.

Srett!

Tali itu putus sebagian. Adam tidak berhenti. Ia menerjang maju ke arah Jon. Suara letusan tembakan menggema sekali, memecah kesunyian malam.

"ADAM!" teriak Aurel dari kejauhan yang ternyata sudah nekat menyusul masuk ke dalam gedung.

Peluru itu menyerempet bahu Adam, merobek kemeja putihnya dan mengucurkan darah segar. Namun, kemarahan Adam sudah memuncak. Ia tidak merasakan sakit. Dengan satu pukulan keras, ia menghantam rahang Jon hingga pria itu tersungkur. Adam merebut pistol itu dan menodongkannya balik ke arah Jon.

"Jangan pernah... menyentuh... keluargaku... lagi," desis Adam dengan napas memburu.

Suara sirine polisi mulai terdengar mendekat. Jon dan anak buahnya yang tersisa menyadari bahwa mereka telah kalah. Mereka mencoba melarikan diri melalui pintu belakang, namun Rian dan tim keamanan A-Games yang sudah dipanggil Adam lebih dulu telah mengepung tempat itu.

Aurel berlari menghampiri Adam, memeluknya dengan tangis yang pecah. "Kau terluka! Adam, bahumu berdarah!"

Adam hanya tersenyum lemah, menyeka air mata di pipi istrinya dengan tangannya yang tidak terluka. "Aku tidak apa-apa, Adel. Ini hanya luka kecil."

Sementara itu, Ansel jatuh tersungkur di lantai setelah ikatannya benar-benar lepas. Ia merangkak mendekati kaki Adam. Isak tangisnya bukan karena sakit, tapi karena penyesalan yang membakar jiwa.

"Adam... maafkan aku..." Ansel terisak, memegang kaki Adam. "Aku hampir membunuhmu... aku hampir menghancurkan segalanya. Maafkan aku, Kak..."

Adam menarik Ansel berdiri. Ia tidak memeluknya, tapi ia menepuk bahu adik iparnya itu dengan tegas. "Simpan maafmu untuk Mama, Ansel. Mulai besok, kau akan ikut denganku ke proyek. Kau akan belajar membangun, bukan menghancurkan. Dan jika kau berkhianat lagi, aku sendiri yang akan mengantarmu ke sel Denis."

Ansel mengangguk berkali-kali, tubuhnya gemetar. Di bawah lampu sorot polisi yang mulai masuk ke dalam pabrik, Ansel melihat sosok Adam bukan lagi sebagai saingan atau musuh, melainkan sebagai seorang kakak, seorang imam, dan seorang pria sejati yang telah memberikannya kesempatan hidup kedua.

Aurel merangkul lengan Adam, menyandarkan kepalanya di bahu suaminya yang berdarah. Di tengah puing-puing pabrik tua itu, ia menyadari bahwa cinta mereka memang tidak mengenal usia, karena kekuatan sejati seorang pria tidak diukur dari tahun kelahirannya, melainkan dari seberapa besar ia mampu melindungi orang-orang yang ia cintai.

1
Uba Muhammad Al-varo
persahabatan antara Adam dan Rian bukti persahabatan sejati, selalu bersama dalam suka dan duka
Uba Muhammad Al-varo
pertolongan tepat waktu, sehingga Aurel dan Siska selamat 💪💪💪
Sheila Aquariana
lanjut thoorrr
tiara
Dasar Ansel cari perhatian malah dicuekin kasian dah
tiara
dengan bersatunya beberapa orang akan kuat dalam menghadapi tantangan walaupun berat pasti ada cara untuk menyelesaikanya.
tiara
ya itu keputusan yang sangat baik, jadi kalian bisa bejerja sambil menjaga keamanan dan kenyamanan keluarga besar dan dua perusahaan sekaligus
tiara
berbahagialah dan saling menguatkan walau apapun yang terjadi,karens esok mungkin akan lebih menguras kesabaran kalian
Uba Muhammad Al-varo
ayo Adam lawan mereka buat mereka kalah dan menyesal telah menyerangmu💪💪💪💪
tiara
lanjuut thor semangat upnya sehat selalu
tiara
semangat Adam selalu kompak dengan sahabat dan keluarga dalam menghadapi berbagai cobaan yang silih berganti
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semangat authornya
tiara
Akhirnya semuanya menemukan kebahagian dan mereka bertambah kuat karena selalu bersama dalam segala hal
tiara
ada apakah dengan Ansel,
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh masalahnya gak kelar2
Uba Muhammad Al-varo
inilah waktunya Rian sadar dan sembuh kembali
tiara
Akhirnya semua ujian dapat dilalui adam, dan Rian pun sudah bangun dari koma
tiara
ayo Rian semangat untuk sembuh bantu Adam dan bahagiakan ibu dan adikmu
Nifatul Masruro Hikari Masaru
semangat untuk sembuh rian
♛⃟⭕
Bapak nya Lily ga di selamatkan dlu yaaa....??🤔
Nindya Sukma
menegangkan dan seru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!