"Dalam permainan naskah ini, siapa yang sedang berakting dan siapa yang benar-benar jatuh cinta?"
Lin Xia hanyalah seorang penulis naskah mystery game yang hidup tenang, sampai suatu malam ia diundang dalam sebuah permainan peran (Script Killing) bertema Era Republik China yang sangat nyata. Di sana, ia bertemu dengan Gu Yan, pria misterius berdarah dingin yang berperan sebagai Kepala Militer.
Masalahnya, Gu Yan bukan sekadar pemain biasa. Ia memiliki identitas rahasia di dunia nyata. Hingga alur permainan tiba-tiba diubah oleh Penulis bayangan yang ternyata Adik Gu jingshen yaitu "Gu Yanran. Saat garis antara naskah dan realita mulai kabur, Lin Xia harus memilih: Mengikuti skenario untuk selamat, atau menulis ulang takdirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Veline ll, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8: Antara Baris Naskah dan Realita yang Dingin
[Waktu: Selasa, 21 April, Pukul 10.00 AM]
[Lokasi: Ruang Kerja CEO, Lantai 50 Gu Corp, Shenzhen]
Sinar matahari pagi menembus jendela kaca setinggi langit-langit di ruang kerja Gu Jingshen, menyinari debu-debu halus yang menari di udara. Ruangan itu sangat sunyi, hanya terdengar suara detak jam dinding mewah dan gemeretak pelan dari keyboard laptop Lin Xia.
Lin Xia duduk di sofa kulit di sudut ruangan, hanya beberapa meter dari meja besar tempat Gu Jingshen bekerja. Ini adalah hari pertamanya bekerja langsung di bawah pengawasan sang CEO. Gu Jingshen bersikeras agar Lin Xia bekerja di ruangannya agar ia bisa memantau setiap baris naskah yang "dipulihkan" untuk mencari jejak adiknya, Yanran.
Lin Xia mencuri pandang ke arah Gu Jingshen. Pria itu fokus pada tumpukan dokumen di depannya, kacamata berbingkai perak bertengger di hidung mancungnya, memberikan kesan intelektual yang sangat seksi sekaligus mengintimidasi.
"Tuan Gu," panggil Lin Xia pelan.
Gu Jingshen tidak mendongak. "Bicaralah."
Lin Xia berdiri dan berjalan mendekati meja kerja pria itu. Ia membawa secangkir kopi hangat yang baru saja ia buatkan. "Ini kopi untuk Anda. Saya ingat... maksud saya, saya rasa Anda lebih suka kopi hitam tanpa gula dengan sedikit aroma kayu manis."
Lin Xia meletakkan cangkir itu di sisi meja dengan gerakan lembut. Ia sengaja mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, berharap aroma parfumnya atau kehadirannya bisa memicu ingatan bawah sadar pria itu tentang malam-malam mereka di Suzhou.
Gu Jingshen berhenti menulis. Ia menatap cangkir kopi itu, lalu menatap tangan Lin Xia yang masih berada di dekat cangkir. Untuk sesaat, mata mereka bertemu. Lin Xia memberikan senyum manis yang tulus, matanya memancarkan kerinduan yang mendalam.
"Apakah saya menyuruhmu membuatkan kopi?" tanya Gu Jingshen datar. Suaranya tidak memiliki emosi sama sekali.
Senyum Lin Xia sedikit luntur. "Tidak, tapi saya pikir ini akan membantu Anda fokus."
Gu Jingshen menggeser cangkir itu menjauh tanpa mencicipinya sedikit pun. "Tugasmu adalah menulis, bukan menjadi asisten rumah tangga. Jangan mencampurkan urusan pribadi atau mencoba mencari perhatianku dengan cara seperti ini, Nona Lin. Itu tidak profesional."
Hati Lin Xia mencelos. Rasa perih kembali menghantam dadanya. Pria di depannya ini benar-benar tidak peduli. Ia bahkan tidak merasakan getaran yang sama yang dirasakan Lin Xia setiap kali mereka berdekatan.
"Saya minta maaf, Tuan Gu," bisik Lin Xia, menunduk untuk menyembunyikan matanya yang mulai berkaca-kaca. Ia kembali ke sofanya dengan langkah gontai.
Baru saja ia duduk, ponselnya di atas meja kopi bergetar hebat. Sebuah panggilan masuk dari Xiao Li. Lin Xia melirik Gu Jingshen yang sudah kembali sibuk, lalu mengangkat telepon itu dengan suara pelan.
"Halo, Xiao Li?"
"Lin Xia! Kau di mana?! Cepat datang ke cafe!" suara Xiao Li terdengar panik bercampur gembira. "Aku tidak tahu apa yang terjadi, tapi tiba-tiba ada rombongan besar yang datang ke cafe kita di dekat Taman Kota. Aku sendirian di sini dan pelanggan mulai protes karena pesanan mereka lama! Tolong aku!"
Lin Xia melihat jam di dinding. Masih jam sepuluh pagi. Ia seharusnya bekerja sampai jam lima sore. Namun, Xiao Li adalah sahabatnya yang selalu ada untuknya, dan cafe kecil itu adalah sumber penghasilan sampingan mereka.
"Tapi aku sedang di kantor, Xiao Li..."
"Tolonglah! Hanya dua jam saja! Aku akan mati dikeroyok pelanggan kalau kau tidak datang!"
Lin Xia menggigit bibir bawahnya. Ia menoleh ke arah Gu Jingshen. "Tuan Gu... maaf mengganggu, tapi saya punya urusan mendadak yang sangat mendesak. Bolehkah saya pergi selama dua jam? Saya berjanji akan mengganti jam kerja saya malam nanti."
Gu Jingshen menutup map dokumennya dengan suara keras. "Pergilah. Aku juga tidak butuh orang yang pikirannya tidak fokus di ruangan ini. Tapi ingat, progres naskah bab sembilan harus ada di mejaku besok pagi pukul tujuh."
"Terima kasih, Tuan Gu!" Lin Xia segera menyambar tasnya dan berlari keluar ruangan tanpa menoleh lagi.
[Waktu: Selasa, 21 April, Pukul 19.00 PM]
[Lokasi: Lobby Utama Gu Corp, Shenzhen]
Gu Jingshen melangkah keluar dari lift pribadi. Ia melonggarkan dasinya, tampak sedikit lelah. Sore itu ia memutuskan untuk pulang lebih cepat. Seorang sahabat lamanya, Lin Feng, baru saja membuka klub malam eksklusif baru dan mengundangnya untuk datang.
"Tuan Gu, mobil sudah siap," lapor asistennya, Ah Cheng.
"Batalkan jadwal makan malamku. Aku akan pergi ke klub Lin Feng," kata Gu Jingshen. Saat ia berjalan menuju pintu keluar, ia teringat wajah Lin Xia yang tampak sedih saat ia menolak kopinya tadi pagi.
Ada sesuatu tentang wanita itu yang mengganggu pikirannya. Cara wanita itu menatapnya... seolah-olah mereka telah berbagi ribuan rahasia. Dan bagaimana dia tahu tentang selera kopinya yang sangat spesifik?
"Ah Cheng," panggil Gu Jingshen sebelum masuk ke mobil.
"Ya, Tuan?"
"Cari tahu segala hal tentang Lin Xia. Bukan hanya resume pekerjaannya. Aku ingin tahu riwayat hidupnya, keluarganya, siapa teman-temannya, dan... di mana saja dia berada dalam satu bulan terakhir. Terutama hari Sabtu kemarin di Suzhou."
Ah Cheng mengangguk patuh. "Baik, Tuan. Saya akan segera memprosesnya."
[Waktu: Selasa, 21 April, Pukul 21.30 PM]
[Lokasi: Klub Malam "Neon Shadow", Distrik Luohu, Shenzhen]
Musik techno yang berdentum kencang dan lampu neon berwarna ungu dan biru memenuhi ruangan klub yang mewah itu. Gu Jingshen duduk di area VVIP yang terisolasi, menyesap segelas wiski mahal. Di sampingnya, Lin Feng tertawa lebar sambil mengobrol dengan beberapa wanita cantik.
"Ayolah, Jingshen! Kau selalu tampak seperti sedang berada di pemakaman," goda Lin Feng. "Nikmati malam ini. Kau sudah terlalu banyak bekerja sejak kehilangan Yanran."
Gu Jingshen hanya mendengus. "Aku di sini hanya karena kau yang meminta."
"Ngomong-ngomong tentang Yanran," suara Lin Feng merendah. "Kau masih percaya dia terjebak di dalam game itu? Itu terdengar seperti fiksi ilmiah bagiku."
"Data tidak berbohong, Feng. Ada anomali dalam sistem gelombang otaknya yang belum terputus sempurna," jawab Gu Jingshen dingin. "Dan baru-baru ini, ada seorang penulis naskah yang muncul. Dia tahu hal-hal yang tidak seharusnya dia tahu."
Pikiran Gu Jingshen kembali ke Lin Xia. Di tengah keramaian klub ini, ia malah membayangkan wajah wanita itu saat mereka berada di dalam lorong rahasia di naskah Suzhou—ingatan yang ia anggap sebagai mimpi belaka, namun terasa sangat emosional.
Tiba-tiba, Ah Cheng datang menghampiri dan membisikkan sesuatu di telinga Gu Jingshen sambil menyodorkan sebuah tablet.
"Tuan, ini data sementara yang saya temukan tentang Lin Xia. Ternyata, dia adalah pemilik sebuah cafe kecil di pinggiran kota bersama sahabatnya, Xiao Li. Dan benar, hari Sabtu kemarin dia terdaftar sebagai pengunjung wahana Suzhou dengan tiket umum."
Gu Jingshen melihat foto-foto yang diambil secara diam-diam oleh orang suruhannya. Ada foto Lin Xia yang sedang sibuk melayani pelanggan di cafe, mengenakan celemek dan tersenyum lebar. Ia tampak begitu berbeda dengan Lin Xia yang serius di kantor.
Namun, ada satu foto yang menarik perhatian Gu Jingshen. Foto Lin Xia yang sedang duduk sendirian di taman, memandangi sebuah sapu tangan putih tua.
"Sapu tangan itu lagi..." gumam Gu Jingshen.
"Ada satu hal lagi, Tuan," lanjut Ah Cheng. "Dari data log wahana yang rusak, nama pena Lin Xia adalah 'The Muse'. Dialah yang menulis draf awal skenario 'Marsekal Gu Yan' yang Anda mainkan."
Gelas wiski di tangan Gu Jingshen bergetar sedikit. Jadi, dia bukan hanya pengunjung. Dia adalah pencipta dunia itu. Dia adalah orang yang merancang karakter "Gu Yan" berdasarkan dirinya.
"Cari tahu cafe itu," perintah Gu Jingshen, matanya berkilat penuh selidik. "Besok pagi, aku ingin tahu jadwalnya. Jika dia pikir dia bisa mempermainkan ingatanku dengan naskahnya, dia salah besar."
Gu Jingshen berdiri, meninggalkan klub itu bahkan sebelum pesta benar-benar dimulai. Lin Feng hanya bisa melongo melihat sahabatnya pergi begitu saja.
Di dalam mobil yang melaju menembus malam Shenzhen, Gu Jingshen menatap ke luar jendela. Ia merasakan dorongan yang aneh untuk segera bertemu kembali dengan Lin Xia. Bukan sebagai atasan, tapi sebagai pria yang ingin menuntut jawaban atas perasaan kosong yang menghantuinya.
Lin Xia... siapa kau sebenarnya? Dan kenapa kau membuatku merasa seperti aku telah kehilangan separuh jiwaku padamu?