NovelToon NovelToon
DUDA PEMILIK MALAMKU

DUDA PEMILIK MALAMKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Beda Usia / CEO / One Night Stand / Ibu Pengganti
Popularitas:5.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ditaa

"Saya menikahimu karena saya bertanggung jawab telah menidurimu, kamu jangan berharap apapun dalam pernikahan ini." ~Reno Mahesa.
-
-
Deana benci saat Reno memaksanya untuk menikah dengannya. Bukan karena cinta, tapi karena Reno takut Deana mengandung benihnya dan meruntuhkan karirnya saat anaknya lahir nanti.
-
-
Bagaimana kelanjutan kisah mereka? ayo klik tanda baca dan ikuti alur ceritanya✨️‼️

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ditaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: Tangisan Lena

"Len mau Kakak Cantikk!!" seru Lena memekik dalam gendongan Suster Ina. Lena menarik rambut pendek Suster Ina dengan tenaganya sampai kepala Suster Ina miring ke samping.

Suster Ina membawanya masuk ke dalam rumah, "Iya, nanti Sus akan bicara dengan Daddy Reno ya." ucap Suster Ina lembut lalu menurunkan Lena di sofa ruang keluarga.

Tubuh Lena yang gembul dan Suster Ina yang kecil itu membuat Suster Ina sedikit engap karena meggendongnya sambil sedikit berlari.

"Ada apa ini...??" Mommy Ellen menghampirinya bersama Reno.

Reno menggendong Lena, lalu mengusap air matanya, "Anak cantik Daddy, kenapa? hm?" tanyanya lalu mendudukkan Lena di pangkuannya karena Reno juga duduk di atas sofa.

Mommy Ellen mengernyit menatap Suster Ina.

"Begini Tuan, Nyonya... Lena ingin bersama Nona cantik... tapi... Nona pergi." jelas Suster Ina, ia lupa nama perempuan tadi.

"Ohh begitu. Sudah jangan nangis, sini dengan Oma." Mommy Ellen menarik tangan Lena.

Lena menariknya kembali dengan kuat, ia tidak mau dengan Oma-nya dan masih nyaman bersama Daddynya, "Daddy, Len mau main sama Kakak Cantik, tapi... Kakak Cantiknya pergi... hiks, hiks." adunya pada Daddy kesayangannya.

Reno mengangguk, "Kakaknya lagi sibuk, Len tidak boleh begitu ya." ucapnya pelan menjelaskan agar putrinya berhenti menangis.

Lena menggelengkan kepalanya dengan cepat, "Hiks, hiks, tidak mau... Len mau sekarang! Len mau ditemani Kakak Cantik. Kenapa Kakak Cantik pulang? apa Kakak Cantik habis dimarahi Daddy?" tanya bocah kecil itu dengan polos.

Reno tertegun mendengarnya, ia menatap Mommy Ellen di sampingnya yang masih terdiam itu.

"Tidak, Daddy tidak memarahinya. Sekarang, Len harus janji tidak boleh menangis seperti ini lagi, Len harus mengerti kalau Kakaknya tidak mau main dengan Len."

"Hua... hua.... huaa...!!" penjelasan terakhir Reno tidak membuat Lena berhenti menangis, justru menangis dengan kencang sambil berdiri dan menghampiri Susternya.

Suster Ina langsung menggendong tubuh Lena dan menepuk pundaknya untuk menenangkannya. Wajahnya sudah memerah, air matanya pun hampir tidak ada yang keluar. Sepertinya bocah kecil itu memang sedih bercampur emosi.

Reno menghembuskan napasnya berat, "Mom, bagaimana ini?"

Mommy Ellen menoleh, "Nanti Mommy bujuk. Telepon Zavia saja agar Len bermain dengan Vania."

Reno mengangguk lalu segera mengeluarkan benda pipihnya dan menelpon Kakak perempuannya.

"Len sayang, sini dengan Oma. Main dengan Oma saja ya... Kakaknya sedang ada kesibukan, nanti main lagi ke sini, oke? sekarang Len main dulu dengan Oma."

Lena menggeleng, ia masih nyaman menyenderkan kepalanya di ceruk leher Suster Ina. Wajahnya pun tersembunyi di balik leher Susternya.

"Hiks, hiks, Suster ayo kita kejar Kakak Cantiknya." bisik Lena pelan sambil menepuk pundak Suster Ina.

"Lena...." ucap Mommy Ellen sedikit geram. Bukan karena cucunya, melainkan permintaan cucunya yang membuat darahnya mendidih.

"Lena nggak mau sama Oma!" teriak Lena memekik menyahut perkataan Mommy Ellen.

Lena masih terisak dalam gendongan Suster Ina. Napasnya tersengal kecil, dadanya naik turun tidak teratur. Tangannya yang mungil mencengkeram baju suster itu erat, seolah takut dilepaskan.

“Hiks... hiks... Suster... ayo... kejar Kakak Cantiknya....” bisik Lena lagi, suaranya parau karena terlalu banyak menangis.

Suster Ina menatap Mommy Ellen ragu, “Nyonya....” ucapnya pelan, seolah meminta izin.

“Tidak perlu!” potong Mommy Ellen tegas dengan raut wajahnya terlihat jelas tidak suka.

“Lena harus belajar. Tidak semua orang bisa dia minta seenaknya.” lanjut Mommy Ellen, sedikit memijat pelipisnya.

“Hiks... nggak mau... nggak mau....” Lena kembali meronta kecil dalam gendongan Suster Ina.

Lena mengangkat kepalanya, wajahnya sudah merah, matanya sembab, “Len mau Kakak Cantik... Len mau sekarang....” ucapnya dengan suara yang mulai melemah, tapi tetap keras kepala.

Reno menutup ponselnya perlahan. Zavia mengatakan ia dan keluarganya sedang berlibur ke kebun binatang bersama kedua mertuanya.

"Mom, Kak Zav lagi jalan-jalan sendiri." ucapnya menatap Mommy Ellen.

Mommy Ellen menghela napasnya panjang dan mengangguk. Lalu matanya kembali menatap Lena yang masih terisak itu.

“Kenapa sih kamu jadi begini sayang, sini dengan Daddy. Daddy temani Len bermain ya... yuk!” ajak Reno mencoba mengambil hati putrinya. Ia sudah jarang sekali full time bersama putrinya karena selalu disibukkan dengan pekerjaannya.

Lena menggeleng lemah mendengar ajakan Daddynya. Ia ingin tapi mengingat Kakak Cantiknya, ia menolak ajakan Daddynya.

Lena kembali menyandarkan kepalanya di bahu Suster Ina. Tangannya menepuk-nepuk pelan, memohon.

“Suster... ayo... nanti Kakak Cantiknya hilang....”

Kalimat sederhana itu dari bibir mungil Lena membuat suasana mendadak hening.

Reno menatap bingung pada putrinya, kenapa bisa cepat lengket dan akrab sekali dengan Deana, padahal baru kenal nama dan satu kali bertemu. Namun ia tetap diam.

Suster Ina akhirnya memberanikan diri menatap Tuannya, “Tuan... mungkin... kalau Nona itu dipanggil sebentar saja....”

“Tidak perlu! saya kan tadi sudah bilang,” potong Mommy Ellen menatap tajam wajah Suster Ina.

"Maaf Nyonya." sahut Suster Ina cepat. Ia ketakutan dan langsung terdiam.

Tangisan Lena yang sempat mereda, kembali pecah, "Huaa... hua... hua....!!" kedua kakinya menendang-nendang sofanya.

Reno bangkit dari duduknya, langkahnya mendekat. Ia berdiri di depan Lena dan Suster Ina menatap anaknya.

“Lena sayang,” panggilnya datar.

Lena tidak menjawab, hanya menangis pelan yang terdengar dari mulutnya.

“Turun,” lanjut Reno.

Suster Ina ragu, tapi akhirnya menurunkan Lena perlahan ke atas sofa.

Begitu kakinya menyentuh sofa, tubuh kecil itu goyah, “Suster.....” Lena memanggil pelan, mencoba meraih lagi.

Namun, Reno sudah lebih dulu mengangkatnya.

“Cukup,” ucap Reno singkat. Ia duduk kembali dan memposisikan Lena di pangkuannya, kedua tangannya menahan tubuh kecil itu agar tidak meronta lagi.

“Kalau kamu terus seperti ini, Kakak Cantik tidak akan datang,” lanjut Reno dingin.

Lena langsung mengangkat wajahnya, matanya yang masih basah itu menatap Reno, “Kenapa...?” suaranya kecil sekali.

Reno menatap lurus ke depan, “Karena kamu nakal.” ia sudah habis kesabarannya, pun dengan Mommynya yang seperti sudah angkat tangan untuk membujuknya karena Lena memang sulit untuk diajak kompromi, dan jika berjanji dengan Lena, maka akan terus diingat dan menagihnya sampai janji itu terlaksana.

Lena membeku mendengarnya, kemudian bibirnya bergetar, “A... aku... nakal....?” ulangnya pelan menatap mata Daddynya dengan lekat.

“Huaaaa....!!” tangisannya pecah lagi dan terdengar lebih keras.

“Aku nggak nakal....! Aku nggak nakal....!” teriak Lena histeris sambil memukul dada Reno dan meronta untuk turun dari pangkuan Daddynya, tapi Reno masih menahannya dan membiarkan Lena memukul tubuhnya.

Reno menghela napas kasar dan wajahnya jelas terlihat kesal, “Mom, ini tidak bisa dibiarkan,” ucapnya menatap Mommynya.

Mommy Ellen menyilangkan tangan, “Biarkan saja. Nanti juga capek sendiri.” balasnya.

Lena tidak berhenti, tangisannya semakin tidak terkontrol dan napasnya terdengar tersengal.

“Hiks... hiks... Daddy jahat… Oma jahat... semua jahat... Len mau Kakak Cantik....” ucap Lena terbata.

Reno tetap diam dan membiarkan Lena menangis, ia tidak pernah sekalipun ada niatan untuk memarahi putrinya. Ia sangat menyayanginya. Lena adalah jantung hatinya.

Tiba-tiba Lena memegang dadanya, “Sakit....” ucapnya lirih.

Semua langsung menoleh, “Lena?” panggil Reno.

"Sayang?" Mommy Ellen menghampiri cucunya.

Napas Lena semakin cepat, dan tubuhnya mulai lemas, “Suster....” bisiknya pelan.

Suster Ina langsung mendekat, “Lena... Ya Tuhan, bagaimana ini Tuan....” ucapnya panik kala Lena terkulai lemas dalam pangkuan Reno dengan matanya yang terpejam.

“LENA?!” penik Reno dan Mommy Ellen panik.

Mommy Ellen berdiri, dan wajahnya terlihat berubah pucat, “Kenapa ini?!” ucapnya mendadak blank.

"Daddy!" seru Mommy Ellen memanggil Daddy Samuel.

Daddy Samuel keluar, ia melihat Reno yang menggendong tubuh cucu kesayangannya, dadanya langsung terasa sesak, "Kenapa dengan cucuku hah?! kau apakan Reno!" bentaknya lalu mendekati Reno

Napas Lena tidak teratur, matanya setengah terbuka.

“...Kakak....” bisik Lena sangat pelan dengan mata yang terpejam. Suara itu hampir tidak terdengar namun cukup membuat Reno dan semuanya terdiam.

“Siapkan mobil sekarang!” perintah Reno tegas tanpa memperdulikan ucapan Daddynya yang membentaknya itu. Sekarang ia lebih mengkhawatirkan kondisi putrinya ketimbang berdebat panjang dengan Daddynya.

1
Herlina Susanty
lanjut thor smgt 😍💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!