Iago Verbal datang ke Citywon hanya untuk satu hal: hidup tenang. Namun, ibu kota Cirland tidak mengizinkannya.
Di balik kemegahan kota itu, ingatan Iago yang pecah mulai kembali menghantuinya. Sosok-sosok dari masa lalu bermunculan—seorang putri kerajaan yang berhasil memecahkan kasus pembunuhan terumit hingga organisasi bawah tanah yang mengerikan.
Iago baru menyadari satu fakta pahit: Dia bukan pemuda desa polos. Dia adalah bagian dari rencana gelap yang ia sendiri lupakan. Kini, tangannya harus kembali kotor, atau ia akan terkubur bersama rahasia Citywon.
Siapakah pemuda ini sebelum amnesia merenggut segalanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kaelits, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Insiden
Malam itu menggantung di losmen tua, menelan cahaya, dan menyisakan hanya bayangan-bayangan yang bergerak lambat. Kayu lapuk berderak di bawah langkah. Angin malam menyelinap melalui celah-celah dinding yang tak tertutup rapat, membawa serta aroma besi dan daging yang baru saja terenggut, manis dan logam. Bau itu menusuk hidung, menggelitik tenggorokan, lengket di langit-langit mulut.
Letusan pistol masih bergema di lorong sempit, mengambang di udara seperti nyawa yang enggan pergi. Suara itu terperangkap, diserap oleh dinding-dinding reyot dengan rakus, seakan losmen tua ini sudah biasa menelan jeritan, menelan rahasia, dan tak pernah memuntahkannya kembali.
Iago berdiri membeku, bagai terpaku di lantai kayu yang kasar.
Asap tipis masih menari lambat dari moncong senjata di tangannya, membentuk spiral hantu sebelum menghilang. Cahaya lampu minyak yang redup dan berkedip dari ruang depan mengukir bayangan dalam di lekuk matanya. Ia menatap tangannya sendiri. Jari-jari yang masih melingkari gagang pistol kayu yang dihaluskan oleh banyak genggaman. Seolah anggota tubuh itu bukan miliknya, terpisah, sebuah alat yang hidup sendiri. Ada rasa asing yang merayap dari ujung jari, naik pelan melalui pergelangan, merambat ke lengan.
"Jari-jariku…" Suaranya parau, tersangkut di tenggorokan yang kering. “Siapa yang menggerakkannya?”
Geraman rendah keluar dari kerongkongannya—usaha sia-sia untuk menekan gejolak yang mengaduk-aduk dalam dadanya. Ingatannya seperti kaca buram yang berembun. Ia bisa melihat bentuk-bentuk samar, bayangan gerak, tapi tak bisa mengenali rinciannya. Apa yang baru saja terjadi? Kenapa tangannya masih terasa hangat oleh getaran senjata, sementara seluruh tubuhnya dari dada ke bawah terasa dingin membeku dan mati rasa?
Hahaha… aku adalah kau.
Suara itu muncul lagi.
Dalam. Lambat. Berdesis. Bukan dari luar, bukan dari kegelapan lorong, tapi dari suatu tempat jauh di dalam kepalanya sendiri—datar, dingin, dan seramnya persis seperti nadanya sendiri saat berbicara pada sang penyihir tua di gunung.
“Sial! Kau lagi?!”
Jangan dramatis, Iago. Kita satu kesatuan. Satu jiwa dalam satu wadah yang retak ini. Karena kau sudah memulai, pastikan tak ada saksi. Bunuh saudagar tua di lantai atas. Yang matanya sipit itu.
"Saudagar tua?" Napasnya tercekat. “Tidak… dia tak bersalah. Dia bahkan belum sempat keluar dari kamarnya!”
Rasa sakit yang tiba-tiba dan menyilaukan, seperti kilat putih di belakang mata, menghantam kepalanya—bagai palu godam besi yang memecah tengkorak dari dalam. Lututnya melengkung, nyaris menyerah. Pistol terjatuh dari genggaman yang lumpuh ke lantai kayu dengan bunyi logam yang nyaring dan keras. Kedua tangannya kini mencengkeram pelipis, kuku-kukunya yang pendek menancap ke kulit sampai terasa perih.
"Sial… kenapa rasa sakit ini kembali…" Ia menggeram melalui gigi yang gemeretuk. “Arghh...”
Itu karena kau menolakku, Iago. Aku adalah bagian darimu—bagian yang kau kubur, tapi tak pernah mati. Kau tak bisa lari dari bayanganmu sendiri.
"Tidak… kau hanya khayalan!" Suaranya pecah, hampir berteriak, tapi teredam oleh dinding. “Keluar dari kepalaku!”
Lalu kenapa tadi kau rela membunuh pemilik losmen tanpa ragu, tapi ragu untuk yang ini? Apa bedanya darah yang tertumpah?
Iago membeku, napasnya tertahan.
Saat jarinya menarik pelatuk tadi, saat tubuh itu jatuh dengan suara thud yang tumpul, apakah itu benar-benar kehendak sadarnya? Atau ada sesuatu—seseorang—lain yang menggerakkan otot-ototnya, yang memutuskan untuknya?
“Apakah… aku yang melakukannya?”
Tentu. Atau… aku. Tapi bukankah kita sama? Darah yang sama mengalir di urat nadi kita. Napas yang sama yang kau hirup ini.
Sekeliling ruangan terasa menyempit, mengepung. Dinding-dinding kayu yang lapuk dan melengkung seakan bergerak mendekat secara halus, menekan pikirannya yang sudah rapuh. Cahaya lampu minyak di ruang depan berkedip-kedip liar, menari-nari tak menentu, bayangannya yang panjang dan terdistorsi menari-nari di lantai. Udara terasa pengap, sarat dengan bau darah yang manis dan mesiu yang pahit.
Ayolah… cepat. Selesaikan.
Iago membungkuk, memungut pistol itu kembali. Logam larasnya terasa dingin dan asing di genggamannya. Langkahnya berat, tertatih, menaiki tangga kayu yang gelap. Setiap anak tangga berderit keras di bawah kakinya, suara yang melengking dan parau. Jam dinding tua di lorong menunjukkan pukul satu lewat sepuluh. Jarum detiknya yang besar berdetak terlalu keras, terlalu berirama di telinganya yang sensitif—tik, tik, tik…
Lorong lantai atas sunyi, lebih sunyi dari kuburan.
Tapi kesunyian itu justru menjerit, memekakkan batin, berisik dengan segala yang tidak terucap.
Ia berhenti di depan sebuah pintu kayu sederhana, nomor tujuh terukir miring. Mengetuk. Tok… tok… Suara ketukan itu terdengar kasar.
Suara ranjang berderak dari dalam, kasurnya berderit. Lalu suara tua yang parau, masih tertutup kantuk: “Iya? Siapa? Tunggu sebentar…”
Pintu terbuka perlahan, engselnya yang berkarat berbunyi nyaring, mencekik. Sang saudagar tua berdiri di ambang, masih menyisakan kantuk di kelopak matanya yang keriput dan merah. Wajahnya yang ramah semalam memucat ketika melihat Iago. Dan pistol di tangan itu, mengkilat lemah dalam cahaya lorong yang suram.
"Kamu… kamu tadi yang antri mandi, kan?" Suaranya berusaha ramah, tapi ada retakan ketakutan di dalamnya.
Iago hanya menatap. Ada kekosongan yang dalam, sebuah jurang di matanya. Cahaya lampu minyak dari dalam kamar yang hangat membentuk siluet gelap di wajahnya. Saudagar itu melirik pistol, lalu kembali ke wajah Iago. Jantungnya berdegup kencang sampai denyutnya terasa di tenggorokan, berdebar di pelipisnya yang berdenyut-denyut.
"N-nak?" Suaranya gemetar, pecah di antara bisikan dan teriakan. “Apa maksudnya ini? Kenapa—kenapa kau membawa itu?”
Pelan, sangat pelan, Iago mengangkat tangannya.
Tapi bukan untuk menembak, bukan untuk mengancam.
Ia mengulurkan pistol, memegangnya di moncong, gagang kayunya yang diukir menghadap ke si tua.
Orang tua itu tidak menerimanya. Matanya membelalak ketakutan, pupilnya melebar menelan warna irisnya yang cokelat keruh. "A-Apa maksudmu, nak?!" Langkahnya mundur perlahan, tubuhnya gemetar terlihat jelas di balik baju tidurnya yang tipis. “Kenapa kau memberikannya padaku?! Ini bukan lelucon yang baik!”
"Tembak aku." Suara Iago datar, hampa.
“A-Apa?!”
Mengecewakan, Iago. Kau lupa tujuanmu? Kau lemah.
"Aku akan menghapus semua jejak." Suaranya tetap datar. “Itu… termasuk diriku sendiri..”
Menyedihkan. Kau ingin mati jadi martir? Setelah semua yang kita lakukan?
Saudagar tua itu terpaku, tak mengerti. Bibirnya yang kering bergetar, napasnya pendek-pendek, tersengal. “Aku tak akan menembakmu! Anak muda… apa yang kau alami? Ada yang bisa kubantu—”
Lihat? Membiarkannya hidup, membiarkan dirimu ragu, hanya buang-buang waktumu. Dan waktu kita berharga.
Iago menunduk, rambutnya yang hitam jatuh menutupi matanya. Hening yang menyesakkan menyelimuti mereka berdua di ambang pintu itu. Udara terasa berat dan menggantung.
“... Kau benar.”
Tanpa peringatan, tanpa perubahan ekspresi, Iago mengangkat pistol yang masih di tangannya dan menekannya dengan dingin ke pelipis orang tua itu, kulit keriputnya mengenyam dinginnya logam.
DOR.
Ledakan itu memekakkan telinga, mengguncang lorong sempit, menggema dari dinding ke dinding. Bau mesiu yang tajam dan pahit langsung bercampur dengan aroma darah segar yang memercik ke lantai kayu tua, menetes dari luka, membentuk genangan merah tua yang perlahan merembes ke dalam serat kayu. Tubuh itu roboh dengan suara berat dan tumpul. Lantai bergetar. Lalu sunyi kembali menelan segalanya, lebih pekat, lebih final dari sebelumnya.
Iago berjalan kembali ke kamarnya sendiri, melewati lorong yang kini dihantui oleh dua keheningan yang berbeda.
Langkahnya terukur. Datar. Tidak terburu-buru, tidak lambat. Ia membereskan barang-barangnya yang sedikit dengan gerakan mekanis yang efisien—beberapa potong pakaian kasar, sisa uang koin yang berdentang lemah, benda-benda kecil tanpa makna atau kenangan. Seperti robot yang telah kehilangan program utamanya, hanya menjalankan rutinitas sampingan. Tangannya bergerak, melipat, memasukkan, tapi pikirannya kosong, terputus, mengambang di suatu tempat di atas langit-langit kamar yang kotor.
Saat hendak pergi, tas besar di pundaknya, ia berhenti di depan cermin pecah yang tergantung miring di dinding, retakannya membelah bayangannya menjadi beberapa bagian yang tidak utuh.
"Tujuanku ya…?" gumamnya, suaranya hampa, terbuang. “Aku sendiri tak tahu lagi kenapa aku di sini."
Bayangan di cermin menatap balik dengan mata yang sama kosongnya—wajah yang telah mengambil dua nyawa dalam satu malam, tapi tidak menunjukkan penyesalan, hanya kelelahan yang tak terhingga. Wajah yang asing.
Ia melewati tubuh saudagar tua untuk terakhir kali, melangkahi genangan merah yang sudah mulai mengental. Di tangga, kayu berderit pelan seakan mengutuk setiap langkahnya, memprotes kehadirannya. Lantai satu masih dipenuhi bau besi dan kematian yang segar. Tubuh pemilik losmen terbaring dekat pintu depan, wajahnya membeku dalam ekspresi terkejut yang abadi—mulut setengah terbuka seolah ingin bertanya, mata menatap kosong ke langit-langit kayu yang berdebu, mencerminkan cahaya lampu minyak yang redup.
Iago membuka pintu depan, engselnya berderit panjang.
Angin pagi yang menusuk dan lembap menyergapnya. Masih larut malam, kegelapan masih mendominasi, tapi langit mulai menunjukkan tanda-tanda kelabu pucat di ufuk timur.
"Jam berapa sekarang?" Suaranya serak, berbisik pada angin yang tak menjawab. “Tuhan… aku lelah...”
Langkahnya tertatih, tanpa tujuan, tanpa arah, hanya menjauh dari losmen, dari mayat, dari dirinya sendiri.
Pikirannya seperti kapal yang karam di laut berbadai—serpihan ingatan, keraguan yang menusuk, dan suara itu berputar-putar dalam pusaran yang tak ada habisnya. Ia telah merenggut dua nyawa. Tapi yang lebih menggerogoti, yang lebih dalam mengikis, adalah kenyataan bahwa ia tak yakin, tak bisa memastikan, siapa yang sebenarnya melakukannya. Apakah Iago yang pemuda? Atau Iago yang lain? Atau keduanya adalah satu?
Iago menunduk, menatap kakinya yang bergerak sendiri. Bayangannya sendiri di jalanan sepi yang diterangi cahaya bulan samar terlihat asing. Pepohonan di tepi jalan berdiri tegak bagai saksi bisu yang menghakimi, dahan-dahannya yang telanjang di awal musim mengarah ke langit.
Setelah berjalan cukup lama, kakinya akhirnya menyerah, lututnya bergetar. Ia menjatuhkan diri di pinggir jalan tanah, bersandar pada batang pohon oak tua yang kulitnya retak-retak dalam, kasar dan bertekstur di punggungnya yang pegal. Matanya setengah tertutup, penglihatannya kabur oleh kelelahan yang lebih dari sekadar fisik, kelelahan jiwa. Napasnya berat dan tak teratur, membentuk kabut tipis pendek di udara dingin yang menyengat.
“Mungkin… kalau aku tidur sebentar… suara itu akan hilang…”
Dan ia pun tertidur, atau pingsan, atau sesuatu di antaranya.
Tanpa mimpi. Hanya kegelapan yang pekat, sunyi, dan tanpa beban. Sebuah pelarian sementara.
...****************...
Cahaya jingga samar mulai mengukir garis tipis di cakrawala ketika ayam jantan pertama berkokok di suatu peternakan jauh—suara yang tajam, memecah belah fajar yang masih rapuh. Udara pagi yang segar dan bersih perlahan-lahan menggantikan dinginnya malam yang lembap, membawa aroma tanah basah yang dibajak, rumput yang beku, dan asap kayu pertama dari perapian.
“Kakak? Apa kakak baik-baik saja?”
Suara itu lembut, tinggi, penuh kekhawatiran polos anak kecil.
Iago membuka mata perlahan-lahan, berat.
Cahaya fajar yang masih samar menyilaukan matanya yang sensitif, membuatnya berkedip beberapa kali, air mata refleks membasahi sudutnya.
Di hadapannya, membelakangi cahaya keemasan dari timur, seorang anak laki-laki berusia mungkin delapan atau sembilan tahun menatapnya dengan alis berkerut, wajahnya dipenuhi oleh rasa ingin tahu dan kepedulian yang murni. Di sampingnya, seorang gadis muda berambut merah seperti api yang tergerai angin pagi berdiri membawa kantong belanja kain yang tampak berat. Wajahnya tenang, damai, dan matanya berwarna hijau zamrud.
Wajah Iago pucat. Kelopak matanya bengkak, lingkaran hitam dalam di sekelilingnya, merah di sudut-sudutnya.
"Aku… baik-baik saja," jawabnya, suaranya serak.
"Benarkah?" Anak laki-laki itu memiringkan kepalanya, rambut pirangnya yang berantakan bergoyang. “Tapi kakak terlihat sangat lelah...”
"Iya." Gadis itu menambahkan, nadanya tulus dan hangat. “Apa kau yakin tidak apa-apa? Kau tidur di pinggir jalan… itu berbahaya.”
Iago mengangguk pelan. “Mungkin… hanya butuh makan.”
Perutnya menggeram keras tepat saat itu, suaranya yang keroncongan memecah kesunyian pagi yang sakral. Rasa lapar itu tiba-tiba terasa mendesak, menyayat, dan mengingatkannya dengan kasar bahwa ia masih hidup, bahwa tubuhnya masih membutuhkan bahan bakar.
Anak laki-laki itu menengadah pada kakak perempuannya, matanya berbinar seperti menemukan harta. “Kakak bisa ikut ke rumah kami! Kami baru beli bahan buat sarapan!”
Gadis itu terlihat agak terkejut, sedikit ragu, tapi tidak menolak. Pandangannya yang hijau masih tertuju pada Iago, masih penuh perhatian yang dalam.
“Dia benar. Kau bisa sarapan dulu bersama kami. Setidaknya minum sesuatu yang hangat. Kau kedinginan.”
Iago tersenyum lemah. “Terima kasih… tapi aku tak mau merepotkan. Aku masih punya sedikit uang—”
Tangannya meraba saku mantelnya yang dalam, mencari kumpulan koin yang seharusnya ada. Namun, ia baru menyadari bahwa mantel abu-abunya sudah tidak menyelimuti tubuhnya lagi.
Matanya secara refleks berpindah ke bahunya—di mana tas perjalanan besar seharusnya tergantung.
Tidak ada. Hanya pundak yang kosong.
Sial. Apa aku meninggalkannya di losmen? Tidak, aku ingat membawanya keluar. Tapi… mungkin saat aku jatuh tertidur? Sial, apa yang terjadi?
Wajahnya tegang sepersekian detik, otot rahangnya berdenyut, sebelum dengan cepat ia kembalikan ke ekspresi netral yang datar. Ia melihat lagi pada anak laki-laki dan gadis itu, yang masih menunggu jawabannya dengan ekspresi polos dan terbuka.
“Bolehkah… aku ikut? Mungkin hanya sebentar.”
Kedua saudara itu tersenyum hampir serentak, sebuah cahaya kegembiraan sederhana menerangi wajah mereka. Cahaya pagi yang semakin terang menyinari dari belakang mereka.
"Tentu saja," kata gadis itu, senyumnya melebar. Nada suaranya begitu menenangkan.
"Yay! Ayo kita pergi!" seru anak laki-laki itu riang, sudah berbalik dan melompat-lompat kecil di jalan tanah, sepatu botnya yang usai menepuk debu.
Iago berdiri perlahan, tangannya menekan batang pohon untuk dukungan. Tubuhnya pegal dan berat, setiap sendi, setiap otot protes dengan nyeri tumpul. Tapi untuk pertama kalinya sejak malam tiba, sejak suara pertama terdengar di kepalanya, ada sesuatu yang hangat, sangat kecil, menyentuh ujung-ujung jiwanya yang beku.
Sesuatu yang hampir, hampir seperti harapan. Atau setidaknya, penangguhan hukuman.