NovelToon NovelToon
THE ARCHIVIST

THE ARCHIVIST

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Spiritual / Time Travel
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: NP (Naika Permata)

Dimas dan Sarah kini dikenal sebagai pasangan akademisi selebriti. Sarah dengan buku best seller-nya, dan Dimas sebagai profesor muda yang brilian. Namun, itu hanya kedok. Di balik layar, mereka bekerja sebagai Konsultan Khusus untuk Badan Perlindungan Cagar Budaya & Aset Negara (BPCBAN). Tugas mereka: Melacak, mengamankan, dan menyegel artefak-artefak supranatural berbahaya yang diperjualbelikan di pasar gelap Internasional (Black Market). Musuh mereka bukan lagi dukun santet, melainkan Sindikat Kolektor Internasional yang didanai oleh miliarder asing yang ingin menguasai kekuatan mistis Nusantara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NP (Naika Permata), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Malam di Anatolia & Batu Nazar

Lokasi: Bukit Göbekli Tepe, Anatolia Tenggara, Turki.

Waktu: 02.15 Waktu Setempat.

Angin kering gurun Anatolia berhembus membawa debu pasir halus yang menggesek pakaian taktis hitam malam milik Dimas dan Sarah.

Mereka berbaring tengkurap di atas punggungan bukit kapur, berjarak tiga ratus meter dari situs ekskavasi utama Göbekli Tepe. Dari posisi mengintai ini, situs arkeologi tertua di dunia itu tampak seperti luka yang menyala di tengah kegelapan gurun.

Lampu-lampu sorot halogen raksasa bertenaga generator diesel menerangi pilar-pilar batu berbentuk ‘T’ yang melingkar. Di sekeliling situs, kawat berduri telah digelar. Tiga kendaraan taktis lapis baja (APC) berwarna hitam matte terparkir di pintu masuk.

Melalui teropong binokular Night Vision miliknya, Dimas mengamati puluhan tentara bayaran Vanguard yang berpatroli. Mereka mengenakan pakaian tempur level IV, membawa senapan serbu HK416 dengan peredam suara, dan helm taktis berlensa inframerah.

“Dua penembak runduk di bukit arah jam sebelas. Tiga tim patroli yang beranggotakan empat orang menyisir perimeter luar. Mereka bergerak dengan formasi intai militer standar,” bisik Dimas melalui mikrofon tenggorokannya. Nadanya dingin dan sangat penuh perhitungan—insting tempur yang telah terasah dari ribuan jam menghadapi ancaman mematikan.

Di sebelahnya, Sarah sedang memeluk senapan laras panjang berperedam suara yang dimodifikasi khusus. Matanya yang tajam menatap layar tablet kecil yang tersambung ke lensa senapannya. Jari-jarinya dengan lincah mengetikkan barisan retasan.

“Mereka juga punya tiga drone pengintai termal di udara,” lapor Sarah pelan. “Beri aku waktu empat puluh detik. Aku akan menyusup ke frekuensi radio Vanguard dan me-looping (mengulang) rekaman kamera drone mereka. Bagi operator di tenda komando, layar mereka cuma bakal nampilin gurun kosong.”

Dimas menoleh sedikit, menatap profil wajah istrinya yang diterangi pendaran redup layar tablet. Di tengah medan pertempuran yang keras ini, kecerdasan Sarah selalu menjadi senjata yang paling mematikan sekaligus hal yang paling membuat Dimas jatuh cinta.

“Empat puluh detik,” Dimas mengonfirmasi, menggeser posisi senapan serbu bullpup ringan di dadanya. “Begitu drone mereka buta, aku turun menyisir titik buta di sisi timur. Cover me (lindungi aku).”

Sarah menekan tombol Enter di layarnya. Sebuah bar persentase melesat ke angka 100%. “Sistem mereka buta sekarang. Go, Sayang. Jangan sampai tertembak.”

Dimas melesat turun dari punggungan bukit bagai bayangan.

Ia tidak hanya mengandalkan kelincahan fisik. Sambil berlari merendah di antara semak-semak gurun, Dimas merapalkan Aji Panglimunan tingkat dasar—menekan hawa panas tubuhnya dan meredam suara langkah kakinya hingga nyaris nol. (Mas Dimas, kirain di luar negeri nggak mempan pakai aji-aji-an, hehe).

Ia mendekati seorang penjaga Vanguard yang sedang merokok di balik sebuah pilar batu di perimeter luar.

Tanpa suara, Dimas muncul dari kegelapan di belakang penjaga itu. Tangan kirinya membekap mulut sang tentara bayaran dengan sarung tangan taktisnya, sementara tangan kanannya yang bebas dengan cepat memotong aliran darah di arteri karotis leher penjaga tersebut menggunakan kuncian Pencak Silat yang presisi.

Dalam tiga detik, penjaga itu pingsan tanpa sempat menarik pelatuk. Dimas membaringkan tubuh berat itu ke tanah tanpa suara dentingan senjata.

“Target satu lumpuh,” bisik Dimas di komunikasi radio.

“Tim patroli Alpha mendekat ke posisimu dari arah jam tiga,” suara Sarah terdengar tenang di telinganya. “Tunggu aba-abaku… Tiga. Dua. Satu. Eksekusi.”

PFFT! PFFT!

Dua peluru tranquilizer (bius dosis tinggi gajah) menembus zirah melesat dari senapan runduk Sarah di atas bukit, menghantam leher dua penjaga Vanguard di arah jam tiga secara beruntun. Keduanya rubuh seketika.

Melihat celah itu, Dimas melesat maju, melewati kawat berduri dengan akrobatik yang efisien, dan mendarat tepat di dalam ring utama ekskavasi Göbekli Tepe.

Lokasi: Enclosure D (lingkaran utama), Göbekli Tepe.

Area ini adalah jantung dari situs prasejarah tersebut. Dua pilar raksasa berbentuk ‘T’ setinggi lima meter berdiri di tengah, dikelilingi oleh pilar-pilar yang lebih kecil.

Dimas bersembunyi di balik bayangan Pilar 43–yang dikenal oleh para arkeolog sebagai Batu Burung Nasar (Vulture Stone). Di atas permukaan batu kapur itu, terpahat ukiran rumit berbentuk burung nasar yang sedang memegang lingkaran, kalajengking, dan serigala.

Di tengah-tengah dua pilar utama, terdapat sebuah tenda komando terbuka milik Vanguard.

Seorang pria bule bertubuh besar dengan codet melintang di wajahnya sedang berteriak marah pada dua orang teknisi yang mengoperasikan alat bor tanah. Pria itu adalah Komandan Vanguard.

“Gali lebih dalam, Sialan!” Bentak sang Komandan dalam bahasa Inggris beraksen Rusia. “Alat pemindai termal menunjukkan ada rongga energi 30 meter di bawah altar batu ini! Kuncinya pasti ada disana. Kalau perlu pakai dinamit C4, hancurkan pilar batunya!”

Dimas menggertakan gigi. Tentara bayaran ini adalah barbar modern. Menghancurkan pilar ini sama saja merusak mekanisme segelnya selamanya.

Dimas mengalihkan pandangannya dari tenda musuh kembali ke pilar Batu Burung Nasar di depannya. Matanya memindai ukiran-ukiran prasejarah tersebut.

“Sar, aku di Pilar 43,” bisik Dimas. “Vanguard nyoba ngebor tanah di bawah altar. Tapi instingku bilang kuncinya nggak dikubur secara fisik di dalam tanah.”

Dari atas bukit, Sarah sedang menelusuri data holografik yang mereka pecahkan di Jakarta. “Tunggu, Dim. Ingat simulasi Pangea kita? Pilar-pilar Göbekli Tepe ini selaras sempurna sama pergerakan bintang Sirius dan rasi Cygnus 12.000 tahun lalu.”

Dimas menyentuh ukiran burung nasar di batu itu. Jarinya menelusuri ukiran kalajengking (yang melambangkan rasi Scorpius).

“Mereka ngira ini cuma ukiran,” gumam Dimas, matanya berbinar menyadari teka-teki arkeologi yang luar biasa di depannya. “Sar, ini bukan observatorium. Ini adalah Kunci Kombinasi. Pilar-pilar ini adalah konstelasi bintang ke atas tanah!”

“Maksudmu?”

“Kuncinya nggak ada di bawah tanah. Kuncinya disembunyikan di dalam ruang saku dimensional (Pocket Dimension) yang melayang tepat di atas altar,” Dimas menjelaskan dengan cepat. “Tapi ruang itu cuma bisa terbuka kalau cahaya bintang Sirius menyentuh altar dari sudut yang sama persis seperti 12.000 tahun yang lalu.”

“Dim, bumi udah bergeser. Bintang Sirius nggak akan pernah bersinar dari sudut itu lagi malam ini,” jawab Sarah rasional.

“Alam memang ngga bisa, tapi kita bisa memanipulasinya,” Dimas menatap lampu-lampu sorot halogen raksasa milik Vanguard yang menyebar di sekitar tenda.

“Sar, retas sistem pencahayaan mereka. Aku butuh kamu mastiin semua lampu sorot utama. Sisakan tiga lampu sorot kecil, dan putar arahnya pakai motor hidroliknya… arahkan tepat ke cermin berlapis emas di lambang Kalajengking di Pilar 43, lambang rubah di Pilar 18, dan langsung ke tengah altar!”

“Aku butuh dua menit buat menjebol firewall generator mereka. Vanguard pasti sadar kalau lampunya gerak sendiri!”

“Biar aku yang bikin keributan,” Dimas mencabut Keris Patrem-nya di tangan kiri, sementara tangan kanannya mengaktifkan Pressure-Ressistant Gauntle berinti Giok. “Lakukan, Hacker.”

Dimas melangkah keluar dari balik pilar, membiarkan tubuhnya tertangkap oleh lampu sorot utama.

“Hei, Komandan!” Teriak Dimas dalam bahasa Inggris, suaranya menggema memecah keheningan situs kuno tersebut.

Sang Komandan dan belasan tentara Vanguard serentak menoleh. Mereka terkejut melihat seorang pria Asia berjaket taktis hitam berdiri di tengah ring dalam tanpa terdeteksi.

“Bunuh dia!” Raung Sang Komandan, mencabut pistolnya.

Rentetan tembakan senapan serbu memecah malam Anatolia. TATATATATATA!

Peluru-peluru berdesingan mengarah ke Dimas. Namun Dimas tidak menghindar. Ia mengangkat tangan kanannya yang dibalut Gauntlet besi. Batu Giok di telapak tangannya menyala terang benderang.

Dimas memukul udara di depannya. BOOM! Gelombang Chi (energi prana) yang sangat padat meledak keluar dari gauntlet tersebut, menciptakan perisai kinetik tak kasat mata di udara. Peluru-peluru kaliber 5.56mm yang melesat dengan kecepatan tinggi menabrak perisai besi itu dan rontok ke tanah bagaikan kacang goreng. (Hebatkan, mirip Thanos wkwk)

Para tentara Vanguard terbelalak. Mereka terbiasa melawan pemberontak dan militer, bukan seorang praktisi mistis bersenjata teknologi.

“Tembak kepalanya! Pakai RPG!” Panik salah satu tentara.

Di saat yang sama, dari atas punggungan bukit, senapan runduk Sarah memuntahkan amarahnya.

PFFT! PFFT! PFFT!

Tiga tentara bayaran Vanguard yang mencoba membidik Dimas dari sayap kanan rubuh terkena tembakan presisi tinggi dari Sarah. Perlindungan tembakan (overwatch) Sarah sangat sempurna, menciptakan payung keamanan bagi suaminya yang sedang menjadi umpan di tengah arena.

“Aku masuk ke sistem generator!” Teriak Sarah di radio, diiringi suara ketikan liar.

Seketika, seluruh lampu sorot halogen raksasa bertenaga tinggi di situs Göbekli Tepe padam total.

Kawasan reruntuhan itu dilanda kegelapan pekat. Tentara Vanguard berteriak kebingungan, mencoba mengaktifkan kacamata Night Vision mereka.

Namun, sebelum mereka sempat menyesuaikan pandangan, tiga lampu sorot kecil (LED taktis) tiba-tiba menyala kembali. Lampu-lampu itu bergerak sendiri, dikendalikan oleh Retasan Sarah, dan menyorot tajam membelah kegelapan debu gurun.

Sinar pertama menghantam ukiran kalajengking di Pilar 43.

Sinar kedua menghantam ukiran rubah di Pilar 18.

Sinar ketiga memantul dari kedua pilar tersebut, menciptakan sudut pantulan cahaya (segitiga iluminasi) yang bersilangan tepat di udara, setengah meter di atas altar batu bundar di tengah situs.

Geometri sakral telah terpenuhi. Ilusi posisi bintang Sirius telah diciptakan ulang oleh teknologi abad ke-21.

Di titik pertemuan ketiga cahaya itu, udara tiba-tiba melengkung. Suara dengungan frekuensi tinggi bernada kosmik—persis seperti yang mereka dengan di Papua—terdengar.

Sebuah celah dimensi berbentuk oval terbuka di udara kosong di atas altar. Dari dalam celah itu, melayang perlahan sebuah objek bercahaya.

Benda itu sebesar kepalan tangan, terbuat dari logam emas-perak yang sama dengan Gerbang Eden, dibentuk menjadi sebuah prisma asimetris yang memancarkan pendaran biru langit.

Kunci Konstelasi Pertama.

Sang Komandan Vanguard, yang berada paling dekat dengan altar, terbelalak melihat mukjizat tersebut. Keserakahannya mengalahkan akal sehatnya. Ia melompat maju, mengulurkan tangannya yang bersarung tangan kulit untuk menyambar artefak yang melayang itu.

“Jangan sentuh itu!” Teriak Dimas, berlari menerjang sang Komandan.

Tapi terlambat.

Begitu jari-jari sang Komandan menyentuh permukaan Kunci Konstelasi tersebut, mekanisme pertahanan kuno yang tertidur selama belasan ribu tahun bereaksi.

Kunci itu merespons ‘DNA kotor’ dan niat serakah yang tidak sesuai dengan frekuensi pewaris.

Sebuah gelombang energi keranjang meledak dari artefak tersebut. Bukan gelombang pembeku waktu seperti di Papua, melainkan gelombang pelepasan entropi.

Tubuh sang Komandang Vanguard yang berotot besar itu mendadak membeku di tempat. Dalam hitungan detik, kulitnya, ototnya, hingga tulang dan senapan di tangannya… menua dan meluruh dengan kecepatan ekstrem. Ia berubah menjadi debu pasir putih, tertiup angin Anatolia seolah ia tidak pernah eksis.

Sisa pasukan Vanguard yang melihat komandannya berubah menjadi debu langsung menjerit ketakutan dan lari tunggang langgang, membuang senjata mereka.

Dimas berhenti, berdiri kaku dua meter dari altar.

Kunci emas-perak itu masih melayang di udara. Namun kini, pendaran birunya berubah menjadi merah marah. Pilar-pilar Göbekli Tepe di sekeliling mereka mulai bergetar hebat. Tanah batu kapur di bawah kaki Dimas retak.

Sistem keamanan kuil telah diaktifkan secara paksa oleh kegagalan sistematis sang Komandan.

“Dim! Tanah di bawah altar itu amblas!” Jerit Sarah dari radionya, melihat indikator termalnya berubah merah menyala. “Ada sesuatu berukuran masif bangkit dari bawah tanah! Tarik kuncinya dan lari!”

Debu tebal membumbung ke udara saat altar batu di depan Dimas terbelah menjadi dua, memperlihatkan jurang gelap yang selama 12.000 tahun menyembunyikan penjaga abadi Kunci Pertama. Sesuatu yang ukurannya jauh melebihi manusia perlahan merangkak naik dari kedalaman, diiringi suara gemeretak logam kuno dan batu yang saling bergesekan.

Dimas menatap kunci melayang di tepi jurang yang baru terbentuk itu, lalu menatap bayangan raksasa yang merangkak naik. Menjadi seorang Archivist tidak pernah semudah hanya mengambil relik dan pulang.

1
Aninda Riswinanti
bagusss pollll ceritanya
NP: Makasih ya kak, 🤗
total 1 replies
Talita Rafifah artanti
ceritanya bagus menarik untuk dibaca
NP: Terima kasih ya kak, semoga tetap suka ya sampai tamat nanti..🤗
total 1 replies
NP
Sarah sama Dimas ternyata minim romansa nya ya 😂 next tipis2 ada romantisme deh kesian Dimas serius terus script nya wkwk
Felycia R. Fernandez
kayak di cuci nih otaknya Sarah
Felycia R. Fernandez
jadi ingat film barat aku nonton ,mereka sekeluarga diserang kepiting karena air laut nya menguap...kepiting di laut mendatangi kapal mereka...
Felycia R. Fernandez
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
NP
Agak berat petualangan Dimas dan Sarah nih, kak. Maklum sama sama ilmuwan..
Felycia R. Fernandez
Petualangan baru dimulai...
NP
Iya betul yg dulu di rempah sang waktu,
Felycia R. Fernandez
Arya ini yang jadi raja dulu kan?
Felycia R. Fernandez
😅😅😅😅😅
Felycia R. Fernandez
lah,Sarah malah kenak
Felycia R. Fernandez
🤣
NP
Suami istri yang suka berpetualang menghadapi hal hal mistis
Felycia R. Fernandez
😆😆😆😆😆
Felycia R. Fernandez
ya ampun,luar biasa suami istri ini
Felycia R. Fernandez
kok ngeri ya 😳
Felycia R. Fernandez
wow 😳
Akbar Aulia
kurang.....kurang......kurang.....kurang banyak thor upnya
Felycia R. Fernandez
pernah denger,tapi blom tau gimana kota nya kk...😆😆😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!