NovelToon NovelToon
DUKA BARU LUKA LAMA

DUKA BARU LUKA LAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Konflik etika / Tamat
Popularitas:811
Nilai: 5
Nama Author: KEONG_BALAP

mengisahkan
Arsya Wiraguna,seorang arsitek sukses dengan masa lalu kelam ,
dan Klara asmara dengan seorang desainer periang yang membawa luka masa kecil

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KEONG_BALAP, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Langkah Kecil, Cinta Besar

Jakarta kembali diguyur hujan hampir setiap sore. Tapi di rumah Menteng, hujan bukan penghalang untuk tetap ceria. Tiga anak—Rara (kini 9,5 tahun), Melati (5 tahun), dan baby Asmara (10 bulan)—telah menemukan cara untuk tetap bermain meskipun air turun deras.

Pagi itu, Rara duduk di ruang keluarga dengan buku gambar dan krayon berserakan. Ia sedang menyelesaikan tugas sekolah: menggambar "Pahlawanku". Dan pahlawan yang ia pilih bukan tokoh nasional, melainkan Eyang Kusuma.

"Ini Eyang lagi cerita," jelas Rara pada Kalara yang mengintip. "Ini baby Asmara dengerin. Ini Melati tidur di pangkuan Eyang. Ini Om Arsya bawa teh. Ini Tante Nad baca buku."

Kalara tersenyum. Gambar itu ramai, penuh detail. Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya, dikelilingi anggota keluarga. Ada kehangatan yang terpancar dari goresan krayon Rara.

"Ini bagus banget, Nak. Bu Guru pasti suka."

"Rara mau kasih ke Eyang nanti. Biar Eyang lihat."

"Eyang pasti senang."

Di dapur, Lastri dan Nadia sibuk menyiapkan sarapan. Lastri semakin betah di Jakarta. Ia bahkan sudah punya teman-teman arisan di kompleks. Tapi setiap pagi, ia pasti datang ke rumah Menteng untuk membantu, terutama menjaga Eyang.

"Tante, nanti sore Eyang kontrol ke dokter, ya," kata Nadia. "Arsya yang anter."

"Saya ikut, Biar Eyang nggak canggung."

"Iya, Tante. Nanti kita rame-rame."

Melati berlari masuk dapur dengan gaun tidur masih melekat. Rambut ikalnya berantakan, tapi matanya berbinar.

"Tante, Melati lapar!"

"Mau sarapan apa?"

"Bubur ayam! Yang ada cakuenya!"

Lastri tertawa. "Nanti Tante bikinin. Sekarang sikat gigi dulu."

Melati berlari ke kamar mandi, meninggalkan jejak tawa.

Di kamar Eyang, baby Asmara sudah bangun. Ia merangkak di atas matras, sesekali mencoba berdiri dengan berpegangan pada kursi. Eyang Kusuma mengawasinya dari kursi malas, dengan waspada.

"Hati-hati, Nak. Jangan jatuh."

Baby Asmara menoleh, tersenyum memperlihatkan empat gigi mungilnya. Ia merangkak mendekati Eyang, lalu menarik-narik ujung sarung Eyang.

"Mau digendong?" tanya Eyang.

Bayi itu mengangkat kedua tangannya. Eyang tertawa, lalu dengan hati-hati menggendongnya.

"Kamu berat, Nak. Besar sekali."

Arsya masuk, melihat pemandangan itu. "Eyang, jangan angkat-angkat. Nanti capek."

"Ini cucuku, masa tidak digendong?"

"Nanti Asmara bisa di kursi aja, dekat Eyang."

Arsya mengambil baby Asmara, menaruhnya di kursi bayi di samping Eyang. Bayi itu protes sebentar, lalu diam ketika Eyang memberinya mainan.

"Eyang, jam 10 kita berangkat ke dokter. Siap-siap, ya."

"Iya, Nak. Eyang siap."

Rumah sakit pagi itu ramai. Arsya, Nadia, dan Lastri menemani Eyang kontrol ke dokter geriatri. Setelah pemeriksaan, dokter tersenyum.

"Kondisi Eyang membaik. Tekanan darah stabil, gula darah normal. Yang penting rutin minum obat dan jaga pola makan."

"Alhamdulillah," ucap Lastri lega.

Eyang sendiri tersenyum. "Ini karena dirawat keluarga. Di Ciputat dulu, saya sering lupa makan."

Arsya memegang tangan Eyang. "Eyang, kami akan selalu jaga."

Di luar ruang dokter, mereka bertemu dengan seorang pasien lansia yang sendirian, duduk di kursi roda dengan tatapan kosong. Seorang perawat mondar-mandir mengurus administrasi.

Eyang menatapnya iba. "Kasihan, sendiri."

"Iya, Eyang," sahut Nadia. "Anaknya mungkin sibuk kerja."

"Untung Eyang punya kalian."

Di mobil, dalam perjalanan pulang, Eyang tiba-tiba berkata, "Arsya, aku mau ngomong sesuatu."

"Apa, Eyang?"

"Aku ingin... aku ingin mengadakan acara syukuran. Mengundang keluarga besar. Dari pihakku, dari pihak Rarasati, juga dari pihak kalian yang lain."

Arsya terkejut. "Syukuran? Acara apa, Eyang?"

"Syukuran karena aku masih diberi umur panjang. Dan syukuran karena kita semua bisa berkumpul." Eyang tersenyum. "Aku ingin foto keluarga besar. Yang nanti bisa dipajang di rumah. Biar anak cucu lihat."

Nadia spontan menjawab, "Ide bagus, Eyang!"

Lastri mengangguk setuju. "Bisa diadakan di rumah Menteng. Halamannya luas."

Arsya berpikir. "Kita bisa adakan acara sederhana. Makan bersama, ramah-tamah."

"Tapi jangan lupa undang Eyang Kusuma juga," goda Eyang.

Semua tertawa.

Malam harinya, ide itu disampaikan pada semua penghuni rumah. Rara paling antusias.

"Asyik! Pesta! Rara mau pakaian bagus!"

Melati ikut bersemangat. "Melati mau pakai baju putri duyung!"

"Kamu nggak punya baju putri duyung, Sayang."

"Nanti beli, Ma!"

Semua tertawa. Baby Asmara ikut tertawa meskipun tidak mengerti.

Raka menggaruk kepala. "Ini berarti kita harus siapin makanan banyak."

"Aku bisa bantu masak," tawar Lastri.

"Nanti catering aja biar praktis," usul Nadia. "Yang penting kebersamaannya."

Arsya mengeluarkan ponsel, mulai membuat daftar tamu. "Kita undang Mama, Ayah, Pak Willem, Tante Lastri, keluarga dari Eyang di Ciputat, tetangga dekat... siapa lagi?"

"Teman-teman Rara di sekolah?" tanya Kalara.

"Nggak, nanti rame banget. Keluarga dulu."

Diskusi berlangsung seru. Sampai akhirnya mereka sepakat: acara akan digelar dua minggu lagi, di halaman belakang, dengan konsep lesehan dan prasmanan. Fotografer profesional dipanggil untuk mengabadikan momen.

Dua minggu berlalu cepat. Rumah Menteng berbenah. Halaman belakang ditata rapi, tenda putih dipasang, kursi-kursi disusun. Rara dan Melati sibuk "membantu" dengan cara mereka: mengecek setiap sudut, memastikan tidak ada yang kurang.

Hari H tiba. Pagi-pagi, semua sudah sibuk. Lastri di dapur bersama katering. Nadia mengatur dekorasi. Kalara merias diri sambil sesekali menyusui baby Asmara. Arsya dan Raka mengatur parkir dan penerimaan tamu.

Eyang Kusuma duduk di kursi malasnya di teras, mengenakan kebaya cokelat tua yang anggun. Lastri membantunya bersiap tadi pagi. Rambut putihnya disanggul rapi, sedikit bedak di wajah. Ia terlihat cantik dan berwibawa.

"Eyang cantik banget!" puji Rara.

"Kamu juga, Sayang. Baju barumu bagus."

Rara memutar-mutar tubuhnya, memperlihatkan gaun merah jambu dengan pita besar. Melati, yang akhirnya tidak jadi pakai baju putri duyung, mengenakan gaun biru muda dengan motif bunga-bunga kecil. Baby Asmara digendong Kalara, setelan kemeja kecil dan celana pendek, tampak lucu dengan topi mininya.

Tamu mulai berdatangan. Mama Kalara datang dengan gaun batik, Ayah Arsya dengan kemeja putih. Pak Willem diantar sopir, berjalan pelan dengan tongkat. Tetangga sekitar, keluarga Eyang dari Ciputat, bahkan beberapa kerabat Lastri dari Kalimantan yang kebetulan di Jakarta.

Suasana hangat. Salaman, pelukan, tawa. Anak-anak berlarian di antara tamu. Rara dengan bangga menunjukkan lukisan-lukisannya yang dipajang di sudut halaman.

Acara dimulai dengan sambutan Arsya sebagai tuan rumah.

"Selamat datang di rumah Menteng. Hari ini kita berkumpul dalam acara syukuran. Eyang Kusuma ingin merayakan umur panjang dan kebersamaan keluarga."

Tepuk tangan riuh.

Eyang diminta maju. Dengan bantuan Lastri dan Arsya, ia berdiri di depan mikrofon. Suaranya lemah tapi jelas.

"Anak-anakku, saudara-saudaraku... terima kasih sudah datang. Saya tidak menyangka, di usia 78 tahun, saya masih diberi kesempatan berkumpul dengan keluarga besar. Dulu, saya hanya punya Asmara. Sekarang, saya punya cucu, cicit, ipar, semua."

Matanya berkaca-kaca.

"Terima kasih sudah menerima saya. Terima kasih sudah membuat hari tua saya berarti. Saya bangga pada kalian semua."

Semua terharu. Lastri menangis, Kalara menyeka air mata. Arsya memeluk Eyang.

Acara dilanjutkan dengan makan bersama. Prasmanan berderet, lauk pauk berlimpah. Rara dan Melati paling senang karena boleh makan es krim sepuasnya.

Sesi foto menjadi puncak acara. Fotografer mengatur posisi. Eyang di tengah, dikelilingi anak, cucu, cicit. Keluarga besar berjejer rapi.

"Tersenyum semua! Satu, dua, tiga... jepret!"

Foto itu akan dicetak besar, dibingkai, dan dipajang di ruang keluarga. Sebagai pengingat bahwa keluarga ini, yang dulu tercerai-berai, kini bersatu.

Sore harinya, setelah tamu pulang, keluarga inti berkumpul di ruang keluarga. Kelelahan tapi bahagia.

Eyang duduk di kursi malasnya, baby Asmara di pangkuan. Bayi itu tertidur pulas setelah seharian berganti-ganti gendongan.

"Hari ini sempurna," kata Eyang.

"Iya, Eyang. Terima kasih sudah memberi ide," sahut Kalara.

Rara menghampiri Eyang, menyerahkan sebuah amplop. "Ini buat Eyang."

Eyang membukanya. Di dalam, sebuah kartu buatan Rara, bergambar seluruh keluarga. Di bawahnya, tulisan rapi:

"Untuk Eyang tersayang, terima kasih sudah jadi pahlawan Rara. Rara sayang Eyang."

Eyang menangis. "Nak... ini hadiah terindah."

Melati tidak mau kalah. Ia memberikan sebuah gelang dari manik-manik buatannya sendiri. "Ini buat Eyang. Biar Eyang ingat Melati."

Eyang memakainya, meskipun agak sempit. "Cantik sekali. Makasih, Sayang."

Malam itu, mereka duduk bersama hingga larut. Cerita-cerita, tawa, dan kadang haru. Baby Asmara terbangun, ikut nimbrung dengan ocehan tak jelas.

Seminggu kemudian, foto keluarga besar sudah datang dan dipajang di ruang keluarga. Bingkai besar, tergantung di dinding utama. Semua orang tersenyum, Eyang di tengah, dikelilingi puluhan wajah bahagia.

Rara berdiri di depan foto itu, menatapnya lama.

"Ma, lihat, itu Rara. Di samping Eyang."

"Iya, Sayang. Cantik."

"Ma, suatu hari nanti, Rara juga punya keluarga besar kayak gini?"

"Kamu sudah punya, Nak. Ini keluargamu."

Rara tersenyum. "Iya, ya. Rara punya keluarga besar."

Ia memeluk Kalara. Baby Asmara merangkak mendekat, menarik-narik kaki Rara. Melati berlarian dengan boneka.

Rumah Menteng bernyanyi lagi.

Bernyanyi dengan suara cinta.

Bernyanyi dengan suara generasi baru.

Bernyanyi dengan suara harapan.

Selamanya.

Bersambung..

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!