Damian Nicholas memiliki segalanya-kekuasaan, harta yang tak habis tujuh turunan, dan masa depan yang sudah diatur rapi oleh orang tuanya.
Termasuk sebuah perjodohan dengan putri dari relasi bisnis keluarganya demi memperluas kekaisaran mereka. Namun bagi Damian, cinta bukan tentang angka di saldo rekening, melainkan tentang getaran yang ia rasakan pada pandangan pertama.
Getaran itu ia temukan pada Liora Selene, seorang gadis sederhana yang ia temui secara tidak sengaja. Di mata Damian, Selene adalah sosok tulus yang tidak silau akan hartanya. Ia jatuh cinta pada kesederhanaan Selene, tanpa tahu bahwa di balik pakaian lusuh itu, Selene menyimpan rahasia besar.
Selene sebenarnya adalah putri dari keluarga terpandang yang sedang mencoba melarikan diri dari jeratan ekspektasi dunia kelas atas dengan berpura-pura menjadi rakyat jelata.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon treezz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33: Pertemuan Tak Terduga di Rak Supermarket
Deru mesin Rolls-Royce itu perlahan mereda saat Damian memarkirkan mobilnya di pelataran sebuah supermarket 24 jam yang cukup besar. Ia mematikan mesin, namun tangannya masih mencengkeram kemudi dengan erat. Napasnya memburu. Meskipun ia baru saja membuang Clarissa di pinggir jalan, sisa-sisa amarah akibat paksaan ibunya masih mendidih di bawah kulitnya.
Ia melirik jam digital di dasbor. 21:00.
Damian butuh sesuatu untuk mendinginkan kepalanya sebelum ia benar-benar meledak dan menghancurkan sesuatu. Ia keluar dari mobil, tidak mempedulikan setelan jas mahalnya yang tampak terlalu mencolok untuk pengunjung supermarket di jam seperti ini.
Lonceng pintu supermarket berdenting saat Damian melangkah masuk. Hawa dingin dari pendingin ruangan menyapa wajahnya, namun itu belum cukup. Ia berjalan lurus menuju deretan lemari pendingin di bagian belakang, langkah kakinya terdengar tegas di atas lantai keramik yang mengilap.
Ia membuka pintu kaca lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral dingin, dan tanpa menunggu sampai ke kasir, ia langsung memutar tutupnya dan meneguknya dengan rakus. Air dingin itu mengalir melewati kerongkongannya, mencoba memadamkan api yang membakar dadanya.
"Sialan," gumamnya rendah sambil menyeka sisa air di bibirnya dengan punggung tangan.
Pikiran Damian kembali pada kejadian sore tadi. Ciuman pertama Selene. Rasa manis yang murni, perlawanan yang menggemaskan, dan tamparan yang terasa seperti belaian. Lalu bayangan itu berganti dengan wajah ibunya yang penuh ancaman dan Clarissa yang menjijikkan. Perbedaan itu membuatnya muak.
Ia menyandarkan punggungnya pada pintu kaca lemari es yang dingin, memejamkan mata sejenak untuk menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
"Tuan Damian?"
Sebuah suara lembut, namun memiliki nada terkejut yang sangat familiar, memecah keheningan di lorong minuman itu.
Damian tersentak. Ia membuka matanya dan menoleh ke arah kanan. Di sana, hanya berjarak beberapa meter darinya, berdiri seorang gadis dengan keranjang belanjaan kecil di tangannya. Ia mengenakan kardigan rajut sederhana yang menutupi blus kantornya yang tadi siang.
Selene.
Gadis itu menatap botol air mineral yang sudah setengah kosong di tangan Damian, lalu beralih menatap wajah pria itu yang tampak berantakan—rambut yang sedikit acak-acakan dan rahang yang masih mengeras.
Namun kemudian.
Sentuhan itu datang secara alami, hampir tanpa sadar. Selene melihat pria tangguh yang biasanya selalu tampak sempurna dan tak tersentuh itu kini terlihat sedikit... kacau. Dan entah dorongan dari mana, Selene melangkah maju.
Ia menjinjitkan kakinya sedikit agar bisa mencapai wajah pria yang jauh lebih tinggi darinya itu. Tangan halusnya terangkat, jemarinya yang ramping menyelinap di antara helaian rambut hitam Damian, merapikan bagian depan yang jatuh berantakan menutupi kening pria itu.
Damian membeku. Napasnya tertahan di tenggorokan.
Waktu seolah berhenti di antara lorong minuman dingin itu. Damian bisa merasakan aroma sabun bayi dari tubuh Selene yang kini berdiri sangat dekat dengannya. Sentuhan tangan Selene di rambutnya terasa jauh lebih efektif daripada air es mana pun yang ia minum tadi. Sensasi itu menjalar dari kulit kepalanya, menenangkan setiap saraf yang tegang, dan menjinakkan amarah yang tadinya mendidih.
Selene tersentak, seolah baru saja tersengat listrik oleh kesadarannya sendiri. Jemarinya yang tadi menari lembut di rambut Damian langsung ditarik kembali dengan cepat. Ia menurunkan tumitnya, menciptakan jarak yang aman, sementara wajahnya kini memerah sempurna hingga ke pangkal leher.
"M-maaf," ucap Selene terbata-bata, matanya menunduk menatap lantai supermarket yang putih bersih. "Aku tidak bermaksud lancang. Aku hanya... aku tidak terbiasa melihat sesuatu yang berantakan. Maafkan aku, Tuan Damian."
"Panggil Damian saja." Ujar Damian lembut. "Biasanya kau memanggilku seperti itu."
Damian meletakkan kembali keranjang belanjaan itu di meja kasir setelah menyelesaikan transaksi kilat yang membuat petugas supermarket itu tercengang. Ia berbalik, menatap Selene dengan tatapan yang kini benar-benar melunak—sisi yang hanya ia tunjukkan pada gadis ini, jauh dari bayang-bayang pria kejam yang tadi membuang Clarissa di jalanan.
"Sudah malam, Selene," ucap Damian lembut. Suaranya tidak lagi menuntut, melainkan terdengar seperti sebuah tawaran tulus yang sulit untuk ditolak. "Biarkan aku mengantarmu pulang."
Selene terdiam sejenak, menatap mata Damian yang tampak sangat lelah namun penuh harap. Ia teringat ciuman panas mereka di kantor tadi sore, dan ia juga teringat bagaimana Damian berbohong soal identitasnya. Namun, melihat pria itu berdiri di sini, di tengah supermarket biasa dengan botol air mineral di tangan, Selene merasa melihat sisi manusiawi dari sang predator.
"Mobilku ada di parkiran sebelah, Damian. Aku bisa pulang sendiri," tolak Selene halus, meski ia sendiri merasa ragu.
"Mobilmu bisa ditinggal di sini. Besok asistenku akan mengirimkan supir untuk membawanya ke rumahmu," balas Damian tanpa cela. Ia melangkah satu langkah lebih dekat, cukup dekat hingga Selene bisa merasakan kehangatan dari tubuh pria itu. "Jalanan malam ini tidak aman untukmu. Biarkan aku memastikan kau sampai di panti dengan selamat."
Selene melihat ke arah luar, ke arah kegelapan malam yang menyelimuti Jakarta. Ia menghela napas panjang, akhirnya menyerah pada kegigihan pria itu. "Hanya sampai gerbang panti, Damian. Jangan lebih."