"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dibalik Layar {1}
Lampu-lampu darurat berwarna merah berdenyut di sepanjang langit-langit Sektor B, memberikan rona yang suram pada puing-puing beton dan besi yang berserakan. Bau ozon yang tajam akibat ledakan senjata Null-Energy dan uap dingin sisa pertarungan Yuuichi masih menggantung di udara yang tipis. Di tengah kehancuran itu, bunker memasuki mode Lockdown Total. Pintu-pintu baja antarsensor tertutup secara otomatis dengan dentuman berat yang bergema hingga ke fondasi terdalam.
Yuuichi duduk bersandar pada pilar yang retak, kepalanya terkulai di bahu Sakura. Napasnya pendek dan setiap tarikan udara seolah membawa duri es yang menusuk paru-parunya sendiri. Es hitam yang tadi menyelimuti lengannya perlahan luruh menjadi butiran debu gelap, meninggalkan kulit yang pucat dan gemetar.
"Rina... status integritas struktur," bisik Yuuichi melalui mik di kerah jaketnya yang robek.
"Integritas Sektor B: 38%. Kebocoran termal terdeteksi di ventilasi luar. Aku sudah menutup jalur utama, tapi kita butuh perbaikan manual dalam dua jam atau suhu di barak pengungsi akan mencapai titik beku."
Takeshi dan para siswa lainnya berdiri di ambang pintu Sektor C, menatap medan pertempuran dengan mata yang terbelalak. Mereka melihat patung es hitam Vane yang hancur menjadi serpihan, dan mereka melihat Yuuichi—sosok yang tadi mereka kutuk sebagai tiran—kini terbaring lemah demi melindungi mereka. Rasa bersalah yang pekat menyelimuti hati Takeshi.
"Shiro..." Takeshi melangkah maju, tangannya yang melepuh gemetar. Ia tidak lagi melihat Yuuichi sebagai musuh. "Apa yang bisa kami lakukan? Katakan pada kami apa yang harus kami perbuat."
Yuuichi membuka matanya yang merah, menatap Takeshi dengan sisa-sisa wibawanya. "Ambil peralatan las di gudang bawah. Bantu Akari menutup retakan di dinding luar. Jika udara luar masuk, kalian semua akan mati beku sebelum fajar. Lakukan sekarang."
Tanpa membantah, Takeshi mengangguk mantap. "Ayo semuanya! Jangan hanya berdiri di sana! Ambil alat-alatnya! Kita punya bunker yang harus diperbaiki!"
Melihat para siswa mulai bergerak dengan inisiatif sendiri, Yuuichi memejamkan matanya kembali. Namun, rasa sakit yang berbeda mulai merayap dari ulu hatinya menuju tengkuk. Rasanya panas, kontras dengan energi esnya, seolah-olah ada sesuatu yang sedang menggali di dalam aliran darahnya.
"Peringatan Medis: Deteksi Benda Asing Biologis. Serum yang digunakan Kapten Vane mengandung 'Mikro-Pelacak Organik' yang berpindah saat kontak fisik langsung. Benda ini sekarang berada di arteri subklavia kiri Kakak."
"Apa... itu?" batin Yuuichi, giginya bergeletuk.
"Pelacak ini mengirimkan sinyal denyut jantungmu langsung ke satelit Chimera. Jika tidak diangkat dalam 30 menit, Kagawa akan memiliki koordinat lokasimu dengan akurasi 1 meter."
Elisa Amagi berlari mendekat, wajah penelitinya tampak sangat serius. Ia segera berlutut di samping Yuuichi dan menempelkan alat pemindai portabel ke lehernya. Layar alat itu menunjukkan titik merah kecil yang berdenyut di dekat jantung Yuuichi.
"Sialan... Kagawa menggunakan protokol 'Lintah'," desis Elisa. Ia menoleh ke arah Chika Kudou yang baru saja tiba dengan kotak bedah darurat. "Chika-sensei, kita harus melakukan pembedahan sekarang juga. Di sini. Di tengah reruntuhan ini. Kita tidak punya waktu untuk membawanya ke Lab."
Chika memucat. "Pembedahan? Tapi lingkungannya tidak steril, dan Yuuichi-kun sedang dalam kondisi deplesi energi! Jika aku membedahnya sekarang, shock termal bisa menghentikan jantungnya!"
"Jika tidak dilakukan, seluruh bunker ini akan dihujani rudal dalam hitungan menit!" Elisa membentak, matanya yang ungu berkilat penuh tekad. "Aku akan memandu jalur pembuluh darahnya, kau yang melakukan penyayatan. Sakura! Pegang tubuhnya agar tidak bergerak. Ini akan sangat menyakitkan karena kita tidak bisa menggunakan bius kimia—biusnya akan merusak sirkuit energi sistemnya."
Sakura memeluk tubuh Yuuichi lebih erat, air mata menetes di pipinya. "Yuuichi-kun... bertahanlah. Tolong, bertahanlah."
Yuuichi merasakan tangan dingin Chika mulai mengoleskan cairan antiseptik di dada kirinya. Ia bisa merasakan ujung pisau bedah yang tajam menyentuh kulitnya.
"Pesan Sistem: Memulai Mode Penahan Rasa Sakit Pasif. Efektivitas: 40%. Kakak, kau harus tetap sadar selama proses ini agar energi esmu tidak membekukan alat bedah Chika."
"Lakukan... saja," bisik Yuuichi, tangannya mencengkeram lantai beton hingga retak.
Di tengah kesunyian Sektor B yang hancur, dengan suara desis pengelasan dari para siswa di kejauhan, operasi hidup dan mati itu dimulai. Chika memulai sayatan pertamanya, dan Yuuichi mengeluarkan raungan tertahan yang membuat seluruh ruangan terasa membeku seketika.