Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~11
Sore itu setelah melaksanakan sholat ashar Marni segera membantu Firman membungkus bingkisan ramadhan yang akan dibagikan kepada orang yang membutuhkan di kampungnya, seperti seliter minyak, satu kilo gula, telur, dan mie instan tak lupa juga sirup maupun kue kaleng bersama para remaja mushola lainnya.
"Ini semua hasil donasi atau uang pribadi mas Firman?" ucapnya ditengah pekerjaannya itu.
Firman yang juga nampak sibuk langsung terseyum tipis menatapnya. "Untuk sementara uang pribadi Marni kebetulan ini tabungan dari hasil bisnis yang ku kumpulkan selama setahun karena bagaimana pun dibalik uang yang kita dapatkan itu ada hak orang lain disana bukan? " sahut pria itu yang terus memasukkan satu persatu barang-barang tersebut ke dalam bungkusnya.
Marni mengangguk kecil dan diam-diam mengagumi pria itu, Firman dan keluarga besarnya memang terkenal sangat dermawan di kampungnya bahkan jalan-jalan di desanya bagus juga di bangun dengan uang mereka pribadi karena jika menunggu dari pusat maka tidak akan terealisasi karena banyaknya birokrasi yang rumit belum lagi tingkat korupsi disetiap lapisan pemangku jabatan.
Dahulu daerahnya cukup tertinggal tapi kini akses internet pun mulai ada meskipun belum terlalu merata dan itu semua juga atas andil pria itu.
"Ehm, aku memang tampan Marni." Firman langsung berdehem ketika mendapati gadis dihadapannya itu diam-diam memperhatikannya.
"Apaan sih mas," Marni pun langsung tertunduk malu apalagi saat di goda oleh teman-temannya yang lain.
Maghrib pun hampir tiba dan mereka baru selesai, rencananya esok pagi setelah subuhan akan mereka bagikan kepada yang membutuhkan.
"Terima kasih ya Marni sudah membantu mas," ucap Firman ketika wanita itu hendak bersiap-siap pulang.
"Sama-sama mas kalau untuk kebaikan aku akan selalu siap kapanpun itu." sahut Marni, semoga saja dengan hal kecil yang ia lakukan mampu menghapus sedikit dosa-dosanya yang entah berapa banyak.
Firman tersenyum menatapnya. "Mas masih berharap kamu memikirkan ucapan mas waktu itu karena mas benar-benar serius Marni," ucapnya kemudian.
Marni pun menatapnya sedikit lebih lama, ingin rasanya ia mengatakan 'ya mas aku mau' tapi lidahnya begitu keluh ketika sekali lagi ia mengingat jika ia telah kotor. Ia tidak pantas untuk pria berhati baik seperti pria itu karena bagaimana pun aibnya sebagai seorang LC akan mencoreng nama baiknya.
"Bukankah mas sudah di jodohkan ya?" ucapnya pada akhirnya, bukannya ingin memberikan harapan hanya saja ia ingin mengingatkan pria itu jika diluar sana masih banyak wanita yang jauh lebih baik darinya.
"Tahu dari mana tentang hal itu Marni?" Firman langsung mengernyit, rupanya gosip cepat sekali beredar mengalahkan kecepatan signal 5G yang rencananya akan ia bangun towernya di kampungnya suatu saat nanti ketika modalnya sudah cukup.
"Sepertinya sudah menjadi rahasia umum disini mas," sahut Marni dengan senyumnya yang belum menyurut meskipun sudut hatinya mulai perih jika itu benar terjadi.
"Apapun yang terjadi dalam hidupku itu sepenuhnya menjadi keputusanku pribadi Marni meskipun aku tak menampik harus mendengarkan pendapat orang lain terutama keluarga besarku abi dan ummi tapi keputusan tetap ada di tanganku." terang Firman seolah-olah sedang menegaskan agar wanita di hadapannya itu tidak merasa khawatir.
Marni nampak menghela napasnya pelan, Firman sosok pria yang hampir sempurna untuk dijadikan suami bagi wanita mana pun dan ia yakin menikah dengan pria itu adalah impian semua gadis termasuk dirinya.
"Maaf mas, sudah mau maghrib aku pulang dulu ya." ucapnya pada akhirnya.
"Assalamu'alaikum,"
Marni pun bergegas pergi dari hadapan pria itu dan itu membuat Firman lagi-lagi kecewa dibuatnya. "Siapa pria itu Marni hingga membuatmu menolak keseriusanku?" gumamnya ingin tahu.
"Wa'alaikumsalam," sahutnya pelan dan mungkin tak terdengar oleh gadis yang telah jauh berlalu pergi itu.
Kemudian pria itu pun segera masuk ke dalam mushola kembali untuk menunggu waktunya datang maghrib sekalian ia akan mengumandangkan adzan yang sebentar lagi akan datang.
"Bagaimana nduk apa sudah selesai?" ucap ibunya Marni ketika anak gadisnya itu baru datang, wanita itu terlihat sibuk dengan gorengan diatas wajan namun begitu bibirnya tetap tersenyum ketika melihat putrinya itu.
"Sudah bu, besok pagi tinggal dibagikan." sahut Marni seraya membantu ibunya membawa hidangan berbuka yang telah dimasak oleh wanita itu sebelumnya.
"Maaf ya bu tidak bisa membantu membuat ini semua," Marni menatap sepanci kecil sayur asam, sepiring tempe goreng, ikan dan juga sambal serta kerupuk untuk dihidangkan sebagai menu berbuka puasa keluarga mereka.
"Tidak apa-apa nduk, ngomong-ngomong jika ibu perhatikan sepertinya nak Firman menyukaimu nduk." ucap sang ibu hingga membuat Marni yang baru meletakkan piringnya diatas meja langsung menatap ibunya itu, apa seterang itu Firman dalam mendekatinya hingga ibunya pun menaruh curiga?
"Itu tidak mungkin bu, Marni siapa sih bu tidak pantas bersanding dengan keluarga kaya seperti anak pak lurah." elak Marni karena ia tidak ingin ibunya semakin berharap hal yang tidak mungkin terjadi, biarlah perasaannya dan perasaan Firman hanya Allah yang tahu akan dibawa kemana kelak, jika memang tak dapat bersama mungkin itu akan menjadi kenangan terindahnya kalau ia pernah jatuh hati pada sosok pria yang hampir sempurna itu.
"Mungkin perasaan ibu saja nduk karena dia rela datang kesini untuk mengajakmu membantunya," tukas sang ibu mengeluarkan isi hatinya.
"Tidak hanya Marni kok bu masih banyak remaja kampung ini yang membantu mas Firman," sahut Marni kembali menyanggah kecurigaan sang ibu.
Wanita berusia 40 tahun itu pun mengangguk kecil meskipun raut kekecewaan jelas terukir di wajahnya karena harapannya memiliki besan pak lurah gagal.
"Jangan terlalu banyak berhayal bu." ucap ayahnya Marni tiba-tiba yang baru bergabung, sepertinya baru selesai mandi karena aroma sabun menguar di hidung Marni.
"Mbok ya sadar diri kita ini siapa, karena pernikahan itu sejatinya tidak hanya dua orang saja tapi juga dua keluarga besar menjadi satu, bapak tidak mau jika dipaksakan Marni akan merasa kecil disana karena status yang berbeda dan merasa tidak bahagia." imbuh sang ayah lagi dengan legowo.
Marni tersenyum menatap ayahnya, sejak dahulu ayahnya memang selalu adem pembawaannya berbeda dengan ibunya yang terkadang gampang berapi-api. Jodoh memang unik dan ia yakin dibalik ini semua Allah sedang menyiapkan jodoh yang terbaik untuknya, seorang pria yang mau menerima kekurangannya tanpa rasa malu dan jika pun tidak ada mungkin sendiri lebih baik. Toh diluar sana juga tingkat perceraian sangat tinggi karena mendapatkan jodoh yang salah jadi lebih baik terlambat atau tidak sama sekali toh menjadi perawan tua juga bukan suatu hal yang memalukan baginya.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu