Dia amanah yang harus dijaga, sekaligus godaan neraka!.
12 tahun yang lalu sebuah insiden kecelakaan yang merenggut nyawa sepasang suami istri , namun sebelum kepergian nya presiden direktur menitipkan putrinya sekaligus semua harta warisan untuk nya pada Hans yang berstatus sebagai asisten pribadi .
Sebagai balas budi Hans menerima tanggungjawab itu mengingat jasa Pak Bobby yang sudah membesarkan dan menyekolahkan nya hingga bisa seperti sekarang.
" Iya Pak, Saya akan menjaga dan Melindungi Ayra seperti bapak menjaga nya " ucap Hans ketika Pak Bobby menggenggam tangan nya dengan nafas tersengal.
" Sa, sayangi , dia , " pesan terakhirnya presiden direktur mengelus kepala putri kecilnya yang sudah menangis sesenggukan memeluk nya sementara sang ibu sudah pergi lebih dulu .
" Papa" teriak Ayra ketika Papa nya juga pergi meninggalkan nya .
" Tenang kamu masih punya Om " ucap Hans memeluk gadis kecil itu.
Tapi bagaimana jika gairah Hans muncul disaat gadis itu menginjak dewasa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mul_yaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 Salah paham
" Aku heran sama Om akhir-akhir ini selalu aja marah, suruh aku pake jaket tapi Om aja pakai baju kancing bagian atas nya dilepas " ucap Ayra .
Hans menunduk kebawah menatap kancing kemeja yang sebelumnya memang sengaja tidak dia pasang di bagian atas .
" Ohhh, itu Hans mau pamer dada sixpack Ay" kata Dave yang malah mengompori Ayra .
" Dihhh, gigolo aja nggak sampai segitunya promosi padahal mau jual diri " kata Ayra mendelik menatap Hans dengan tatapan tajam .
" Akkkkh," pekik Ayra ketika Hans menarik telinga nya .
" bicara yang sopan berani banget kamu samain Om dengan Gigolo" kesal Hans.
" Tapi kata Om Dave tadi ka,".
" Ayra, kamu seperti tidak mengenal Om saja , Om melepas kancing bagian atas hanya kerena gerah , lagian untuk apa juga Om pamer nggak ada guna nya " pernyataan Hans yang membuat Ayra terdiam .
" Yaudah , kalau gitu tutup jangan dibuka lagi nanti orang melihat " kata Ayra berjinjit membantu mengancingkan kemeja Hans di hadapan semua orang .
Dave mengangkat sebelah alisnya dengan senyum meledek melihat gairah Hans yang benar-benar terlihat begitu Ayra berada dekat dengan nya .
" Kalau pake kemeja itu di kancing sampai atas , nanti Tante Vallen cemburu lagi karena tubuh Om dilihat wanita lain " ucap Ayra a.
" Aku sudah putus dengan nya" ucap Hans yang membuat Ayra terkejut.
" Loh, kenapa?" kaget Ayra .
" Aku tidak cocok dengan nya " jawab Hans singkat lalu berjalan duluan .
" Om Dave , kenapa Om Hans putus sama tante Vallen?" tanya Ayra yang penasaran namun Dave hanya mengangkat bahu pertanda tidak tau .
" Ayo, nanti kita ditinggal Hans" kata Dave mengajak Ayra lebih cepat .
Sesampai didalam mobil , Ayra yang awalnya duduk didepan kini berpindah ke depan antara Hans yang sedang menyetir dan Dave yang duduk disamping kemudi.
" Ayra mengapa duduk disitu ?" tanya Hans melihat Ayra yang duduk tidak dikursi mobil .
" Aku mau duduk disebelah Om" kata Ayra menyandarkan kepalanya di lengan Hans yang akan menyetir .
" Dave mengalah, pindah kebelakang" kata Hans yang tidak ingin membahayakan Ayra karena duduk tidak di tempat yang seharusnya.
" Tidak om, aku mau disini " kata Ayra mengambil bantal lalu menaruhnya diatas tempat tisu dan duduk disana dengan nyaman .
" Kamu beneran bandel ya " ketus Hans menatap Ayra yang berada tepat disebelahnya.
" Ayo jalan Om " ucap Ayra yang membuat Hans bernafas berat .
" Om Dave ayo karoke " kata Ayra menyetel lagu dan bernyanyi berdua sampai Hans muak mendengar suara mereka yang tidak enaknya untuk di dengar .
" Lohhh kok dimatikan Om?" rengek Ayra ketika Hans mematikan musik nya .
" Kalian berdua karoke di club saja nanti jangan disini aku pusing mendengar suara kalian berdua " ketus Hans .
" Suara kami merdu banget ya, sampai Om mual " tawa Ayra menampar lengan Dave yang terkekeh .
" Kalian tau radio lama?" pertanyaan Hans yang diangguki mereka berdua .
" Seperti itu suara kalian " ucap Hans dengan jahat nya .
" Kurang ajar " kata mereka berdua jadi sakit hati, suara mereka memang tidak terlalu bagus tapi tidak disamakan dengan radio lama juga .
Sesampai di club , Ayra berjalan di tengah antara Dave dan Hans yang sudah layaknya tameng tak tertembus hingga tidak ada pria yang berani menatap apalagi menyentuh .
" Hans aku ada urusan sebentar, nanti aku balik lagi " kata Dave dengan senyum simpulnya dan segera pergi meninggalkan mereka berdua .
" Baiklah, nanti temui kami diruang VIP nomor * " kata Hans menyebutkan ruangan yang sudah dipesan bodyguard nya
" Om , mau kemana?" panggil Ayra tapi Dave hanya menunjuk kearah kiri lalu hilang di tengah keramaian.
" Ayo " kata Hans berjalan duluan .
" Om, mengapa kita masuk keruang VIP bukannya disini lebih enak ? Kan rame " ucap Ayra sedikit berlari lalu memeluk sebelah tangan Hans .
" Katanya kamu pengen karoke dan berjoget, diruang VIP kamu bisa lakukan sepuasnya" ucap Hans mengajak Ayra .
" Boleh minum juga ?" tanya Ayra dengan senyum nakal nya .
" Om getok ya kepala kamu nanti, jangan nakal" ketus Hans yang cuek-cuek begitu sangat menyayangi Ayra , tidak ingin Ayra sampai sakit .
" Wahhhh, boleh joget disini sepuas nya om " kata Ayra terpesona melihat ruangan yang Hans pesan layaknya club' mini dengan peralatan disko lengkap.
" Mmmm, nikmati lah " ucap Hans duduk disofa menatap Ayra yang sangat excited dan bahagia .
Ayra menyalakan musik dan mulai karaoke seperti hobi nya sementara Hans duduk menikmati wine sambil menatap gadis kesayangan nya tengah berjoget mengikuti alunan musik .
" Ay, ay" geleng kepala Hans memandang Ayra yang berjoget bar-bar sambil terus bernyanyi, gadis itu sangat lucu dan ceria .
Hans jadi membayangkan sebahagia apa dia kalau menikah dengan Ayra.
" Akkkkh, Om " pekik Ayra menyadarkan Hans dari lamunan nya .
" Ada apa Ay" kaget Hans .
" Kaki aku terkilir Om " tangis Ayra .
" Astaga , makanya jangan terlalu semangat joget nya " ucap Hans mengangkat Ayra dan mendudukkan nya disofa .
" Sini , Om pijit ya " ucap Hans menaikkan kedua kaki Ayra agar duduk dengan tenang .
" Akhhhh, sakit Om, pelan-pelan" rengek Ayra yang merasa ngilu .
..........
Dave yang sudah selesai dengan urusan nya akan masuk kedalam ruangan yang tadi dikatakan Hans dan ternyata pintunya terbuka sedikit .
" Om, pelan-pelan, sakit " rengek Ayra .
" Iya , ini udah pelan-pelan cantik " kata Hans dengan lembut .
" Aaaaa, sakit , Om jangan remas, elus-elus aja" ucap Ayra semakin keras rengekan nya .
" Ya gimana bisa masuk kalau cuma dielus " ucap Hans yang melihat sepertinya tulang kaki Ayra sedikit bergeser karena keseleo .
" Aaaa, Om , Om jangan , sakit "
Dave yang masih berdiri diluar semakin resah mendengar percakapan mereka dan juga bingung harus masuk untuk menghentikan Hans atau justru berdiri saja diluar demi menjaga mata nya .
" Ayo cepat, tahan , tahan sebentar aja , nanti udah enakan, nggak bakalan sakit percaya sama Om " ucap Hans membujuk Ayra .
" Enggak, sakit, ini pertama kali aku begini, sakit , banget Om " tangis Ayra .
" Tahan , sebentar saja " kata Hans .
" Akkkkh"
" Hans jangan gila ,kau apakan dia " teriak Dave segera masuk tidak ingin terlambat hingga semuanya terlanjur terjadi .
Ayra dan Hans sama-sama terdiam melihat Dave yang datang mendobrak dan marah .
" Aku memijit kaki Ayra , keseleo " jawab Hans menatap Dave dengan tatapan bingung karena sahabatnya itu baru masuk sudah marah-marah.
" Ke, ke, keseleo?" pertanyaan Dave sedikit tergagap .
" Iya, Om, gara-gara joget " cemberut Ayra yang masih merasakan sakitnya.
Demi tuhan mendengar percakapan mereka barusan Dave berpikir sesuatu yang tidak diinginkan sedang terjadi karena itu dia mencegah nya .
" Lalu kenapa percakapan kalian sampai segitunya, menghilangkan fokus ku saja " kesal Dave duduk disofa dan meneguk segelas minuman diatas meja .
yg dijodohkan dgn Ayra dah nongol, gmn tuh tindakan Hans selanjutnya ya
Ayra gak sengaja dengerin gak ya saat Hans ngomong mencintainya, mungkin dengerin dan sikapnya berubah 🤔