Song An, karyawan kantoran abad ke-21 yang meninggal karena lembur tanpa henti, terbangun di tubuh seorang selir bayangan di istana Kekaisaran statusnya setara hiasan, namanya bahkan tak tercatat resmi. Tak punya ambisi kekuasaan, Song An hanya ingin hidup tenang, makan cukup, dan tidak terseret drama istana.
Namun logika modernnya justru membuatnya sering melanggar aturan tanpa sengaja: menolak berlutut lama karena pegal, bicara terlalu santai, bahkan bercanda dengan Kaisar Shen yang terkenal dingin dan sulit didekati. Bukannya dihukum, sang kaisar malah merasa terhibur oleh kejujuran dan sikap polos Song An.
Di tengah kehidupan istana yang biasanya penuh kepura-puraan, Song An menjadi satu-satunya orang yang tidak menginginkan apa pun dari kaisar. Tanpa sadar, sikap santainya perlahan mengubah hati Kaisar Shen dan arah takdir istana dengan cara yang lucu, manis, dan tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 Gema yang Sampai ke Luar Istana
Angin musim semi membawa aroma tanah basah ke seluruh penjuru ibu kota.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, kota terasa ringan.
Tidak ada desas-desus penangkapan mendadak.
Tidak ada kabar pengkhianatan.
Tidak ada ketakutan tak terlihat yang biasa bersembunyi di balik dinding istana.
Orang-orang mulai berbicara tentang hal lain.
Panen.
Pasar malam.
Festival lentera yang sebentar lagi tiba.
Dan dari jendela paviliunnya, Song An melihat semua itu dengan perasaan yang sulit dijelaskan.
“Dunia luar tetap berjalan,” gumamnya pelan.
Mei yang sedang menyisir rambutnya tersenyum. “Dunia memang tidak pernah berhenti, Nona… eh… Yang Mulia… eh…”
Song An menoleh. “Kau juga bingung harus panggil aku apa, ya?”
Mei langsung menunduk gugup. “Hamba takut salah sebut.”
Song An terkekeh. “Panggil saja Song An. Sampai upacara resmi nanti, aku masih orang yang sama.”
Mei tersenyum lega.
“Tapi,” lanjut Song An sambil menatap cermin perunggu,
“rasanya aneh juga ya. Dulu aku tidak dianggap ada. Sekarang semua orang tiba-tiba menunduk dalam-dalam setiap melihatku.”
Mei berkata pelan, “Karena sekarang mereka tahu siapa yang berdiri di samping Kaisar.”
Song An terdiam sebentar. “Aku harap suatu hari mereka menunduk bukan karena takut… tapi karena percaya,” katanya pelan.
----
Siang itu, Kaisar Shen mengundang beberapa pejabat wilayah untuk melapor langsung.
Biasanya laporan hanya lewat gulungan kertas. Tapi kali ini, ia ingin mendengar sendiri.
Song An duduk di sisi ruangan, tidak mencampuri, hanya mendengar.
Seorang pejabat dari wilayah barat berbicara, “Setelah pajak darurat dicabut, rakyat mulai memperbaiki rumah mereka, Yang Mulia.”
Pejabat lain menambahkan,“Pasar kembali ramai. Pedagang dari selatan berani datang lagi.”
Kaisar mengangguk pelan. “Bagaimana dengan keluarga prajurit yang gugur saat konflik dalam negeri kemarin?”
“Kami sudah mulai menyalurkan bantuan gandum, tapi masih kurang.” sambung lainya
Sebelum Kaisar menjawab, Song An angkat suara pelan,
“Bagaimana jika keluarga itu diberi prioritas untuk mengelola lahan kosong milik negara? Mereka dapat penghasilan jangka panjang, bukan hanya bantuan sesaat.” saran Song An
Ruangan sedikit sunyi dan beberapa pejabat saling pandang sedangkan kaisar menoleh padanya, lalu tersenyum tipis. “Ide yang baik.”
Ia kembali pada para pejabat. “Laksanakan. Tanah yang tidak dipakai di wilayah kalian, utamakan untuk keluarga prajurit.”
Para pejabat serentak memberi hormat.
Saat mereka pergi, Kaisar melirik Song An. “Kau semakin sering ikut campur urusan negara.”
Song An mengangkat bahu. “Aku sudah terlanjur setengah masuk. Sayang kalau cuma berdiri cantik.”
Kaisar tertawa pelan. “Istana belum pernah punya permaisuri yang berbicara soal lahan pertanian di rapat pertama.”
“Bagus,” jawab Song An cepat. “Berarti ada variasi.”
-----
Sore harinya, seorang utusan datang membawa dua surat.
Tulisan tangan di sampulnya membuat jantung Song An hangat seketika.
“Dari mereka?” tanya Kaisar yang kebetulan ada di sana.
Song An mengangguk cepat dan membuka yang pertama.
Tulisan Selir Li masih rapi seperti dulu.
"Kami sudah sampai di tanah yang diberikan. Kecil, tapi cukup untuk memulai hidup baru. Ia membangun rumah kayu sendiri. Tangannya lecet semua, tapi dia tersenyum terus seperti orang bodoh bahagia…"
Song An tertawa kecil sambil membaca.
Surat kedua dari Selir Zhang.
"Toko kain kami belum besar, tapi pelanggan pertama sudah datang! Aku menjahit sampai larut malam, dan untuk pertama kalinya, lelahku terasa milikku sendiri…"
Mata Song An sedikit berkaca-kaca.
“Mereka baik-baik saja,” katanya pelan.
Kaisar ikut tersenyum lega. “Bagus.”
Song An menatap langit jingga di luar jendela.“Akhirnya mereka hidup sebagai diri mereka sendiri.”
Lalu ia menoleh pada Kaisar.“Terima kasih.”
Kaisar menggeleng pelan. “Mereka pantas mendapatkannya. Dan kau yang mengingatkanku bahwa mereka manusia, bukan sekadar posisi.”
Song An tersenyum kecil. “Kalau begitu, kita impas.”
-----
Hari-hari berikutnya diisi perubahan yang dulu terasa mustahil.
Beberapa paviliun selir yang kosong diubah menjadi, ruang belajar untuk anak-anak pejabat rendah, ruang kerja bagi janda prajurit yang ingin menjahit dan juga perpustakaan kecil terbuka untuk pelayan istana
Para pelayan awalnya tidak percaya.“Benarkah kami boleh belajar membaca di sini?”
“Benarkah ini bukan jebakan aturan baru?”
Song An sendiri datang melihat salah satu ruangan yang diubah jadi tempat belajar.
Seorang gadis pelayan kecil berdiri kaku saat melihatnya.“Yang Mulia, maaf kalau kami berisik....”
Song An melambaikan tangan. “Kalau belajar harus berisik sedikit. Kalau terlalu sunyi malah mencurigakan.”
Anak-anak itu menatapnya dengan mata berbinar.
Untuk pertama kalinya, istana bukan hanya tempat kekuasaan tapi mulai terasa seperti tempat orang bisa tumbuh.
Keraguan yang Diam-Diam Datang
Meski perubahan berjalan baik, tidak semua orang langsung senang.
Beberapa bangsawan tua mulai berbisik.“Perempuan terlalu ikut campur urusan negara.”
“Tradisi lama dibuang begitu saja.”
Kabar itu sampai juga ke telinga Song An.
Ia sedang duduk sendirian sore itu ketika Kaisar datang.
“Kau dengar?” tanyanya.
Song An mengangguk. “Kalau tidak ada yang mengeluh, berarti kita tidak benar-benar mengubah apa pun.”
Kaisar menatapnya lama. “Kau tidak takut dibenci?”
Song An berpikir sebentar.“Dulu aku takut tidak dianggap ada,” katanya pelan. “Sekarang… kalau harus dibenci sedikit demi hal yang benar, sepertinya masih lebih baik.”
Kaisar tersenyum tipis, campuran kagum dan lembut.
“Kau benar-benar bukan selir istana biasa.”
Song An menyeringai. “Untungnya Yang Mulia juga bukan kaisar biasa. Kalau tidak, kita sudah bertengkar tiap hari.”
Malam itu mereka kembali duduk di balkon, lampu-lampu kota berkelip seperti bintang jatuh yang tersesat ke bumi.
“Aku sering berpikir,” kata Kaisar pelan,“bagaimana hidupku kalau semua ini tidak terjadi.”
“Pasti lebih membosankan,” jawab Song An cepat.
Kaisar tertawa pelan. “Mungkin benar.” Ia lalu menatapnya lebih serius.“Terima kasih sudah tetap tinggal.”
Song An menatap balik. “Aku tidak tinggal untukmu saja.”
Kaisar mengangkat alis.
“Aku tinggal untuk negeri ini juga,” lanjut Song An. “Kalau aku pergi, nanti siapa yang memastikan kau tidak kembali jadi kaisar keras kepala?”
Kaisar pura-pura tersinggung. “Aku tidak pernah keras kepala.”
Song An menatapnya datar. “…Baiklah, kadang-kadang,” tambahnya cepat.
Mereka tertawa bersama, suara mereka hanyut bersama angin malam.
Di bawah langit yang bersih tanpa asap perang,
di istana yang perlahan berubah dari sangkar menjadi rumah,
dua orang yang dulu sama-sama sendirian kini duduk berdampingan,
bukan karena takdir memaksa tapi karena mereka memilih untuk tetap tinggal.
Dan untuk pertama kalinya, masa depan tidak terasa seperti beban
Ia terasa seperti sesuatu yang bisa dibangun… pelan-pelan, bersama.
Bersambung
kalau begini kapan babby launching nya.....