-Dark Romance
-Bukan untuk anak-anak.
-Adegan kekerasan dan darah.
Sherly gadis berusia 21 tahun, yang mengalami kematian setelah tertabrak mobil. Kini jiwanya justru memasuki sebuah novel, dan masuk ke dalam raga dari sang tokoh utama yang memiliki nama depan sama sepertinya.
Sherly Agda Yeremia, tokoh utama perempuan bodoh dan lemah yang tidak pernah dianggap, bahkan diselingkuhi beberapa kali oleh Vincent suaminya.
Tapi dengan jiwa baru, semua cerita berubah. Sherly yang baru tidak peduli dan mengabaikan Vincent. Bahkan Sherly memilih untuk melindungi, Jeremy Christ Chadwick, tokoh antagonis favoritnya yang akan mati pada akhir cerita.
Di balik wajah tampan penuh pesona, Sherly tidak pernah menduga jika Jeremy memiliki sisi gelap dan obsesi tersembunyi pada tokoh utama.
“Setelah ini, kau tidak akan bisa lari dariku, Sherly sayang~ Kau adalah milikku, tidak peduli jika kau sudah memiliki suami.”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agnes Fetrika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30 : Jangan sentuh wanitaku !!
Entah sudah berapa kali, Sherly berusaha mengeluarkan sesuatu dari perutnya. Pagi ini Sherly terbangun dengan rasa mual, dan dia berlari ke arah wastafel dan mencoba mengeluarkan isi perutnya, meskipun tidak ada yang keluar, karena dirinya baru saja bangun tidur.
“Masih mual ??” Tanya sosok lelaki di belakangnya.
Sherly tidak sendiri, Jeremy kemudian mendatanginya, dan memijat leher belakangnya, juga menyalakan keran air.
Sherly menggelengkan kepalanya, dengan tangannya Jeremy kemudian mengelap bibir Sherly dengan air keran yang mengalir, lalu mematikan kerannya. Jeremy kemudian menggendong Sherly ala bridal, dan kemudian berjalan keluar, dan mengarah pada tempat tidur.
Jeremy menaruh Sherly di atas kasur secara perlahan, saat melihat wanita di depannya begitu lemah.
“Aku akan memanggil dokter kesini, kamu tunggu bentar ya.”
“Ba.. Bagaimana dengan pekerjaanmu ??” Sherly terlihat sedikit khawatir dengan perusahaan milik Jeremy, dia takut akan merepotkan lelaki itu. Apalagi hari ini jadwal Jeremy cukup padat.
“Aku bosnya Sherly, aku bisa datang setelah jam makan siang nanti, untuk saat ini aku akan memanggil dokter dulu kesini, dan menjagamu.” Ujar Jeremy tersenyum ke arah Sherly.
“Maafkan aku, merepotkanmu.”
“Sayang~ Jangan pernah berpikir jika kau merepotkanku, karena sekarang kau adalah tanggung jawabku.” Ujar Jeremy menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Sherly.
“Aku telepon dokter dulu ya..” Ujar Jeremy menarik tangannya, dan berpamitan kepada Sherly, wanita itu mengangguk dengan lemah.
Jeremy meraih handphonenya dari meja nakas, dan kemudian keluar dari kamar untuk menelpon seseorang. Sementara Sherly hanya bisa memegang kepalanya, terasa sedikit pusing tapi beruntung dia sudah tidak merasa mual.
Beberapa menit kemudian..
“Ah, maafkan aku, apa aku terlambat ??” Ujar seorang lelaki dengan jas dokter masuk ke dalam kamar, Sherly mengenalnya, dia adalah Rachel, dokter yang memeriksanya setelah mengalami kekerasan fisik dari Vincent.
Jeremy yang duduk di pinggir kasur tepatnya di sebelah kanan Sherly, sambil memegang tangan wanitanya yang masih berbaring dengan lemah, Rachel mendatangi mereka ke sisi sebelah kiri Sherly.
“Tidak, kau datang tepat waktu.” Ujar Sherly dengan lemah, Rachel duduk di kasur, dan mulai mengeluarkan perlengkapannya seperti stetoskop dan memasang di lehernya.
“Baguslah.. Dugaanku, jika ini ada kaitannya dengan kehamilanmu, bisa jadi tanda-tandanya. Tapi aku tetap akan memeriksamu.” Ujar Rachel mengangkat bagian ujung stetoskopnya, dan mulai mengarahkannya pada Sherly.
Plak !!
“Awh.. Hey !!” Rachel mengelus tangannya yang di pukul oleh Jeremy dengan kasar.
Sherly menoleh ke arah kanan dan melihat Jeremy yang memberikan tatapan tidak suka dan kesal ke arah Rachel. Sementara sang dokter menatap tajam ke arah Jeremy, sambil mengibas pelan tangannya yang dipukul oleh Jeremy.
“Ada apa denganmu ?!”
“Jangan menyentuh wanitaku !” Ujar Jeremy dengan dingin, membuat Rachel menghela nafasnya dengan kasar.
“Bagaimana aku bisa memeriksanya, jika aku tidak boleh menyentuhnya ?!” Ujar Rachel dengan kesal, Jeremy menghela nafasnya berat. Sebenarnya bukan itu masalah utamanya, tapi memakai stetoskop itu artinya Rachel akan mengarahkan benda itu ke arah dada Sherly. Itulah yang menjadi masalah utamanya.
Kenapa harus di bagian yang sangat disukai oleh Jeremy, tentu saja lelaki itu tidak terima dan merasa cemburu.
“Tidak bisakah, kau mendengarkan detak jantungnya melalui tangan ?? Haruskah di bagian itu ??” Ujar Jeremy dengan nada tidak suka, Rachel menepuk keningnya, yang benar saja. Rachel mau mendengarkan detak jantung, bukan denyut nadinya ?!
“Remy.. Sudahlah, tidak apa..” Ujar Sherly dengan lembut, wanita itu bahkan membelai tangan Jeremy, seakan mencoba menenangkan kekasihnya itu. Rachel bisa melihat ekspresi Jeremy yang sedikit berubah, setelah Sherly berbicara kepadanya. Dan itu membuat Rachel sedikit terkejut dengan perubahan ekspresi sahabatnya.
“Ya sudah, lima detik !! Setelah itu tarik stetoskopmu dari wanitaku !!” Ujar Jeremy dengan ketus, membuat Rachel hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.
Mana bisa lima detik, yang benar saja lelaki gila itu !! Batin Rachel dengan kesal, tapi dia memilih diam saja. Dia enggan berdebat apapun untuk saat ini, terlebih Rachel tidak tega membuat Sherly yang terlihat lemah itu harus menunggu perdebatannya dengan Jeremy.
Rachel kembali mengarahkan stetoskopnya ke arah Sherly, dengan di hiasi tatapan tajam dan sinis dari Jeremy tentunya. Rachel bergerak, mencari posisi yang pas untuk menemukan detak jantung Sherly.
“Sudah lebih dari 5 detik, waktumu sudah habis !!”
“Tunggu sebentar tuan muda, hamba belum menemukan detak jantung nyonya.” Ujar Rachel membalas dengan sinis ke arah Jeremy, membuat Sherly menahan tawanya. Sementara Jeremy berdecih kesal, dan tetap setia dengan tatapan tajamnya.
“Sesuai dugaanku, rasa mual yang kau alami sepertinya efek dari kehamilanmu.” Ujar Rachel menarik kembali stetoskopnya, dan menjelaskan kepada Sherly. Wanita itu tersenyum kecil.
“Terima kasih banyak, apakah aku sudah bisa mendapatkan vitamin atau obat untuk mengurangi rasa mual ??” Tanya Sherly dengan senang.
“Untuk vitamin, aku akan memberikannya. Tapi untuk rasa mual, aku bisa memberikanmu obat anti mual yang aman untuk ibu hamil.” Ujar Rachel menjelaskan dengan ramah kepada Sherly, membuat Jeremy sedikit tidak suka, dan merasa cemburu. Apalagi Sherly malah terlihat cantik dengan senyuman itu, di hadapan Rachel.
“Cih, udah sana !! Caper banget ke calon istriku !! Tulis aja resepnya, biar aku beli sendiri nanti !!” Ujar Jeremy sedikit tidak suka dengan kedekatan Rachel dan Sherly.
Rachel memberikan tatapan datarnya pada Jeremy, “Ya Tuhan.. Aku bukan caper, tapi ini namanya ramah. Lagian apa salahnya, senyum ke pasien sendiri ?!” Ujar Rachel dengan kesal ke arah sahabatnya, tapi ya Jeremy tidak merubah ekspresinya kepada Rachel.
“Masalahnya, calon istriku ini terlalu cantik, aku takut nanti ada lelaki lain yang terpincut, melihat kecantikan calon istriku !!” Ujar Jeremy dengan ketus, sementara Sherly yang tadinya menahan tawa, justru kini menahan rasa malu. Karena Jeremy secara tidak langsung memujinya di hadapan Rachel.
“Iya juga ya.. Sherly ini cantik, baik, cara ngomongnya juga lembut, dan ramah-”
Bugh !!!
Bantal langsung terbang ke arah wajah Rachel yang memuji Sherly di depan Jeremy. Bukannya marah, Rachel menurunkan bantal itu sembari tertawa pelan, memang itu tujuannya membuat Jeremy kesal dan cemburu.
Jeremy sedari tadi mengganggu jalannya pemeriksaan Rachel, membuat sang dokter lelaki itu memiliki rencana jahil untuk bisa membuat Jeremy kesal dan semakin cemburu, benar saja. Hanya pujian kecil dari Rachel kepada Sherly membuat Jeremy bereaksi.
“Sekali lagi memuji istriku, aku akan melemparmu dengan vas bunga !!” Ujar Jeremy dengan nada dinginnya, tapi bukannya takut Rachel malah merasa geli dengan tingkah sahabatnya itu.
“Ampun, tuan besar.. Maafkan hamba.” Ujar Rachel dengan tertawa geli, membuat Jeremy semakin kesal saja, tapi ya dia menahan diri agar tidak mengamuk pada Rachel.
🌟🌟🌟🌟🌟
..