NovelToon NovelToon
Garis Tangan Nona Kedua

Garis Tangan Nona Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi / Dunia Lain / Spiritual / Time Travel / Reinkarnasi
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: ImShio

Lilian Zetiana Beatrixia. Seorang mahasiswi cantik semester 7 yang baru saja menyelesaikan proposal penelitiannya tepat pada pukul 02.00 dini hari. Ia sedang terbaring lelah di ranjangnya setelah berkutat di depan laptopnya selama 3 hari dengan beberapa piring kotor yang tak sempat ia bersihkan selama itu.

Namun bagaimana reaksinya ketika keesokan harinya ia terbangun di sebuah ruangan asing serta tubuh seorang wanita yang bahkan sama sekali tak ia kenali.

Baca setiap babnya jika penasaran, yuhuuuu

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ImShio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Meminum Obat

Keesokan harinya, udara pagi menyelimuti kediaman kecil itu dengan kabut tipis yang menggantung rendah. Cahaya matahari belum sepenuhnya menembus pepohonan di sekitar rumah, hanya menyisakan bias keemasan yang menyelinap di sela-sela daun. Embun masih menggantung di dedaunan pekarangan, berkilau lembut setiap kali tertimpa cahaya.

Wu Zetian berdiri di depan rumah dengan tangan terlipat di depan dada. Tubuhnya terasa tidak lagi terlalu berat seperti hari-hari sebelumnya. Nafasnya teratur, meski wajahnya masih tampak pucat. Tatapannya tertuju pada Ningning, yang telah bersiap dengan pakaian perjalanannya. Gadis itu mengenakan busana sederhana khas pelayan istana, namun bersih dan rapi. Seekor kuda berdiri tenang di sampingnya, sesekali menghentakkan kaki ke tanah, seolah memahami bahwa hari ini adalah hari perpisahan.

Ningning menarik napas dalam-dalam. Matanya berpindah dari Wu Zetian ke Kakek Zhou, lalu kembali lagi ke Zetian. Ada sesuatu yang tertinggal di sana, yaitu rasa berat yang tidak bisa ia sembunyikan. Senyumnya terlukis, namun jelas dipaksakan.

“Aku sebenarnya masih ingin tinggal lebih lama,” ucap Ningning pelan, suaranya nyaris menyatu dengan udara pagi. Lalu melanjutkan dengan nada lebih lirih.

“Tapi aku harus kembali ke istana. Pekerjaanku tidak bisa ditinggalkan terlalu lama.”

Wu Zetian mengangguk pelan. Ia memahami betul kalimat itu. Di dunia mana pun, ada kewajiban yang tak bisa ditawar. Ia pernah merasakannya di kehidupan sebelumnya, dan kini di kehidupan yang baru ini.

“Aku mengerti,” jawab Zetian singkat.

Ningning melangkah maju, berdiri di hadapan mereka berdua. Ia menatap Kakek Zhou, lalu Wu Zetian, seolah ingin menghafal wajah mereka dalam-dalam.

“Kakek… Zetian…”

“Aku pamit dulu. Aku akan kembali sebulan lagi.”

Ucapnya dengan tersenyum ramah.

“Aku akan merindukan kalian.”

Wu Zetian menatapnya dengan tenang. Tidak ada air mata, tidak ada ekspresi berlebihan. Namun senyum kecil yang terbit di wajahnya penuh kehangatan.

“Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Waktu sebulan akan berlalu cepat.”

Ia mengangkat tangannya, lalu menyodorkan jari kelingking ke arah Ningning.

“Kalau kau kembali nanti, aku akan memasakkanmu makanan yang super lezat.”

Nada suaranya ringan, hampir seperti anak kecil yang berjanji.

“Aku janji.”

Ningning terdiam sesaat. Matanya membulat, lalu ia tertawa kecil.

“Baiklah,” katanya sambil menautkan jari kelingking mereka. “Kau harus menepati janjimu. Kalau tidak, aku akan marah.”

Wu Zetian mengangguk ringan.

“Sepakat.”

Mereka saling tersenyum. Meski baru saling mengenal dalam waktu singkat, usia yang sebaya dan pengalaman yang terjalin membuat mereka cepat akrab seperti sahabat lama yang akhirnya bertemu kembali setelah lama terpisah.

Ningning kemudian berbalik ke arah kakeknya. Ia melangkah mendekat, lalu memeluk tubuh renta itu dengan erat.

“Kakek,” katanya lirih di dekat telinga pria tua itu. “Jaga kesehatan. Jangan lupa makan teratur. Jangan keras kepala.”

Kakek Zhou tersenyum, menepuk punggung cucunya dengan tangan yang mulai keriput.

“Kau juga,” balasnya lembut. “Jangan terlalu memaksakan diri di istana. Ingat, tidak semua beban harus kau pikul sendiri.”

Ningning mengangguk kecil, lalu melepaskan pelukan itu dengan berat hati.

Sebelum naik ke kuda, Ningning menatap Wu Zetian sekali lagi.

“Zetian,” katanya serius, “tolong jaga kakekku.”

Wu Zetian menatapnya mantap.

“Itu bukan masalah besar,” jawabnya tanpa ragu. “Aku juga sudah menganggap kakek seperti keluargaku sendiri.”

Ningning tersenyum lega. Ia naik ke atas kuda, menarik tali kendali perlahan. Tak lama kemudian, kuda itu melangkah menjauh. Sosok Ningning semakin kecil, hingga akhirnya benar-benar hilang dari pandangan, menyatu dengan jalan setapak dan pepohonan yang mengelilingi kediaman itu.

 

Wu Zetian masih berdiri di tempatnya beberapa saat, menatap arah kepergian Ningning. Angin pagi menyentuh wajahnya, membawa aroma tanah basah dan dedaunan.

Tiba-tiba matanya membelalak.

“Astagaa!”

Ia menepuk dahinya dengan telapak tangan.

“Aku lupa minum obat!”

Tanpa menunggu apa pun, ia berbalik dan berlari masuk ke dalam rumah. Langkahnya tergesa, rambutnya sedikit terurai. Dari luar, Kakek Zhou hanya menggeleng kecil sambil tersenyum samar.

“Anak itu…” gumamnya pelan.

Wu Zetian segera mengambil kantong obat yang ia simpan dengan rapi. Tangannya juga meraih akar huangqi yang kemarin ia petik di hutan. Tanpa membuang waktu, ia menyiapkan dua tungku api di dapur sederhana rumahnya.

Api dinyalakan perlahan. Kayu kering berderak, asap tipis mengepul.

Di panci pertama, ia menuangkan air bersih dan memasukkan seluruh ramuan obat yang diresepkan paman pemilik toko obat. Bau herbal yang tajam perlahan menyebar. Di panci kedua, ia hanya merebus akar huangqi. Terlihat sederhana, namun penuh khasiat.

Api menyala stabil. Suara air mendidih memenuhi dapur kecil itu, bercampur dengan aroma pahit yang menusuk hidung.

Beberapa saat kemudian, panci kedua lebih dulu matang. Wu Zetian menuangkan air rebusan huangqi ke dalam gelas besi, lalu membawanya keluar.

“Kakek,” panggilnya. “Minumlah ini. Aku harap ini bisa membuat kaki kakek lebih kuat dan berstamina”

Kakek Zhou menerima gelas itu dengan dua tangan.

“Terima kasih, Nak,” ucapnya tulus. “Kau terlalu baik pada orang tua sepertiku.”

Wu Zetian tersenyum kecil.

“Kakek jangan berkata seperti itu.”

Ia kembali ke dapur. Panci obatnya telah mendidih sempurna. Dengan hati-hati, ia mengangkatnya, menyaring ampasnya, lalu menuangkan air rebusan yang pekat ke dalam cangkir besi.

Ia membawa cangkir itu ke kamarnya dan mengunci pintu dari dalam.

"Aku tidak ingin kakek melihat ini…" gumamnya

Ia duduk di tepi ranjang, menatap cairan hitam kecokelatan di dalam cangkir.

Semoga berhasil…

Ia meneguknya.

Rasanya pahit dan membuat lidahnya mati rasa. Namun ia memaksa menelan sampai tetes terakhir.

Satu menit berlalu.

Dua menit.

Lima menit.

Tidak ada apa-apa…

"Apa obat ini tidak manjur?" Ucapnya.

Sepuluh menit kemudian, tubuhnya mulai bereaksi.

Panas merambat dari perut ke seluruh tubuhnya, seperti api yang menyebar di bawah kulit. Napasnya menjadi berat. Tenggorokannya terasa gatal, perih, seolah ada sesuatu yang ingin keluar.

Ia menunduk, memegang dadanya.

“Uhuk—!”

Batuk keras mengguncang tubuhnya. Seketika, cairan hitam pekat muncrat keluar dari mulutnya, mengotori lantai di sisi ranjang. Bau amis yang menyengat membuat perutnya kembali bergejolak.

“Uhuk ugh!”

Ia muntah lagi. Dan lagi.

Darah hitam itu kental, pekat, seolah telah lama mengendap di dalam tubuhnya. Tubuhnya gemetar hebat, keringat dingin mengucur deras dari pelipisnya.

Di luar, Kakek Zhou tidak mendengar apa pun. Pintu dan jendela kamar Zetian tertutup rapat.

Waktu berlalu tanpa ia sadari.

Dua jam kemudian, Wu Zetian tergeletak lemah di lantai, bersandar pada ranjang. Napasnya terengah, tubuhnya nyaris tak memiliki tenaga.

Ia menatap genangan darah hitam di lantai dengan pandangan kabur.

"Ini cukup menyakitkan,"

"Tapi setidaknya…"

Bibirnya terangkat tipis.

"Aku berhasil mengeluarkan sebagian besar racunnya."

"Sisanya pasti akan keluar saat aku bergerak dan berkeringat."

Karena tak tahan dengan bau menyengat, ia memaksa dirinya berdiri. Langkahnya sempoyongan saat keluar rumah, lalu berlari tertatih ke arah sumur untuk membersihkan mulutnya.

Namun Kakek Zhou yang berada di luar rumah langsung terkejut.

“Zetian?!”

Ia melihat darah hitam menodai tangan, pakaian, dan bibir gadis itu. Dengan tubuh tuanya, ia berusaha mendekat, menopang langkah Wu Zetian yang hampir jatuh.

“Apa yang terjadi?!”

Wu Zetian terengah, lalu menatapnya dengan senyum lemah.

“Tidak apa-apa, Kek,” ucapnya pelan. “Ini… reaksi tubuhku setelah minum obat dari pemilik toko obat kemarin.”

______________

Yuhuuuu~💖

Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, subscribe dan vote karya-karya Author💓

See youu~💛💛

1
Wahyuningsih
💪💪💪💪💪💪💪💪💪
Murni Dewita
double up thor
Murni Dewita
next
Murni Dewita
lanjut
Murni Dewita
👣
xiaoyu
gaaass truuss
Wahyuningsih
thor upnya dikit amat 😔😔 amat aja gk dikit 😄😄😄klau up yg buanyk thor n hrs tiap hri makacih tuk upnya thor sehat sellu thor n jga keshtn tetp 💪💪💪
Wahyuningsih
lanjut thor yg buanyk upnya thor n hrs tiap hri jgn lma2 upnya thor makacih tuk upnya thor sehat sellu n jga keshtn tetp 💪💪💪
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Siaaap kak, dan terimakasih dukungannya🥰
Sehat selalu💖
total 1 replies
Wahyuningsih
mantap thor wu zetian dpt ruang dmensi mkin sru 😄😄😄
Wahyuningsih
thor hrs kasih bnuslah ruang dimensi biar mkin seru bikin wu zetian badaz abiz
☘️🍁I'mShio🍁☘️: Hehe sabar yaa kak, nanti ada kok🤭
total 1 replies
Wahyuningsih
q mampir thor, moga2 jln critanya bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!