Di kantor, Cyan Liani (28 tahun) seorang atasan perempuan yang tegas, rapih, kaku, dan jutek. Netizen biasanya manggil pake julukan lain yang lebih variatif kayak; “Singa Ngamuk”, “Atasan Dingin” , “Ibu Galak”, dan “Perawan Tua”.
Sementara Magenta Kusuma (25 tahun) adalah anggota tim Cyan yang paling sering bikin suasana rapat jadi kacau. Pria ceroboh yang doyan ngeluarin celotehan humor, bikin seisi ruangan ketawa dan terhibur.
Hubungan mereka yang kayak dua kutub magnet itu nggak mungkin dimulai dari ketertarikan, melainkan dari kesialan-kesialan kecil yang mampir. Diskusi sering berakhir debat, sindiran dibalas sindiran, bertengkar adalah hal umum.
Kehidupan semerawut itu tambah parah ketika keluarga ngedorong Cyan ke pinggir jurang, antara dijodohkan atau memilih sendiri.
Terdesak dikejar deadline perjodohan. Cyan milih jalan yang paling nggak masuk akal. Yaitu nerima tawaran konyol Magenta yang selalu bertengkar tiap hari sama dia, untuk pura-pura jadi calon suaminya.
Cover Ilustrasi by ig rida_graphic
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
[Gue di kafe, jangan biarin siapa pun dateng.]
Pesan singkat yang ditujukan kepada Alya, sahabatnya yang sibuk mengejar deadline tugas sehari yang lalu. Cyan melangkah masuk, mendorong pintu kaca dan disambut aroma kopi yang mengalun hangat. Cahaya dari lampu-lampu gantung berwarna keemasan membuat suasana semakin hangat, meski di luar hujan tipis bergemericik candu.
Cyan butuh ketenangan, lebih tepatnya menghindar dari urusan kantor, desakan keluarga, dan Magenta.
Aneh, karena dua dari tiga masalah itu akan datang menghampirinya hari ini.
Cyan memilih meja di pojok dekat jendela yang jaraknya cukup jauh dari meja favorit Magenta di sisi berlawanan. Syukurlah, pikirnya. Kalau jaraknya terlalu dekat, pasti bocah itu akan mengganggu me time-nya dengan celetukan aneh yang meluncur begitu saja.
Ia membuka laptop, merapikan rambut panjangnya yang tergerai indah, lalu menghela napas pelan.
“Akhirnya sunyi juga,” gumam Cyan menyandarkan diri sejenak sambil memejamkan mata.
Namun, sayang sekali, seolah semesta tidak merestui. Ketenangan yang baru saja dirasa seketika sirna.
Di sisi lain kafe, Magenta baru masuk sambil mengibas rambutnya yang sedikit basah oleh gerimis. Ia tersenyum kuda, matanya menelisik sekitaran, seperti mencari seseorang yang sama. Dia udah nyiapin seribu celotehan untuk menggangu atasan cantiknya yang kaku. Ya, siapa lagi kalau bukan Cyan.
“Anjay, itu dia. Dunia sempit banget kayak daun kelor,” pungkas Magenta senang. Apa yang dia cari tidak jauh dari kafe ini.
Seakan mengetahui keberadaan lelaki itu tanpa melihat langsung, Cyan menghela napas kesal. Ia membuka mata sejenak, mendapati sosok Magenta berdiri di tengah ruangan sambil cengengesan. Magenta melambai kecil, tetapi Cyan pura-pura tidak melihat.
“Sialan, kenapa dia ada di sini juga?”
***
Cyan memesan kopi latte, sedangkan Magenta memesan Americano. Kafe itu menggunakan sistem mengambil sendiri pesanan begitu nama dipanggil. Jadi nggak mungkin ada resiko pesanan sampe ke orang yang salah.
Harusnya sih gitu ya.
Harusnya.
Cyan mengetik email, mencoba membuat harinya sesenyap mungkin. Sementara itu, Magenta sibuk mengetik laporan bulanan di meja lain, terlihat serius untuk ukuran seorang Magenta.
Hujan kian deras di luar. Satu-satunya suara yang terdengar hanyalah denting sendok, bisik percakapan pelanggan, dan musik akustik mengalun syahdu. Sampai akhirnya, suara pramusaji di kafe itu bergema, menyebut nama dan pesanan seseorang yang sudah siap.
“Latte untuk Cyan!”
“Americano untuk Magenta!”
Dua gelas diletakkan berdampingan di counter. Cyan pun berdiri untuk mengambil minumannya dan di saat yang sama, Magenta juga bangkit.
Keduanya berjalan menuju counter tanpa menyadari bahwa momen takdir, skenario semesta, dan sedikit kebodohan manusia akan mencampurkan nasib sial mereka hari ini. Ya, seakan semuanya telah direncanakan langit, pun keduanya tidak berkuasa menghindar karena takdir selalu mengikuti.
Cyan mengambil gelas dengan asal, lalu kembali ke meja. Perlu di note ya, bahwa Cyan mengambil gelas kopinya tanpa melihat terlebih dahulu. Magenta nggak ambil pusing, ia juga meraih gelas yang tersisa di sampingnya. Tapi pria yang tingginya beda 10cm itu sempat terdiam di situ menyaksikan seorang atasan yang bahkan nggak nyapa dia sama sekali.
“Woy! Gue gak dilihat apa gimana? Jangan-jangan gue jadi transparan? Anjir!” panik Magenta heran. Ia pun melangkah kembali ke mejanya dan duduk santai setelah menaruh gelas kopi.
Tiga menit kemudian, Cyan baru meneguk kopi itu karena masih terpaku pekerjaannya yang belum selesai. Seketika ia terhenyak, ekspresinya berubah getir.
“UWEK! KENAPA PAHIT BANGET?!”
Ia menatap gelas itu. Sebuah label jelas bertuliskan Americano, tanpa gula.
“Mampus,” pungkas Cyan menepuk jidatnya sendiri. Sesederhana ingin menikmati sesuatu yang manis-manis, tetapi malah disuguhkan kopi pahit yang pekat itu. Sial, semakin pahit pula harinya sekarang.
Sementara di sisi lain ruangan, Magenta meneguk kopi itu dan ....
“UWAH! INI MANIS BANGET! SIAPA YANG MESEN SUSU CAIR BEGINI?!”
Magenta langsung memelototi gelas itu.
Latte.
Milky.
Manis.
Bukan Americano yang ia pesan.
Cyan sontak menoleh ketika Magenta berteriak dan tidak sengaja pandangan mereka bertemu. Kini saling bertatapan, lalu masing-masing mengangkat gelas.
“Kamu?” Cyan memelotot, menunjuk Magenta yang juga melakukan hal yang sama.
“Apa? Aku?” balas Magenta menunjuk diri sendiri.
“Ya, siapa lagi selain kamu di depanku? Memangnya aku anak indigo yang bisa ngomong sama hantu? Kalaupun bisa, kamu hantunya!” cerca Cyan.
Dan dalam sinkronisasi yang sempurna, keduanya berdiri dan berjalan saling mendekat dengan tatapan saling bertolak belakang. Cyan pun tiba lebih dulu. Ia meletakkan gelas miliknya di meja Magenta.
“Genta, kamu ambil kopi punyaku.”
Magenta berkacak pinggang, tidak terima. “Eh, jelas-jelas aku ambil yang di kiri. Pesanan aku selalu di kiri.”
“Tadi aku juga ambil yang kanan kayak biasanya. Berarti kamu yang salah ambil,” balas Cyan tidak mau kalah.
“Gak, ya. Kamu!”
“Kamu," ulang Cyan menusuk.
"Kamu, SYAN,” balas Magenta sambil menekankan namanya.
Nada Cyan naik setengah oktaf. “MAGENTA."
“SYAN.”
Magenta membalas dengan nada yang sama, tetapi kali ini lebih nyolot dan tidak tahu diri. Seakan di depannya adalah Raka, bukan sang atasan cantik yang disegani banyak orang. Suasana pun seketika menegang. Atmosfer ruangan mendadak panas seperti dekat dengan ujung neraka. Kini keduanya berebut oksigen, terasa sesak karena dikuasai ego masing-masing.
Barista di balik meja pura-pura merapikan pesanan kopi. Tangannya menyusun kotak demi kotak dengan teliti, padahal dari tumpukannya sudah rapi. Belum lagi kasir yang iseng membershkan kotak susu, padahal jelas tidaklah penting.
Magenta menghembuskan napas kasar sambil melirik gelas di tangan Cyan. “Yaudah, kita tukeran.”
“Dari tadi kek begitu, ribet banget memang cewek. Heran.”
Cyan menghela napas sebal, lalu menyerahkan gelasnya. Magenta juga menyerahkan gelas miliknya. Keduanya sama-sama menggenggam kopi masing-masing. Namun, begitu ingin menempelkan bibir di gelas, mereka membeku seketika.
Magenta yang lebih dulu sadar. Ia langsung memicingkan mata.
“Eh, tadi kamu udah minum ini, ‘kan?” tanyanya menuntut kepastian.
Cyan berhenti minum detik itu juga. Wajahnya berubah pucat pasi.
“Tadi kamu juga.” Cyan memandangi gelas dalam genggamannya seperti sedang melihat sesuatu yang melanggar hukum moral dan agama.
Ada jeda lima detik, lalu Magenta menyeringai.
“Hehe.”
“Jangan—” cegah Cyan merinding, mulutnya setengah ternganga.
“BERARTI KITA INDIRECT KISS YA, BU BOS?”
Para pelanggan di kafe itu kembali menoleh. Sebagian menahan tawa sambil berbisik geli, tetapi ada juga yang menganggapnya angin lalu dan fokus pada urusan masing-masing.
“Kayak drama-drama begitu gak, sih?” bisik salah satu dari mereka.
Cyan ingin mati saja. Ia ingin menghilang jadi embun di kaca jendela. Atau paling tidak, jadi debu yang menempel di baju salah satu dari pengunjung. Ia dibawa pergi dan tidak pernah kembali lagi.
“MAGENTA, KAMU DIEM YA!”
“Wah, gak bisa dong. Ini ‘kan momen langka, nanti aku ceritain ke orang-orang kantor, ya?”
Cyan langsung mencengkeram lengan Magenta pelan, tapi cukup untuk membuat Magenta sadar kalau hidupnya sedang dipertaruhkan.
"Simplenya, kamu masih mau hidup ‘kan, minggu depan?"
Gulp!
Magenta menelan ludah keras-keras. Tatapannya langsung lurus ke depan.
"Ampun, Syan. Gak jadi."
“Good.”
Cyan kembali ke mejanya sambil menutup wajah. Magenta juga kembali ke posisinya sambil menahan tawa sampai bahunya naik turun.
Cyan mencoba fokus bekerja, tetapi bibirnya terasa panas entah mengapa.
“Astaga, harus banget gue minum gelas bekas dia? Kenapa gue harus punya bibir yang dapet hal bangke kayak gini?” batinnya merutuki diri sendiri.
Magenta dari meja seberang hanya memperhatikannya sambil terkekeh geli. Mungkin untuk pertama kalinya, Cyan tampak gugup dan itu membuat Magenta tersenyum salah tingkah. Lebih lebar dan menyenangkan, seperti tawa lelaki yang berhasil menggoda wanitanya.
Beberapa menit berlalu sebelum Magenta bangkit dan berjalan ke counter untuk memesan minuman tambahan. Barista sampai tersenyum simpul melihat interaksi tadi.
“Americano tambahan buat saya,” kata Magenta.
“Dingin atau panas?”
“Dingin aja. Bos saya barusan ngebakar hidup saya pake tatapan soalnya.”
Barista tertawa karir.
Namun, ketika Magenta hendak kembali ke meja, ia berjalan melewati meja Cyan. Dengan sengaja, ia berhenti di depan meja Cyan.
“Wah… pipi kamu masih merah banget, Syan,” katanya lirih.
Cyan mendongak dengan ekspresi don't you dare. Belum sempat ia menambahkan, Magenta lebih dulu berkicau.
“Eh, bukan merah marah, tapi merah malu. Lucu juga lihat kamu malu. Kayak tomat rebus,” celetuknya terkekeh pelan.
Cyan menahan napas. Magenta memundurkan badan, menyerah pada tatapan membunuh itu.
“Oke, oke, aku balik ke mejaku.”
Sebelum berbalik badan, Cyan terlanjur membuka suara walau pelan.
“Magenta.”
Langkah Magenta berhenti. Cyan menunduk, jarinya meraba gelas kopi baru yang ia pesan.
“Jangan bilang siapa-siapa tentang ... yang tadi.”
Suara Cyan bergetar sedikit. Entah malu, kesal, atau bisa jadi keduanya.
“Aku gak akan bilang kok. Janji.”
Cyan mengalihkan pandangan ke jendela, hujan di luar memantulkan cahaya lembut ke wajahnya. “Bagus.”
Magenta menatapnya beberapa detik lagi sebelum benar-benar pergi ke mejanya. Waktu berlalu, hujan mereda, dan kafe makin sepi. Magenta selesai kerja lebih dulu. Ia merapikan barang-barangnya, mengambil jaket, dan berjalan melewati Cyan tanpa mengusik.
Di luar kafe, di bawah sisa-sisa rintik hujan, Magenta tersenyum sendiri.
Indirec kiss.
“Hehe… lucu juga.”