Nayara, gadis panti yang dianggap debu, terjebak di High Tower sebagai istri politisi Arkananta. Di sana, ia dihina habis-habisan oleh para elit. Namun, sebuah rahasia batin mengikat mereka: Luka Berbagi. Setiap kali Nayara tersakiti, Arkan merasakan perih yang sama di nadinya. Di tengah gempuran santet dan intrik takhta Empire Group, sanggupkah mereka bertahan saat tasbih di tangan Nayara mulai retak dan jam perak Arkan berhenti berdetak?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tiga Alif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8: Kolaps
Langit di atas Desa Sunyi tampak seabu-abu abu sisa pembakaran bensin semalam. Udara pengap bekas serangan preman masih tertinggal, bercampur dengan aroma tanah basah yang kali ini tidak membawa ketenangan, melainkan rasa sesak yang aneh. Di dalam rumah tua yang dinding batanya mulai merembeskan air, Nayara duduk di tepi ranjang kayu yang renyot. Jemari mencengkeram tasbih kayu dengan kuat, namun butiran kayu itu terasa dingin, seolah-olah seluruh kehangatan di dunia ini telah diserap oleh kegelapan yang mengepung mereka.
"Nayara, wajahmu pucat sekali. Apakah rasa pahit di lidahmu belum hilang?" Arkananta mendekat, meletakkan telapak tangannya di dahi istrinya.
"Hanya pusing sedikit, Arkan. Mungkin karena saya belum terbiasa dengan bau logam dari air sumur tadi," jawab Nayara, suaranya terdengar seperti bisikan yang tertiup angin.
Arkan merasakan rahangnya mengeras. Melalui ikatan batin yang kian tajam sejak mereka tiba di wilayah pengasingan ini, ia bisa merasakan visi Nayara yang mulai menyempit. Cahaya lilin di atas meja kayu tampak berpendar tidak beraturan di mata Nayara, berubah menjadi bayangan-bayangan hitam yang tampak merambat di dinding. Arkan tahu, ini bukan sekadar efek racun arsenik dari sumur yang diracun tempo hari; ini adalah serangan fisik dari kejauhan, sebuah jarum sihir yang dikirimkan Kyai Hitam untuk merusak sistem saraf istrinya.
"Bayu, sudah berapa lama tim medis dari panti asuhan diperjalanan?" Arkan bertanya tanpa menoleh, suaranya mengandung otoritas yang mulai retak oleh kecemasan.
"Jalannya tertutup longsor kecil akibat hujan semalam, Tuan. Mereka harus memutar lewat jalur setapak. Paling cepat dua jam lagi," lapor Bayu dari balik pintu, wajahnya menunjukkan ketegangan yang sama.
"Dua jam adalah waktu yang terlalu lama bagi seseorang yang sedang dihisap jiwanya," desis Arkan.
Tiba-tiba, Nayara terkesiap. Ia memegangi lehernya seolah-olah ada tangan tak kasat mata yang mencekik napasnya. Tasbih kayu di tangannya bergetar hebat, mengeluarkan bunyi krek yang halus namun tajam di telinga Arkan. Di saat yang bersamaan, Arkananta yang berdiri tegak mendadak kehilangan keseimbangan. Dunianya seolah terbalik; ia merasakan sensasi jatuh yang hebat, seolah lantai marmer High Tower yang dingin tiba-tiba muncul dan menariknya ke dasar jurang.
"Nayara!" Arkan berteriak, menangkap tubuh Nayara tepat sebelum istrinya itu menghantam lantai.
"Dingin... Arkan, kenapa semuanya menjadi hitam?" bisik Nayara sebelum matanya berputar ke atas, meninggalkan hanya bagian putih yang menyeramkan.
Tubuh Nayara kolaps sepenuhnya dalam pelukan Arkan. Arkan merasakan paru-parunya sendiri mendadak berat dan panas, seolah ia dipaksa menghirup asap kebakaran hutan yang pekat. Ini adalah puncak resonansi; saat kesadaran Nayara padam, separuh dari kekuatan Arkan seolah ikut tersedot keluar.
"Bayu! Air dingin! Ambil air cadangan yang paling bersih! Sekarang!" Arkan berteriak, suaranya menggelegar memenuhi rumah tua itu hingga beberapa warga desa yang berjaga di luar berlari mendekat.
"Ada apa, Tuan?" pemimpin preman yang semalam menyatakan aliansinya masuk dengan wajah panik.
"Istriku pingsan. Singkirkan semua orang dari depan pintu! Jangan biarkan udara di sini semakin pengap!" perintah Arkan sambil membaringkan Nayara di ranjang.
Arkan menanggalkan jas hitam mahalnya yang sudah kotor terkena noda lumpur desa. Ia menggulung lengan kemeja putihnya, mengabaikan martabatnya sebagai politisi elit yang biasanya anti-kotor. Ia mengambil kain kumal yang sudah dibasahi air dingin oleh Bayu, lalu dengan tangan yang gemetar, ia mulai mengompres dahi Nayara. Kulit istrinya terasa membara, kontras dengan air dingin yang menerpanya.
"Ini bukan penyakit biasa, Tuan. Lihat bayangan di sudut mata Nyonya," bisik Bayu sambil menunjuk pada pembuluh darah di pelipis Nayara yang tampak membiru dan berdenyut tidak wajar.
"Aku tahu. Kyai Hitam sedang merayakan kemenangannya di High Tower saat ini," Arkan menggertakkan gigi, bunyi gemeretak rahangnya terdengar jelas di tengah keheningan. "Mereka pikir dengan melumpuhkan Nayara, mereka bisa membuatku berlutut merangkak kembali ke hadapan Nyonya Besar."
"Apakah kita harus membawa Nyonya ke puskesmas terdekat di kecamatan?" tanya si pemimpin preman dengan ragu.
"Puskesmas tidak akan bisa menangani serangan metafisika seperti ini. Mereka hanya akan melihatnya sebagai dehidrasi," Arkan menatap wajah Nayara yang kian pucat. "Bayu, siapkan koneksi satelit darurat. Aku akan melakukan sesuatu yang seharusnya tidak aku lakukan di tempat terbuka seperti ini."
"Anda ingin menggunakan energi Void untuk memutus kiriman itu?" Bayu terkesiap. "Itu akan membocorkan keberadaan kekuatan Anda pada radar High Council, Tuan."
"Aku tidak peduli lagi dengan radar mereka! Istriku sedang meregang nyawa karena kerakusan mereka akan takhta!" Arkan berdiri, aura di sekitarnya mendadak berubah. Suhu ruangan yang tadi dingin karena hujan kini mendadak jatuh lebih dalam, namun ada hawa panas yang keluar dari telapak tangan Arkan yang menggenggam tangan Nayara.
Nayara merintih dalam pingsannya, rasa logam pahit di lidahnya seolah-olah berubah menjadi cairan panas yang membakar tenggorokan. Arkan merasakan kepahitan yang sama. Ia memejamkan mata, membiarkan kemarahannya menjadi bahan bakar untuk menyambung nyawa yang hampir putus itu. Di luar rumah, jangkrik-jangkrik desa yang tadinya bersahutan mendadak diam membisu, seolah-olah alam pun tahu bahwa sang Komandan sedang melepaskan amarah purbanya.
Hening yang tidak wajar menyelimuti kamar pengasingan itu, seolah waktu berhenti berdetak tepat saat napas Nayara memburu pendek. Arkananta mencengkeram jemari istrinya, merasakan denyut nadi yang lemah dan tidak beraturan. Di bawah kulit Nayara yang pucat, bayangan kebiruan itu merayap seperti akar pohon yang membusuk, tanda bahwa sihir Kyai Hitam telah menembus pertahanan batin terdalam. Arkan merasakan ulu hatinya dihantam oleh rasa nyeri yang luar biasa, sebuah resonansi dari keruntuhan fisik Nayara.
"Arkan... gelap..." igauan lirih itu lolos dari bibir Nayara yang pecah-pecah.
"Aku di sini, Nayara. Jangan lepaskan genggamanku," Arkan berbisik, suaranya parau namun tajam.
Arkan menatap Bayu yang masih berdiri terpaku. "Bayu, siapkan air dalam baskom logam. Aku butuh penghantar untuk menarik hawa panas ini keluar dari tubuhnya sebelum saraf motoriknya rusak permanen."
"Tuan, risikonya terlalu besar bagi Anda. Jika Anda menarik racun sihir itu ke tubuh Anda sendiri melalui resonansi, Anda tidak akan bisa berdiri tegak besok pagi untuk menghadapi warga desa," protes Bayu dengan wajah cemas.
"Aku lebih baik merangkak di tanah desa ini daripada melihat istriku mati karena pengecut di High Tower! Lakukan sekarang!" bentak Arkan, membuat Bayu segera bergerak cepat.
Warga desa dan pemimpin preman yang berdiri di luar pintu hanya bisa melihat dengan napas tertahan. Mereka melihat seorang pria yang biasanya memakai jas mahal, kini berkeringat dingin, berlutut di lantai tanah yang lembap, menempelkan keningnya pada tangan seorang gadis panti asuhan. Dilema martabat Arkan telah luruh; tidak ada lagi politisi elit, yang ada hanyalah seorang suami yang sedang berperang melawan maut.
"Pegang kakinya, Bayu!" perintah Arkan saat tubuh Nayara tiba-tiba kejang.
Saat kejang itu terjadi, Arkan merasakan sensasi "jatuh" yang kembali terulang. Kepalanya berdenyut hebat seirama dengan detak jantung Nayara yang kacau. Ia bisa merasakan rasa logam pahit yang pekat di lidahnya, sisa dari racun arsenik yang telah bercampur dengan energi gelap. Arkan menutup matanya, memfokuskan seluruh sisa kekuatannya untuk menyerap rasa sakit itu melalui jalur resonansi Shared Scar.
"Ya Allah... kembalikan dia," Arkan berbisik dalam hati, sebuah doa yang keluar dari relung kemanusiaannya yang paling jujur.
Secara perlahan, suhu tubuh Nayara yang tadinya membara mulai menurun. Bayangan kebiruan di pelipisnya memudar, pindah ke pergelangan tangan Arkan yang kini tampak memerah seolah terbakar. Jam tangan perak di pergelangan tangan kiri Arkan mendadak berhenti berdetak, jarum detiknya mematung tepat saat Nayara menarik napas panjang dan tenang.
"Dia sudah stabil, Tuan," bisik Bayu sambil menyeka keringat di dahi Nayara menggunakan kain dingin.
Arkan melepaskan genggamannya, napasnya tersengal-sengal. Ia mencoba berdiri, namun kakinya lemas. Ia hampir jatuh jika tidak segera ditangkap oleh pemimpin preman yang sejak tadi memperhatikan dengan takjub. Di mata warga desa, Arkan bukan lagi orang asing yang sombong; ia adalah pria yang rela mempertaruhkan nyawanya demi orang yang dicintai.
"Terima kasih," Arkan bergumam pada pria itu, martabatnya kini berdiri di atas pondasi kemanusiaan yang baru.
"Kami yang seharusnya berterima kasih, Tuan. Kami tidak tahu bahwa orang-orang di kota sana sekejam itu sampai meracuni air kami sendiri hanya untuk membunuh wanita sebaik ini," pemimpin preman itu menunduk, merasa malu atas tindakannya semalam.
Arkan menatap keluar jendela. Hujan mulai reda, meninggalkan uap air yang naik dari tanah basah. Aroma tanah itu kini terasa lebih bersih. Ia tahu, kabar tentang kolapsnya Nayara pasti sudah sampai ke telinga Erlangga dan Nyonya Besar. Mereka pasti sedang bersiap untuk merilis berita kematian Nayara sebagai cara untuk menghancurkan citra Arkan sepenuhnya.
"Bayu, pastikan tidak ada informasi yang keluar dari desa ini tentang pulihnya Nayara. Biarkan mereka mengira rencana mereka berhasil," ucap Arkan, matanya kembali mendingin, memancarkan aura komandan yang telah kembali.
"Maksud Anda, kita akan memainkan drama kematian lagi?"
"Tidak. Kali ini kita akan membiarkan mereka berpesta di atas kemenangan semu mereka. Besok, aku akan berdiri di tengah desa ini, menunjukkan pada dunia bahwa 'tulang besi' Arkananta tidak bisa dipatahkan oleh racun maupun sihir," Arkan kembali duduk di samping Nayara, mengusap kepala istrinya yang kini tertidur lelap.
Nayara membuka matanya sedikit, melihat bayangan suaminya di tengah temaram cahaya lilin. "Arkan... saya merasakan air dingin..."
"Tidurlah, Nayara. Semuanya sudah berakhir untuk malam ini. Besok, kita akan mulai membalas mereka satu per satu," Arkan mengecup tangan Nayara yang sudah kembali hangat.
Resonansi antara mereka kini terasa lebih tenang, seperti permukaan danau pasca badai. Arkan tahu bahwa tubuhnya sendiri sekarang menyimpan sisa racun sihir yang ia tarik tadi, namun ia tidak peduli. Selama Nayara masih bernapas, ia memiliki alasan untuk tetap berdiri tegak. Di tengah kesunyian Desa Sunyi, Arkananta bersumpah bahwa penderitaan istrinya malam ini akan dibayar mahal oleh setiap inci marmer High Tower yang akan ia runtuhkan nantinya.