Ruoling hidup di istana seperti di neraka setelah ibunya di hukum mati karna katanya 'sudah menuangkan racun di makanan utama saat perayaan ulang tahun Kaisar' hingga banyak yang kehilangan nyawa.
Semua penderitaannya itu di mulai saat dirinya di cap sebagai "anak pembunuh", lalu di fitnah, di jauhi sampai di perlakukan tidak selayaknya tuan putri. Parahnya anak-anak itu tak ragu untuk membayar pelayan yang bekerja dengannya untuk membuatnya berada di posisi yang jahat.
Tapi Ruoling remaja diam saja, tapi beranjak dewasa Ruoling sadar mereka tidak pantas memperlakukannya seperti itu. Namun saat kebenaran tentang ibunya terungkap dalam suatu kebetulan yang tak di sengaja membuat Ruoling rela mempertaruhkan nyawa, masa depan dan namanya semakin buruk untuk membongkar pelaku yang tak pernah di sangkanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pencarian pelaku
Selir Hua meninggalkan tempat itu tanpa memperdulikan protes dari putrinya yang tidak akan ada habisnya.
Tapi walaupun tidak suka dengan keputusan sang ibu, Ruoling tidak ingin mencari masalah sampai berakhir dengan ibu yang mendapatkan masalah dengan melangkah menuju kediaman para selir.
Ruoling masih tidak terima sekaligus tidak tega melihat kesibukan yang tidak bisa di selesaikan oleh para orang dewasa karna melihat korban sekaligus suara tangis semakin banyak terdengar olehnya.
Sampai kemudian, mereka memasuki kediaman para selir di mana semakin dekat dengan wilayah utama maka posisi selir itu makin kuat.
Ibunya adalah selir terhormat setelah Permaisuri hingga kediamannya di posisi paling dekat dengan gerbang yang tidak boleh di masuki oleh sembarang orang sekalipun itu Permaisuri jika tidak mendapatkan izin dari Selir yang tinggal di sini.
Permaisuri sendiri tinggal di tempat yang berbeda. Paling dekat dengan bangunan tempat tinggal Kaisar serta Putra mahkota yang juga terpisah.
Biasanya di sini di jaga ketat oleh pengawal, tapi untuk hari ini tidak karna semua orang sibuk membantu kekacauan yang di akibatkan oleh racun.
"Cukup sampai di sini saja," kata Ruoling pada akhirnya melarang pelayan masuk lebih jauh ke dalam kediaman ibu. "Aku tidak akan kabur."
"Baik, tuan putri."
Ruoling berjalan masuk, memilih duduk sendirian di depan jendela di kediaman ibunya sambil membayangkan dirinya membantu para apoteker mencarikan obat, membantu membawakan air, membantu memenangkan keluarga yang sedang berduka dan masih banyak lagi yang bisa di lakukannya.
Anak perempuan itu menghela nafas kasar dengan angan-angannya lalu menempelkan dagu di bawah jendela untuk melihat kesibukan di luar.
Tiba-tiba ia mengingat remaja yang beberapa tahun lebih tua darinya, Yuchen, yang mendadak jadi orang lain. Tapi karna dalam kondisi tidak percaya dengan apa yang di alami kedua orang tuanya membuat Ruoling memaklumi sikapnya.
Saat ini Ruoling juga sangat khawatir dengan keadaan ayahnya—Kaisar Long Moxuan—yang menjadi korban atas keracunan pertama kali. Rumor dari pelayan yang tidak sengaja di dengar Ruoling saat di perjalan kalau ayah menjadi satu dari banyak orang dengan kondisi terparah.
Selain itu Ruoling juga ingin tahu keadaan adik-adiknya, para selir, menteri baik muda atau tua serta keluarga mereka yang turut hadir di ulang tahun dan keadaan tamu lainnya.
Tapi ia sadar tak mungkin pergi dari kediaman ibu atau sekedar bertanya keadaan korban pada pelayan yang menunggu di luar. Saat ini semua orang sedang sibuk, terutama Ibu, Permaisuri dan Putra mahkota yang baru di sadarinya juga di paksa Permaisuri mengikuti rapat darurat begitu acara berubah menjadi bencana.
Tiba-tiba saja Ruoling ingin marah—bagaimana mungkin anak sekecil itu dipaksa ikut rapat ketika istana sedang dilanda kekacauan? Sebelum mengikuti rapat, Putra Mahkota menyempatkan diri untuk menenangkan keluarga para korban dan berjanji akan mencari pelakunya.
Tindakan sederhana itu berhasil membuat kelurga korban yang selamat serta tidak datang ke ulang tahun Kaisar tenang, tapi tidak ada yang menyadari kecuali Ruoling, kalau putra mahkota menyembunyikan perasaannya yang sebenarnya.
Sama seperti Ruoling, pemuda yang di tuntut menjadi kuat serta tenang di tengah bencana itu seperti belum siap dengan apa yang terjadi, tapi untung saja putra mahkota sangat pintar menutupinya dengan nada suaranya tetap tenang dan senyum menenangkan semua orang.
Sekarang, dari jendela, Ruoling hanya bisa melihat bayangan para apoteker yang keluar masuk, membawa kotak obat dari berbagai tempat. Ada yang mengenakan pakaian biru, ada yang putih, ada pula yang membawa gulungan bambu dengan resep penawar.
Perasaan gelisah makin memuncak ketika melihat dari kejauhan sesuatu yang aneh di mana pengawal serta pelayan istana yang biasanya berada di bawah kendali Permaisuri, terus masuk dan keluar dari kediaman para penjabat penting di kerajaan yang berada di sisi kanan gerbang tempat tunggal para selir.
Sayup-sayup Ruoling juga mendengar masing-masing dari mereka mengatakan tidak menemukan apapun. Detik itu juga Ruoling sadar kalau Permaisuri memerintahkan pengawal mengeledah semua tempat di kerajaan dengan di awasi wanita paling di segani di kerajaan ini.