Greta Oto Wright terlahir sebagai putri dengan mata yang berbeda warna (Heterochromia) sama seperti ayahnya, sebuah tanda yang diyakini membawa nasib buruk. Sejak dalam kandungan, seekor kupu-kupu kaca tembus pandang telah berterbangan di sekitar istana, seolah-olah menjaga dan mengawasinya.
Ketika tragedi menimpa kerajaan, Greta menjadi terisolasi, terperangkap oleh mitos, ketakutan, dan rahasia orang-orang terdekatnya. Dalam keheningan dan keterasingan, ia perlahan menyadari bahwa apa yang disebut kutukan itu mungkin adalah kekuatan yang tersembunyi dari dunia.
Note: Non Romance
Follow ig: gretaela82
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Greta Ela, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13. Greta Dibatasi
Akhirnya setelah tiga tahun, rakyat pun tahu alasan mengapa putri kerajaan tidak pernah diperlihatkan secara terang-terangan.
Mitos itu sudah ada sejak 400 tahun yang lalu. Sesuai dengan buku Heterochromia yang dibaca Raja Arion, bahwa dua puluh keturunan heterochromia adalah laki-laki dan mereka selalu dianggap pembawa damai.
Dari tahun ke tahun rakyat pun percaya akan mitos itu hingga pimpinan Raja Arion.
Tapi, ada satu hal yang menjadi kejanggalan Raja Arion sampai sekarang. Bagaimana sistem kerajaan dahulu menyimpulkan bahwa jika anak perempuan yang lahir akan dianggap sebagai pembawa sial, sementara dari dua puluh keturunan itu tidak ada satu pun perempuan yang lahir.
Tidak ada satupun atau mungkin ada...
Bagi Arion, itulah yang paling menakutkan.
Di belakang Arion, beberapa penasihat berdiri dengan jarak sopan. Tidak ada yang berani membuka suara terlalu cepat.
"Yang Mulia," salah satu dari mereka berkata pelan, "rakyat tidak akan pergi dengan sendirinya."
"Aku tahu," jawab Arion tanpa menoleh.
"Mereka takut," lanjut yang lain. "Dan ketakutan yang dibiarkan akan berubah menjadi sesuatu yang lebih buruk."
Arion menutup matanya sejenak. Ia tahu arah pembicaraan ini bahkan sebelum kata pertama diucapkan.
"Apa yang kalian usulkan?" tanyanya akhirnya.
Tidak ada yang menyebut nama Greta. Tidak ada yang berani. Namun semua jawaban berputar mengelilinginya.
"Putri harus... tidak terlihat," kata seorang bangsawan dengan hati-hati. "Untuk sementara."
"Bukan disakiti," penasihat menambahkan.
"Hanya dijauhkan dari pandangan."
Kata-kata itu terdengar rapi, nyaris mulia. Tapi Arion merasakan beratnya seperti batu di dadanya.
"Aku tidak percaya mitos itu," katanya Arion, suaranya rendah tapi tegas.
"Tidak akan pernah."
Para penasihat saling berpandangan.
"Namun rakyat percaya" lanjut Arion.
"Dan kepercayaan mereka saat ini lebih kuat daripada penjelasan apa pun yang bisa kuberikan."
Ia berbalik. Wajahnya terlihat lelah, bukan marah.
"Jika aku memaksa menunjukkan Greta pada mereka, apa yang akan terjadi?" tanyanya, bukan pada siapa pun secara khusus.
Tak ada jawaban karena semua tahu.
Akhirnya Arion mengangguk, seolah menguatkan dirinya sendiri.
"Putri akan tetap berada di dalam castle," katanya.
"Greta akan dibatasi. Tidak ada yang melihatnya tanpa izinku."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan,
"Bukan karena aku percaya ia membawa sial. Tapi karena aku menolak membiarkan rakyat melukainya dengan keyakinan mereka."
Keputusan itu disetujui oleh penasihat namun dampaknya merambat ke setiap sudut istana.
...****************...
Greta duduk di lantai kamar, memandangi kumbang koksinya yang kini berada kembali di dalam toples. Sayap kecilnya terlipat rapat, seolah dunia luar bukan lagi tempat yang aman.
Arion kembali ke kamar lalu menemui Greta, Ia berlutut di depannya. Ia berusaha tersenyum, tapi senyum itu terasa kaku di wajahnya sendiri.
"Greta," katanya lembut.
"Untuk sementara kamu tidak boleh keluar kamar tanpa Ayah atau Kakak."
Greta menoleh. Matanya yang berbeda itu menatap ayahnya tanpa curiga, hanya penuh tanya.
"Kenapa?" tanyanya polos.
Arion terdiam sesaat. Ia memilih kata-kata yang tepat supaya tidak menyakiti hati Greta.
"Karena di luar sedang ramai," jawabnya akhirnya.
"Dan Ayah ingin kamu aman."
Greta mengangguk pelan. Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi ia percaya.
"Aku masih boleh lihat kebun dari jendela?" tanyanya lagi.
Arion mengangguk "Tentu, sayang."
"Dan kumbangku tidak diambil?" lanjutnya.
"Tidak," jawab Arion sambil mengelus rambutnya.
"Tidak ada yang akan mengambil apa pun darimu."
Greta tersenyum kecil. Ia kembali memeluk toplesnya, seolah itu cukup untuk membuat dunia kembali utuh.
Saat Arion berdiri dan melangkah pergi, ia merasakan sesuatu merobek pelan di dadanya. Greta tidak menangis. Justru itu yang membuat keputusan ini terasa jauh lebih kejam.
...****************...
Chelyne menerima keputusan itu dalam diam. Ia terbaring di ranjang, napasnya pendek-pendek, wajahnya pucat seperti kain yang terlalu lama direndam air.
"Ini salahku," bisiknya suatu malam ketika Arion duduk di sisinya.
"Tidak, Chelyne" jawab Arion
"Tidak satu pun ini adalah salahmu." lanjutnya
Chelyne tersenyum lemah.
"Dunia ini selalu mencari perempuan untuk disalahkan," katanya lirih.
"Sekarang mereka memilih anak kita."
"Kalau saja yang heterochromia itu adalah Thaddeus, semua rakyat akan senang." ujar Chelyne lagi
"Dan kau Arion, mungkin kau akan memaksaku untuk melahirkan anak laki-laki lagi sampai ada yang heterochromia sepertimu dan Greta–"
Arion langsung menyela istrinya
"Apa yang kau katakan, Chelyne? Aku tidak pernah memaksamu untuk melahirkan anak laki-laki yang mirip sepertiku. Aku tidak pernah menganggap Greta sebagai pembawa sial. Kau tahu itu kan?" balas Arion dengan rasa sakit
"Tapi bisa jadi suatu hari nanti sifatmu akan berubah seperti raja-raja yang lain. Mereka akan memaksa istrinya." ujar Chelyne
Arion menggenggam tangannya erat.
"Chelyne, aku tidak akan pernah berbuat hal bodoh seperti itu. Aku sudah punya dua anak, Thaddeus dan Greta. Mereka sudah cukup, aku menyayangi mereka seperti aku menyayangimu."
"Aku tahu kau pasti takut jika aku akan berlaku kasar pada Greta. Itu tidak akan terjadi, aku berjanji padamu."
Arion memegang janji itu pada istrinya. Memang dari raja sebelumnya selalu ingin punya anak laki-laki heterochromia untuk melanjutkan pimpinan kerajaan.
...****************...
Di saat-saat itulah Grace semakin sering berada di kamar Chelyne. Ia datang membawa ramuan hangat, mengganti kain basah di dahi sang ratu, memastikan semuanya tampak terawat dan terkendali.
Ia tidak pernah bertanya tentang Greta. Tidak pernah berkomentar tentang rakyat. Ia hanya fokus pada Chelyne.
"Yang Mulia harus beristirahat" katanya dengan suara lembut.
"Biarkan saya yang mengurus sisanya."
Chelyne mengangguk, bersyukur atas perhatian itu. Arion juga, terlalu bersyukur untuk curiga.
Tidak ada yang tahu bahwa setiap kali Grace menunduk, ada ketenangan aneh di matanya. Bukan ketenangan pelayan setia, melainkan ketenangan seseorang yang melihat rencana panjangnya mulai bergerak.
Hari-hari berikutnya, susana rakyat mulai membaik. Rakyat ingin Greta dikurung selamanya didalam castle, kalau bisa langsung dipenjara bawah tanah saja.
Tapi, ayah mana yang sanggup melakukan itu? Apalagi Arion, Ia tidak seperti raja-raja sebelumnya yang hanya mementingkan diri sendiri.
Rakyat akhirnya bubar. Castle kembali tampak tenang dari luar. Tidak ada keributan dan tidak ada pemberontakan. Para penasihat menganggap keputusan Arion berhasil.
Namun di balik dinding batu itu, satu dunia kecil menyempit.
Greta belajar mengenal waktu dari bayangan jendela. Ia tidak lagi berlari di halaman. Ia berbicara dengan kumbangnya, seolah-olah kumbang itu mengerti dengan keadaan Greta yang sekarang.
Thaddeus sering datang menemuinya. Ia menceritakan dunia luar dengan hati-hati, memilih cerita yang tidak menyinggung rasa kehilangan.
Arion melihat semuanya. Ia melihat putrinya tumbuh dalam batasan yang ia buat sendiri.
"Aku harus bagaimana." batin Arion