"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4
"Siapa wanita itu?"
Pertanyaan itu di lontarkan Seruni saat suami nya baru saja pulang keesokan hari nya. Ia sama sekali tidak bisa bersabar untuk tidak menanyakan hal yang membuat nya penasaran.
Sejak semalam, pikiran nya terus saja berkelana entah kemana. Ia juga tidak bisa tidur dan terus memikirkan bagaimana suami nya bisa begitu tega membawa wanita lain duduk di mobil mereka.
"Dia tetangga baru Ibu. Janda satu anak. Kasihan, anak nya mau sekolah tapi mereka tidak memiliki kendaraan."
"Kamu kasihan dengan wanita lain. Tapi, kamu malah membiarkan anak-anak dan istri mu jalan kaki, Bang?"
"Itu kan lain. Kamu sudah biasa jalan kaki di desa. Sedangkan Susan, ia tidak terbiasa seperti itu."
"Tapi, aku ini istrimu. Apa Abang lebih mementingkan wanita lain daripada istri Abang sendiri?"
"Ah, sudahlah. Kamu ini cerewet sekali. Tidak perlu cemburu dengan Susan..Mereka hanya meminta tolong saja. Maka nya, punya otak itu di pake. Jangan kampungan seperti itu. kita saat ini tinggal di kota."
"Bang."
"Sudah! Sekarang kita ke rumah Ibu. Nanti siang ada arisan dan kamu harus bantu-bantu di sana."
"Aku tidak bisa. Aku capek."
"Capek apa? Kerja mu hanya di rumah saja."
"Bang, aku baru beberapa hari yang lalu melahirkan. Dan sekarang, aku harus mengurus lima anak kita sendirian. Aku juga membuat kue untuk membantu keuangan keluarga."
"Ah, banyak alasan."
"Pokoknya aku tidak bisa."
"Dasar istri tidak bisa di harapkan. Lebih baik aku minta tolong Susan saja."
"Ya. Pergi lah cari Susan mu itu. Aku lebih baik di rumah bersama anak-anak ku." Seruni berucap dengan mantap sambil menatap mata sang suami.
Hamdan sedikit terkejut dengan keberanian sang istri. Selama ini, Seruni sama sekali tidak pernah bicara seperti itu di hadapan nya. Tapi kali ini, tatapan mata Seruni benar-benar tampak berbeda.
Hamdan pun langsung pergi meninggalkan rumah. Ia pergi tanpa menoleh lagi ke belakang. Sedangkan Seruni, ia memilih diam dalam tangis nya.
Jika selama ini Hamdan bersikap semena-mena karena ia melahirkan anak perempuan, ia masih bisa memaklumi kekecewaan sang suami.
Tapi, kali ini Hamdan sudah keterlaluan. Laki-laki itu membawa wanita lain dan lebih mementingkan wanita itu dari dirinya dan juga anak-anak nya.
Keteguhan hati Seruni, lama kelamaan juga bisa goyah karena hal seperti itu. Memang benar, ia adalah seorang wanita desa yang belum bisa menyesuaikan diri nya dengan pergaulan di kota.
Hal itu dikarenakan suami nya sendiri yang tidak pernah membawa nya bergaul dengan yang lain. Setiap hari, Seruni hanya dirumah saja.
Banyak yang tidak tahu jika Seruni adalah istri nya Hamdan. Hanya para tetangga dan juga pelanggan kue nya Seruni, yang sempat melihat suami nya itu. Sedangkan teman-teman kantor nya Hamdan, mereka bahkan tidak pernah melihat wujud nya Seruni juga anak-anak nya.
Pernah teman kantor nya Hamdan bertanya. Namun ia malah mengatakan jika istri dan anak-anaknya sangat lah merepotkan.
Sejak saat itu lah, teman-teman nya Hamdan tidak pernah lagi bertanya tentang kehidupan rumah tangga Hamdan yang terasa sangat aneh itu.
******
Enam bulan berlalu.
Hubungan Hamdan dan juga Seruni semakin jauh. Seruni sudah tidak lagi memikirkan tentang suami nya itu.
Sekarang, ia hanya fokus mencari uang untuk membesarkan anak-anaknya. Siang malam ia membuat kue. Sesekali ia juga menjual lauk matang untuk di letakkan di warung-warung kecil yang ada di pinggir jalan.
Bahkan sesekali, ada para tetangga yang minta pertolongan nya untuk memasak di rumah. Semua itu dilakukan oleh Seruni untuk anak-anak nya.
Dan bersyukur lah Seruni, anak-anak nya begitu patuh dan tidak rewel walaupun di tinggal bekerja seperti itu.
Seruni pun merebahkan badan nya karena sudah terlalu kelelahan. Ia tatap wajah-wajah mungil anak-anak yang tidak berdosa. Ia selalu berdoa agar di beri kesehatan dan juga sehat badan untuk menemani setiap perjalanan anak-anak nya kelak.
Saat ia ingin memejamkan mata nya, terdengar suara seseorang mengetuk pintu diluar sana. Jarum jam menunjukkan pukul dua dini hari.
"Seruniiiii, buka pintu nya. Cepat bukaaa!"
Suara Hamdan membuat Seruni sangat terkejut. Suami nya itu selama ini tidak pernah pulang selarut itu dan membuat keributan.
Dengan cepat Seruni bangun dan melihat keluar jendela kamar nya. Sedangkan Hamdan, masih saja berteriak memanggil-manggil nama istri nya.
"Bang Hamdan? Ada apa ini? Kenapa teriak-teriak di jam segini. Anak-anak dan para tetangga sedang istirahat."
"Ah, berisik!" Hamdan langsung masuk dan dengan kasar mendorong tubuh Seruni. Tercium aroma aneh dari tubuh Hamdan. Selama ini, Seruni tidak pernah mencium aroma tersebut.
"Bau apa ini? Kenapa bau nya aneh seperti ini?"
Bukan nya menjawab pertanyaan Seruni, Hamdan langsung menarik istri nya itu dan menidurkan nya di atas lantai.
"Aku ingin kamu. Ayo cepat layani aku."
"Tapi,,, Ayo cepat!"
"Bang, kenapa Abang seperti ini? Selama kita menikah, aku tidak pernah melihat hal ini. Apa jangan-jangan Abang mabuk?"
"Ya. Aku mabuk. Mabuk anak laki-laki. Ayo Seruni, cepet lah. Kata Susan, jika aku melakukan hal ini sambil mabuk, nanti akan lahir anak laki-laki dari rahim mu."
"Apa? Susan? Jadi, karena wanita itu kamu sampai begini, Bang."
"Sudah diam. Aku tidak tahan lagi."
Dengan gerakan kasar, Hamdan mengambil hak nya sebagai seorang suami. Sedangkan Seruni, ia hanya diam saja dan sama sekali tidak bereaksi.
Sakit hati nya belum sembuh. Dan saat ini, sang suami malah menambah luka baru. Seruni benar-benar tidak menyangka jika Hamdan yang ia kenal begitu baik dan santun, kini malah berubah menjadi orang asing di mata nya.
Tidak lama kemudian, suami nya Seruni pun mendapat kan kepuasan nya. Seruni mengira jika semua itu telah selesai. Akan tetapi, entah tenaga dari mana. Hamdan malah kembali meminta hak nya.
Hamdan melakukan hal itu sampai tiga kali baru lah ia merasa puas. Jangan tanya seperti apa Seruni. Hati nya hancur lebur dan tidak berbentuk.
Hamdan tertidur di lantai setelah mendapat kan tiga kali kepuasan. Dengan tubuh lemah, Seruni bangun dan menuju ke kamar mandi.
Malam itu juga, ia membasuh diri nya dan juga mengadu pada Rabb nya. Seruni sudah terlalu lelah. Ia ingin pergi dari semua ini. Akan tetapi, siapa dan kemana ia harus pergi jika ia meninggalkan rumah ini.
Seruni seperti nya harus menyiapkan semua nya mulai saat ini. Ia harus punya rumah sendiri atas nama nya. Dan dengan begitu, jika waktu nya tiba, ia bisa langsung pergi meninggalkan semua rasa sakit itu itu.
bersinar 😮
sebentar lagi baru akan paham apa arti
dari semua kejadian yang sudah dia lakukan terhadap anak istri