Bercerita tentang mahasiswa yang melakukan KKN disebuah desa dengan banyak keanehan. Banyak hal yang terjadi sampai membuat kami mendapatkan banyak masalah yang tidak masuk akal. Namun perlahan kami beradaptasi dan nantinya membongkar misteri dari desa tersebut. Kira-kira misteri apa saja itu. Ini adalah cerita fantasy persahabatan yang menakjukan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazennn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hujan dan Cerita
Pagi itu cuaca diluar mendung lalu tak lama turunlah hujan yang lumayan deras. Karena tidak punya kegiatan sehingga kami pun memutuskan untuk istirahat saja dulu sambil menunggu hujan reda. Setelah melalui hari-hari yang berat dan melelahkan akhirnya ada satu hari dimana kami tidak ingin melakukan apapun—hanya ingin istirahat memulihkan energi dan tenaga kami yang sudah banyak hilang selama berada disini. Pagi itu juga untuk pertama kalinya kami nggak sama sekali keluar bahkan untuk lauk makanan pun kami mengambil sayuran yang ada didekat posko.
“Biar aku aja” ucap Putra membantu Eni memetik daun singkong lalu tak lama datang lah juga Anwar untuk ikut membantu.
“Udah sana kamu kembali ke posku” suruh Anwar lalu Eni pun berlari kembali keposko karena hujan
“Lihat mereka—“ ucap ku tidak menyangka dengan pemandangan yang ada didepan yaitu Putra dan Anwar yang bekerja sama. Rasanya jadi lucu karena untuk pertama kalinya mereka terlihat lebih akrab tanpa saling menyuruh dan menyalah kan
“Biarin aja lah mereka begitu” ucap Ruka lalu tak lama datanglah Tian dan Dila dari posko sebelah untuk melakukan piket.
“Kalian berdua saja?” tanya Ruka
“Iyah, Zee lagi nggak enak badan tapi katanya mau nyusul” jawab Dila
“Ohh” lalu mereka masuk ke dalam posko
“Bangun...bangun...” suara Eni membangunkan Dani dan Ikon yang masih tidur, termasuk aku yang sudah bangun tapi kembali berbaring lagi.
“Kalian ini yah, tiap pagi susah banget dibangunin—berantakan terus tempat tidur kalian” ucap Eni marah-marah
“Maaf Eni” ucap ku sambil tersenyum
“Ayo lah Eni, kan hari ini nggak ada kegiatan diluar jadi biarin lah kami bermalas-malasan” ucap Ikon
“Nggak boleh malas, kita itu harus rajin” bicara Ruka yang sudah rapi
“Betul itu” sambung Dila
“Ehh?” gerutu Ikon
Sementara itu ditempat yang lain sesuatu terjadi, saat itu Zee berdiri sambil melihat teman-temannya. Dia pun tersenyum sambil merekamnya lalu datanglah Dani berdiri disampingnya.
“Kanda...” sapa Enal dan Anwar
“Apa kamu kanda-kanda” balas Zee
“Kanda Karca kan” ucap Anwar kembali
“Kenapa tiba-tiba panggil Kanda Karca? Siapa itu?” tanya Tian
“Kamu nggak tau Kanda Karca—dia itu orang yang terkenal loh, sebutan untuk senior begitu” jawab Anwar
“Terus hubunganya dengan Zee”
“Yah dia mirip, soalnya ditakuti. Terus liat juga gaya-gayanya yang tomboy sama tegas juga. Mirip Kanda Karca lah” kata Anwar
“Ada-ada aja kamu” celetuk Putra
“Udah sini makan” lanjutnya
“Makan...makan” seru Tian tapi tiba-tiba tubuhnya menghilang tertelan oleh bayangan hitam yang muncul didekatnya.
“Eh?T-i-an?” gagap Putra lalu bayangan hitam itu juga menelan Putra hingga tak tersisa
“A-apa yang terjadi?” ucap Fatin
“Aaaaa” teriak Sulis melihat bayangan hitam itu
“Teman-teman, lariii—menjauh dari makhluk hitam itu” teriak perempuan itu namun sudah terlambat
“Makan dan habisi mereka” terdengar suara yang memerintahkan bayangan hitam tersebut untuk menyerang Sulis
“Kenapa Lis?” tanya Eni bingung
“T-tidakk, menjauh dari ku” lirih Sulis ketakutan lalu masuk ke dalam posko. Zee yang melihat hal tersebut langsung menyuruh teman-temanya untuk bersembunyi dibelakangnya.
“Siapa kamu?” tanya Zee namun bayangan hitam itu tak menjawab sama sekali. Dia malah mengeluarkan suara yang menyeramkan sehingga membuat teman-temannya ketakutan.
“Jangan takut, aku gak akan biarin kalian kenapa-napa” kata Zee lalu tiba-tiba makhluk hitam itu menghilang dan muncul dibelakang mereka. Bayangan itu langsung menyelimuti tubuh Sri hingga hilang lalu disusul Ruka.
“Sri...Ruka” pekik Zee mencoba untuk menyelamatkan teman-temannya itu tapi tidak bisa.
“Aku akan menelan kalian semua dalam kegelapan” suara bayangan hitam itu, Zee pun memasang posisi waspada. Dia menutup matanya lalu ketika membukanya kembali teman-temanya yang sudah menghilang jadi kembali lagi. Namun bayangan hitam itu kembali menyerang tapi serangannya tak mempan. Setiap kali mendekat dia malah kembali lagi ke posisinya semula, hal itu terjadi berulang-ulang sehingga membuatnya bingung.
“Ohh jadi begini yah kekuatan mu” ucap bayangan hitam itu lalu memperluas dirinya sehingga kegelapan pun menyelimuti Zee dan teman-temannya. Saat itu datanglah Anwar, Ikon dan Enal untuk membantu tapi Zee melarang.
“Berhenti, jangan kemarin” kata Zee namun Anwar tak mau mendengarkannya. Dia berlari untuk menghajar bayangan hitam itu tapi malah membuat dirinya tertelan hingga menghilang.
“Aaa sudah ku bilang” kata Zee
“Woi lihat disini, lawan aku” teriak Zee untuk menarik perhatian makhluk itu namun bayangan hitam itu malah tersenyum lalu menghilang dan muncul lagi disamping Ikon dan Enal.
“Awass” Ikon mendorong Enal tapi malah membuat dirinya diselimuti oleh bayangan hitam itu hingga menghilang
“Ikonn” ucap Enal terkejut
“Enal, kesini” panggil Zee lalu pemuda itu berdiri dan berlari menghampiri Zee tapi terlambat. Setelah itu Zee pun kembali menutup matanya lalu ketika membukanya kembali teman-temannya pun kembali seperti semula.
“Hihihi” bayangan hitam tertawa lalu membuat dirinya makin membesar dan bersamaan dengan itu kegelapan pun menyelimuti semuanya—menalan semua hal yang ada didekatnya. Zee pun kembali menutup matanya lalu ketika membukanya kembali, semuanya kembali seperti semula. Namun bayangan hitam itu juga kembali melakukan hal yang sama sehingga kegelapan kembali menelan semuanya. Kali ini sangat cepat sehingga membuat Zee ikut tertelan olehnya. Saat itu Zee pun melihat satu persatu teman-temanya yang terikat dan tak bisa bergerak
“Ze-ee” lirih Fatin lalu Zee mencoba menolongnya tapi dia juga tidak bisa bergerak.
“Zee, tolong kami” kata teman-temannya meminta pertolongan
“Yah, aku akan menyelematkan kalian” balas Zee berusaha untuk melapaskan dirinya dari ikatan yang menjeratnya lalu setelah itu menghampiri teman-temannya satu persatu tapi bayangan hitam menghadangnya.
“Siapa kamu?” tanya Zee tapi bayangan hitam itu tak menjawab
“Apa mau mu?” lanjutnya lalu bayangan hitam itu tersenyum jahat
“Ada apa?Kamu gak ngenalin aku” ucapnya sambil menatap Zee
“Nggak, aku tidak punya kenalan makhluk sepertimu.Tunjukan wujudmu yang sebenarnya” balas Zee lalu bayangan hitam itu pun berubah menjadi sosok yang tak asing yaitu Dani.
“Halo maa” sapanya dengan ramah namun seram
“S-siapa kamu?” tanya Zee
“Eh, kok mama bilang gitu. Aku kan anak mama” balas Dani
“Jangan bercanda, lepaskan teman-teman ku cepat” ucap Zee
“Untuk apa?” balas lagi Dani
“Kamu sama aku aja, ngapain sama mereka yang hanya terus merepotkan mu” lanjutnya
“Apa maksud mu?” ujar Zee
“Aku tau kok, kamu selama ini selalu kesal dan menderita dengan sikap teman-teman mu”
“Jadi lepaskan lah mereka, biarkan saja mereka tertidur dalam kegelapan yang abadi ini. Kamu gak perlu lagi repot untuk mengatur dan menyelamatkan mereka” ungkap Dani lalu tertawa lalu kegelapan pekat pun menyelimuti semuanya
“J-jangaann” pekik Zee hingga sadarkan diri. Dia menyadari dirinya baru saja bangun dan semua yang terjadi barusan itu hanyalah mimpi. Namun rasanya seperti kenyataan.
“Ada apa Zee?” tanya Fatin yang ada disampingnya.
“Apa kamu mimpi buruk lagi?” bicara juga Dila namun Zee hanya diam saja. Setelah itu dia pun bangun untuk mencuci wajahnya, saat itu dia melihat kondisi diluar yang sedang hujan melalui jendela. Zee pun kembali teringat pada mimpi buruknya.
“Huhff” dia mencoba untuk mengatur nafasnya lalu kembali ke kamarnya.
“Kamu baik-baik saja?” tanya Dila namun Zee hanya diam saja
“Tadi malam badan mu panas banget terus pagi tadi kamu sangat gelisah seperti sedang khawatir tapi posisimu masih dalam keadaan tidur” Fatin memberitahunya
“Iyah Zee, kami jadi khawatir padamu” ujar Dila
“Nggak apa-apa kok, aku cuman lagi nggak enak badan aja tapi sekarang udah mendingan” balas Zee
“Benaran kamu” Dila mamastikan
“Umm” Zee membalasnya dengan anggukan lalu mengajak untuk pergi keposko sebelah karena hari ini dia juga piket.
“Zee...Dilaa...” lirih Ruka ketika melihat dua temannya itu
“Kenapa kamu?” tanya Zee
“Bapaa....dia meninggal tadi malam” balas Ruka menangis memeluk Zee sambil menangis. Untuk sejenak suasana menjadi sangat hening, hanya suara air hujan yang terdengar jatuh membasahi bumi dan isinya. Tadi malam kami mendapatkan kabar bahwa ada salah satu tokoh pendidikan berpengaruh yang berasal dari kampus kami meninggal dunia. Hal tersebut membuat kami sedikit terpukul, namun kami tidak bisa berlarut-larut. Kami harus melanjutkan KKN ini sampai selesai meskipun nanti bukan beliau lagi yang akan menunggu kepulangan kami.
“Padahal baru beberapa hari lalu bapa melepaskan kepergian kita tapi sekarang kita lah yang harus melepaskan kepergiannya—bapa lupa menarik kita kembali” ucap Putra.
Saat itu aku pun berjalan keluar menatap langit yang masih gelap dan hujan rintik masih turun. Mungkin hujan ini adalah perwujudan kesedihan dari keseluruhan mahasiswa yang melakukan KKN atas kepergian tokoh penting dalam hidupnya.
..
Beberapa saat kemudian setelah masakan matang kami pun makan bersama-sama dengan suasana yang sangat hening, lebih sepi dari biasanya. Terus selesai makan kami pun istirahat kembali sembari menunggu hujan reda karena berdasarkan schedule itu ada pekerjaan yang harus kami lakukan sore nanti yaitu membuat rangka kayu untuk program kerja kami selanjutnya.
Hari itu benar-benar menjadi hari yang paling hening dan tenang serta renggang dari hari-hari sebelumnya. Mungkin ini pertama kalinya kami melalui hari begini jadi rasanya sedikit aneh. Aktivitas kami bermain ponsel, tiduran dan tak melakukan apapun—setengah hari hanya didalam posko saja. Barulah sore kami keluar untuk mengerjakan rangka kayu, sebenarnya waktu itu hujan masih turun namun kami harus tetap melakukannya dan mengerjakannya ditempat yang teduh. Aku, Dani, Putra, Anwar dan Ikon bekerja sama agar lebih cepat lalu datang juga Zee, Tian, Ruka, Nadin, dan Dila untuk memantau. Kami pun mengbrolkan banyak hal dan tak lupa dengan candaan lucu dari Anwar yang membuat kami tertawa.
Entah kenapa aku merasa ikatan hubungan antar kami semua semakin erat—kami makin akrab dan tidak canggung lagi untuk membicarakan cerita masa lalu masing-masing. Mungkin karena kejadian kemarin malam yang membuat semuanya makin sadar dan punya empati untuk saling mengerti satu sama lain. Kami tidak lagi bertanya cepat dan mengkalim sesuatu seperti ini. Kami berpikir kembali bahwa pasti ada sesuatu yang membuatnya begini. Kami pun mencoba untuk memahami tersebut dan kalau ada masalah makan akan dibicarakan dengan baik-baik tanpa emosi.
Tak lama kami kedatangan pemuda-pemuda desa diposko, mereka mengajak untuk bermain bola dilapangan.Namun karena sedang mengerjakan sesuatu sehingga awalnya kami menolak, tapi mereka justru malah membantu kami sehingga kerjaanya pun jadi cepat selesai. Ada Agus, Regi, Dirga bahkan Rio juga datang. Aku gak tau kenapa mereka tiba-tiba datang, namun pikiran ku mungkin ada hubunganya dengan kejadian kemarin. Apapun itu asalkan baik, teman-teman ku menyetujuinya. Setelah itu Ikon dan Dani pun pergi, bersama mereka. Kini diposko tersisa aku, Anwar dan juga Putra yang masih melanjutkan mengamplas rangka kayu agar makin halus.
“Kalian nggak ikut pergi” ujar Zee datang bersama Ruka dan Dila. Saat itu hujan juga sudah berhenti turun, namun langit masih gelap bukan karena cuaca yang mendung tapi hari sudah akan malam. Kami semua duduk menghadap Anwar yang sendirian didepan. Semuanya dimulai dari ungkapan sederhana dari Putra
“Kamu enak Anwar, teman-teman mu bisa diandalkan semua” ungkapnya
“Iyah, semua tau mana yang harus dilakukan” sambung Zee
“Oh yah kalau kamu dulu bagaimana Zee?” tanya ku
“Bagaimana apanya?” balas Zee bertanya balik
“PBL mu, seperti apa?” kata ku memperjelas lalu Zee diam sejenak
“Mau ceritakan juga nggak Je” bicara Putra
“Kalau Zee mah lebih parah, dia juga dapat kordes yang sangat buruk. Anwar mah lebih bagus lagi malahan” kata Putra
“Benar itu?” ujar ku
“Umm” Zee membalasnya dengan anggukan lalu setelah itu dia pun mulai bercerita.
“Zee” panggil Ruka
“Apa nggak apa-apa kamu ceritakan” ucapnya
“Nggak apa-apa, ini juga demi kebaikan kita semua” jawab Zee