"Dulu aku membangun tahtamu dengan cinta, sekarang akan kuruntuhkan kerajaanmu dengan sisa tenaga sebagai tukang sapu!"
Clarissa mati sebagai istri yang dikhianati. Namun, dia bangun kembali sebagai Lestari, seorang cleaning service yang dianggap sampah oleh mantan suaminya, Kenzo, dan adiknya yang licik, Angelica.
Rencananya sederhana: Menyusup, sabotase, dan hancurkan!
Tapi rencana itu kacau saat Devan Mahendra—CEO tampan yang merupakan musuh bebuyutan suaminya—tiba-tiba menarik kerah seragamnya.
"Gadis pelayan sepertimu tahu apa soal pencucian uang pajak? Ikut aku!" seru Devan angkuh.
Kini, Clarissa terjebak di antara misi balas dendam yang membara dan bos baru yang sangat menyebalkan tapi selalu pasang badan untuknya. Bagaimana jadinya jika sang rival jatuh cinta pada "si tukang sapu" yang ternyata adalah otak jenius yang pernah mengalahkannya dulu?
"Kenzo, selamat menikmati hari-harimu di puncak. Karena aku sedang menyiapkan jurang terdalam untukmu... dibantu oleh musuh terbesarmu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahidah88, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 18: Penjara Bernama Cinta
Clarissa terbangun dengan aroma disinfektan yang tajam menusuk hidungnya. Matanya mengerjap, menatap langit-langit putih yang bersih. Ia mencoba menggerakkan tangannya, namun ia merasakan sesuatu yang berat menindih jemarinya.
Ia menoleh ke samping. Devan Mahendra tertidur dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidur, kepalanya bersandar di tepi kasur sambil tetap menggenggam tangan Clarissa erat-erat. Wajah pria itu tampak sangat lelah; ada bayangan hitam di bawah matanya yang biasanya tajam.
Dia menungguku semalaman? batin Clarissa. Ada rasa hangat yang menjalar di hatinya, sesuatu yang tidak pernah ia rasakan bahkan saat ia bertunangan dengan Kenzo dulu.
Clarissa mencoba menarik tangannya perlahan agar tidak membangunkan pria itu, namun genggaman Devan justru semakin mengencang. Mata Devan terbuka seketika, kilatan protektif langsung muncul di sana.
"Kau sudah bangun?" suara Devan serak, khas orang yang baru bangun tidur. Tanpa peringatan, ia meletakkan telapak tangannya di dahi Clarissa. "Suhu tubuhmu sudah normal. Kau membuatku hampir membakar rumah lama Wijaya semalam, Ratu Merepotkan."
Clarissa mendengus, mencoba menutupi kegugupannya. "Oh, jadi sekarang aku 'Ratu Merepotkan'? Kemarin bukannya kau bilang aku 'aset berharga'?"
Devan menarik kursi lebih dekat, menatap Clarissa dengan intensitas yang membuat gadis itu salah tingkah. "Kau lebih dari sekadar aset. Kau adalah sakit kepala yang tidak mau kusembuhkan. Kenapa kau nekat masuk ke sana sendirian? Kau pikir kau ini Wonder Woman?"
"Aku hanya ingin tahu tentang ibuku, Devan! Julian bilang dia masih hidup, dan aku melihatnya sendiri di dalam peti itu! Dia bernapas!" Clarissa mencoba duduk, namun rasa pening di kepalanya membuatnya kembali terbaring.
"Dia memang bernapas, tapi dia dalam kondisi stasis. Proyek itu disebut 'Eternal Rose', proyek rahasia ayahmu untuk mengawetkan kehidupan dengan teknologi medis ilegal," Devan menjelaskan sambil menyodorkan segelas air putih. "Tim medis Mahendra sudah memindahkannya ke fasilitas rahasiaku. Dia aman sekarang."
Clarissa meminum air itu dengan rakus. "Kau memindahkannya? Tanpa izinku?"
"Aku memindahkannya agar Naga Hitam tidak bisa mengambilnya kembali. Dan sekarang, tempat ini juga sudah dijaga ketat. Kau tidak akan keluar dari kamar ini sampai aku bilang aman," ucap Devan dengan nada perintah yang tidak bisa dibantah.
Clarissa meletakkan gelasnya dengan denting keras. "Apa?! Kau mau mengurungku? Aku punya perusahaan yang harus diurus, Devan! Aku punya rencana untuk menjatuhkan Kenzo minggu depan!"
Devan bangkit dari duduknya, mencondongkan tubuhnya hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa inci. Aura dominasinya memenuhi ruangan. "Kenzo sudah diurus oleh pengacaraku. Sekarang, musuhmu adalah organisasi internasional yang punya tato naga di setiap sudut kota. Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Clarissa. Bahkan jika aku harus memborgolmu ke tempat tidur ini."
Clarissa menatap Devan dengan tatapan menantang. "Coba saja kalau berani, Tuan Mahendra. Aku bisa meloloskan diri dari ventilasi gedung K-Corp, apalagi hanya dari kamar rumah sakit ini."
Devan menyeringai nakal. Ia tiba-tiba menarik selimut Clarissa, memperlihatkan pergelangan kaki gadis itu yang dipasangi gelang logam tipis berwarna perak yang elegan namun tidak bisa dilepas.
"Gelang apa ini?!" Clarissa membelalak.
"Pelacak GPS dengan sensor detak jantung. Jika kau menjauh lebih dari 100 meter dariku, alarm di ponselku akan berbunyi. Dan jika kau mencoba memotongnya, gelang itu akan memberikan sengatan listrik kecil yang cukup untuk membuatmu pingsan di tempat," Devan mengelus gelang itu dengan bangga. "Desain terbaru dari Mahendra Tech. Kau terlihat cantik memakainya."
"KAU... KAU PSIKOPAT POSESIF!" Clarissa melempar bantal ke arah Devan, namun pria itu menangkapnya dengan mudah sambil tertawa.
"Psikopat yang menyelamatkan nyawamu, ingat itu," Devan kembali mendekat, kali ini ia duduk di tepi kasur. Ia mengusap rambut Clarissa yang berantakan dengan lembut. "Dengar, aku melakukan ini karena aku tidak mau melihatmu di dalam peti kaca seperti ibumu. Aku lebih suka melihatmu marah-marah begini daripada melihatmu diam tak bernyawa."
Suasana mendadak menjadi melankolis. Clarissa terdiam, kemarahannya menguap saat melihat sorot mata Devan yang tulus namun penuh kecemasan.
"Tapi Devan... bagaimana dengan Julian? Dia bilang aku punya 'hutang darah'. Dia tidak akan berhenti," bisik Clarissa pelan.
"Maka kita akan membayar hutang itu dengan cara kita sendiri," Devan meraih dagu Clarissa, menaikkan wajah gadis itu agar menatapnya. "Hari ini, tim hukumku akan mengumumkan bahwa Lestari adalah tunangan resmi Devan Mahendra. Dengan status itu, Naga Hitam tidak bisa menyentuhmu tanpa memicu perang terbuka dengan seluruh aliansi bisnis Mahendra."
"Tunangan?!" Clarissa hampir tersedak ludahnya sendiri. "Kau gila? Kita baru saja... maksudku, kita bahkan belum berkencan dengan normal!"
"Siapa bilang?" Devan menyeringai. "Kejadian terjun dari lantai 50 itu adalah kencan paling ekstrem di dunia. Sekarang, kau hanya perlu duduk manis, makan buburmu, dan bersiap untuk konferensi pers besok pagi."
"Aku tidak mau tunangan dengan pria pemaksa sepertimu!"
"Oh, benarkah?" Devan tiba-tiba mengecup bibir Clarissa singkat, membuat gadis itu membeku seketika. "Tapi jantungmu bilang sebaliknya. GPS-mu baru saja mengirim notifikasi bahwa detak jantungmu meningkat drastis. Kau gugup, Ratu?"
Clarissa memerah sampai ke telinga. Ia segera menarik selimut menutupi seluruh wajahnya. "Keluar! Pergi kau dari sini!"
Dari balik selimut, Clarissa mendengar suara tawa rendah Devan saat pria itu berjalan menuju pintu.
"Makan buburmu, Sayang. Besok kita akan membuat seluruh Jakarta gempar," ucap Devan sebelum menutup pintu.
Clarissa membuka selimutnya sedikit, menatap gelang perak di pergelangan kakinya. Ia merasa kesal, marah, tapi di saat yang sama, ia merasa sangat... diinginkan. Namun, sebuah pikiran melintas di benaknya. Jika ia menjadi tunangan Devan, bagaimana dengan rahasia tentang jiwanya yang sebenarnya? Apakah dunia akan menerima bahwa Lestari adalah Clarissa?
Tiba-tiba, jendela kamar rumah sakit bergetar pelan. Sebuah cakram kecil menempel di kaca, dan sebuah suara digital terdengar dari sana.
"Nona Lestari... jangan tertipu oleh cinta Mahendra. Dia adalah alasan kenapa ayahmu memulai Proyek Eternal Rose. Dia ingin menghidupkan kembali Clarissa, bukan menyelamatkanmu."
Clarissa tersentak. Suara itu... suara pria bermuka terbakar.
"Apa maksudmu?!" Clarissa berlari ke jendela, namun tidak ada siapa-siapa di luar. Hanya ada cakram kecil yang kemudian meledak menjadi debu putih.
Hati Clarissa kembali bimbang. Apakah Devan mencintainya karena dia adalah Clarissa, atau Devan hanya merasa bersalah atas kematiannya di masa lalu?