NovelToon NovelToon
Kehidupan Kedua

Kehidupan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel
Popularitas:549
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

menceritakan perjalanan waktu saka,yang berusaha mengubah masa depan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 17 Pustakawan Sunyi dan Tinta Para Dewa

Matahari Alexandria pada tahun 48 SM tidak hanya memberikan panas, tetapi juga cahaya yang begitu tajam hingga menyilaukan mata Saka yang terbiasa dengan mendungnya langit Bandung. Saka berdiri mematung di hadapan prajurit Romawi yang menodongkan ujung pedangnya ke lehernya. Ia mencoba menjelaskan, namun lidahnya kelu—janji kepada Luna telah mengunci suaranya di dalam kehampaan.

Prajurit itu menyipitkan mata, mengamati pakaian Saka; sebuah kaus hitam dan celana kargo yang tampak seperti kain sihir di mata penduduk kuno. "Kau bisu? Atau kau mata-mata dari pihak Kleopatra?" gertak prajurit itu lagi.

Tepat sebelum pedang itu menggores kulitnya, seorang pria tua dengan jubah linen putih yang bersahaja muncul dari balik bayangan pilar. Wajahnya dipenuhi keriput yang tampak seperti garis-garis peta, dan matanya memiliki warna biru yang tidak lazim bagi penduduk setempat.

"Lepaskan dia, Markus. Dia bukan mata-mata. Dia hanya seorang musafir yang kehilangan arah dan suaranya di tengah padang pasir," ucap pria tua itu dengan bahasa Yunani yang entah bagaimana bisa dimengerti oleh Saka melalui perantara arloji sakunya.

Prajurit itu mendengus, namun tampak segan terhadap pria tua tersebut. Ia menurunkan pedangnya dan pergi meninggalkan mereka. Pria tua itu menoleh ke arah Saka, lalu matanya terpaku pada punggung tangan Saka yang memperlihatkan angka Romawi VI.

"Waktu adalah pencuri yang jujur, bukan begitu?" bisik pria tua itu. "Namaku Theon. Aku adalah salah satu kurator di Perpustakaan Agung. Ikutlah denganku sebelum bayanganmu memakan bayanganku."

Saka mengikuti Theon masuk ke dalam kompleks perpustakaan yang legendaris itu. Di dalamnya, ribuan gulungan papirus tertata rapi di rak-rak kayu yang harum akan minyak cedar. Suasananya begitu tenang, kontras dengan hiruk pikuk pasar di luar. Namun, bagi Saka, ketenangan ini terasa palsu. Lewat pantulan di lantai marmer yang mengkilap, ia melihat bayangannya sendiri tidak lagi mengikuti gerakannya dengan sinkron. Bayangan itu sesekali bergerak lebih lambat, seolah-olah sedang mengintai titik lengah Saka.

Theon membawa Saka ke sebuah ruang bawah tanah yang tersembunyi di balik dinding putar. Di sana, sebuah meja batu besar berdiri di tengah ruangan, dikelilingi oleh cawan-cawan perunggu berisi api yang menyala kehijauan.

"Kau mencari Tinta Keabadian," ucap Theon tanpa perlu bertanya. "Banyak pengelana waktu sepertimu yang datang ke sini dalam ribuan tahun terakhir—atau ribuan tahun ke depan, tergantung bagaimana kau melihatnya. Tinta itu bukan dibuat dari zat duniawi. Ia dibuat dari air mata Chronos yang membeku saat sejarah pertama kali ditulis."

Theon menunjuk ke arah sebuah kotak perak kecil di tengah meja. "Tinta itu ada di sana. Tapi ia memiliki pelindung. Untuk mengambilnya, kau harus masuk ke dalam Dunia Tulisan. Kau harus menghadapi narasi hidupmu sendiri yang berusaha menulis ulang dirimu menjadi sosok yang berbeda."

Saka melangkah maju, namun tiba-tiba lampu-lampu di ruangan itu padam secara serempak. Keadaan menjadi gelap gulita.

Sreeek... Sreeek...

Suara kain yang terseret di lantai terdengar dari segala arah. Dari kegelapan, muncul sosok-sosok The Unwritten. Kali ini mereka tidak lagi berwujud bayangan tipis, melainkan makhluk-makhluk yang terbuat dari tinta hitam pekat yang menetes-netes. Mereka tidak memiliki wajah, hanya lubang menganga di dada yang berdenyut memancarkan kebencian.

"Penipu waktu..." bisik mereka serempak. "Kembalikan... detik... kami..."

Salah satu makhluk tinta itu menerjang Saka. Tanpa suara, Saka menghindar dan menghantamkan arloji sakunya ke arah makhluk tersebut. Cahaya emas memancar sesaat, namun makhluk itu segera menyatu kembali. Mereka adalah manifestasi dari garis waktu yang batal; mereka tidak bisa dibunuh karena mereka secara teknis "tidak pernah ada".

Theon berdiri di sudut ruangan, memegang sebuah tongkat yang memancarkan cahaya biru redup. "Gunakan simbolmu, Saka! Jangan lawan mereka dengan kekuatan, lawan mereka dengan Kebenaran Sejarahmu!"

Saka menyadari sesuatu. Ia meraih telapak tangan kanannya yang bertuliskan angka VI. Ia memusatkan seluruh pikirannya pada kenangan tentang ibunya yang sedang tersenyum di meja makan semalam. Itu adalah kenyataan yang ia perjuangkan. Ia menempelkan telapak tangannya yang bercahaya ke lantai marmer.

Ledakan energi putih murni meledak dari titik sentuhan tersebut. Cahaya itu mencerabut eksistensi makhluk-makhluk tinta tersebut, memaksa mereka kembali ke dalam kekosongan. Ruangan kembali tenang, namun napas Saka terengah-engah. Setiap kali ia menggunakan energi itu, angka di tangannya berkedip, mempercepat detak mundurnya.

"Kau berhasil menghalau mereka untuk sementara," Theon mendekat, wajahnya tampak lebih pucat. "Tapi ingat pesan Luna. Jangan baca buku tanpa judul. Sekarang, sentuhlah kotak perak itu. Perjalananmu yang sesungguhnya baru saja dimulai."

Saka menyentuh kotak perak tersebut. Seketika, dunianya berputar. Dinding perpustakaan mencair menjadi aliran tinta yang mengalir ke atas. Saka merasa tubuhnya ditarik masuk ke dalam selembar papirus raksasa.

Ia kini berdiri di sebuah padang putih tak berujung yang dipenuhi dengan jutaan huruf yang melayang-layang. Di depannya, berdiri sesosok pria yang sangat mirip dengannya, namun mengenakan jubah kebesaran seorang raja masa depan.

"Selamat datang di bab terakhir yang tidak pernah kau tulis," ucap sosok itu. "Aku adalah Saka yang menjadi penguasa waktu setelah membiarkan ibunya mati. Aku adalah versi dirimu yang paling sempurna. Mengapa kau memilih menjadi manusia yang lemah, jika kau bisa menjadi Tuhan?"

Saka mengepalkan tinjunya. Ia tidak bisa bicara, tapi matanya memancarkan api kemarahan. Ia menyadari bahwa Tinta(simbol takdir yang bisa diubah namun memiliki konsekuensi permanen)Keabadian sedang mengujinya; apakah ia akan tetap memegang identitasnya sebagai manusia, atau tergiur menjadi penguasa yang sombong.

Saka berjalan melewati sosok "Raja" itu tanpa mempedulikannya. Ia mencari botol tinta yang asli. Namun, di tengah padang huruf itu, ia melihat sebuah buku besar yang terbuka. Buku itu tidak memiliki judul di sampulnya. Di dalamnya, tertulis nama: ANITA.

Tangan Saka gemetar. Jika ia membaca buku itu, mungkin ia bisa tahu bagaimana cara menyelamatkan Anita selamanya tanpa perlu pengorbanan. Namun, peringatan Luna terngiang di kepalanya.

Tiba-tiba, suara tawa Sekon terdengar dari langit-langit putih itu. "Baca saja, Saka. Bukankah kau ingin dia bahagia? Baca, dan kau akan tahu bahwa di setiap akhir cerita, kau hanyalah tinta yang harus dihapus."

1
Fadhil Asyraf
sangat bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!