Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*30
"Mama. Ini rumahnya?" Suara lembut dari anak laki-laki yang sudah menolongnya waktu itu langsung terdengar. Buliran bening dari mata Rain semakin jatuh dengan cepat.
Lalu, suara lembut dari wanita yang selalu ia rindukan selama ini ikut menyusul. "Iya, sayang. Ini rumahnya. Di sinilah mama tinggal saat mama masih kecil."
"Ayo, masuk!"
"Yuk!"
Aina berjalan sambil bergandengan tangan bersama anaknya. Sedangkan sang kakak, malah kembali masuk ke dalam mobil. Mungkin, ada hal yang harus Avin lakukan sekarang, yang membuatnya tidak bisa langsung ikut masuk ke rumah tersebut untuk saat ini.
Bersamaan dengan mobil yang Avin kendarai terus menjauh, Ain dan Rafka pun sampai ke depan pintu. Saat Ain bersiap-siap untuk mendorong, pintu malah langsung terbuka tanpa sempat tangannya menyentuh pintu tersebut terlebih dahulu.
Alangkah terkejutnya Aina saat itu. Namun, yang membuatnya lebih terkejut adalah kemunculan pria yang masih dia kenali dengan sangat baik dari dalam rumah tersebut.
Ya. Ain masih ingat dengan sangat jelas garis wajah yang hadir di depan matanya saat ini. Meskipun ada sedikit perubahan yang terlihat, tapi wajah itu masih tetap segar dalam ingatannya.
Wajah pria yang dulunya sangat dia cintai, tapi juga cukup ia benci. Pria yang telah menabur benih cinta, lalu mencabutnya secara paksa. Membuat Aina sangat terluka saat itu.
Buliran bening langsung jatuh saat mereka sama-sama beradu pandang. Hujan kembali turun. Dari wajah kurus yang dihiasi kata mata putih, air mata mengalir sangat deras.
Bibir Rain bergetar. "Aina." Suaranya lirih penuh duka.
"Ain." Lagi, suara itu terdengar.
Awalnya, saat mata Ain melihat Rainer, dia pikir, saat ini, karena kembali ke rumah yang penuh dengan kenangan, dia berhalusinasi. Tapi, saat suara itu terdengar, dia dibuat semakin ragu.
"Aina." Dekapan erat langsung Rain berikan. Kali ini, dia sudah tidak bisa bertahan lagi. Sia langsung menarik Ain ke dalam pelukannya.
Seolah terhanyut dalam mimpi, tanpa tahu harus berbuat apa, tubuh Ain terhuyung mengikuti tarikan tangan Rain. Terdiam di dalam pelukan selama beberapa saat, akhirnya Ain sadar dan bisa menguasai diri.
"Lepaskan aku." Suara Ain terdengar pelan. Padahal, niat hati ingin membentak. Tapi hasilnya, malah jauh berbeda dari apa yang ia bayangkan.
"Tidak akan. Aku tidak akan melepaskan kamu, Ain. Aku tidak ingin kehilangan kamu lagi." Rain berucap di sela isak tangis yang sedang susah payah ia tahan.
"Lepaskan! Si-- siapa kamu?"
Perlahan tapi pasti, karena pertanyaan itu, Rain bersedia melepaskan dekapannya. "Ka-- kamu tanya, siapa aku? Aina, aku suami kamu. Aku Rain, Ain. Jangan lupakan aku."
"Aku tidak mengenali dirimu. Jangan bercanda. Kita tidak saling kenal."
"Kamu bohong, Ain. Kamu bohong padaku. Kamu pasti kenal aku. Kamu ingat aku, aku yakin itu."
"Ain, aku sudah menunggu mu sangat lama. Aku sudah berusaha keras mencari kamu hingga ke ujung dunia. Ke mana saja kamu, Sayang."
Aina menarik paksa tangannya yang ada dalam genggaman tangan Rain. "Jangan bercanda. Aku tidak kenal kamu. Kamu siapa sih?"
"Ain, kamu yang jangan bercanda, sayang. Aku suami kamu. Kita berpisah, iya, kita berpisah karena kesalahan aku. Tapi aku mohon, tolong berikan aku kesempatan untuk menjelaskan. Ku mohon, Ain. Ku mohon."
Belum sempat Ain memberikan jawaban atas ucapan Rain barusan, eh ... si kecil Rafka malah tidak bisa diam lagi. "Mama. Siapa dia?"
Sontak, perhatian mereka berdua langsung teralihkan. Terutama, perhatian Rain langsung berjongkok seketika saat dia sadar akan kehadiran anak kecil yang ia yakini adalah buah hatinya.
Dengan senyum manis dan mata yang berkaca-kaca, Rain langsung berusaha untuk menyentuh Rafka. "Sayang, kamu pasti anakku."
Sontak, Aina membantah ucapan itu dengan cepat. "Jangan sembarangan kamu! Anak kamu dari mana? Dia punya papa. Kenapa harus kamu akui sebagai anakmu."
"Dia ... punya papa." Manik mata Rain semakin terlihat pilu. Seketika, ingatan kembali pada saat ia melihat cctv beberapa waktu yang lalu.
Namun, keyakinan dalam hati tetap ia pertahankan. Senyum pahit dia lontarkan.
"Dia anakku. Aku yakin akan hal itu. Meskipun kamu bilang dia punya papa, tapi aku yakin, dia adalah darah daging ku, Aina."
Rafka yang terus menatap Rain, malah langsung berucap tanpa memberikan waktu untuk Aina membantah perkataan Rain barusan. "Om, sepertinya, kita pernah bertemu deh sebelumnya. Apakah om adalah om yang sama, dengan om yang sakit di bawah pohon waktu itu?"
Bibir Rain bergetar. Air matanya malah langsung jatuh tanpa bisa dia tahan. Hatinya sangat ingin mendekap tubuh kecil itu dengan erat. Tapi Aina seolah tidak ingin membiarkan buah hatinya Rain sentuh.
"Sayang. Kamu benar. Akulah-- "
"Ain, apa yang terjadi?" Avin yang tiba-tiba datang malah langsung mengalihkan suasana yang sedang tercipta.
Sontak, belum sempat Ain menjawab apa yang Avin tanyakan, ketika Avin melihat ada pria lain di depan adiknya, matanya langsung membulat. Perasaan kesal langsung menyapa.
Bukan soal cemburu dengan lawan jenis yang sedang mendekati adiknya. Atau, bukan juga soal tidak ingin mengizinkan adiknya dengan dengan seorang pria. Melainkan, karena dia yakin, pria itu mungkin pria yang telah menyakiti hati adiknya sebelumnya.
"Kamu! Siapa kamu! Kenapa kamu-- "
"Ee ... Rafka. Minta gendong sama papa," ucap Ain dengan cepat.
"Papa." Rafka mendengarkan apa yang mamanya katakan.
"Ain."
Mata Rain sontak menatap Aina dengan tatapan lekat. Panggilan papa cukup mengusik hatinya. Tapi entah karena alasan apa, keyakinan akan cinta dan kesetiaan Ain tidak berubah sedikitpun dalam hati Rain.
"Aina." Rain kembali memanggil Ain dengan suara lirih. Penantiannya yang sangat lama, benarkah akan sia-sia saja sekarang? Dilema pun sedang menghampiri hati Rain.
"Aina."
"Kak. Pria ini entah siapa. Dia malah mengaku kalau dirinya adalah suami aku. Padahal, aku sudah menikah dengan kamu sejak lama. Kita juga sudah punya anak bukan?" Aina malah berucap kata-kata bohong di depan Rain.
Semua itu agar Rain tidak lagi bersedia untuk mengganggunya. Begitulah harapan dari kata yang baru saja dia ucapkan di depan Rain. Dia tahu, saat ini, dia sudah mengajarkan sebuah kebohongan secara tidak langsung di depan Rafka. Tapi, hanya ini yang terpikir dalam benaknya sekarang.